
Asy mendesah lirih di tempatnya, di depannya seorang pria muda dengan dandanan rapi tengah duduk di dekat ranjang Satrio.
Satrio belum bangun, satu satunya suara di ruangan tersebut hanya denting alat pengukur detak jantung yang berada di dekat ranjang Satrio.
"Cepatlah sehat, bro. Kami ... pasti akan merindukan kamu di restoran," gumam pria muda itu sembari mengelus pelan bagian lengan Satrio dengan tatapan mata yang menyiratkan pengharapan dan simpati yang besar untuk Satrio.
Asy semakin gelisah, terlebih Aish yang sejak tadi berpamitan untuk ke kamar mandi tak kunjung kembali. Hanya ada Rahman yang kini juga menemani pria yang mengaku sebagai teman Satrio itu.
"Maaf, apa masnya ini teman kerjanya Mas Satrio?" tanya Rahman mulai membuka percakapan dengan pria asing yang baru sekali di temuinya itu.
Sejak tadi Rahman hanya diam, karna bingung harus membuka kata bagaimana. Sungkan mungkin, karna penampilan pria itu yang tampak sangat rapi seperti orang berada, berbeda dengannya yang tetap tampil sederhana walau kini sudah resmi menjadi menantu orang kaya yang lumayan punya pengaruh.
Pria itu mengangguk dan tersenyum simpul. "Iya, Mas. Teman kerja di restoran."
"Saya, Rahman." Rahman mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
Pria itu menyambut uluran tangan Rahman, namun hanya sekilas langsung menarik tangannya lagi dengan tatapan aneh.
"Gio," jawabnya singkat.
Rahman menarik tangannya dan menatapnya sekilas, lumayan terkejut juga ada orang yang seolah jijik menyentuh orang lain seperti yang ada di hadapannya saat ini.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Semoga Satrio cepat sembuh," ucap pria yang mengaku bernama Gio itu dengan nada datar.
Rahman mengangguk, dan tanpa banyak kata basa basi lagi pria itu beranjak dari kursinya dan melenggang pergi.
Asy yang melihat semua itu akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.
Tak berapa lama kemudian, Amelie tampak memasuki ruangan bersama Ed. Di tangannya tampak berbagai macam makanan dan juga perlengkapan untuk menginap yang terlihat beragam. Asy dan Rahman sigap membantu dengan meletakan barang bawaan Amelie dan Ed di meja.
"Fiuh, lelah sekali rasanya." Amelie menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa dan menyandarkan punggungnya di sana dengan nyaman.
"Apa Satrio sudah sadar?" tanya Ed sembari menatap Rahman.
Rahman menjawabnya dengan gelengan kepala. " Belum sama sekali, Pa."
Ed lalu berjalan mendekati ranjang Satrio, lalu memperhatikan setiap inci wajah yang sejak tadi hanya diam itu.
Keningnya berkerut dalam, dengan jakun yang tampak naik turun.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Amelie tanpa mengangkat tubuhnya dari sofa, punggungnya yang pegal kini tengah di pijit oleh Asy.
Ed menarik wajahnya, menghembuskan nafas kasar dan perlahan mendekati tempat dimana Amelie duduk.
"Sesuai perkiraan kita, Sayang. Setelah ini kita harus membawa anak anak pergi, sejauh mungkin."
****
"Bagaimana? Kau berhasil?" pria botak mendekati anak buahnya yang baru saja kembali, jaket Hoodie hitam dan masker serta topi yang juga hitam menutupi seluruh wajahnya hingga tak dapat di kenali.
"Sesuai rencana, Tuan." jawabnya tenang.
"Huahahahhhahahhahhqh," pria botak yang di panggil dengan sebutan Tuan itu tergelak lebar, ke dua tangannya terangkat lalu berkacak pinggang dengan pongahnya.
"Sudah ku bilang, dia tak akan bisa macam macam dengan kita. Kita terlalu kuat untuk menjadi lawan bocah ingusan itu," timpal sang bos lagi sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi kebesarannya dan memutar tubuhnya dengan riang gembira di sana, seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah dari orang tuanya.
