
Gelap, pengap, kotor.
Rahman memicingkan matanya saat cahaya lampu berwarna kekuningan di atas kepalanya menerobos kelopak matanya. Dia memegangi kepala yang terasa nyeri entah karena apa, terasa seperti ada cairan di sana.
Dengan dahi mengernyit Rahman mengangsurkan tangannya ke depan untuk melihat cairan apa di kepalanya itu.
"Ya Allah, da ... darah?" gumamnya pelan, namun karna ruang kosong itu sunyi maka suaranya seolah memantul dan terdengar lebih keras dari yang seharusnya.
Rahman kembali meraba bagian pelipisnya yang terasa ngilu, dia meringis saat mendapati luka lumayan besar di sana. Pantas saja rasanya sangat sakit.
"Dimana ini?" gumam Rahman sambil memindai sekitarnya, tempat dimana dia berada saat ini sepertinya tak lebih dari tempat barang barang terbengkalai.
Debu tebal menyelimuti hampir seluruh bagian barang barang yang ada di dalamnya, termasuk lantai yang di duduki Rahman. Bahkan pakaian Rahman menjadi sangat kotor karna menempel di sana.
Tak ada suara, hening meraja di tempat itu. Rahman berusaha bangkit untuk mencari jalan keluar. Walau seluruh tubuhnya terasa sakit dan remuk namun di paksakannya berdiri dan mengitari tempat itu sambil meraba tempat yang sekiranya bisa menjadi jalan keluar.
"Jahat sekali, apa kepentingan mereka menculik aku? Bahkan aku saja lupa siapa mereka. Ah apa ini? Si Al sepertinya tidak ada jalan keluar dari sini, semua jendela dan ventilasi di pasangi teralis," keluh Rahman sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di atas lantai kembali.
Terpekur di sana sambil mengedarkan pandang mengitari ruangan sempit dan penuh sesak itu. Tak ada yang jelas terlihat hanya samar dengan pantulan cahaya lampu yang menguning itu.
"Ibu, tolong Rahman, Bu.". Rahman menangis, ketakutan mulai meraja di benaknya. Dia menunduk membiarkan kepala bertumpu pada ke dua lututnya.
Menumpahkan tangisnya di sana, hingga bahunya terguncang hebat karena tangisannya. Semua rasa sakit tengah dia rasa, dan kini harus datang lagi cobaan yang entah apa maksud dan tujuannya itu.
Tak berapa terdengar suara derit pintu yang seolah sudah amat sangat lama tak di minyaki.
Krrriiiieeeeettttttt
Bunyi yang memilukan hingga Rahman tersentak dan berhenti dari tangisnya.
Sorot lampu senter mengenai matanya hingga Rahman harus menunduk untuk menghindarinya.
"Wah wah wah kau sudah bangun rupanya, jagoan?"
__ADS_1
Rahman membulatkan matanya dalam posisi masih menunduk, suara itu sangat familier di telinganya, hingga membuat Rahman merinding membayangkan konspirasi apa yang tengah terjadi di depannya.
Bugh
Bugh
Bugh
Tiga pukulan dengan sukses melayang ke rahang, kepala dan juga dagu Rahman. Rahman mengerang kesakitan karna tak siap dengan serangan mendadak itu, tubuh lemahnya tersungkur di lantai kotor berdebu, hingga deru nafasnya yang tersengal membuat debu debu itu beterbangan menyesakkan dadanya.
"A- apa yang kau ... inginkan ... da- dariku?" cicit Rahman dengan terbata, nafasnya rasanya hampir putus karena kuatnya pukulan yang di terimanya tadi, di rasakannya sudut bibirnya berdarah dan rasa asin dan anyir segera mendominasi mulutnya.
Pria yang merupakan orang yang menculik Rahman itu berjalan santai ke arah sebuah rak kayu berdebu yang berada tak jauh dari posisi Rahman berada, wajahnya tak terlihat karna sorot sinar lampu temaram itu ada di belakangnya.
Hanya satu yang bisa di pindai Rahman, sebuah tato berbentuk hati di belakang leher pria tersebut. Tato yang cukup familiar hingga Rahman tersentak di buatnya.
"Kau sudah mengenali aku, hm? Ku harap kau tahu apa artinya itu," gumam pria itu dengan nada datar dan dingin.
Rahman tak menjawab, selain karna nafasnya yang semakin sesak tak ada gunanya juga menjawab pertanyaan pria itu. Pria yang sudah menoreh luka begitu dalam di hatinya, hingga hanya dengan mendengar namanya saja dulu Rahman bisa melukai siapa saja yang berada di dekatnya. Saking bencinya.
