MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 89.


__ADS_3

 Bayi laki laki. Ya, itulah jenis kelamin bayi Jeni selama ini. Bayi tampan dengan lesung pipi dan sebuah tahi lalat kecil di sudut matanya, membuatnya tampak semakin manis saja.


 Bayi tampan yang resmi menyandang nama besar keluarga Gus Musa itu kini di bawa keluar, di atas sebuah bantal karena dia tengah terlelap tanpa terganggu sedikit pun oleh semaraknya suara rebana yang di tabuh bertalu-talu di sekitarnya. Beberapa orang maju untuk memotong sedikit rambut bayi dan memasukkannya ke dalam kelapa muda yang sudah di siapkan.


 Gus Musa yang menggendong bayi tampan itu sempat meneteskan air matanya di kala bayinya di doakan oleh semua kyai kyai besar dan ustadz ustadz kondang dari seluruh penjuru kota, begitupun Jeni yang melihat dari balik punggung Gus Musa bagaimana antengnya bayi tampannya itu selama prosesi acara berlangsung.


"Assalamu'alaikum, Abbas." Jeni berbisik lirih saat Gus Musa memberikan bayi Abbas padanya untuk di susui karna bayi itu mulai merengek setelah selesai acara pemotongan rambutnya.


"Wa'alaikumsalam, Umma." Gus Musa menyahuti bisikan Jeni sambil tersenyum manis, seakan itu adalah jawaban dari Abbas kecil untuknya.


 Jeni tersipu dan menundukkan kepalanya dalam dalam.


"Susui dulu Abbas ya, setelah itu kembali lagi ke sini. Kita dengar ceramah," ujar Gus Musa sambil mengelus lembut kepala Jeni.


"Injih, Mas. Saya permisi dulu ya," pamit Jeni sambil berbalik dan menggendong Abbas kecil menuju kamarnya.


 Jeni baru saja membaringkan tubuhnya menyamping untuk menyusui bayinya, saat Nek Minah tanpa sengaja masuk ke kamar itu sambil membawa pakaian ganti.


"Loh, Jen? Kok kamu di sini?" tanyanya heran.


 Jeni menoleh sekejap lalu kembali sibuk untuk membuka pakaian bagian depannya guna menyusui Abbas.


"Iya, Nek. Abbas kebangun, jadi mau Jen susui dulu," sahut Jeni.


 Nek Minah mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian dan memilih duduk di dekat Jeni, sambil mengelus pelan kepala Abbas kecil nek Minah tersenyum sendu.


"Alhamdulillah, le. Akhirnya kamu dan ibumu mendapatkan keluarga yang mau menerima kalian dengan baik. Bahkan sekarang kamu sudah punya nama, le. Nenek seneng sekali rasanya," tukas nek Minah sambil mengusap sudut matanya yang berair.


"Jeni juga seneng, Nek. Pada akhirnya Abbas punya ayah lagi dan kami di terima di keluarga ini dengan baik, Jeni nggak berharap banyak, Nek hanya semoga saja ini akan menjadi pernikahan terakhir Jeni. Dan semoga kedepannya nggak akan ada lagi drama cumi terbang di hidup Jeni." Jeni ikut terharu dan menyusut tepian netra yang mulai menjatuhkan air itu .


 Nek Minah mengangguk dan sekilas bibirnya bergerak mengucapkan kata amin.


 Abbas menyusu dengan kuatnya, sepertinya dia sangat kehausan. Padahal matanya terpejam rapat, namun hisapannya di PD ibunya seolah tak ingin berhenti.

__ADS_1


"Nek," panggil Jeni setelah cukup lama mereka saling diam.


"Iya?"


"Nenek tadi bawa baju ke sini mau apa? Nenek mau ganti? Memangnya baju nenek kenapa? Kan masih bagus Jeni lihat, nggak ada yang kotor juga," tanya Jeni pelan sambil memindai pakaian berupa gamis katun bermotif bunga bunga kecil yang di berikan Umi Nafisah pada Nenek Minah.


 Nek Minah tampak terhenyak dan teringat dengan pakaiannya yang tadi dia bawa ke kamar itu, yang kini teronggok di bawah kaki Nek Minah.


"Ah, ini tadi baju Nenek kotor. Maunya Nenek simpan dulu supaya besok tinggal di cuci, lha kok malah nenek bawa ke sini lupa nenek kamar nenek dimana," kekeh Nek Minah sambil memungut pakaian itu dan meletakkannya di pangkuan.


