
"Apa kamu yakin dia orangnya? Kamu tidak salah lihat kan, Sarah?" cecar Andrew dengan wajah tegang.
Sarah menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, rasanya semua pukulan ini membuatnya bahkan tak sanggup untuk sekedar menyangga kakinya sendiri.
"Sarah ... Sarah yakin, Pa. Dia pernah datang di depan Sarah dan mengatakan kalau dia memang dalang dari semuanya, dia datang untuk menuntut balas dan akan mengambil semua apa yang seharusnya dia miliki begitu lah kira kira katanya. Dan ... dia bilang, tak akan ada yang bisa menghentikannya walau itu polisi sekalipun," jawab Sarah dengan nada bergetar.
Andrew semakin tegang, sepanjang hidupnya baru kali ini permusuhan dan dendam yang mendarah daging benar benar muncul di hadapannya. Kuat, licik, cerdik dan tanpa ampun. Lawan yang sangat menakutkan.
"Tapi bagaimana mungkin dia bisa jadi sekuat ini? Papa ingat sekali dulu dia bahkan tak punya daya sama sekali sewaktu orang tuamu mengusirnya dari perusahaan. Dia mengalah dan menghilang setelah itu," gumam Andrew lemas.
Sarah menatap kosong lurus ke depan. "Dendam, Pa. Dendam lah satu satunya yang membuat semua ini menjadi mungkin."
Andrew mengangguk membenarkan, lalu setelah itu diam dan larut dalam pikirannya.
"Inilah yang selama ini Papa takutkan, semua yang di lakukan orang tuamu dulu kini berimbas pada anak dan cucu keturunannya. Andai saja dulu mereka tidak segila itu akan harta, tak akan semuanya jadi seperti ini sekarang." Andrew berkata lirih, namun masih cukup terdengar di telinga Sarah.
Sarah menegang mendengar ucapan sang mertu, punggungnya tegak dengan mata menatap tajam.
"Maksud papa?"
Andrew menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Yah, begitulah Nak. Maaf kalau mungkin Papa terkesan mendoktrin mu, tapi ... memang begitulah kisah yang ada. Orang tuamu ... dulu sekali sewaktu kau masih kecil, saat Papa dan Mama memutuskan pergi dari negara ini untuk menghindari persaingan. Saat itulah orang tuamu menggila, merebut dan merampas hak dan harta orang orang yang menjadi bawahan atau yang mempunyai hutang dan sangkutan pada mereka. Dan salahnya mereka ... mereka melakukan itu semua dengan cara yang ... yang tidak manusiawi," papar Andrew mulai terisak.
Bayangan pembantaian atas orang orang tidak bersalah yang sempat terjadi di depan matanya, yang menbuatnya tak berpikir panjang untuk menitipkan Axel kecil pada sahabatnya yang seorang pemilik panti asuhan dimana Axel di besarkan dulunya.
"Memangnya apa yang sudah orang tuaku lakukan, Pa? Tolong ceritakan agar Sarah juga tahu alasan di balik banyaknya orang yang mendendam pada Sarah dan keluarga Sarah." Sarah mulai menjatuhkan bulir bening dari pelupuk matanya.
Andrew baru saja akan membuka mulutnya saat terdengar suara rintiha tertahan dari ranjang dimana Axel berbaring.
"Aarrtghhhhhhh," erangnya lirih.
Sarah cepat berbalik, di pegangnya jemari axel yang masih dingin dan di tempelkannya di pipinya yang basah. perlahan, tangan Sarah bergerak mengusap permukaan wajah Axel dengan lembut.
"Mas, bangunlah Mas. Ini Sarah, Mas bangun ... " lirih Sarah memohon.
Andrew mendekat, lalu mengelus lembut lengan Axel pula. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Nak, bangunlah ini Papa. Lihatlah betapa cemasnya istrimu menunggumu bangun," gumamnya pilu.
Namun , perlahan Axel mulai mengerjab. Dan serentak rasa perih dan sakit langsung menyergap tubuhnya yang luka, walau luka itu sudah di bersihkan dan di jahit namun rasanya masih akan terasa ngilu, perih dan panas.
"P- pa? S- sayang ...."
Lirih suara Axel menyadarkan Sarah, cepat dia mendekatkan wajahnya ke wajah Axel dan memegangi wajah itu dengan ke dua tangannya.
