MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 155.


__ADS_3

 Para pelayat masih berdatangan, mengucapkan bela sungkawa atas berpulangnya ke dua orang tua Sarah yang di temukan di sebuah rumah yang letaknya di pinggir kota dalam kondisi mengenaskan.


Sarah masih tidak tahu apa yang menimpa ke dua orang tuanya, terakhir kali Nyonya Ellen dan Tuan Bryan berpamitan untuk menjenguk temannya yang berada di kampung sana dan akan pulang beberapa hari setelahnya. Tapi nyatanya mereka justru berpulang untuk selamanya.


"Sayang, kamu yang sabar ya. Yang kuat, masih ada Mas di sini." Axel berbisik dan memeluk istrinya dari samping.


 Suasana duka sangat terasa, semua pelayat yang hadir tak ada yang tidak meneteskan air mata. Sedangkan anak anak Sarah dan Axel sementara di bawa oleh pengasuhnya ke rumahnya agar tidak bingung melihat rumah mereka yang ramai oleh para pelayat.


 Kenapa Sarah memilih membawa jenazah ke duaa orang tuanya ke rumahnya dan bukan ke rumah Tuan Bryan sendiri, alasannya sudah tentu karna lingkungan dimana selama ini Tuan Bryan dan Nyonya Ellen tinggal adalah perumahan elit yang penghuninya sangat amat jarang bertegur sapa apalagi mengenal satu sama lain.


"Mas, Momy dan Dady ... kenapa mereka jahat sekali, Mas? Si kembar bahkan belum beranjak dewasa kenapa mereka malah pergi secepat ini?" Sarah tergugu di pelukan suaminya, matanya yang sembab semakin basah karna terus menerus menangis.


 Meninggalnya orang tuanya terasa bagai pukulan telak bagi Sarah yang selama ini begitu di sayangi mereka, Sarah seolah kehilangan pegangan dan kebingungan sendirian di muka bumi. Dia lupa kalau saat ini ada suami dan anak anaknya yang juga sama membutuhkan dirinya.


"Mom! Dad! Bangunlah, jangan pergi, jangan tinggalkan Sarah! Sarah sama siapa nanti, Mom! Dad! Sarah mohon ,jangan tinggalkan Sarah! Bawa Sarah bersama kalian!" seru Sarah sambil mengguncang guncang tubuh diam Tuan Bryan dan Nyonya Ellen yang sudah di masukkan ke dalam peti mati berhias kain satin berwarna putih dan berhias bunga. --namun nanti proses pemakaman tetap sesuai syariat Islam, peti mati hanya untuk meletakkan jenazah sementara saja--


"Sayang tenanglah," ucap Axel sambil memegangi tubuh istrinya yang tiba tiba menggila, Axel memeluk Sarah erat erat walau Sarah terus memberontak di dalam pelukannya.


 Semua tamu yang hadir dan tengah mebacakan Yasin di sekitar jenazah menatapnya iba seolah bisa merasakan kesedihan yang di alami Sarah.


 Sonia datang mendekat, dia yang selama ini kembali ke rumah orang tuanya di sebrang langsung terbang kembali ke kota itu saat mendengar besannya meninggal dunia. Sonia mengelus punggung Sarah lembut.


"Sabarlah, Nak. Jangan menyiksa dirimu sendiri, kasihan almarhum dan almarhumah kalau kamu begini, nantinya mereka pasti berat untuk meninggalkan dunia ini jika kamu begini. Kasihan mereka, Nak ikhlaskan biarkan orang tuamu tenang di sisi yang kuasa."


 Sarah menghentikan tangisnya sejenak, berpaling pada ibu mertuanya yang datang bersama suaminya, Andrew yang kini hanya mampu duduk terpekur di dekat jenazah, air mata tak bisa di bendung dari mata mereka.

__ADS_1


"Ikhlaskan, Nak ingat masih ada anak anakmu yang juga membutuhkan kamu. Jangan begitu, kasihan mereka kalau ibunya terus menerus terpuruk." Sonia beralih memeluk Sarah.


Bruk


Sarah tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya, dia ambruk tak sadarkan diri saat ingin memeluk Sonia. Dan terkulai lemas di dalam dekapan ibu mertuanya itu.


