MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 169.


__ADS_3

Juli bergegas menuruti permintaan Bu Sani, berlarian sepanjang jalan berbatu desa mereka untuk mencapai rumah pak mantri orang yang biasa mengobati orang sakit di desa tersebut.


Beruntungnya saat sampai di sana tampak pak mantri sedang berada di rumah jadi Juli lekas mengajaknya untuk memeriksa keadaan Alam.


"Pak mantri tolong anak saya," gugu Bu Sani saat juli dan pak Mantri baru saja sampai, keadaan rumah tampak sepi karna bapaknya Alam sedang berada di kebunnya.


"Sebentar saya periksa dulu ya, Bu." Mantri itu mendekat lalu mulai memeriksa Alam yang masih terbaring sembari terus merintih memanggil nama Asy.


Bu Sani yang tak kuasa menahan kesedihan memeluk Juli seolah meminta kekuatan.


"Sabar ya, Mak insyaallah Mas Al pasti sembuh." Juli menggosok punggung Bu Sani lembut.


"Iya, Jul tapi kenapa kok Emak rasanya aneh sama perilakunya belakangan ini."


Kening Juli tampak membentuk kerutan. "Aneh bagaimana, Mak?"


"Alam sering melamun, duduk diam dan kadang suka menangis juga diam diam entah kenapa. Tiap di tanya jawabannya cuma nggak papa, tapi pasti selalu terulang lagi besokannya." Bu Sani menjelaskan.


Juli terhenyak, namun dia juga bingung kenapa alasannya hingga akhirnya hanya memilih diam.


"Bu, Mbak ini kondisi masnya lumayan gawat, tidak bisa kalau cuma kita tangani di rumah sebaiknya cepat kita bawa ke rumah sakit besar di kota." Mantri itu berbalik dan menjelaskan dengan wajah cemas.


Bu Sani terkesiap. "Memangnya anak saya sakit apa, pak?"


Air mata juli pun turun tanpa di perintah, dia mendekati Bu Sani memeganginya agar tubuh tua itu tidak sampai limbung.


"Sepertinya ... anak ibu sakit jantung, dan sudah stadium lanjut." Mantri mengatakan dengan suara sedikit bergetar, wajahnya tampak mengguratkan keprihatinannya yang dalam.


Alam masih merintih, sakit di dadanya semakin menjadi hingga akhirnya gelap meraja dia tak ingat apa apa lagi selain bayangan wajah Asy yang berjalan menjauh darinya.

__ADS_1


"Ya Allah, anakku ...."


Brugghhh


Bu Sani jatuh pingsan tepat di atas tempat tidur Alam yang masih luas, cepat cepat Juli memapahnya dan menggoyang tubuhnya.


"Mak, Mak bangun, Mak."


"Mbak, biarkan saja dulu sepertinya Bu Sani masih kaget." Mantri itu mencegah Juli lebih mengguncang tubuh Bu Sani yang tampak lemah dan pucat.


"Lalu saya harus apa, Pak?" Juli bangkit dengan wajah merah karna tangis yang menbasahi pipinya.


Mantri itu menarik nafas dalam membuka kacamata minusnya dan mengusap matanya yang juga berkabut. Begitulah warga desa, satu orang yang tertimpa musibah maka yang lain akan turut merasakan kesedihannya.


"Saya akan panggilkan bapaknya Mas Al, mereka kan pun punya mobil setelah itu biar kita temani ke kota, sepertinya kalau membiarkan Bu Sani dan bapak sendiri yang ke kota menemani mas Al bakalan kesulitan."


Juli mengangguk. "Iya, Pak saya ikut saja."


Pluk


Saat membuka pintu lemari kayu jati itu tak sengaja sesuatu berbentuk kotak berwarna merah jatuh ke lantai, dengan ragu Juli mengambilnya dan memperhatikannya, karna penasaran Juli pun membukanya perlahan.


Sebuah kalung berliontin bentuk hati yang sangat cantik tampak di dalam sana\, juga secarik kertas kecil bertuliskan *Mas mencintaimu* ada di antaranya.


