
"Mbak Sarah!" seru Pak Ismail, orang yang akan menjual rumah kontrakannya pada Sarah.
Sarah menoleh dan mengangguk, walau masih penasaran dengan lanjutan cerita dari ibu pemilik warung. Tapi tidak mungkin juga untuk mengacuhkan Pak Ismail yang sudah berjalan jauh dari rumahnya di bagian belakang perumahan tersebut.
"Ayo, Mbak. Kita ke rumahnya sekarang," ajak Pak Ismail yang tampak terburu-buru itu.
Sarah beranjak dari duduknya dan hendak berjalan menuju motornya.
"Eh, Bu. Maaf ini uangnya, saya hampir lupa." Sarah mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan selembar uang ratusan ribu pada si ibu pemilik warung.
"Aduh, Mbak. Uangnya besar sekali, harganya cuma lima ribu aja kok minumannya," tolak ibu itu karna belum mempunyai uang kembalian.
Sarah tersenyum dan memaksa ibu itu menerima uangnya. "Lebihnya ibu kasih sembako aja buat orang tuanya Jeni di rumah itu."
"Oh, iya iya, Mbak. Memang mereka itu ...."
"Hei Yu Munah! Sudah dong ngegosipnya saya sama Mbak sarah ada urusan penting. Jangan ngegosip dulu, suka banget ngegosipin orang. Jangan sampe Mbak Sarah jadi kayak istriku nantinya yu Munah, gara-gara belanja di warung kamu selalu masaknya siang!" omel Pak Ismail yang tampak sudah sangat kesal.
Ibu pemilik warung yang di panggil yu Munah itu hanya mencebik tak mengindahkan sedikit pun omelan Pak Ismail yang menurutnya lebai itu.
"Ya udah, Bu. Saya permisi dulu ya," pamit Sarah terburu-buru karna Pak Ismail sudah berjalan mendahuluinya.
"Eh, iya Mbak. Tenang saja nanti sembakonya pasti saya antar ke rumahnya si Jeni."
"Baik, Bu. Terima kasih," ucap Sarah sebelum benar-benar menjauh dengan motornya.
"Hmmm Mbak itu baik sekali, bahkan dengan orang yang dia belum kenal pun bisa bersimpati. Ah, andai saja dulu menantuku seperti dia, sayangnya malah dapat menantu seperti singa." Yu Munah masuk kembali ke dalam warungnya dan melanjutkan kegiatannya bermalas-malasan sambil menonton tv.
*
"Nah, Mbak Sarah. Rumahnya yang ini, sama-sama kuning sih catnya cuma yang ini kan lebih bersih dan lebih besar juga. Kalau rumah yang di sana itu, itu rumahnya si Jeni, primadonanya RT sini. Hahaha, mari Mbak kalo mau masuk liat-liat." Pak Ismail membuat kunci pintu dan membukanya lebar-lebar agar Sarah bisa leluasa melihat.
Sarah perlahan masuk, matanya menelusuri seluruh bagian rumah yang tampak elegan dan bersih, aroma cemara menguar harum dari lantai yang sepertinya baru saja di pel. Sarah sampai membuka sepatunya karna takut mengotori lantai yang tampak mengkilat itu.
__ADS_1
"Di pake saja sepatunya, Mbak," ucap Pak Ismail yang ternyata tetap memakai sandalnya masuk ke dalam rumah sampai membuat lantai itu ternoda oleh debu dari telapak sandalnya.
"Nggak ah, Pak. Sayang lantainya sudah bersih," sindir Sarah sambil melirik kaki Pak Ismail berharap dia pun mengerti untuk turut membuka sandalnya.
Namun Pak Ismail tampaknya tidak paham, dan malah melenggang santai masuk ke setiap ruangan dan membuka semua pintunya.
Jejak sandal Pak Ismail bertebaran membentuk jalan kereta di sepanjang jalur yang dia lewati membuat Sarah geram melihatnya.
"Pak, maaf saya nggak jadi beli rumahnya," ketus Sarah yang sejak tadi hanya diam mematung di tengah ruangan sambil mengamati Pak Ismail yang berjalan ke sana kemari.
Pak Ismail kontan menoleh dengan tatapan tak suka. "Loh kenapa? Saya sudah capek-capek loh nganterin Mbak ke sini, malah nggak jadi beli, tau begitu tadi saya pergi aja ke hajatan tetangga. Lumayan bisa nyawer biduan daripada begini buang-buang waktu."
