MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 138.


__ADS_3

Di kediaman Edwin.


"Nak, akhirnya ibu bisa melihat kamu lagi." Bu Hannah, ibunda dari Rahman memeluk sang putra yang sudah begitu lama di rindukannya.


 Bukan dia tak bisa keluar dari sarang Ed dan anak buahnya, hanya saja mulut manis Ed yang membuat dia percaya kalau Rahman pergi untuk menuntut ilmu dan akan kembali saat dia sudah mendapatkan cita-citanya. Dan entah bagaimana semuanya seolah sesuai dengan rencana Ed.


 Rahman memeluk sang ibu dengan eratnya, seakan takut terpisahkan lagi. Air mata yang selama ini tak pernah dia keluarkan tiba-tiba merangsek keluar hingga bak air terjun membasahi pipi dan baju yang sang ibu kenakan.


"Bu, aku kangen sekali." Rahman terisak di bahu ibunya.


 Bu Hannah menepuk pelan punggung Rahman dan mengangguk angguk.


"Sama, Nak. Ibu juga kangen sekali, apa kamu sudah berhasil sekarang? Tapi ...." melerai pelukan dan memindai penampilan Rahman dari atas hingga bawah. "Sepertinya apa yang cita-citakan sudah terwujud ya, Nak? Ibu ikut senang melihat kamu yang sekarang, tak sia sia selama lima tahun lebih ini ibu menunggu kamu."


 Rahman mendesah pelan, dia tahu pastilah otak sang ibu sudah di cuci oleh sang paman yang di kenal licik itu.


"Kita pulang, Bu? Mulai sekarang Rahman yang akan merawat ibu," gumam Rahman memaksa sudut sudut bibirnya untuk menampilkan selarik senyum tulus untuk sang ibu yang wajahnya mulai berkeriput itu.


"Apa kamu sudah punya rumah, Nak? Kita mau pulang kemana?" tanya Bu Hannah penasaran.


 Rahman terhenyak, dia sadar selama ini bahkan belum mampu mengumpulkan uang guna membeli rumah sendiri. Namun bagaimana lagi, tak mungkin dia membiarkan sang ibu tetap berada di kadang macan ini bersama psikopat berdarah hangat seperti Edwin.


 Tapi dengan tenang Rahman berkata. "Belum, Bu. Tapi ... akan ada tempat yang nyaman untuk kita bernaung hingga nanti Rahman sanggup membeli rumah kita sendiri."


 Bu Hannah tersenyum lembut, lalu mengangguk dan menerima uluran tangan sang putra untuk turun dari ranjang empuk yang selama lima tahun terakhir menemani hari harinya.


 Rahman menuntun Bu Hannah untuk menuruni tangga, namun matanya sesekali mencuri lirik ke arah sebuah kamar yang pintunya tampak terbuka separuh menampakkan dua orang yang tengah bercengkrama di dalam sana.


"Nak? Ayo," ajak Bu Hannah saat menyadari Rahman berhenti di tangga paling atas.


 "Ah, iya Bu." Rahman mengusap sudut matanya dan kembali melangkahkan kaki menuruni tangga marmer rumah megah Edwin.


"Dimana pamanmu? Ayo kita pamit dulu, selama ini dia sudah mengurus ibu dengan baik selama kamu pergi menuntut ilmu hingga berhasil seperti ini. Semua orang mengatakan kalau dia orang yang jahat, tapi pada kenyataannya caranya memperlakukan ibu dan istrinya saja seperti melayani seorang ratu," terang Bu Hannah dengan selarik senyum lebar di wajah tuanya.

__ADS_1


 Namun tak di sadarinya kalau saat ini wajah Rahman tampak pias demi mendengar perkataannya.


"Maksud ibu apa? Bukannya selama ini kita tahu bagaimana perangai Uncle Edwin?" tanyaa Rahman mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ibunya hanya salah bicara dan salah paham, kan bisa jadi ibunya sudah mulai pikun karna usianya yang mulai senja.


 Tapi Bu Hannah malah terkekeh.


"Ya, bukankah durian tidak di nilai berdasarkan kulitnya? Begitu juga manusia bukan?" ucap Bu Hannah sarkas.