Juli menoleh sekilas ke pada Bu Sani dan Alam, tampak mereka masih tidak sadar. Rasa penasaran yang besar menuntun tangan Juli untuk melihat lebih jauh, dibukanya bagian liontin hati itu dan mendapati foto Alam di satu sisinya dan foto Asy di sisi lainnya.


Tes


Tes

__ADS_1


Air mata jatuh di kedua sisi mata Juli, dia menutup lagi kotak itu dan dengan sengaja memasukkannya ke dalam tas yang akan dia gunakan untuk membawa pakaian Alam. Entah apa maksudnya nanti yang pasti Juli membawanya saja dulu.


"Tidak ada kah lagi tempat untuk ku di hatimu, Mas?" gumam Juli menghapus air mata di wajahnya.


Sakit dan perih tentu saja saat mengetahui orang yang kita cintai sepenuh hati dan membuat kita rela tidak menjalin hubungan dengan siapapun karna menunggu cintanya malah mencintai orang lain yang sama sekali tidak mencintainya. Dan itu, tengah di rasakan Juli saat ini.


"Eerrnggghhhh," terdengar suara Bu Sani dari atas kasur, gegas Juli meletakkan tas yang di pegangannya dan menyambut tubuh Bu Sani yang berusaha berdiri.


Bertepatan dengan itu terdengar suara motor Pak mantri yang baru kembali dari menjemput bapaknya Alam di kebun.


Setelah menjelaskan secara singkat apa perkataan pak mantri tadi, gegas Juli dan Bu Sani membereskan barang barang yang sekiranya perlu di bawa. Sedangkan Pak mantri dan pak Broto, bapaknya Alam mengangkat tubuh Alam yang masih pingsan ke dalam mobil.


Setelah siap berangkat dan mengantar Pak mantri serta Juli untuk mengambil barang di rumah mereka lebih dulu akhirnya mobil berangkat ke kota, dengan membawa segala rasa cemas di dada.


"Pak mantri, apa ada kemungkinan anak saya akan sembuh lagi seperti sedia kala?" tanya Pak Broto yang sejak tadi diam tapi matanya tak henti mengeluarkan airnya.


Pak mantri yang duduk di sebelah kemudi pun mendesah,  namun sebisa mungkin di mencoba memberi masukan positif agar keluarga pasien tidak berkecil hati.


"Insyaallah ya, Pak kita usahakan lebih dulu semoga Mas Al bisa kembali sembuh."


Pak Broto mengangguk, lalu mempercepat laju mobilnya agar mereka lekas sampai di kota.


Juli yang duduk di belakang sambil memangku kepala Alam menangis dalam diam, sama dengan Bu Sani yang duduk di kursi paling belakang dengan bersandar bantal, tubuh tuanya sudah tidak sanggup jika harus berkendara jauh dalam keadaan duduk tegak.


"Kenapa kamu tidak pernah sekali saja melihat aku, Mas? Aku yang paling mencintai kamu, bahkan aku rela menolak semua pinangan yang datang kepadaku hanya untuk menunggu kamu. Rela menjadi orang yang tidak di sukai semua orang hanya untuk menarik perhatian kamu. Tapi kamu malah memilih wanita lain untuk menjadi pendamping kamu, yang bahkan saat kamu sakit begini pun tidak ada di sisi kamu. Hanya aku, Mas aku yang setia menemani kamu." batin Juli menjerit sakit.


"Emak masih nggak habis pikir sama si Asy, sudah tahu suaminya sakit begini bukannya pulang buat ngurus suaminya malah sibuk sendiri d kota sana. Istri macam apa itu? Harusnya dulu emak bisa tegas dan memaksa Alam menikah dengan Juli, lihat sekarang dia yang paling peduli sama anak kita," ujar Bu Sani yang sepertinya di tujukan untuk sang suami yang tengah mengemudi di hadapan.


Pak Broto mendesah berat. "Sudahlah Bu ne, bukan saatnya buat menyesali apa apa. Kita harus mengusahakan supaya Alam bisa sembuh lagi sekarang ini. Fokus ke situ saja, masalah Asy nanti kita bisa cari dia begitu tiba di kota."

__ADS_1


"Iya, kita akan datangi rumah nya dan minta pertanggung jawaban dia atas kondisi Alam saat ini," geram Bu Sani sambil membuang pandangannya ke arah lain.


__ADS_2