MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 124.


__ADS_3

 Sepanjang perjalanan, Asiyah hanya diam sambil sesekali mencuri pandang ke depan saat Alam tak memperhatikan. Gelenyar di hatinya masih sama, untuk itulah dia sengaja meminta Alam untuk mengantarnya ke kota bertepatan dengan saat Rahman pulang.


"Ustadz Rahman pondoknya dimana?" celetuk Alan setelah mobil mereka melewati jalanan berbatu.


"Di pondok pesantren jalan X, pondok pesantrennya kyai Hasan." Rahman menjawab tegas.


"Wah, sama dengan pondok tujuan istri saya, apa dulu kalian satu pondok dan sudah saling mengenal?" tanya Alam lagi.


 Rahman terhenyak, dia sempat melirik ke spion dalam untuk melihat perubahan ekspresi Asiyah, namun hanya wajah datarnya yang ia dapati.


"Ah, itu ... itu ...." Rahman mulai gugup.


"Ya, kami saling kenal, kenapa?" sela Asiyah cepat.


 Rahman sempat melotot mendengar jawaban Asiyah, karna di kiranya perempuan pemilik hatinya itu akan menutupi kalau mereka saling mengenal. Namun yang terjadi malah ke balikannya.


 Rahman sempat mengira Alam akan marah atau kesal, tapi yang terjadi rupanya pria itu tampak santai dan seperti tak mempermasalahkan sama sekali.


"Ooh, begitu rupanya. Pantas saja kemarin kamu berdiri di tepi jalan berhadapan dengan ustadz Rahman. Kenapa tidak bilang kalau saling kenal, kalau kamu bilang kan Mas nggak perlu bawa kabur kamu karna Mas kira mau di culik," kekeh Alam santai sekali.


 Asiyah tampak cemberut, dia tak menjawab dan memilih membuang pandangan ke arah luar jendela sembari menikmati makanan ringan yang dia bawa sebelumnya.


 Rahman masih bisa melihat pantulan wajah Asiyah dari kaca spion bagian luar mobil yang menghadap ke belakang, wajah sendu yang sangat di rindukannya namun sayangnya kini di pertemukan saat sudah menjadi milik orang lain. Sakit sekali rasanya hati Rahman, namun melihat Bros bunga yang tersemat di Khimar besar Aisyah membuatnya yakin akan tetap mempertahankan rasa di hatinya, walau itu artinya hingga maut menjemputnya.


 Dua jam sudah mobil bergerak tanpa henti menuju ke kota, Asiyah tampak terlelap di kursi belakang. Sedangkan Rahman walau matanya sejak tadi mengantuk dia tetap memaksakan untuk terjaga karena tidak enak pada Alam yang menyetir jika sampai tertidur.


"Matamu merah, ustadz. Kenapa tidak tidur saja?" ucap Alam tiba tiba, rupanya sejak tadi dia memperhatikan Rahman dalam diam.


 Rahman terkesiap, mengucek matanya dan tersenyum.


"Ah, tidak ini pasti karna debu."


"Mau berhenti sebentar? Saya mau beli minuman, kebetulan yang tadi habis." Alam menawarkan.


 Rahman mengangguk dan tak lama mobil mereka berhenti di depan sebuah toserba yang cukup besar.

__ADS_1


"Ayo, ustadz."


"Ah tapi, Asy?" gumam Rahman tampak ragu ragu, karna saat ini Asiyah masih terlihat lelap di tempatnya.


"Tidak papa, AC mobilnya tidak saya matikan. Tapi kita jangan lama lama di dalam, takutnya nanti ada orang iseng." Rahman menjawab, lagi lagi dengan entengnya tanpa ada raut cemburu sama sekali di wajahnya.


 Rahman kembali mengangguk, lalu dengan cepat bergegas untuk masuk ke toko itu. Membeli beberapa makanan dan camilan untuk teman perjalanan dan membawanya ke kasir.


 Alam juga tampak sudah selesai dengan belanjaannya, beberapa buah roti dan minuman energi memenuhi keranjang belanja miliknya. Saat menunggu giliran Rahman tak sengaja melihat coklat berbungkus warna coklat dengan gambar kacang Mede, hatinya tergelitik untuk memberikan coklat itu untuk Asiyah, dan seolah di komando tangannya bergerak cepat menyambar beberapa batang coklat sekaligus dan meletakkannya di keranjang belanjanya.