 Mereka sampai di lantai dasar, suasana sepi di bawah namun angin dingin tetap berhembus dari pintu dan jendela besar yang sengaja di buka. Bu Hannah melepaskan tangannya dari pegangan Rahman dan mulai berjalan sendiri dengan tertatih menyusuri lantai dasar rumah, sesekali ia terlihat celingukan seakan mencari sesuatu.


"Bu, ibu mau apa?" Tanya Rahman sembari melangkah lebar dan mensejajari langkah ibunya yang sudah sampai ke tengah ruangan dimana lampu hias indah bergantung di sana.


 Bu Hannah berbalik dan senyuman manis terpancar di wajahnya.


"Mau cari pamanmu, kita harus pamit lebih dulu."


"Tidak perlu lah, Bu. Ibu perlu istirahat, mungkin juga Uncle sedang pergi ... lebih baik kita langsung pulang saja sekarang," pungkas Rahman sambil menahan pergerakan ibunya yang hendak kembali melangkah menuju ke sebuah pintu yang tampak bagus di sudut ruangan.


 Tapi dengan perlahan Bu Hannah menepis tangan Rahman yang ada di tangannya.


 Bu Hannah kembali melanjutkan langkah, dan berhenti tepat di depan pintu itu. Rahman hanya bisa menurut dan menunggu di tempatnya apa yang sebenarnya hendak di lakukan sang ibu di sana.


Tok


Tok


Tok


 Bu Hannah mengetuk pintu ruangan itu, dan tak butuh waktu lama akhirnya pintu indah berukir itu pun terbuka.


"Ed," sapa Bu Hannah ramah sekali, bahkan Rahman saja sampai kaget mendengar betapa lembutnya sang ibu bicara dengan pamannya itu.


"Bibi, kau terlihat segar hari ini." Edwin balik menyapa Bu Hannah dengan senyum di bibirnya yang selama ini bahkan tak pernah di lihat Rahman.

__ADS_1


 Rahman bahkan sampai tercengang di tempat saking terkejutnya, terlebih melihat cara sang paman memperlakukan ibunya dengan begitu lembut.


"Yah, putra kesayangan ku sudah datang. Itu artinya aku akan ikut dengannya bukan? Aku sudah terlalu merepotkanmu, Ed." Bu Hannah berkata pelan dengan raut sesal tampak di wajah tuanya.


"Tidak, bibi. Siapa yang mengatakan begitu, sudah berkali kali ku bilang kalau tak ada yang di repotkan di sini bahkan Amelie pun senang karna punya teman di sini bukan?"


 Bu Hannah menunduk, tangan tuanya terangkat untuk menyusut bulie bening di sudut matanya.


"Sampaikan salam ku pada istrimu, maaf aku tak sanggup harus berpamitan dengannya. Hatiku tidak sekuat itu untuk melihat air matanya," desah Bu Hannah menyayat hati, hingga tanpa sadar Rahman yang mendengar pun ikut meneteskan air mata.


 Edwin mengangguk, lalu membiarkan Bu Hannah melangkah menjauh darinya.


 Hati Rahman mencelos terlebih saat dia melihat seringai tipis di bibir Edwin yang masih mematung memandangi ibunya yang berjalan tertatih menuju ke arahnya.


Dan tanpa aba-aba Edwin berlari mengejar Bu Hannah dengan bandul berduri terayun kencang di tangannya.


"Tiddddaaaakkkkkkk!" seru Rahman terkejut.


****


 Sementara itu.


"Sampai kapan kita harus di sini?" desah Alam yang sudah tak betah berada di rumah besar nan megah namun suram itu.


 Asiyah menepuk pelan lengannya dan menggeleng.


"Ikhlas lah jika menolong orang," ucapnya bijak.


"Iya, tapi kalau lama lama di sini lama juga nanti aku mengurus keperluan pribadiku," gerutu Alam masih tak senang.


 Asiyah memilih tak lagi mempedulikannya dan lebih memusatkan perhatian pada wanita dewasa di depannya yang tak hentinya menatap kagum wajahnya.


"Mami, berhentilah menatapku seperti itu." Asiyah menunduk malu.

__ADS_1


 Tapi wanita di hadapannya yang tak lain adalah Amelie mengangkat wajahnya dengan telunjuk dan tersenyum.


"Mintalah apa saja, tapi tetaplah di sini. Di dekatku ... anakku."


__ADS_2