
"Dady sih, kenapa coba pake nyuruh si Axel yang adzani anaknya Jeni. Kayak nggak ada yang lain aja, Dady kan lihat sendiri kalo Sarah lagi sensitif begitu! Harusnya ya jangan bikin masalah dong, Dad!" Nyonya Ellen terus mengoceh di sepanjang koridor rumah sakit.
Axel sudah di bawa pulang oleh Sarah, dia sudah enggan berlama-lama di sana. Jadilah kini tinggal Nyonya Ellen dan Tuan Bryan yang menunggu Jeni di rumah sakit. Setidaknya sampai dia sadsr dari pingsannya setelah melahirkan bayinya tadi.
"Dady hanya ...."
"Nggak usah membela diri, Dad. Dady sudah salah, jadi nanti Dady harus minta maaf sama menantu kita karena sudah buat dia dalam kesulitan sekarang. Dady pikir menghadapi wanita hamil muda itu gampang apa?" sela Nyonya Ellen lagi.
Tuan Bryan terdiam, tak ada gunanya juga menjawabnya jika para wanita ini sudah mulai mengomel. Lebih aman diam dan dengarkan saja nanti jika lelah mereka juga akan diam sendiri.
"Sarah itu tengah mengandung tiga anak, Dad. Tiga! Jadi wajar kalo moodnya berubah-ubah secepat itu, jadi Momy minta sama Dady jangan lagi membuat kekacauan seperti tadi, kan yang kasihan sekarang si Axel juga. Kalo sampe dia k.o gara-gara di amuk Sarah gimana? Bisa jantungan nanti di Andrew dan Sonia." Nyonya Ellen masih terus saja mengomel hingga mereka kembali sampai di depan ruang rawat Jeni.
Bertepatan dengan itu, pintu ruangan terbuka dan seorang suster keluar dari sana.
"Ah, sus. Apa pasien yang di dalam yang baru saja melahirkan sudah sadar?" tanya Nyonya Ellen menahan langkah suster itu.
"Ooh, sudah Bu. Ini saya mau ke ruang bayi untuk mengambil bayinya ke sini, silahkan kalau mau menjenguk," sahut sang suster ramah.
Nyonya Ellen tersenyum dan mengangguk, setelahnya dia membiarkan suster itu kembali menjalankan tugasnya. Sementara dia dan Tuan Bryan beranjak memasuki ruangan.
"Ny- nyonya?" cicit Jeni kaget, pasalnya dia baru saja terbangun dan sejak tadi tak begitu memperhatikan siapa saja yang membantunya ke rumah sakit selain Sarah dan Axel.
Nyonya tersenyum dan mendekat.
"Yah, ini saya. Saya ibunya Sarah, saya juga ikut mengantar kamu ke rumah sakit ini tadi, kalau kamu lupa. Oh ya, bagaimana kondisi kamu?"
Jeni tersenyum kikuk, bair bagaimana pun dia masih canggung pada kedua orang tua Sarah ini, karna skandalnya dulu dengan mantan menantu mereka. Rasa bersalah menelusup dalam kalbunya, mengingat dia lah penyebab rumah tangga Sarah dan Bima dulu berantakan. Namun kini justru orang yang sudah dia rugikan lah yang menolongnya saat di butuhkan.
"Nyo- nyonya, maafkan saya ... saya ...."
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Kami tidak dendam kok," sela Nyonya Ellen memegang pundak Jeni.
__ADS_1
Jeni semakin terisak, rupanya orang yang sudah dia zolimi adalah orang yang sangat baik. Yang bahkan tidak menyimpan dendam atas semua yang sudah dia lakukan.
"Kami harusnya berterima kasih padamu, karna jika bukan karna kelakuan mu dulu. Sekarang mungkin Sarah masih terjebak dalam pernikahan toxic nya dengan Bima. Terlebih, kami juga berterima kasih karena sudah melepas Axel dan membuatnya menjadi menantu kami," tutur Tuan Bryan datar dan dalam.
Setiap perkataannya lugas, namun mengandung tekanan yang luar biasa. Jeni sendiri sampai tercekat di buatnya, berbagai rasa campur aduk dalam dadanya hingga air mata itu terus mengalir tanpa jeda.
"Dad, kurasa ini bukan saat yang tepat untuk membahas itu," tekan Nyonya Ellen tak suka.
