MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 214.


__ADS_3

"Ya sudah, silahkan di lanjutkan ceritanya Mas abdi." Rahman yang menjawab ucapan abdi tak lupa dengan seulas senyum.


"Nah jadi begini, kan si juli teh sudah di talak sama Mas Alam. Setelah itu dia jadi kayak agak stress gitu suka jalan jalan sendiri terus ngomong sendiri juga, nah setelah keluarganya mas Alam teh pindah dari kampung kita tanpa membawa serta Mbak Juli di waktu itu mbak Juli melahirkan di rumahnya, sendirian. Untung saja ada orang yang mendengar suara bayinya jadi si bayi masih selamat, kalau nggak mungkin Mbak Juli sudah ....."


"Sudah apa, Kang?" sela Asy tak sabar.


 Abdi menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, kemudian kembali melanjutkan ceritanya kembali.


"Sudah membunuh anak kandungnya sendiri, Mbak. Karna tidak tahan lagi dengan semua yang terjadi dengan hidupnya. Kasihan sekali dia sekarang Mbak, hidup sendirian nggak punya sanak saudara sekarang malah di tinggal begitu saja sama keluarga suaminya, eh mantan suaminya."


 Asy mengelus dada sembari beristighfar, tak menyangka jika jalan hidup orang yang sudah pernah menoreh kisah di dalam hidupnya itu begitu memperihatinkan.


"Memangnya keluarga nya Mas Alam pergi kemana? " Tanya Rahman pula, ikut tertarik dengan kisah yang di ceritakan abdi pada mereka.


"Saya juga kurang tahu, ustadz. Mereka pindahannya pun diam diam, nggak bilang apa apa juga sama warga. Bahkan bapak saya yang kades saja tidak di beri tahu sama sekali, tahu tahu rumahnya sudah kosong saja." Abdi menyahuti dengan mata masih fokus menatap jalanan berbatu di depannya.


"Kok bisa ya Mas Al setega itu sama Juli? Padahal kan Juli lagi hamil anaknya, bagaimana bisa di menalaknya dalam kondisi demikian?" gumam Asy tak habis pikir.


"Saya juga nggak tahu kalo itu, Mbak. Padahal yang kita tahu kan Mas Alam itu selalu berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu. Tapi kali ini yang saya lihat seperti bukan sifatnya, atau mungkin juga karna sudah terlanjur marah dan benci sama si Juki makanya sampai nekat menceraikan dan meninggalkan dia seorang diri di kampung." Lagi lagi Abdi menimpali, padahal niat Asy tidak untuk berdiskusi melainkan ingin mencari jawaban pastinya sendiri nanti.


"Sudahlah, tidak baik membicarakan aib orang lain. Lagi pula dengan menebak nebak seperti ini tidak akan mendapat apa apa selain dosa . Toh tidak akan membawa dampak baik untuk kita atau pun untuk mereka. Lebih baik jika ingin tahu masalah jelasnya bertanyalah langsung pada yang bersangkutan, atau jika tidak bisa maka diam adalah pilihan yang terbaik," titah Rahman mulai bijak.


 Asy mengulum senyum sambil melirik suaminya yang wajahnya sengaja di datar datarkan.


"Haha, gayamu Mas. Padahal tadi kelihatan sekali kalau kamu yang paling kepo nanyanya." Asy terkekeh.

__ADS_1


 Rahman sontak mengerucutkan bibirnya. "Apaan? Tidak kok, Mas tidak kepo sama sekali, cuma ingin tahu saja."


 Asy semakin lepas tertawa, sembari beberapa kali menepuk pelan lengan suaminya dengan gemas.


"Kepo sama ingin tahu sama saja, Mas."


 "Tidak kok, beda lah. Jelas beda," kilah Rahman tak mau kalah, namun dia malah membuang muka ke arah lain menghindari tatapan Asy padanya.


"Ya ya ya, baiklah rajaku. Semua asalkan kamu bahagia," kekeh Asy mengakhiri perseteruan lucu itu.


 Abdi yang sejak tadi mendengar percakapan mereka hanya mengulum senyum saja, karna ikut baper gara gara kekompakannya.


 Dan perjalanan menuju kampung pun berlanjut dalam keheningan, karena kedua sejoli yang tampak selalu mesra itu tertidur pulas sambil saling bersandar satu sama lain, membuat jiwa jomblo abadi Abdi meronta-ronta sepanjang jalan kenangan, eh.