"Anda benar, Tuan. Tidak ada yang meragukan kemampuan anda," puji anak buahnya itu setinggi langit.
Membuat tawa sang bos semakin membahana.
"Setelah ini, tak akan ada yang bisa menghalangi ku mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku. Dan tak akan ada yang bisa menghalangi jalanku. Semua harus tunduk di bawah kakiku." Pria pelontos itu tertawa lebar, di iringi isakan tertahan dari dua bocah di sudut ruangan yang bahkan tak berani untuk bergerak.
****
"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah."
Axel tampak mondar mandir di dalam kamar anak anaknya, dengan wajah pucat dan kebingungan.
Secepat kilat diraihnya ponsel dan mulai menelpon seseorang.
"Datang ke sini segera, saya butuh bantuan."
__ADS_1
Klik
Sambungan telepon dia matikan dan selanjutnya Axel kembali menelpon sang ayah yang kala itu tengah berada di kantornya.
Tut
Tut
Tut
Klik
"Halo, assalamualaikum." Andrew menjawabnya dari sebrang sana.
"Wa'alaikumsalam, Pa tolong ke rumah Axel sekarang, Pa. Ini penting dan darurat sekali," ucap Axel secepat yang dia bisa.
"Apa ada hubungannya dengan si kembar ?" tanya Andrew lagi.
Axel mengangguk cepat, walau mungkin sang ayah tak akan bisa melihatnya. "Iya, Pa. Axel mohon cepat lah datang."
"Papa ke sana sekarang."
Klik.
Sambungan telepon kembali mati, Axel memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan berjalan mendekati dinding kamar anak anaknya yang kini sudah tampak berlubang lubang yang awalnya tertutup oleh lemari pakaian itu kini tampak nyata setelah Axel tanpa sengaja jatuh menimpa lemari dan lemari tersebut bergeser. Membuat lubang menganga yang sebelumnya sudah di tambal dengan semen kembali terbuka.
Dan Axel yakin, lubang itu bukan tercipta karna tabrakan yang di akibatkan jatuhnya dia menimpa lemari . Tapi karna ada seseorang yang memang sengaja memukul dinding tambahan itu untuk membuat jalan masuk ke kamar anak anak tanpa ada yang mengetahui.
"Kemana kalian membawa anak anakku?" desis Axel dengan nada sendu. Di tatapnya lorong panjang gelap yang kini membentang di hadapannya, padahal sebelumnya seingatnya tak ada lorong itu di sana.
Lorong yang hanya bisa di masuki satu orang saja itupun dengan berjalan merangkak di dalamnya. Entah bagaimana cara orang yang menculik anak anaknya melakukan semuanya, Axel sendiri tak habis pikir dengan yang tengah dia alami. Peristiwa yang tak pernah dia kira akan masuk ke dalam catatan kenangan hidupnya.
"Astaghfirullah!" seru Sarah yang kebetulan tengah lewat dan ingin melihat kondisi si kembar, betapa terkejutnya ia kala mendapati lubang yang kini berada di hadapan Axel itu.
"Apa ini, Mas? Kenapa? Kenapa bisa ada lubang di dinding ini? Lalu ... lalu mana anak-anak, Mas? Anak anak kemana?" cecar Sarah dengan air mata bersimbah di wajahnya.
Axel tak kuasa menjawab, dia menangis berbarengan dengan Sarah, tanpa suara. Hanya pelukan yang bisa di berikan untuk menenangkan istrinya.
Sarah memberontak, melepas pelukan Axel di tubuhnya dan berlari menjauh dari sana.
"Sarah! Sayang? Kamu mau kemana?" seru Axel berusaha mengejar istrinya yang berlari keluar dari kamar anak anaknya.
"Kalau kamu nggak mau jawab, aku akan cari anak anakku sendiri! Aku lelah selalu menurut sama kamu, Mas! Tapi anak anakku selalu jadi korban. Kamu tidak tegas!" bentak Sarah sembari meneruskan langkahnya.
