
"Bos, buronan sudah kami amankan." seorang pria berseragam memberi tahu bosnya yang menunggu di sebuah bangunan kosong tak jauh dari hotel murahan itu.
"Bagus, lekas seret dia kesini. Dengan suka rela ataupun terpaksa, bawa juga wanita yang dia pakai bersamanya."
Tut.
Sambungan telepon terputus, dengan cepet para pria yang adalah anak buah seorang bos besar itu menggelandang pria buncit dan Jeni yang masih pingsan ke mobil dan dengan cepat melaju membelah jalan menuju ke tempat sang bos menunggu.
Brughhh
"Ini, bos."
"Lepaskan! Kalian salah menangkap orang! Aku tidak punya urusan dengan kalian! Aku bilang lepaskan atau ...."
"Atau apa?" seseorang di balik kursi putar bersuara, suaranya yang berat dan berwibawa membuat pria buncit langsung terdiam di buatnya.
"Bawa wanita itu ke ruangan sana, obati lukanya dan bersihkan tubuh nya." Sang bos mengucapkan perintahnya yang langsung di turuti oleh para anak buahnya yang membopong Jeni.
"Dan kau." Bos besar membalik kursi dan wajah tampannya yang familiar langsung seakan menusuk mata si pria buncit.
"Si- siapa kau?" tanyanya parau, suara yang terkesan ketakutan.
Bos tersenyum miring, dan membuka kacamata hitam yang di pakainya.
"Kau ingat?"
Mata pria buncit membulat. "Kau ... Kau kan ... Apa hubunganmu dengan Tuan besar Andrew?"
Pria buncit mulai bangkit berdiri, namun tak ayal getaran di kakinya membuatnya tak bisa tegak, dan akhirnya memilih kembali duduk di lantai kotor dan berdebu tebal itu.
"Kau masih bertanya? Apa ... ada yang bisa menjelaskannya pada pria tua bau tanah ini?"
__ADS_1
Seorang pria berseragam maju. "Beliau Tuan muda Axel, pewaris tunggal dari semua harta dan perusahaan yang di pimpin oleh Tuan besar Andrew."
Lagi, mata pria buncit itu membulat bahkan lebih lebar dari yang sebelumnya sampai tampaknya mata bulat itu akan melompat dari sarangnya.
"Ap- apa? Ti- tidak mungkin ...."
Pria buncit mundur, kesalahannya pada keluarga besar Andrew membuatnya ciut nyali untuk berada terlalu lama di sana.
"Kau ingat aku, Tuan?" seringai Axel menatap si pria buncit yang kini di pegangi oleh anak buahnya.
Pria buncit menggeleng cepat dengan raut wajah ketakutan. "Tidak, ku mohon jangan apa-apakan aku. Aku masih punya anak istri yang harus aku hidupi."
"Ow, aku bahkan belum menyentuhmu, Tuan. Kenapa kau begitu takut? Bukankah dulu dengan pongahnya kau meminta seratus juta rupiah padaku? Lalu kemana sekarang semua keberanian itu?" Axel mendekat dan semakin mendekat.
"Am- ampun, Tuan. Aku ... aku akan mengembalikan uang itu, aku akan mentransfernya sekarang. Tolong beritahu aku nomor rekening Tuan, aku akan mengembalikan uang itu," pinta pria buncit sambil merogoh kantongnya mencari ponsel.
Axel menekan ponsel itu sampai turun ke bawah tidak lagi menutupi wajah pria buncit yang berkumis bak ikan lele goreng.
"Tapi aku kan tidak memintanya, apa kau dengar aku meminta kembali uang itu?" desisnya.
"Tolong Tuan kasihanilah aku. Aku akan berikan apapun yang Tuan minta, aku janji." Pria buncit berucap yakin.
"Apapun?" Axel berpura-pura tertarik.
Pria buncit mengangguk cepat." Ya tentu saja, Tuan. Katakan apa permintaan Tuan?"
Axel mendekat dan berbisik lirih di telinga pria buncit.
"Kembalikan, semua uang perusahaan Papaku yang sudah kau gelapkan selama ini. Termasuk aset yang kau beli menggunakan uang itu, aku tau semuanya. Jangan berani berbohong atau menutupi, jika tidak ingin ku buat kau berakhir membusuk di penjara."