"Alhamdulillah, Mas? Kamu bangun? Kamu sudah sadar?" ucapnya bergetar.
Axel mengedipkan matanya pertanda iya.
"Pa, mas ax sadar Pa." Sarah tersenyum senang dengan air mata tumpah di pipinya.
Andrew mengangguk dan turut senang dengan itu, di usap usapnya lengan Axel yang masih terbaring lemah seolah memberinya kekuatan untuk bangkit.
"Sayang ... anak anak," gumam Axel tak bisa meneruskan ucapannya karna suaranya tercekat menahan sakit yang luar biasa di dadanya yang terluka.
Sarah paham dia langsung tanggap dan memegangi jemari Axel dengan erat.
"Tenanglah, Mas. Anak anak sudah aman, mereka sekarang di rumah bersama Mama."
Axel berkedip lega, tampak dari sorot matanya yang tak lagi khawatir.
"Papa panggilkan dokter dulu, supaya kondisi kamu di periksa," tandas Andrew langsung bergerak pergi untuk memanggil dokter yang menangani anaknya.
__ADS_1
Sepeninggalan Andrew, Sarah duduk di sebelah Axel seperti sebelumnya. Senyumnya mulai merekah seiring hati yang lega dan bungah sebab sang pujaan sudah kembali sadar.
"Syukurlah, Mas. Akhirnya kamu sadar juga, aku takut sekali loh Mas."
Axel memutar kepalanya menghadap Sarah, ingin dia bangkit namun sakit di sekujur tubuhnya membuatnya mengurungkan niat tersebut.
"Mas akan selalu berusaha ada untuk kamu, sayang."
Sarah tersenyum senang, namun sejurus kemudian senyuman itu hilang kalau dia teringat akan kabar berpulangnya Satrio yang seharusnya dia sampaikan pada Axel setelah dia bangun. Namun menimbang kondisi Axel belum membaik benar z membuat Sarah mengurungkan niat itu hingga nanti saat Axel sudah sembuh dan lebih siap mendengar kabar itu.
"Sayang? Kamu kok melamun? Ada yang kamu pikirkan?" tanya Axel pelan.
Sarah tersentak dan langsung merubah ekspresi wajahnya, melengkungkan senyum agar tak terlihat tengah menyembunyikan sesuatu dari Axel.
"Ah, tidak Mas. Aku hanya teringat anak anak saja kok, tapi tadi kata Papa beliau sudah menambah orang yang berjaga di rumah. Semoga saja dengan demikian tidak ada lagi yang akan bisa mencelakai keluarga kita," tutur Sarah.
Tampak Axel menghela nafas dalam, sebelum akhirnya menatap lekat netra sang istri tercintanya.
"Apa kamu tahu ... siapa orang yang sudah menyerang Mas waktu itu?" tanya Axel dengan raut wajah bersungguh-sungguh.
Sarah tersentak lagi, kali ini dia gagal menyembunyikan ekspresi wajahnya itu dari sang suami. Hingga membuat Axel menyadari perubahan wajah sang istri yang tampak terkejut.
"Ah, kalau itu ... itu ... masih di selidiki oleh pihak kepolisian, Mas," ujar Sarah tanpa mau menatap Axel.
Axel tersenyum kecil, dia sebenarnya sudah tahu kalau ada sesuatu yang di sembunyikan Sarah darinya. Namun dia juga tahu kalau Sarah punya alasan yang kuat untuk itu.
"Apa benar begitu?".
Sarah mengangguk ragu, masih tak ingin menatap Axel yang seolah menyelidik dirinya.
"Sabetan pisaunya sangat sakit, Mas bahkan ingin menangis jika mengingat sakitnya. Mas berusaha bertahan, namun ... dia terlalu brutal hingga akhirnya Mas jatuh dan kalah olehnya. Namun, satu hal yang harus kamu tahu sayang. Mas sempat melihat wajah pelaku penyerangan itu, dan Mas masih tak habis pikir dengan kenyataan itu."
****
Namun pria botak yang tengah menghisap nikotin itu hanya diam tak menanggapi.
"Tuan, jika boleh saya memberi saran ... apa tidak sebaiknya kita bergerak cepat saja? Agar semua tujuan Tuan lebih cepat terlaksana?" ujarnya lagi.