****


"Wah, sudah ada minimarket juga di sini rupanya. Syukurlah jadi lebih maju desa ini sepertinya," celetuk asy yang baru saja terbangun dari tidurnya a setelah mobil mulai memasuki desa.


"Iya, Mbak. Sekarang di sini mulai ramai, puskesmas yang dulu sudah usang itu juga sudah di perbaiki. Alhamdulillah ada bantuan dana dari pemerintah pusat," sahut Abdi tersenyum bangga pula melihat kondisi desanya sekarang.


 Asy manggut-manggut, merasa senang sekaligus takjub dengan pemandangan desa yang ramai di sepanjang jalan yang mereka lewati, sangat berbeda dengan lima tahun lalu dimana jalan yang masih berupa tanah setapak sangat jarang orang yang mau berlalu lalang. Penghuninya lebih senang menghabiskan waktu di rumah atau di ladang.


"Syukurlah, kalau begitu berarti pemimpin desa ini amanah dan dapat di percaya," imbuh Rahman yang membuat rasa bangga Abdi semakin menjadi jadi. Terlebih pastinya yang di maksud Rahman adalah bapaknya yang menjabat sebagai seorang kepala desa.


"Alhamdulillah, ustadz. Doakan saja bapak saya bisa terus memegang amanah dengan baik, hingga kampung ini bisa terus berkembang semakin baik." Abdi menimpali.

__ADS_1


 Rahman mengangguk seraya mengamini doa Abdi.


Beberapa menit berlalu akhirnya mereka pun sampai ke rumah sang kepala desa, seperti sebelumnya pun mereka kali ini di sambut sama ramah dan hangatnya.


"Ya ampun, ini kan Asy anaknya Bu Salma ya? Ya ampun nggak nyangka bapak kamu ternyata berjodoh sama ustad Rahman," ujar Pak kades dengan senyum teduh di wajahnya yang tak lagi muda namun masih di percaya mengemban tugas sebagai pemimpin desa tersebut hingga bisa maju seperti sekarang .


 Asy tersenyum dan mengangguk, seraya mengambil tempat duduk di sisi suaminya.


"Alhamdulillah, Pak. Kalau jodoh mah insyaallah mah nggak akan kemana," timpal Rahman tak kalah ramah.


"Iya, ustadz. Beruntung ustadz bisa dapat si Asy ini, saya tahu betul bagaimana baiknya dia ini. Lembut, jarang keluar rumah dan selalu menjaga diri dari dunia luar. Sampai dia bercerai dengan Mas Alam pun tidak ada kabar miring yang tersebar, semua orang tahu kalau mereka bercerai baik baik dan memang karna sejak awal tidak saling mencintai. Yah, kita semua bisa memaklumi lah ya kalau untuk hal itu. Dan Alhamdulillah sekarang malah berjodoh sama ustad Rahman, saya hanya bisa mendoakan semoga langgeng sampai ke jannah ya ustadz, Asy ..."


Pak kades menatap pasangan muda itu dengan senyum tulus.


"Amiiin," sahut Asy dan Rahman serentak.


 "Ya sudah, kalau begitu silahkan istirahat dulu ustadz. Kamarnya sudah di sediakan di belakang, kamar yang dulu juga ustad tempati. Tidak apa apa kan? Berdua di sana?" goda Pak kades sembari tertawa kecil.


"Ah, Pak kades ini ada ada saja. Tidak apa lah, Pak kamar itu saja besar kok," sahut Rahman tersenyum manis.


 Pak kades tampak manggut-manggut. "Baiklah, kalau butuh apa apa beritahu saya atau abdi saja ya. Oh ya, ustadz kalau mau pakai motor yang ada di garasi silahkan saja ya, kuncinya ada di samping pintu," tukas Pak kades memberi izin.


"Baik baik, Pak kades terima kasih banyak. Kalau begitu, kami permisi ke kamar dulu," pamit Rahman sambil menggandeng tangan Asy.


"Oh iya iya silahkan," sahut Pak kades sembari menggerakkan tangannya mempersilahkan.

__ADS_1


*Sambungan bab langsung di sebelah ya, geser aja. Mau di sini semua kaga cukup, ehe.


__ADS_2