Seruan seorang wanita di luar ruangan itu terdengar nyaring, pria itu bergeming melempar sesuatu ke arah Rahman dan berbalik.
"Kita akan bertemu lagi nanti, untuk menyelesaikan yang belum sempat terselesaikan." Pria itu meyeringai sebelum akhirnya benar benar melangkah meninggalkan ruangan setelah sebelumnya menutup kembali pintunya rapat.
Rahman bergeming, berusaha bangkit untuk melihat apa yang di lemparkan pria itu tadi padanya.
Tuk
Tanpa sengaja kakinya menyentuh sesuatu yang sepertinya barang yang di lempar si pria tadi, Rahman mengambilnya pelan dan memindainya. Sejurus kemudian matanya mulai memanas, dendam kesumat yang selama ini terkubur dalam pada akhirnya berkobar kembali, di genggamnya benda yang merupakan sebuah kotak perhiasan yang di dalamnya terdapat liontin berbentuk hati dengan foto ke dua orang tuanya di dalamnya itu dengan erat, walau wajahnya lebam tapi kilat kemarahan di matanya tampak begitu nyata.
" Aku tak akan diam lagi, ku pastikan kalian akan menerima balasan atas semua ini." Rahman bergumam lirih dan membenamkan wajahnya di antara ke dua lututnya.
Entah berapa lama Rahman terlelap dalam tidur yang dia sendiri tidak sadari, pintu itu kembali terbuka dan sorot kembali menusuk penglihatannya. Rahman merasa pandangannya kabur hingga dia memilih untuk kembali memejamkan mata.
__ADS_1
Klik
Sorot lampu senter itu akhirnya mati, menyisakan ruangan remang nan pengap seperti sebelumnya.
Perlahan, Rahman mengangkat kepalanya. Memindai wajah orang yang kini berdiri di hadapannya.
"Bangunlah, tidak perlu berterima kasih sekarang juga."
Pria itu mengulurkan tangan, wajahnya masih tak tampak karna posisinya yang membelakangi lampu kuning itu hingga Rahman hanya bisa melihat bagian punggungnya saja.
Tangan pria itu terulur, hendak membantu Rahman berdiri.
"Ayo pulang, keluargamu pasti mencemaskanmu. Dan jangan lupa ada seorang perempuan yang saat ini juga tengah menunggumu," gumam pria itu lagi.
Rahman mendongak, dan menerima uluran tangan pria itu. Setelah sukses berdiri walau dengan tertatih Rahman di papah untuk keluar dari ruangan itu.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya Rahman.
Hening sejenak, pria itu tampak tak menjawab .
"Jika nanti kita keluar dari sini, tolong jangan berteriak atau terkejut tentang apapun yang kau lihat. Percayalah aku melakukan semuanya untuk menyelamatkan mu."
Hanya itu, kata kata dari mulut si pria dan setelahnya dia membuka pintu yang mengurung Rahman tadi lebih lebar untuk jalan keluar mereka.
Perlahan mereka mulai keluar, pria itu dengan sabar menunggu langkah Rahman yang tertatih karna sepertinya ada cidera di kakinya yang membuatnya kesakitan setiap melangkahkan kakinya.
"Tutup saja matamu jika kau tak kuat melihat ini."
Pria itu berkata lagi saat mereka akan melewati sebuah pintu penghubung dan masih di batasi tembok. Namun bukannya menurut Rahman justru penasaran dan memilih tetap membuka matanya.
Luar biasa terkejutnya ia saat melewati ruangan yang ternyata adalah ruang keluarga itu, da rah memercik dimana mana kondisi ruangan yang hancur dan rusak parah di tambah lagi tampak kepala dengan rambut yang terurai di balik sebuah sofa, kepala itu tampak tak bergerak entah apa yang terjadi padanya. Mereka berjalan melewati tempat itu dengan hati hati, menginjak kubangan da rah yang tampak masih segar.
"Jangan bertanya dulu, kita harus segera keluar dari sini," tegas pria itu tepat sebelum Rahman membuka mulutnya untuk bertanya.
__ADS_1
Wajahnya sudah pias ketakutan saat melewati ruangan ruangan lainnya dan mendapati kondisi yang tak jauh berbeda dengan ruangan keluarga tadi. Seperti baru saja terjadi pembantaian besar-besaran di rumah itu. Namun rumah itu terasa asing bagi Rahman, dia tak mengenalnya. Membuatnya bingung apa tujuan si empunya rumah menyekapnya?
Hingga akhirnya mereka berhasil keluar dan beberapa orang berpakaian hitam sudah menunggu mereka di depan pintu. Mengawal mereka menuju ke sebuah mobil dan melaju cepat meninggalkan rumah itu. Rumah indah yang benar benar meninggalkan trauma bagi Rahman.