Pria botak mendengkus, lalu memutar kursi kebesarannya dan menatap lurus pada anak buahnya yang sejak tadi di rasa terus mendiktenya.
"Dan kau yang akan menerima setiap konsekuensi yang akan kita dapatkan jika kita menjalankan ide bodohmu itu?"
Anak buahnya segera menunduk, tak berani lagi menatap wajah sangar si pria botak.
"Ma- maaf, Tuan saya hanya ...."
"Ya ya ya, aku tau kau sebenarnya peduli padaku. Tapi tenanglah, walaupun jalan yang ku pilih tampaknya berbahaya, percayalah ... Aku sudah memikirkannya matang matang, tidak akan ada yang rugi jika kalian bersedia mengikuti caraku. " Pria botak menyeringai.
Anak buahnya kembali mengangguk. "Tentu, Tuan tidak ada yang meragukan kecerdikan anda."
"Lebih baik sekarang persiapkan semuanya, kita akan membuat kejutan untuk keluarga itu lagi ... malam ini."
Sebuah seringai licik tersungging di bibir tebal di pria botak yang mempunyai sebuah bekas luka di bawah matanya. Bekas luka, yang tak akan pernah dia lupakan sebab mendapatkannya.
****
Sementara itu .
"Gimana, Mi? Pi? Bisa kan A Hendro kerja di tempat kita? Kasihan dia tidak punya saudara ataupun kenalan di sini, Mi. Cuma Aish satu satunya yang dia kenal, itupun kebetulan saja kami tidak sengaja bertemu tadi kalau tidak mungkin entah bagaimana nasib A Hendro di luar sana," bujuk Aish berusaha meyakinkan ke dua orang tuanya untuk menerima Hendro bekerja di keluarga mereka.
Amelie dan Ed yang masih tampak terkejut dengan apa yang terjadi, malah hanya bisa saling pandang dengan bingung. Sedang di hadapannya, Hendro yang menjadi topik pembicaraan terus saja menunduk sungkan. Kakinya di rapatkan karna gugup, sedang jemarinya sejak tadi tak berhenti saling meremas.
"Neng Ai, sudah kalau orang tua kamu nggak ngizinin jangan di paksa. Aa nggak papa cari kerja serabutan di luar saja," bisik Hendro tak enak hati.
__ADS_1
Namun Aish tak menggubris, dia kini malah beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati ke dua orang tuanya, lalu tanpa aba aba dia duduk di tengah tengah mereka.
"Mami, Papi apa yang di pikirkan dari tadi sih? Aish nunggu keputusan Mami sama Papi loh," gumam Aish menatap bergantian Amelie dan Ed.
Ed menarik nafas dalam, lalu menelan ludahnya.
"Ah, Papi hanya ... masih bingung harus bagaimana. Sungguh, ini terlalu mengejutkan," kekeh Ed dengan nada sumbang, mencuri lirik ke arah Hendro yang sejak tadi sudah tampak gelisah dan tak tenang.
"Iya, Mami juga bingung harus bersikap bagaimana sekarang," timpal amelie pula sembari memegangi pelipisnya.
"T- tidak usah di pikirkan, Pak, Bu. Saya tidak apa apa kalau tidak di terima," sela Hendro cepat, raut wajahnya menunjukkan keseganan yang sangat.
"Tidak bisa, A. Di kampung dulu Aa yang selalu bantu Aish, sekarang saat nya Aish yang bantu Aa," sela Aish cepat.
Hendro menjadi serba salah sekarang, terlebih kini Ed menjadi memperhatikan nya dengan lebih intens setelah mendengar kata kata Aish barusan.
"Benar begitu? Jadi ... yang kamu sering cerita dulu sewaktu kamu masih tinggal di kampung ada seseorang yang menjadi sahabat kamu dan selalu turun tangan membantu kamu di setiap kesempatan?" tanya Amelie kala teringat dengan beberapa cerita yang sempat di ceritakan Aish padanya kala dia baru saja memanggil Amelie dengan sebutan Mami.
. Aish mengangguk dengan penuh semangat, matanya memancarkan harapan agar permintaanya supaya Hendro di terima bekerja di rumah mereka bisa terlaksana.