Sarah membuka pintu yang berada tepat di sebelah pintu kamar anak anaknya, membukanya lebar dan mendadak tubuhnya merosot ke bawah setelah melihat apa yang ada di dalam sana.
"Sayang, sayang kamu kenapa? Tolong maafkan, Mas. Mas salah tolong maafkan Mas." Axel memeluk tubuh Sarah terasa lemas dari belakang. Di sandarkan keningnya di pundak Sarah dan menangis tergugu di sana.
"Axel?" panggil Andrew yang ternyata baru saja sampai bersamaan dengan seorang anggota polisi yang ternyata juga di telpon Axel tadi. Ke dua lelaki itu berlari mendekat dan langsung memindai keadaan sekitar.
"Ada apa?" cecar Andrew sembari melongokkan kepalanya ke dalam ruangan yang pintunya tadi di buka oleh Sarah sebelum dia jatuh terduduk di muka pintu dengan wajah sayu dan air mata yang menggenangi netranya.
"Anak anak, pa." Axel mendesah berat sembari menahan isakan di dadanya yang seolah siap meledak kapan saja.
Andrew mengernyit. "Ada apa dengan anak anak? Tapi ... bukankah itu Ayuna?" tanya Andrew menunjuk ke dalam ruangan serba pink yang memang merupakan kamar Ayuna.
Axel mengangkat wajah, sekilas tampak sorot lega dari matanya kala mendapati anak perempuannya tengah lelap tertidur di atas ranjang bergambar tokoh kartun putri duyung kesukaannya.
Lalu Axel menggeleng , mengangkat wajahnya menatap netra sang ayah dan berkata dengan terbata.
"A- Azka ... Azka dan Adam ...."
Axel kembali tergugu sedangkan Andrew langsung berlari menuju kamar sebelah, kamar dengan nuansa merah dan biru khas anak laki laki.
"Astaga ...."
Andrew merosot jatuh, wajahnya menunjukkan penyesalan yang sangat.
"Semuanya sama, terlalu sama untuk di katakan di lakukan oleh orang yang berbeda. Apa semua ini? Kenapa semua jadi begini?" keluhnya lirih, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan menangisi takdir yang kembali menghadapkannya dengan kejadian yang sama persis seperti masa lalu.
****
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit.
Satrio mengerjabkan mata, membuka matanya perlahan karna merasa silau.
Setelah beberapa saat, dia merasa tangannya pegal, mati rasa dan kaku. Kala dia menoleh di dapatinya kepala sang istri, Aish yang saat itu tertidur beralaskan telapak tangannya.
Satrio mengulum senyum, lalu mengusap pelan kepala Aish dengan penuh haru. Tak di sangkanya kalau dia bisa selamat dan akan bertemu istrinya a lagi setelah apa yang dia alami semalam.
"Eemmgghhhhh, Mas kamu sudah bangun? Kamu sudah sadar, Mas?" seru Aish usai menggeliatkan tubuhnya yang pasti terasa pegal tertidur dalam posisi duduk begitu.
Satrio mengangguk samar, menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Mas senang, bisa ketemu kamu lagi, sayang."
Satrio mengulurkan tangannya dan Aish dengan sigap mendekatkan pipinya, meletakkan tangan Satrio di pipinya dan menciumnya. Sorot haru tampak jelas dari netranya yang berkabut.
Setelah beberapa saat saling pandang dalam keharuan, Aish bangkit dan mengusap sudut matanya yang berair.
"Aish panggil dokter dulu ya, Mas. Biar Mas di periksa dulu, sebentar ya.".
Satrio mengangguk dan setelahnya Aish meninggalkan dirinya sendiri di ruangan itu, karna Aish meminta orang tuanya juga Asy dan Rahman pulang saja membiarkannya sendiri menjaga sang suami. Tapi sebenarnya Ed tetap saja memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga d sekitar ruang rawat Satrio, berjaga jaga kalau kalau ada sesuatu yang tak di inginkan mengintai.
