
"Mama, Papa ayo cepat." Adam tampak bersemangat sekali, berlari riang menuju mobil dan langsung duduk rapi di sana. Di ikuti Azkara dan Ayuna di sampingnya, seperti biasa mereka akan duduk berdampingan di kursi belakang dengan Ayuna berada di tengah.
"Sabar, Dam. Kenapa harus buru buru sekali sih?" Sarah terkekeh namun ikut pula duduk di kursi depan, di samping suaminya yang sudah bersedia di balik kemudi.
"Iya, Ma. Adam nggak sabar mau ngaji!" seru Adam sambil melonjak lonjak kesenangan.
Sarah hanya geleng geleng kepala saja melihat tingkah anak keduanya itu, semangat sekali sejak semalam untuk segera bisa mengaji. Walau pada akhirnya Sarah mengizinkan namun dengan syarat kalau mereka bertiga akan mengaji bersama, tapi tidak tinggal di pondok dalam artian setiap selesai waktu mengaji akan ada yang menjemput mereka untuk pulang.
Awalnya Adam keberatan karna dia ingin terus ada di pondok agar bisa lebih banyak mengaji, namun setelah berbagai bujuk rayu di lontarkan dua kembarannya akhirnya Adam mengalah dan menyetujui syarat itu.
"Mama sudah telpon Jeni, Ma?" tanya Axel masih fokus menyetir, sesekali mobil berbelok ke kanan dan setelah itu ke kiri membuat mereka terhuyung-huyung di dalam mobil.
"Ah, iya Jeni. Sebentar Mama telpon dulu." Sarah mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari nomor telepon dengan kontak bernama Jeni.
Sarah menempelkan ponselnya di telinga setelah nada sambung terdengar.
"Assalamu'alaikum," sapa Jeni di sebrang sana.
"Wa'alaikumsalam, Jen. Kami sudah di jalan ya," ucap Sarah langsung pada intinya.
Malam sebelumnya mereka memang langsung mengatakan pada Jeni akan memasukkan anak anaknya mengaji di pondok pesantren Gus Musa, dan Jeni langsung menyambut gembira niat itu walau Sarah meminta izin untuk mengantar jemput anak anaknya setiap hari karena belum mengizinkan mereka menginap.
"Oh sudah di jalan ya, Mbak. Iya iya, kami tunggu ya, Mbak." Jeni kembali menjawab dengan nada riang, samar di dekatnya terdengar suara celotehan seorang anak yang di yakini Sarah adalah suara Abbas.
"Ya sudah, kalau begitu Mbak tutup ya, jen. Tadi cuma mau mengabari aja, kemungkinan sebentar lagi kami sampai," tukas Sarah.
"Baik, Mbak. Hati hati di jalan kalau begitu, kami tunggu ke datangannya."
Setelah saling mengucapkan salam, telepon pun di akhiri.
"Sayang, sepertinya kita harus beli buah tangan juga nggak sih?" celetuk Axel tiba-tiba.
Sarah mengangguk.
"Ah, iya ide bagus, Mas. Yuk beli yuk, mampir ke toko kue aja, Mas. Sekalian aku mau beli buat di rumah," sahut Sarah menyetujui.
Axel menepikan mobilnya di pelataran sebuah toko kue yang tidak terlalu besar namun nampak bagus dari tampilan luarnya, bersih dan kue kue yang dipajang juga tampak menggiurkan.
__ADS_1
Sarah memilih dua buah bolgul coklat dan pandan keju, lalu tak lupa membeli brownies kesukaan anak anak juga towel cake yang sejak beberapa waktu terakhir menjadi kesukaannya pula.
"Masa pertumbuhan nih ye," goda Axel saat membayar semua kue yang di beli Sarah.
Sarah tertawa pelan, lalu tangannya kembali mencomot beberapa kue Mille crepes yang di kemas dalam bungkusan mika perslice dan menambahkannya ke totalan belanjanya.
"Eh, nambah." Axel kembali menyeletuk, namun wajahnya tak tampak keberatan sama sekali malah terlihat senang karna sang istri doyan makan, dia tak suka jika istrinya kurus atau malah menolak makan.
"Sekalian nimbun lemak yang terus terusan di sedot kamu, Mas." Sarah tergelak.
"Lah kok Mas yang di salahkan?" kekeh Axel sambil menenteng box kue kue itu dan berjalan keluar beriringan dengan Sarah.
"Coba tanya sama si perut mu itu, Mas." Sarah menyahut dengan nada canda.
Mereka tertawa bersama lalu kembali masuk ke mobil dan sudah di sambut dengan wajah tiga anaknya yang merengut.