Ed pula tampak manggut-manggut sekarang, setelah di telisik tubuh Hendro yang tinggi dan tegap bisa membawa keuntungan tersendiri baginya.
"Baiklah, kalau memang begitu. Benar kata anak saya, sudah sepantasnya kami membalas kebaikan kamu sewaktu Aish masih di kampung dulu," ujar Ed ramah, maksudnya mulai ramah karna sejak tadi dia malah memasang wajah jutek di hadapan Hendro yang membuat pria tegap berkulit gelap itu salah tingkah sendiri.
"Benarkah, Pi?" seru Aish yang mulai penuh semangat, Ed senang melihat kembali senyuman putrinya a yang kini sudah muncul kembali setelah beberapa hari terakhir hanya air mata yang tampak.
Ed mengacak rambut Aish dan mengangguk. "Ya, benar. Sudah seharusnya bukan?"
Aish tersenyum riang, bahkan untuk mengekspresikan rasa kebahagiaan kecilnya dia langsung memeluk Amelie dan tersenyum.
"Maaf, Pak apa bapak tidak salah? Maaf, maksud saya ... saya ini hanya lulusan SMA, pak. Apa mungkin saya bekerja sama Bapak?". sela Hendro memberi tahu.
Ed mengibaskan tangannya pelan, lalu kembali duduk dengan raut wajah lebih santai dan mempengaruhi suasana yang tadinya tegang menjadi lebih relax dan nyaman.
"Tidak apa, lagipula ijazah mu juga tidak perlu kok. "
Sontak Hendro terbelalak, padahal di pikirnya barusan dia akan di masukkan bekerja di perusahaan milik keluarga Aish. Ya, walaupun dia juga tidak berharap banyak sih, jadi ob pun sebenarnya dia mau asalkan gajinya pasti dan dia bisa mengirimkan yang untuk sang bapak yang saat ini tengah terbaring sakit di kampung.
"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu ... pekerjaan yang bapak maksud apa ya?" tanya Hendro memberanikan diri
Ed tersenyum penuh arti, lalu scene beralih ke adegan selanjutnya.
*
"Kamu bisa bawa mobil?"
"Bisa," sahut Hendro yakin, karna berpikir mungkin saja dia akan di tawari pekerjaan menjadi supir keluarga tersebut. Dan itu sudah cukup baik untuknya yang memang belum punya pengalaman kerja sama sekali.
Ed terkekeh, senang dengan semangat anak muda di sampingnya itu. Dia pun tanpa sungkan merangkul pundak Hendro dan menepuknya perlahan.
"Kalau kamu berpikir saya akan menjadikan kamu supir, kamu salah. Supir sudah ada, itupun pilihan istri saya tercinta. Namanya Sutrisno, nanti kalian bisa ngopi ngopi bareng kalo lagi nggak kerja m," kekeh Ed lagi.
Membuat Hendro semakin garuk garuk kepala karena bingung dengan maksud dan tujuan Ed membawanya berjalan mengitari rumahnya yang bak istana itu. Rumah yang di bangunnya dengan hasil jerih payan dan tetesan keringatnya sendiri.
"Kalau merawat taman dan bersih bersih kamu bisa?" tanya Ed lagi, memetik sebiji tomat matang pohon di dekatnya dan langsung memakannya begitu saja dengan nikmat.
"Bisa, Pak. Kalau ini saya jagonya, kebetulan bapak saya di kampung juga usaha tanam sayur mayur dan di kirim ke kota setiap harinya, jadi masalah tanam menanam dan rawat merawat tanaman insyaallah saya bisa," jawab Hendro pajang lebar, karna yang satu ini memang keahliannya selain melatih otot dan butung kicau peliharaannya.
Ed lagi lagi mengulum senyum, namun senyumannya masih tampak misterius dan membuat Hendro sejujurnya malah sedikit takut.
"Tapi, sayangnya bukan tanaman ini yang saya maksud. Mari ikut saya, saya tunjukkan tanaman yang harus kamu urus dengan baik dan benar nantinya."
Hendro pasrah, walau dalam hatinya bertanya tanya tanaman apa yang si maksud Ed, dalam hati dia tak lupa berdoa semoga saja bukan tanaman purba pemakan daging yang akan membuatnya tinggal nama nanti.
__ADS_1