"Banyak sekali beli coklatnya, ustadz?" celetuk Alan terheran-heran.


 "Ah, iya buat ibu saya." Rahman menyahut sekenanya.


 Alam tampak tak peduli, lalu setelah membayar semua belanjaannya mereka pun kembali ke mobil.


"Lama sekali sih, Mas," ketus Asiyah yang entah sejak kapan sudah terbangun dan lagi lagi memasang wajah cemberutnya.


"Habis beli cemilan, ngantuk tau nyetir tapi di tinggal tidur," sahut Alam sambil duduk di kursi kemudi dan membuka satu botol minuman energi miliknya.


"Nggak ada teh botol, Mas?" tanya Asiyah sambil mengambil beberapa roti untuk dirinya sendiri, --semua rotinya di ambil asiyah--


Alam terhenyak kaget.


"Ah, iya lupa. Kamu minum ini aja mau?" ucapnya sembari menyodorkan minuman energi miliknya.


Asiyah mencebik.


"Nggak, nggak enak."


"Ya sudah kalau nggak mau," ucap Alam tanpa rasa bersalah sedikit pun.


 "Ini, ambil punya Kakak aja." Rahman menyodorkan sebuah botol berisi teh kemasan dengan rasa leci kesukaan Asiyah, sontak Asiyah berjingkrak senang tanpa mempedulikan tatapan mata Alam yang keheranan melihat mereka.


****

__ADS_1


 Tambahan dua jam lagi dalam perjalanan tak begitu terasa, karna Rahman dan asiyah yang terus mengobrol seru mengenang masa masa pertemuan mereka dahulu, hingga akhirnya harus berpisah begitu saja.


 Alam yang mendengar hanya sesekali menimpali, walau tampaknya dia baik-baik saja namun ada gelenyar aneh di dadanya. Rasanya seperti tak suka saat sang istri bercanda ria dengan pria lain, walau hanya sekedar candaan ringan. Namun gengsi yang tinggi membuat Alam berusaha menutupi kenyataan hati yang sebenarnya.


"Habis ini kemana?" tanya Alam memecah keseruan obrolan Rahman dan asiyah, mobil sudah memasuki kawasan perkotaan namun Alam bingung arah yang harus dia tempuh untuk sampai ke pondok.


"Lurus saja, Mas nanti ada pertigaan belok kanan." Asiyah menyahut yakin.


"Belok kiri, Asy," ralat Rahman saat menyadari Asiyah salah memberi petunjuk.


"Ah, masa sih, Kak? Perasaan kanan deh," sangkal Asiyah ngotot.


 Rahman sedikit tergelak.


"Kamu mungkin sudah lama nggak ke pondok ya, makanya sampe lupa jalan? Kalo ke kanan itu kita ke pemancingan bukan ke pondok."


 Asiyah tampak menepuk jidatnya.


"Ooh iya, maaf maaf Asy lupa, haha. Untungnya aja belum nyasar," kekeh Asiyah lepas, raut kebahagiaan tampak kentara sekali di wajah ayunya.


 Alam mencuri pandang pada Asiyah, gelenyar di hatinya kembali kala melihat senyuman yang bahkan belum pernah di lihatnya itu. Namun sakitnya, karna senyum itu ada bukan sebab dirinya.


"Jadi ini nanti belom kiri?" tegas Alam meyakinkan.


"Iya, Mas Al. nanti di pertigaan belok kiri, kalo ke kanan nanti Asy kita jadikan umpan buat mancingnya," tawa Rahman terbahak, sontak membuat Asiyah kesal dan memukul mukul pundaknya dari belakang.


 Mereka berdua tertawa bersama, membuat Alam sampai heran dengan jantungnya yang kini terasa nyeri. Namun dia menepis perasaan itu, tidak mungkin dia jatuh cinta pada Asiyah sedangkan dia tahu pernikahan mereka belum sah sepenuhnya.


 Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan gerbang pondok.


"Loh, ada apa ini, Kak? Kok ada tenda?" tanya Asiyah sambil memindai ke arah pondok yang tampak terpasang tenda besar layaknya acara hajatan.


 Rahman menggelengkan kepalanya heran.


"Entahlah, mari kita turun dan cari tahu."

__ADS_1


__ADS_2