"Sayang!" seru Axel cemas lalu langsung mengangkat tubuh istrinya untuk di baringkan di kamar. Meninggalkan keriuhan yang ada di lantai satu rumahnya dimana orang orang sibuk menyiapkan pemakaman untuk ke dua almarhum mertuanya.


****


 Sarah merasa dirinya terbangun di sebuah Padang rumput luas yang entah dia pun tak tahu ada di mana.


 Sarah bangkit, memindai sekitarnya dengan bingung karna tempat itu sangat asing di dalam ingatannya.


 Panggilan lembut dari arah belakangnya membuat Sarah sontak berbalik.


"Momy! Dady!" Sarah berseru girang dan berlari ke pelukan ke dua orang tuanya yang saat itu hadir dengan pakaian putih-putih.


 Sarah tak mempedulikan itu, dia memeluk erat ke duanya seolah takut kehilangan lagi.


"Sarah melihat Momy dan Dady sudah meninggal, apa tadi Sarah bermimpi? Buktinya kalian masih berdiri di depan Sarah sekarang?" tanya Sarah dengan penuh harap ke dua orang yang begitu di sayanginya itu akan mengatakan iya.


 Namun sayangnya Tuan Bryan dan Nyonya Ellen hanya saling pandang dan tersenyum getir.


"Nak, hiduplah dengan baik ya. Ikutlah anak-anak mu untuk belajar di pesantren itu, perdalam ilmu agama dan jangan lupa terus kirim doa untuk kami. Setidaknya dengan begitu mungkin saja siksaan kami akan di ringankan," gumam Tuan Bryan sembari mengelus lembut puncak kepala Sarah.

__ADS_1


 Sarah menetap Tuan Bryan dengan tak percaya, ayahnya masih hidup lalu kenapa bicara seolah beliau sudah tiada.


"Tapi, Dad ..."


"Sarah ... Honey, maafkan kami ... maaf kalau mungkin nanti kau akan mendengar kabar yang kurang mengenakan tentang kami. Bersabarlah, Nak ingatlah kalau kamu melakukan semua itu karna kamu, demi dirimu dan masa depanmu. Jangan pergi membenci kami ya, Nak hanya kamu anak kami satu satunya yang bisa menolong kami setelah kami tiada. Doakan kami selalu ya, Nak," sela nyonya Ellen dengan tatapan nanar.


"Jangan ikuti jejak ke dua orang tuamu ini ya, hiduplah yang baik dan perdalam lah ilmu agama. Maaf kalau sejak dulu kami tak pernah mengajarimu ilmu agama. Kami menyayangimu, Nak amat sangat menyayangimu." Tuan Bryan menambahkan.


"Tapi, Mom, Dad. Bukan kah kalian masih disini? Lalu kenapa ucapan kalian seolah ingin pergi jauh? Apa maksudnya? Jangan tinggalkan Sarah, Mom, Dad." rengek Sarah sembari memeluk erat tubuh ke dua orang tuanya dengan perasan gamang.


 Tapi Tuan Bryan dan Nyonya Ellen hanya tersenyum, lalu perlahan melepas pelukan Sarah di tubuh mereka.


"Pulanglah, honey ingat pesan kami tadi. Jangan lupa, kamu menyayangimu ... sangat," bisik nyonya Ellen dengan mata yang basah.


 Setelah itu Sarah merasa tubuhnya seakan tersedot oleh sesuatu yang dia pun tidak tahu apa, Sarah panik mencoba mengulurkan tangannya untuk menggapai ke dua orang tuanya namun tak bisa.


"Mom! Dad! Tolong Sarah! Sarah mau ikut kalian!" seru Sarah panik.


 Tapi dalam penglihatannya Tuan Bryan dan Nyonya Ellen malah melambaikan tangan dengan bersimbah air mata.


"Tidak Mom! Dad! Tolong bawa Sarah! Jangan tinggalkan Sarah! Sarah ingin ikut kalian!". seru Sarah lagi karna penampakan ke dua orang tuanya seakan makin menjauh dan perlahan menghilang, berhenti pekat yang memenuhi segala ruang penglihatannya.


"Sayang, bangunlah. Kamu bermimpi?"


 Sarah merasa tubuhnya berguncang, di ikuti wajah cemas suaminya saat dia membuka mata perlahan. Dan mendapati dirinya masih berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2