MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 178.


__ADS_3

Tapi kali ini tidak, malah dengan santainya Peter menatapnya dengan tatapan yang sama tajamnya dengan Andrew.


Andrew terhenyak sesaat, saat menyadari Peter yang saat ini ada di hadapannya bukanlah Peter yang sama dengan anak angkatnya puluhan tahun yang lalu. Dia berbeda.


"Ada apa, Uncle? Kau tampak pias?" kekeh Peter dengan mengejek.


Andrew menggeram tertahan. "apa maksud mu melakukan semua ini, Pete? Bukankah selama ini kau tidak pernah punya masalah dengan keluarga menantuku itu?".


Peter sontak tergelak, bahkan matanya sampai tertutup saking lebarnya tawa itu.


"Dulu memang tidak, tapi sekarang ya."


Seringai di bibir Peter tampak menjelaskan semuanya, seringai yang misterius. Yang melayangkan ingatan Andrew akan ayah dari anak yang dulu di adopsinya itu.


"T- tidak mungkin." Andrew mendesis.


"Apa kau sudah ingat sekarang, Uncle?" tanya Peter penuh teka teki.


Andrew terdiam di tempat, desiran halus terasa dingin di tengkuknya.


"Jangan katakan kalau ...."


"Yah," jawab Peter dingin. "aku datang, untuk menuntut balas."


****


Asy melangkah gontai meninggalkan halaman rumah sakit, sedang saudari kembarnya Aish sudah lebih dulu pulang dengan di jemput kekasihnya, Satrio.


Gerimis turun mengiringi langkah Asy, mendung yang berarak membuat suasana sekitar menjadi kelam.


"Ayo, Non buruan. Nanti keburu deras hujannya." Supir keluarganya yang baru saja di terima tadi pagi, Sutrisno melambaikan tangan dari sebelah mobil sedan milik Amelie.


Asy mengangguk, tepat sebelum hujan berubah menjadi deras dia sudah berada di dalam mobil. Terhindar dari paparan air hujan yang jatuh beramai-ramai.


"Untung aja nggak kehujanan, Non. Kalau Non sampai sakit saya takut di marahin Bu bos, Non." Sutris mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya perlahan keluar dari pelataran rumah sakit.

__ADS_1


"Nggak papa, Mas. Saya sudah biasa kok, lagi pula panggil Asy aja jangan Non. Saya nggak terbiasa," sahut Asy datar, matanya menatap arah luar menyentuh buliran air hujan yang menempel di sisi luar kaca mobil.


"Nggak, Non sudah sepantasnya saya panggil Non. Sebagai tanda hormat saja kok." Sutris berdalih.


"Ya sudah," gumam Asy mengalah, suasana hatinya sedang tidak bagus untuk berdebat hanya perihal panggilan saja.


"Kita mau langsung pulang atau mau mampir ke mana dulu, Non?" tanya Sutrisno lagi sembari membaur dengan mobil dan kendaraan lain di tengah padatnya jalanan kota.


Asy diam belum menjawab, Sutrisno melirik ke belakang dari kaca spion dalam untuk memastikan keadaan putri bosnya itu. Tampak olehnya lelehan air mata di pipi Asy yang mulus kemerahan, semakin lama semakin deras hingga Sutris memutuskan untuk tidak lagi bertanya. Membiarkan Asy sejenak dalam kegalauannya agar hatinya bisa lega.


Mobil berhenti di lampu merah, tepat di sebelah mobil tampak oleh Asy sepasang kekasih tengah berlindung dari derasnya hujan dengan berbagi satu mantel berdua. Ke duanya tampak kedinginan namun senyum tulus masih terpancar di wajah keduanya, saat motor mereka berhenti karna lampu merah si lelaki memegang erat tangan wanitanya dan mengecupnya lembut. Sedang si wanita tampak malu malu di balik mantel yang tak bisa melindungi seluruh bagian tubuhnya itu.


Setelah itu, si lelaki kembali menggenggam tangan wanitanya, meniupnya seolah tak ingin wanitanya kedinginan, padahal dia sendiri menggigil karna jaketnya tampak di serahkan pada wanitanya.