"Mama sama Papa lama banget sih?" protes di bungsu Ayuna dengan bibir yang maju sepanjang lima sentimeter.
Tangan ke tiga bocah itu bersedekap di dada dengan wajah sama-sama kesal.
"Iya, nih. Nggak tahu apa kita lagi buru-buru?" timpal Adam tak mau kalah, karna di antara kedua saudaranya dialah yang sebenarnya paling tidak sabar untuk segera sampai.
"Sudah nggak usah ngambek ngambek gitu, ini Mama belikan kalian kue. Sudah ya, jangan marahin mama lagi, kan Mama takut." Sarah mengubah ekspresi wajahnya menjadi seperti akan menangis, dan sontak Azkara langsung berdiri dan memeluk leher Sarah dari belakang.
"Mama jangan sedih, kami nggak marah lagi kok. Maafkan kami ya, Mama sudah bikin Mama sedih," ujar Azkara lembut sekali, selembut sang Papa saat merayu ibunya.
Sarah menutup mulutnya dengan tangan menyembunyikan tawa tertahannya agar tak ketahuan anak anaknya. Bisa berabe urusannya kalau sampai mereka tahu Sarah hanya pura pura sedih untuk mendapatkan simpati mereka.
Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di depan pondok, pagarnya sudah di buka tanda Jeni sudah memberitahu penjaga gerbang akan kedatangan mereka.
Setelah memarkirkan mobilnya di pelataran rumah Gus Musa yang luas mereka semua keluar, anak anak tampak sangat antusias berada di sana. Mereka bahkan melambaikan tangannya pada para santri yang melihat ke datangan mereka.
"Mama, Adam mau ke sana, Ma." Baru saja turun Adam langsung menarik tangan Sarah sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah masjid kecil yang khusus untuk mengaji anak-anak seusianya yang terlihat penuh dengan anak anak yang melambai-lambai pada mereka dengan ekspresi sumringah.
Sarah tampak kesulitan membujuk Adam, karna dia setiap punya keinginan akan keras sekali.
"Adam sayang, kita ke rumah kyai dulu ya. Buat daftarin kalian ngaji," bujuk Sarah untuk yang ke sekian kalinya.
__ADS_1
Adam masih memberontak, hingga akhirnya datanglah Gus Musa dari arah masjid kecil itu dan mendekati Adam, di sebelahnya tampak bocah seumuran Adam berlari kecil sambil melantunkan sholawat.
"Biarkan saja, Mbak kalau dia mau main sama yang lain." Gus Musa menengahi.
Mata Adam tampak berbinar, apalagi melihat Abbas di sana yang sepertinya juga senang bertemu dengannya.
"Mama, Adam mau main sama dia ya, Ma."
Gus Musa tersenyum dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Adam.
"Anak ganteng, namanya siapa?" tanya Gus Musa ramah.
"Adam, om." Adam menjawab dengan jelas dan lugas.
Tapi Sarah buru-buru menyentuh bahunya dan berkata di dekat telinganya.
"Adam, panggilnya bukan Om tapi ... Ustad."
Adam menoleh dan mengangguk.
"Iya, ustadz."
Gus Musa tergelak dan berdiri sambil mengacak rambut Adam yang halus.
"Ini namanya Abbas, anak ustadz. Abbas kamu ajak main Adam ya," ucap Gus Musa pada sang putra.
Abbas mengangguk dan langsung menggamit tangan Adam dan membawanya ke masjid dimana banyak anak anak seusia mereka di sana.
Tak lupa Abbas juga melambaikan tangannya pada Azkara sana ayuna meminta mereka juga ikut.
Gus Musa mengulurkan tangan mempersilahkan Sarah dan Axel yang masih berdiri di samping mobil untuk naik dan menuju rumah utama, dimana kyai Hasan dan Umi Nafisah sudah menunggu di sana.
Setelah menyampaikan niatnya untuk memasukkan anak anak ke pondok tersebut guna belajar mengaji dengan sistem ngalong (pulang pergi), mereka pun mengobrol ringan sambil sesekali tertawa.
Namun saat tengah bersenda gurau tiba tiba datang seorang pria yang cukup lama tak bertemu mereka dengan tergopoh-gopoh, wajahnya tampak menyiratkan kekhawatiran yang sangat.
"Assalamu'alaikum, Kyai," ucapnya dengan nafas tersengal.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Ismail? Ada apa kamu datang tiba-tiba begini? Lalu wajahmu, kenapa cemas begitu? Ada apa?" sahut kyai Hasan yang turut khawatir, begitu juga mereka yang berada di sana dan menunggu dengan tegang.