Namun Tuan Bryan hanya mengangkat kedua bahunya dan berlalu tidak peduli. Dengan santainya Tuan Bryan duduk di sofa ruangan dan memainkan ponselnya, sepertinya dia masih sakit hati karna perlakuan Jeni dulu yang sudah pernah menyakiti putri kesayangannya.
"Nyonya, tidak apa. Yang Tuan katakan semuanya itu benar," Isak Jeni.
Nyonya Ellen hanya bisa mendesah, untung saja tak lama kemudian sang suster sudah kembali sembari membawa bayi mungil Jeni.
"Ibu, ini bayinya silahkan di susui dulu ya." Suster itu membantu Jeni melekatkan bayi yang sejak tadi sudah membuka mulutnya menunggu asi pertamanya itu.
Jeni menyusut air matanya, senyuman kecil terbit di wajahnya yang tampak kusam dan tak terawat itu.
Jeni mendongak dan mengangguk.
"Terima kasih," lirihnya pelan.
Perlahan Nyonya Ellen menjelaskan dan membantu Jeni melekatkan PD nya pada mulut si bayi, awalnya memang sulit karna ini pertama kalinya untuk Jeni. Namun lama kelamaan setelah bayinya mulai menyusu Jeni mulai terbiasa dan tampak sangat bahagia menyusui bayinya.
"Bayi yang sangat lucu, dia sangat mirip dirimu. " Nyonya Ellen ikut memperhatikan wajah bayi yang kini tengah lahap menyusu itu.
Pipi gembulnya yang menggemaskan membuat Nyonya Ellen tak sabar untuk segera menimang cucu kembarnya yang ada di perut Sarah.
"Nyonya, bagaimana saya membalas kebaikan anda?" tanya Jeni setelah bayinya melepas PD nya dan terlelap.
Nyonya Ellen hanya menarik nafas dalam. "Membalas seperti apa maksudmu?"
__ADS_1
"Untuk semua ini, bantuan kalian, biaya rumah sakit, dan lain-lain. Saya harus menggantinya Nyonya. Saya malu jika hanya merepotkan kalian," ungkap Jeni tertunduk sedih.
Di lihatnya wajah bayinya, bayi tak berdosa yang lahir dari kesalahannya. Jeni sendiri pun tak yakin siapa sebenarnya ayah kandung dari bayinya, sebab tidak hanya satu dua pria yang pernah menumpahkan benih dalam rahimnya. Dan Jeni menyesali semuanya, kini dia bahkan bingung bagaimana dia harus menghidupi bayinya.
"Tidak perlu memikirkan itu sekarang, beristirahat lah dengan tenang lebih dulu. Pulihkan tenagamu, agar bayimu sehat dan kenyang," tukas Nyonya Ellen.
"Mana bisa seperti itu," sela Tuan Bryan.
Nyonya Ellen menatap suaminya berang, sejak tadi pria itu bahkan tak berhenti untuk menyulut api dalam keadaan yang tak memungkinkan.
"Dad! Tolong jangan ikut campur."
Tapi Tuan Bryan tak mengindahkan dan malah melangkah lebar mendekat ke arah ranjang.
"Tidak bisa, Mom. Dia yang sudah pernah menyakiti hati putri kita, menjatuhkan air matanya dan menghancurkan rumah tangganya. Sekarang sudah saatnya dia merasakan apa yang dulu di rasakan Sarah! Putriku yang baik hati itu bahkan masib mau menolongnya setelah semua yang di lakukannya dahulu."
Mata Jeni melebar, tak di sangka rupanya ada yang tidak terima dengan semua yang sudah terjadi. Namun Jeni pasrah, dia sadar semua kejahatan pasti ada konsekuensinya. Baginya kini asalkan anaknya bisa tercukupi kebutuhannya dia akan terima seperti apapun Tuan Bryan akan memperlakukannya.
"Baiklah, Tuan. Saya akan terima apapun konsekuensinya, asalkan ...."
****
Di rumah Sarah.
"Sayang, mau sampai kapan Mas di suruh berendam di sini? Kulit Mas sudah keriput ini." Axel berteriak memanggil Sarah yang berada di luar kamar mandi.
Saat ini dia tengah di hukum oleh Sarah dengan merendamnya di bathtub, sedangkan Sarah malah dengan santainya duduk di depan televisi kamar sambil mengemil kukis coklat.
"Udah diem aja kamu di situ, Mas. Pokoknya sampe di kembar puas, baru kamu boleh udahan rendemnya!" sahut Sarah acuh.
Axel mengusap wajahnya dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Ujung-ujungnya nanti jadi lontong kelamaan di rendem begini, huh."