
Hari demi hari berlalu tanpa terasa, meninggalkan yang telah lewat menggantinya dengan yang baru. Kisah yang tak terelakkan untuk di hadang, tak bisa memilih untuk tak menjalankan. Semua ... seolah sudah di atur sedemikian.
Tak ada perubahan berarti dalam kondisi kesehatan Alam, dia yang sudah sangat bosan berada di rumah sakit akhirnya meminta untuk di bawa pulang.
Dan di sini, di sebuah kampung yang banyak mengukir sejarah hidupnya, dia kembali. Menikmati hari hari yang terasa sepi dalam kesendirian.
"Kamu melamun lagi, le?" tegur Bu Sani, ibunda Alam yang sudah mulai bungkuk jalannya dan mulai rabun pandangannya.
Alam yang tengah duduk di teras seorang diri itu tersentak, dan langsung menegakkan punggungnya ketika sang ibu beranjak duduk di sampingnya.
"Kamu sejak pulang dari kota ibu lihat melamun terus, mbok ya cari kesibukan gitu to le. Atau jalan jalan kemana gitu," gumam Bu Sani lagi, sembari menyeruput wedang jahe yang tadi dia bawa dari dapur.
"Alam nggak papa, Bu ne cuma sedikit capek saja." Alam berdalih.
Bu Sani tampak mendesah panjang, sebagai orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan tak dapat satu kata pun dari bibir anaknya yang bisa membohonginya.
"Kamu merindukan istrimu tho?" tanyanya spontan.
Alam terhenyak, bagaimana ibunya bisa tahu apa yang tengah dia rasakan. Namun sudut hatinya pun tak memungkiri kalau sebenarnya dia memang begitu merindukan Asy.
"Lha kan, kamu diem berarti ibumu ini benar. Kenapa tho, le segala kamu tinggal dia kota. Biar bagaimanapun kan dia itu istrimu, sudah jadi tanggung jawab mu kok malah kamu biarkan dia tinggal di rumah orang tuanya yang kata kamu orang tua kandungnya itu?" cecar Bu Sani yang walaupun sudah tua tapi ternyata masih bisa mengomel itu, terlebih karna Asy sebenarnya adalah anak menantu kesayangannya.
"Nggak papa, Bu ne biar dia puas dulu bersama orang tuanya yang baru dis temukan setelah belasan tahun lamanya berpisah." Alam menimpali, walau kini sebenarnya hatinya mulai terbaper baper dan mulai merindukan Asy.
"Iya, nggak kayak kamu baru nggak ketemu orang tuanya tiga bulan saja sudah kesusu minta pulang. Apa salahnya temani dulu istri mu itu di rumah mertuamu? Sekalian ambil hati mertuamu itu Lo." Bu Sani tampak masih belum puas mengoceh.
Alam diam, membiarkan ibunya mengeluarkan semua unek uneknya. Memang sejak awal alam pulang ke desa dan tidak membawa Asy, Bu Sani selalu saja uring-uringan dan tak jarang meminta Alam untuk kembali ke kota menjemput Asy pulang.
__ADS_1
Cukup lama bu Sani mengoceh, hingga cuaca pagi yang tadinya cerah tiba tiba berubah menjadi mendung. Dan tak lama hujan rintik mulai turun, dan beberapa saat kemudian langsung berubah menjadi deras.
"Bu ne, sudah gitu ngomelnya. Ini hujan loh, itu jemurannya nggak di angkatin dulu?" tanya Alam menunjuk jemuran yang tergabung di tali tepat di samping rumahnya.
Bu Sani berdecak. "Halah, masih baru di jemur kok. Masih basah iku, sudah biarkan aja, malah bagus di cuci ulang sama air hujan malah makin bersih kok."
Alam mendengus, selalu saja begitu alasan sang ibu jika turun hujan pagi dan malas mengangkat kembali pakaian yang sudah telanjur di jemurnya. Memang sih di kampung mereka mencuci masih manual menggunakan tangan, dan belum menggunakan mesin jadi pakaian yang di cuci dan di jemur pasti akan dalam kondisi basah kuyup, beda dengan di cuci pakai mesin yang bisa langsung di keringkan walau masih lembab lembab anyep.
