MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 73.


__ADS_3

Jeni dan Asiyah sudah pulang, sementara Sarah di minta beristirahat kembali oleh Axel di tempat tidurnya setelah tadi menyusui si kembar yang semakin hari semakin kuat menyusu.


"Mas pergi beliin susu formula dulu ya, sama asi booster buat kamu. Kayanya tadi ASI-nya mulai seret, kamu jangan banyak pikiran ya, inget apa kata dokter. Mas pergi dulu," pamit Axel sambil mengecup kening istrinya.


Sarah mengangguk dan membiarkan suaminya pergi, tubuhnya terasa pegal sekali terus menerus duduk dan berbaring di tempat tidur.


"Mom, " panggilnya pada nyonya Ellen yang masih duduk di sofa, sedangkan Sonia tadi pamit untuk pulang sebentar karna ada tamu di rumahnya.


"Mom," panggil Sarah lagi karna nyonya Ellen tidak bergeming, malah tampak seperti melamunkan sesuatu.


"Ada apa, Nak?" tanya Tuan Bryan yang baru saja kembali dari menelpon di balkon dan mendekati Sarah.


Sarah menunjuk dengan lirikan matanya, dan Tuan Bryan mengikuti arah lirikannya.


"Kenapa Momy? Dari tadi Sarah panggil sepertinya nggak dengar." Sarah mengadu.


Tuan Bryan mengernyitkan keningnya, lalu berjalan mendekati nyonya Ellen.


"Sayang, kamu melamun?" panggilnya sambil menggoyang pelan pundak Nyonya Ellen.


Nyonya Ellen tersadar dan langsung menoleh menatap suaminya.


"Ah, ya ya. Ada apa, Dad? Dady butuh sesuatu?" tanyanya cepat.


Tuan Bryan menggeleng. "Bukan aku, tapi anak kita. Katanya dari tadi dia memanggilmu, Mom. Tapi kau malah melamun."


Nyonya Ellen langsung berdiri dan menghampiri Sarah dengan raut wajah cemas.


"Ada apa, honey? Apa ada yang sakit? Kau mau Momy panggilkan tukang pijat? Atau spa?" cecar nyonya Ellen sambil memindai tubuh Sarah dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.


Sarah tersenyum dan menggeleng.


"No, Mom. Sarah cuma ingin makan  kue yang tadi Momy berikan pada temannya Jeni itu."


Nyonya Ellen berjalan cepat menuju meja dan mengambil box tempat kue tersebut.


"Ini, Sayang. Makanlah, makan yang banyak. Kalo ada sesuatu lagi yang kamu mau bilang saja sama Momy ya."


Sarah tersenyum dan mengambil sepotong kue itu kemudian memakannya, Sarah sedikit menggeser tubuhnya untuk mendapatkan posisi nyaman, karna rasa nyeri akibat jahitan di jalan lahirnya belum juga reda.

__ADS_1


"Kenapa Sayang? Kamu seperti tidak nyaman?" tanya Nyonya Ellen sambil duduk di tepi ranjang Sarah.


"Entahlah, Mom. Rasanya jahitannya nyeri sekali," sahut Sarah apa adanya.


  Wajah nyonya Ellen tampak khawatir.


"Aduh, bagaimana ini. Momy belum pengalaman seperti ini, soalnya dulu waktu kamu lahir kamu itu kecil sekali jadi Momy tidak mendapat jahitan jadi Momy tidak tau rasanya."


Sarah menarik nafas dan mencoba tersenyum mengerti. "Tidak apa, Mom. Tidak semua ibu mempunyai pengalaman yang sama saat melahirkan. Mungkin ini hanya efek jahitannya saja, semoga setelah ini bisa semakin membaik. Rasanya sedikit ... kurang nyaman saja."


Nyonya Ellen mengelus lengan Sarah lembut. "Maafkan Momy ya, kali ini Momy bingung harus membantu bagaimana. Nanti biar momy tanyakan pada dokter ya bagaimana baiknya supaya kamu lekas sembuh."


Sarah mengangguk dan kembali mengambil potongan kue yang lain, memakannya terus hingga tanpa sadar satu box kue itu habis. Padahal tadi isinya masih lumayan banyak.


"Mom," panggil Sarah sambil nyengir.


Nyonya Ellen yang baru saja kembali dari mengambil air minum untuk Sarah mendekatinya dan memberikan gelas berisi air minum itu.


"Kenapa sayang?"


"Kuenya habis, hehe."


"Apa kamu mau Momy buatkan makanan lain?"


Sarah menoleh dengan kening berkerut. "Memangnya boleh Sarah makan macam macam, Mom? Kata orang katanya ibu yang habis melahirkan itu harus di pantang makanannya supaya bayinya sehat."