Satrio mendesah lega, mengucap syukur dalam hatinya karna masih di beri kesempatan untuk bernafas lebih lama lagi. Tapi semua itu tak lama, tanpa sengaja di melihat ke arah pergelangan tangan bagian dalamnya yang bagian tangan bajunya tersingkap saat dia mengangkat tangan tadi.
Matanya sontak membelalak dengan deru nafas yang memburu.
"Tidak, ini tidak mungkin."
****
Polisi sudah bergerak untuk memeriksa rumah Axel dan Sarah, sedang Sarah sendiri sudah di bawa Andrew ke rumahnya. Bersama Ayuna , meninggalkakn mereka dengan Sonia di sana beserta beberapa orang penjaga yang di sewanya khusus untuk menjamin keamanan anak dan cucunya.
"Bagaimana, Pak? Apa ada jejak yang bisa kita ikuti untuk mencari keberadaan anak anak saya?". tanya Axel masih dengan wajah penuh air matanya, batinnya kacau tak bisa berpikir jernih setelah anak anaknya tak kunjung di kembalikan. Bahkan para penculik itu tak meninggalkan bekas atau setidaknya surat atau telepon misalnya.
Petugas polisi itu menatap Axel dengan tatapan prihatin, di tepuknya ke dua belah pundak Axel.
"Bersabarlah, Tuan. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk bisa menemukan ke dua anak Tuan. Doakan saja yang terbaik semoga Allah SWT memudahkan jalannya dan Tuan bisa secepatnya bertemu dengan anak anak Tuan dalam kondisi yang baik," sahut polisi itu membesarkan hati Axel, walau sebenarnya dia pun kebingungan dengan permainan yang tengah di buat oleh para pelaku penculikan itu dengan membuat lorong rahasia di kamar anak anak tersebut.
Axel mendesah berat, menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang biru milik Adam. Dan memeluk bantal kesayangan Adam yang berada di dekatnya.
"Pulanglah, Nak. Papa merindukanmu," lirihnya pilu.
Petugas polisi yang melihat itu merasa hatinya tersentuh, di dekatinya Axel untuk memberinya semangat.
"Insyaallah dengan pertolongan yang kuasa kita pasti akan menemukan anak anak Tuan dimana pun mereka berada. Yakinlah, Tuan tidak ada yang tidak mungkin," pungkasnya.
Axel hanya mengangguk menyetujui, namun tak di pungkiri hatinya sangat sakit mengingat keteledorannya yang menyebabkan anak anaknya hilang.
*
Sementara itu di tempat lain.
"Berhentilah menangis dan jalan yang cepat!" bentak seorang pria dengan jaket hitam di tubuhnya, wajahnya yang tertutup masker membuatnya tak di kenali.
Terlebih dua bocah yang saat itu tengah ketakutan, tentu saja tak akan terpikir untuk memperhatikan wajahnya lebih jauh selain mencari cara agar bisa selamat dengan menurut.
"Masuk ke sana dan diam, jangan berani berteriak atau lari jika tidak mau ma t*," ancamnya lagi dengan sebuah pistol di arahkan ke kepala dua bocah tersebut.
Bocah bocah itu sontak menggigil ketakutan, sembari saling memeluk dan merapatkan diri mereka menuruti perintah pria itu . Masuk dan duduk diam di dalam mobil yang tak mereka kenali.
Setelah itu pria tadi berbalik kala seorang laki laki pelontos yang wajahnya tak begitu jelas terlihat sebab malam yang gelap dan tanpa penerangan selain lampu mobil yang menyala mendekat.
Pria berjaket hitam tadi tampak sedikit membungkuk hormat padanya.
"Semuanya sudah siap sesuai perintah anda, Tuan."
Terdengar suara tawa lirih dari pria botak tersebut.
"Bagus, sekarang lakukan perintah selanjutnya. Bawa mereka ke pelabuhan, seseorang akan menunggu kalian di sana. Pastikan mereka tidak membuat kegaduhan supaya semua berjalan lancar."
"Baik, Tuan perintah di mengerti."
__ADS_1
Dan tanpa di sadari dua bocah itu, mobil melaju membawa mereka ke kehidupan yang tak akan pernah mereka bayangkan sebelumnya.