Selang beberapa lama, Alam dan Bu Sani terdiam. Larut dalam pikirannya masing-masing menikmati rinai suara hujan yang membuat suasana menjadi adem dan sangat cocok untuk kembali tidur.
Hingga entah sadar atau tidak, Alam mulai memejamkan mata dan beberapa saat kemudian dia melihat Asy datang ke hadapannya dengan membawa selimut.
"Mas, kamu kedinginan ya? Sini aku selimuti," gumam Asy yang terlihat di mata Alam.
"Iya, Asy. Mas kedinginan, makasih banyak ya."
Alam merekatkan selimut itu di tubuhnya saat tiba tiba dia merasa wajahnya basah.
Suara Bu sani membangunkan Alam dari alam sebelah, barulah dia sadar kalau ternyata yang di lihatnya tadi hanyalah mimpi semata.
'hah, Asy ... Mas rindu, dek.' batin Alam merana.
"Heh, malah ngelamun lagi. Kamu kesambet? Melamun hujan hujan?" omel Bu Sani lagi sambil kembali menghenyakkan bokongnya di atas balai bambu tempat yang juga tengah di duduki Alam.
"Ah, ibu. Gimana mau kesambet kalo setannya aja lagi ngomel begini?" kekeh Alam menyindir ibunya.
Bu Sani yang sadar langsung melayangkan jitakan ke kepala putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
Alam mengaduh, namun tak berani protes setelah melihat tatapan tajam Bu Sani.
Cplaak
Cplaak
Cplaak
Terdengar langkah kaki yang beradu dengan tanah becek berair di depan jalanan rumah Bu Sani, di susul dengan munculnya seorang gadis muda yang masih seumuran Asy, memakai pakaian kurang bahan yang menempel ke tubuhnya yang basah kuyup.
"Mak!" serunya sembari berteduh di bawah seng rumah Bu Sani.
"Heh, Jul! Darimana kamu? Kok hujan-hujanan?" tegur Bu Sani sembari mendekat dan membukakan pintu pagar kecil yang ada di teras rumahnya.
Gadis yang ternyata adalah Juli itu naik ke atas rumah bu Sani, matanya tampak liar menatap Alam yang tengah meringkuk di dalam selimut yang tadi di balutkan sang ibu ke tubuhnya.
"Tadi dari warungnya Wak Sumirah, Mak. mau beli nasi uduknya, eh malah tutup sekalinya pulang malah kehujanan mau neduh tadi di sana pada tutup semua rumah orangnya, enggak enak." Juli menjawab sembari duduk di kursi kayu panjang yang kebetulan ada di sisi lain teras rumah Bu sani.
Bu Sani tampak manggut-manggut. "Ya wes sebentar Mak ambilkan handuk dulu, kasihan kamu pasti kedinginan."
Bu Sani berlalu ke dalam rumah, meninggalkan Juli dan Alam di teras rumah.
Juli sesekali tampak mencuri pandang dan tersenyum senyum pada Alam, tapi Alam berpura pura tidak melihat dan membuang pandangannya ke arah lain. Terlebih lagi pakaian juli yang sangat mencetak jelas bentuk tubuhnya itu membuat Alam tidak nyaman, ingin meninggalkannya sendiri di teras tapi takut di semprot ibunya karna di kira tidak menghargai tamu. Karna ajaran orang tuanya agar selalu menjamu tamu dengan baik dan sopan. Jadilah akhirnya Alam hanya bisa memendam kejengkelan karna ibunya yang sangat lama berada di dalam rumah.
"Eh ... ekhem ... Mas Al, kok ... pulang ke sini sendirian sih? Apa ... lagi berantem ya sama si ustadzah nggak jadi itu? Kalau iya ... Juli mau kok Mas, jadi penggantinya."
Sisi balai bambu yang di duduki Alam seketika berderit, seperti saat ada orang yang mendudukinya. Alam berjengit kaget, saat tangannya di tarik paksa seseorang dan di tempelkan ke suatu tempat yang Alam sendiri tidak ingin melihatnya.
__ADS_1
Empuk dan kenyal, hanya itu yang bisa Alam rasakan karna matanya tertutup rapat. Sebelum akhirnya suara teriakan frustasi membuatnya membuka mata selebar mungkin.
"Astaghfirullah! Apa yang kalian lakukan?"