 Tapi fokus Jeni malah teralihkan pada sedikit noda darah yang ada di pakaian yang di bawa Nek Minah, pakaian itu berwarna putih maka dengan mudah noda darah itu bisa terlihat. Merah pekat, apalagi kalau bukan darah?.


"Nek, ini noda apa?" tanya Jeni tak dapat membendung rasa penasarannya.


 Nek Minah terkesiap dan langsung menyembunyikan bagian pakaiannya yang ternoda itu ke dalam pelukan, setelah itu Nek Minah langsung berlalu dari kamar Jeni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


****


 Pagi harinya, acara resepsi akan di laksanakan. Banyak orang berlalu lalang di halaman pondok, melakukan tugasnya masing-masing untuk jalannya acara hari ini.


"Mbak Jen," panggil Asiyah yang tiba tiba masuk ke dalam kamar pengantin.


 Jeni yang masih memejamkan mata di bangunkan oleh Mbak Mbak MUA, membuatnya terkesiap dan langsung terbangun dengan mata memerah. Maklum saja pengantin baru satu itu semalam begadang hingga tengah malam mengikuti acara walimah, dan baru bisa tidur jam 1 pagi setelah sholat tahajud, dan di bangunkan lagi sebelum subuh. Saat make up masih setengah jalan Jeni yang sudah berwudhu itu minta sholat lebih dulu, dan melanjutkan tidurnya lagi setelah sholat.


"Y- ya? Ya, kenapa, Mbak?" tanya Jeni menggeragap, karena nyawanya belum terkumpul.


 Mbak MUA tersenyum dan menunjuk Asiyah yang masih setia menunggu di depan pintu.


 Jeni menoleh sambil mengucek matanya padahal mata itu sudah di rias dengan eyeliner, alhasil mata Jeni menjadi menor dan berwarna hitam tak karuan.


"Eh, As. Kenapa?" tanya Jeni tanpa mempedulikan wajah Mbak MUA yang memandangnya getir melihat hasil riasannya yang rusak sia sia.


 Asiyah masuk dan menutup pintu kamar lebih dulu.

__ADS_1


"Nggak papa, cuma pengen liat Mbak Jen aja."


"Kamu beneran udah sembuh, As? Kayaknya kemaren masih lemas banget?" tanya Jeni.


 "Alhamdulillah sudah, Mbak. Demi liat Mbak Jeni jadi pengantin ini loh, hehe. Kan udah Asy bilang kalau Gus Musa itu calon ayahnya dedek Abbas, eh jadi kenyataan kan?" celetuk Asiyah terkekeh.


 Jeni mengangguk dan kembali berbalik menatap cermin besar di depannya, dan seketika matanya mendelik melihat kondisi wajahnya.


"Ya ampun! Mbak ini muka saya kenapa?" jerit Jeni kaget sambil memegangi bagian matanya yang menghitam karna kelunturan eyeliner.


 Mbak MUA menepuk jidatnya miris dan mengulas sebuah senyum getir.


"Coba Mbak tanya sama tangan Mbak deh, pasti dia tahu mata Mbak kenapa," ujarnya.


 Jeni menatap tangannya yang juga terkena noda hitam dan terkekeh.


"Oh iya," desisnya dengan perasaan tak enak hati.


 Mbak MUA hanya bisa geleng-geleng kepala dan kembali menghapus bekas eyeliner di mata Jeni, dan mengulang kembali make up nya.


"Mbak Jen," panggil Asiyah yang kini duduk di tepian kasur pengantin, menatap lurus pada Jeni.


"Hmmm?" tanggap Jeni tanpa membuka mulutnya.


"Hari ini Mbak Sarah datang kan?"


 "Insyaallah dateng, As. Kamu kayaknya khawatir banget Mbak Sarah nggak dateng, kenapa sih?" tanya Jeni penasaran.


"Ah, nggak kok Mbak. Cuma pengen tahu aja," jawab Asiyah sambil beranjak berdiri.


 "Asy keluar dulu ya, Mbak. Mau bantu jagain Abbas," imbuh Asiyah.


"Iya, As. Makasih ya sudah mau bantuin Mbak," celetuk Jeni sebelum Asiyah menutup pintu dan berlaku.

__ADS_1


 Namun belum ada lima detik sejak kepergiannya, Asiyah kembali membuka pintu dan melongok ke kamar Jeni.


"Mbak Jen! Nek Minah ...."


__ADS_2