Lampu sudah berubah kuning, sang wanita memeluk erat tubuh lelakinya dari belakang. Seakan ingin menyalurkan kehangatan yang dia miliki agar sang lelaki tak terlalu menggigil. Dan setelah lampu berubah hijau mereka pun melaju, dengan motor butut yang menjadi saksi bisu cinta tulus keduanya.


Asy hanya bisa memandang semuanya dari balik kaca mobilnya, hatinya seketika hampa. Seolah tak ada lagi tempatnya yang tepat untuk bersandar.


"Kita ke pondok pesantren kyai Hasan, Mas." Asy berkata lirih, namun dia yakin Sutris pasti mendengarnya.


"Baik, Non." Sutris menjalankan mobilnya menuju arah yang ingin di datangi Asy.


Sekuat tenaga Asy berusaha menghentikan tangis yang terus saja mengalir di ke dua belah pipinya. Namun dia tak kuasa, hingga akhirnya memilih membiarkan lelehan bening itu membasahi wajahnya dengan pasrah.


"Semoga kamu akan bahagia dengannya, Mas. Selamat tinggal," bisik Asy sembari menerawang jauh ke angkasa yang kelam.


*


Mobil pun berhenti di depan pintu gerbang pesantren, pohon pohon yang tumbuh di sekitarnya tampak basah oleh air hujan.


Asy bergeming, menatap ke luar dari terpaan air hujan yang membuat semuanya menjadi kabur. Namun beberapa saat kemudian tampak satu sosok berlari ke arah mobil mereka dengan membawa sebuah payung di tangannya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Orang itu mengetuk kaca mobil yang di kendarai Sutris, mengira kalau terjadi sesuatu pada mobil itu hingga berhenti di depan pondok.


Sutris membuka kaca mobil, hingga angin dingin terasa menusuk kulit Asy yang tidak mengenakan jaket. Hanya gamis berbahan Jersey yang akan terasa lumayan dingin di cuaca seperti sekarang.


"Mobilnya kenapa, Pak?" tanya seseorang di luar sana, tapi Asy tak jelas melihat siapa orang nya sebab kaburnya pemandangan dari dalam.


"Nggak papa, Mas. Majikan saya mau ke sana cuma bingung karna nggak bawa payung." Sutris menjawab sekenanya.


Asy tersenyum tipis dalam diam, karna rupanya Sutri bisa di andalkan.


"Ya sudah, ayo sama saya saja kalau begitu."  Pria itu menawarkan.


Sutris berbalik menghadap ke belakang dimana Asy berada.


"Bagaimana, Non?" tanyanya, tanpa mengulang perkataan si pria karna sudah yakin Asy pasti juga mendengarnya.


Asy mengangguk, lalu memberi kode pada Sutris untuk membuka pintu di samping kanannya.


Pria yang berpayung tadi berpindah ke pintu mobil bagian samping, lalu saat Asy membuka pintunya dia sigap memayungi Asy agar tidak kebasahan. Walau Asy melihat sendiri bagaimana tubuh bagian belakangnya menjadi basah kuyup karna harus membagi payung dengannya.


Asy mendongak untuk melihat siapa orang yang sudah menolongnya itu.


"Ka- kak Rahman?" desisnya sendu.


Rahman yang baru menyadari kalau wanita yang ada di hadapannya adalah Asy langsung tertegun, terlebih saat ini wajah Asy tampak sangat sembab sebab menangis terlalu lama.


"Neng? Ada apa?" tanya Rahman dengan mata mulai berkaca-kaca, entah kenapa setiap melihat Asy menangis hati Rahman akan seperti di remas, sakit sekali.


Asy tak sanggup menjawab, lidahnya terasa kelu hanya tubuhnya yang dengan spontan bergerak menubruk Rahman dengan perasaan yang bercampur aduk.


Asy memeluk erat tubuh Rahman, Rahman membalasnya membiarkan tetesan hujan membasahi tubuh mereka berdua.


"Kak, Mas ... mas Al akan menikahi Juli." Asy tergugu di tengah dada Rahman.

__ADS_1


Rahman memeluknya erat, air matanya tumpah seketika seolah ikut merasakan betapa sakit hati Asy saat ini. Walau itu artinya sakit baginya juga.


"Baiklah, kalau begitu Kakak juga akan menikahi kamu secepatnya," bisiknya pula.


__ADS_2