Pak Ismail kembali menutup semua pintu ruangan dengan kasar, terlihat sekali kalau dia bukanlah orang yang sabar.
"Pak!" panggil seorang perempuan dari arah luar rumah.
Sarah menoleh dan tampak olehnya seorang perempuan muda yang memakai daster yang sudah mulai lusuh dan tampak sobekan di bagian ketiaknya.
"Pak, ada yang nyariin di rumah," ucapnya pelan.
Tapi Pak Ismail justru mendorongnya hingga hampir terjengkang.
"Ngapain kamu ke sini? Kan sudah saya bilang kalo ada yang mau lihat rumah! Tugas kamu itu di sini cuma buat bersih-bersih nggak buat nampakin wujud kamu yang dekil ini ke orang-orang, kalo orang malah jijik sama kamu terus nggak jadi beli gimana?"
Kening Sarah berkerut, bisa-bisanya lelaki berkumis lele itu berbuat kasar pada wanita yang sepertinya adalah istrinya itu. Entah istri yang ke berapa tapi.
"Maaf, Pak. Tapi Bapak sudah di tunggu di rumah sana." Wanita itu menunduk dan seperti menghela nafas saat melihat lantai rumah yang baru tadi pagi di pelnya kembali kotor ulah Pak Ismail.
"Ya sudah, kamu bersihkan lagi lantai ini. Sekalian temani Mbak ini, kalo dia nggak jadi beli usir saja. Saya mau pulang dulu," dengus Pak Ismail dan langsung berlalu pergi tanpa pamit pada Sarah lagi walau hanya sekedar basa basi.
Setelah Pak Ismail tak terlihat lagi, wanita yang sebenarnya cantik itu berjalan pelan mendekati Sarah.
"Mbak, apa Mbak yang mau beli rumah ini? Maaf ya , Mbak. Kalo rumahnya jadi kotor lagi," ucapnya dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Yah, awalnya saya memang mau beli, Mbak. Tapi ... melihat sikap Pak Ismail tadi rasanya saya jadi sungkan," tukas Sarah jujur.
Wanita itu semakin tertunduk sedih, sebagai sesama wanita Sarah dapat memahami bagaimana perasaan wanita itu yang seperti tidak di hargai oleh suaminya sendiri.
"Baiklah, kalau Mbak nggak berkenan membeli mungkin sebaiknya Mbak pulang, seperti kata suami saya tadi saya harus kembali membersihkan rumah ini sampai laku terjual,"pungkasnya sedih.
Melihat itu hati kecil Sarah menjadi tak tega, apalagi harga yang di ajukan sebenarnya lumayan murah. Dan akan sangat sulit mencari rumah dengan harga segitu saat ini.
. Setelah menimbang baik dan buruknya akhirnya Sarah memutuskan untuk membeli rumah tersebut, dengan syarat tentunya.
"Saya akan beli rumah ini, asal Mbak yang layani saya dan temani saya berkeliling rumah ini."
Wanita itu menatap sarah dengan mata berkaca-kaca, entah antara senang rumahnya laku atau sedih karna hal lain yang Sarah sendiri tak tahu.
"Baiklah, Mbak. Tapi ... sebentar ya saya bersihkan dulu lantainya, nggak enak di lihatnya kalau kotor begini," ujar wanita itu sambil berlalu untuk mengambil sapu dan pel.
Sarah memilih menunggu di teras yang luas dan terasa sangat sejuk itu, pohon Kamboja di halamannya tampak sedang berbunga menimbulkan aroma khas yang membuat Sarah betah berlama-lama di sana.
Dari jendela besar yang terbuka Sarah bisa melihat bagaimana cara wanita itu membersihkan rumah terlihat sangat ligat dan cekatan, namun hasilnya bersih dan mengkilat. Sungguh luar biasa.
"Mari Mbak, saya sudah selesai." Wanita itu berjalan menghampiri Sarah dengan kedua tangan tertaut di depan, tampak sangat ayu dan anggun.
"Nama kamu siapa, Mbak?" tanya Sarah.
"Lasmi, Mbak. Mari saya antar berkeliling," ujar Lasmi mendahului Sarah masuk ke rumah.
Tapi sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Sarah.
"Mbak Lasmi, apa mau ikut ke rumah saya?"
****
Nb: next part nikahannya Sarah - Axel. Yang mau kondangan silahkan komen, biar author sediain kotak amplopnya.
__ADS_1