Nyonya Ellen mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah, mitos macam apa itu. Gosip siapa yang kamu dengerin itu? Nggak ada lah begitu begitu, namanya ibu habis melahirkan itu justru harus makan berbagai jenis makanan terutama yang bergizi. Supaya ASI-nya banyak dan sehat untuk anak anaknya. Kalo kamu cuma di kasih makan sayur bening sama tempe doang dari mana gizinya? Yang ada anak kamu kurus semuanya."


Nyonya Ellen masih terus mengomel menyampaikan pendapatnya yang tidak setuju dengan pantangan pantangan yang kata orang harus di hindari ibu hamil dan pasca melahirkan. Sarah hanya tersenyum saja mendengarnya dan tidak berniat menyela sedikit pun, baginya nyonya Ellen sangat terbuka pikirannya hingga tidak mendengarkan ucapan orang orang yang begini atau begitu, baginya selagi masih di perbolehkan oleh dokter dan tenaga medis lain maka sah sah saja di lakukan. Toh tidak semua makanan akan berdampak pada si bayi.


"Mom," panggil Sarah setelah nyonya Ellen selesai membereskan semua sampah bekas makanan yang ada di atas meja. Dan tentunya juga sudah selesai dengan ocehannya.


"Hemm?" Nyonya Ellen menoleh dengan tatapan bertanya-tanya.


"Tadi Sarah lihat Momy sempat menanyai temannya Jeni itu, memangnya Momy kenal dia?"


Degh


Nyonya Ellen mematung, beberapa saat dia tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Sarah. Gerakannya gelisah, tampak dari kedua tangannya yang saling bertaut dan meremas.

__ADS_1


"Mom, ada apa?"


Nyonya Ellen terhenyak. "Ah, ti- tidak ... Tidak apa apa, bukan apa apa hanya bertanya biasa aja." Nyonya Ellen menjawab gugup.


Sarah menarik nafas dalam. "Benar kah?"


Sebab Sarah tadi tanpa sengaja mendengar kalau nyonya Ellen menyinggung tentang orang tua teman Jeni tersebut yang menurutnya adalah orang yang dia kenal. Entah benar atau tidak yang di dengar Sarah namun dia melihat sepertinya nyonya Ellen enggan untuk memberi tahukannya.


"Ah, i- iya iya ... benar kok, kamu kenapa sih, Honey? Kamu seperti mencurigai Momy?" Nyonya Ellen memasang wajah kecewa.


"No, Mom. Sarah hanya ...."


"Iya iya, sudah lah. Lihat anak mu jadi terbangun kan." Nyonya Ellen mengangkat bayi perempuan Sarah yang tampak menggeliat, perlahan tangisnya mulai keluar namun ekspresi wajah bayi itu saat menangis justru membuat Sarah gemas hingga lupa akan pertanyaan dan kecurigaannya tadi pada nyonya Ellen.


  Nyonya Ellen menggendong bayi itu dan memberikannya pada Sarah.


"Mom, sepertinya diapernya penuh ya?" tanya Sarah sambil memegang bagian pantat bayinya yang terasa menggembung.


Nyonya Ellen mendekat dan turut memegangnya untuk memastikan.


"Ah, iya. Sebentar Momy ambilkan ganti ya, sebentar ya cucu Oma. Pantesan kamu nangis, rupanya diapernya penuh ya," ucap nyonya Ellen lembut sambil mengelus rambut bayi yang masih merengek itu.


Selagi menunggu Nyonya Ellen mengambil diaper dan tisu basah di lemari yang ada di sudut ruangan, Sarah menyempatkan diri untuk menyusui bayinya agar bayinya tenang dan tak merengek lagi karna merasa tak nyaman.


"Nah, ini dia diapernya. Sini sayang, Oma ganti dulu diapernya ya."


Nyonya Ellen mengambil bayi yang sudah selesai menyusu itu dari pangkuan Sarah dan mulai membuka bedongannya.


Tak lama Axel tampak baru saja kembali dari luar sambil menenteng barang belanjaan yang tadi ingin di belinya. Bahkan dia juga membeli beberapa makanan yang merupakan kesukaan istrinya.


"Mom, ada orang yang mau bertemu dengan Momy." Axel memberi tahu sambil meletakkan barang barang bawaannya ke atas meja.


"Oh ya, siapa?" tanya Nyonya Ellen yang sudah selesai mengganti diaper cucunya.


"Ada di luar, sebentar saya suruh masuk."


Axel membuka pintu dan mempersilahkan tamu Nyonya Ellen masuk.


Mata nyonya Ellen seakan akan melompat dari rongganya melihat siapa yang datang menemuinya.

__ADS_1


"Lama tak jumpa, Els."


__ADS_2