Pria buncit tersentak kaget, bagaimana tidak? Selama ini dia begitu rapi menyembunyikan semua kecurangannya di perusahaan tempatnya bekerja yang merupakan anak perusahaan dari perusahaan yang di pimpin Andrew. Namun tetap saja, Serapi apapun menyimpan bangkai baunya lama-lama akan tercium juga. Dan kini akhirnya sudah tiba, pria buncit terkulai lemas di bawah kaki Axel tak berdaya mengelak dari semua bukti yang ada.
__ADS_1
Axel menyeringai, dan kembali mensejajarkan tubuhnya dengan pria buncit yang bersimpuh di lantai dengan tatapan kosong.
"Bersiaplah untuk kembali ke asalmu."
****
Beberapa bulan sudah berlalu sejak penyerahan resmi semua aset dan perusahaan Andrew pada anaknya, yaitu Axel. Semua yang bermula dari pembongkaran korupsi besar-besaran yang sudah di lakukan pria buncit yang kini mendekam di balik jeruji besi.
Hal itu memang sudah di rencanakan oleh Andrew, dia sengaja pura-pura tidak tahu akan tindak korupsi yang di lakukan oleh pria buncit itu. Agar bisa membuat Axel belajar menangani hal seperti itu dengan caranya sendiri. Yang rupanya cara yang di pilih Axel begitu mencengangkannya sampai Andrew tak bisa berkata-kata. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan cara halus dan mengancam pria buncit mengakui semua perbuatannya sendiri lewat bukti konkret yang memang sudah terkumpul sejak lama.
"Papa bangga padamu, Nak. Lihatlah sekarang perusahaan itu semakin maju pesat karena kepemimpinanmu yang luar biasa hebat." Andrew memuji kepiawaiannya Axel dalam menghadapai semua hal yang berhubungan dengan perusahaannya.
Axel menggeleng sambil menyeruput teh hangat yang di buatkan Sarah untuknya, saat ini Andrew memang tengah bertandang ke rumah yang di hadiahkan Tuan Bryan untuk Sarah dan Axel. Dan langsung mereka tempati setelah menikah.
" Saya hanya menjalankan tugas, Papa. Kalau boleh memilih pun sebenarnya saya lebih suka jadi tukang nasi goreng saja," kekeh Axel meletakkan gelas tehnya kembali ke meja.
"Ah, apa maksud mu, Nak. Jadi tukang nasi goreng memang halal dan berkah. Namun sekarang kau sudah menikah membahagiakan istri tak cukup hanya dengan memberi mereka rumah dan makanan yang layak saja. Kau tau maksud Papa bukan?" tanya Andrew.
Axel mengangguk mengerti. "Iya, Pa. Saya paham dan mengerti sekali kalau saya juga berkewajiban memanjakan dan memuliakan istri saya."
"Itu dia, dan di jaman ini tidak munafik kalau semuanya membutuhkan uang. Bohong jika ada yang bilang cinta saja cukup untuk membina rumah tangga. Kalau pada kenyataannya uang masih berada di atas segalanya." Andrew mulai menggerutu sepertinya dia ingat berita yang semalam di dengarnya semalam tentang seorang ibu yang tega membunuh anak-anaknya yang masih kecil-kecil karna takut anaknya kelaparan sebab ayahnya yang pergi entah kemana.
"Hei, lagi ngerumpiin apa sih suami dan Paman mertua ku ini?" Sarah tersenyum dan mendekat sembari membawa sepiring puding yang baru saja dia buat bersama Sonia. Di belakangnya Sonia mengikuti sambil membawa sebox garlic pizza yang tadi dia beli sebelum sampai ke rumah Sarah yang baru ini.
"Hei, tidak sopan. Aku ini bukan pamanmu lagi, panggil aku Papa, anak nakal." Andrew terkekeh menggoda menantunya itu.
Sarah ikut tergelak dan meletakkan sepiring puding agar yang sudah di potong kecil ke atas meja, di ikuti Sonia yang membuka box pizza yang masih terasa hangat itu.
"Hummm wangi pizza-nya enak, ini kesukaan kamu loh, Sarah." Sonia menunjuk sepotong pizza dengan banyak taburan keju dan bawang putih di atasnya.
Sarah yang sebelumnya memang menyukai pizza seperti itu langsung hendak mengambilnya dengan semangat.
__ADS_1
"Sarah mau satu," ucapnya sambil mencomot sepotong pizza. Namun Sarah langsung merasakan mual yang luar biasa secara tiba-tiba dan membuang potongan pizza itu sembarangan.
"Huekkkk, huekkk." Sarah berlari cepat menuju kamar mandi.