
Jeni masuk dengan kepala tertunduk, di ikuti Asiyah di belakangnya. Semua mata masih tertuju ke arahnya, mungkin heran melihat perubahannya sekarang.
Sebuah jilbab besar nan lebar, dengan gamis polos yang tak kalah lebarnya tampak menutupi seluruh tubuhnya yang dulu selalu menampakkan lekuknya itu.
Hingga sampai di dekat ranjang Sarah, Jeni menangis.
"Mbak, tolong maafkan aku sekali lagi. Aku kabur dari rumah kalian bukan tanpa alasan, tolong jangan marah. Aku hanya kasihan pada anakku, maka dari itu aku memilih pergi diam diam. Sekali lagi, aku minta maaf, Mbak." Jeni meraih tangan Sarah dan menciuminya dengan berurai air mata.
Sarah terpana, tak pernah di duganya Jeni akan bertindak demikian. Dia menoleh ke samping dimana suaminya berada, namun Axel juga sama terkejutnya dengan dirinya malah sampai tidak bisa berkata kata.
"Mbak, jika selama ini terlalu banyak salah ku sama Mbak. Katakanlah bagaimana caraku membayarnya, aku sungguh menyesal, Mbak. Tapi tolong maafkan lah semua kesalahan ku," pinta Jeni lagi, masih terisak sambil menunduk di depan Sarah.
Sarah menarik tangannya, namun bukan untuk menolak Jeni melainkan untuk berganti menggenggam tangannya.
Jeni mendongak, menatap lekat mata Sarah yang sejak dulu sangat di ingatnya. Dulu mata itu lah yang selalu menangis karna kelakuannya dan mantan suaminya, kini air mata itu sudah sepenuhnya berpindah ke mata Jeni. Yang tak hentinya merasakan apa yang dulu selalu di rasakan Sarah.
"Sudah lah, semua sudah terjadi. Nggak ada yang perlu di sesali, Jen. Sudahi tangismu, lihat lah kamu sekarang. Aku bahkan merasa tertampar melihat perubahan ini." Sarah memegang jilbab lebar yang di kenakan Jeni.
"Ah, ini hanya baju murahan yang aku beli pasar rombeng. Harganya juga tidak seberapa, aku yakin Mbak bisa beli lebih banyak dan lebih bagus dari ini." Jeni merendah, padahal baju itu adalah baju dengan merk terkenal, namun bukan dia yang membeli melainkan di beri oleh Umi Nafisah.
Sarah tersenyum getir. "Mbak sudah memaafkan kamu, Jen. Dan Mbak sudah tidak mempermasalahkan lagi urusan yang lalu, semua kejadian pasti ada hikmah di dalamnya. Ada baiknya kamu juga belajar melupakan dan mengikhlaskan apa yang sudah hilang dari kamu."
Jeni mengangguk terharu, dan mereka pun berpelukan. Air mata semua orang jatuh melihat semua adegan itu, bagaimana dua orang yang pernah saling menyakiti kini saling berpelukan dengan kata maaf tersemat di hati. Balasan yang tak pernah di rencakan oleh Sarah namun nyatanya sakitnya bisa di terima Jeni. Begitu indahnya alam bekerja, begitu adil semua yang pernah kita lakukan nyatanya akan selalu berbalik kepada diri kita.
Taburlah benih yang baik, agar apa yang kau tuai juga baik.
Sarah melerai pelukannya dan Jeni, menghapus air mata yang sempat membasahi. Asiyah mendekat dan memberikan kantong plastik berisi kado yang ingin di berikan Jeni Sarah.
__ADS_1
"Mbak," panggil Asiyah lirih, dia memberikan kantong itu ke tangan Jeni. Dan Jeni berterima kasih dengan anggukan kepalanya.
"Mbak Sarah." Jeni meletakkan kado itu di sisi ranjang Sarah. "Maaf kalau mungkin ini hanya barang murahan. Tapi, aku ikhlas memberikan ini untuk anak anak kamu, Mbak. Aku harap Mbak Sudi menerima kado ini."
Sarah menutup mulutnya terharu, dan lagi lagi menatap Axel yang juga tersenyum di sebelahnya. Axel mengangguk membenarkan untuk Sarah menerima kado itu.
"Terima kasih ya, Jen. Terima kasih kamu sudah mau datang dan menjenguk si kembar. Mbak terima ya kadonya, ini pasti akan berguna sekali untuk si kembar," tukas Sarah sambil mengambil kantong berisi tiga kotak kado itu dan memindahkannya ke pangkuannya.
Jeni mengangguk dan berpindah pada keluarga Sarah yang lain untuk meminta maaf dan keikhlasan mereka. Sama seperti Sarah, baik Nyonya Ellen, Sonia, Andrew bahkan Tuan Bryan sudah memaafkan dan mengikhlaskan semua perbuatan Jeni dulu.
"Teruslah seperti ini, kau benar benar membuat kami tertampar dengan perilaku kamu sendiri," bisik Tuan Bryan sambil melihat penampilan Jeni dari atas kepala sampai ke ujung kaki yang bahkan tak menampakkan sedikitpun auratnya, bahkan tanganya pun dia tutupi lagi dengan manset.
"Baik, Tuan. Terima kasih untuk ke rendahan hati Tuan sudah memaafkan saya." Jeni mengangguk dan kembali menuju ranjang Sarah.
"Mbak ...."
Jeni mengangguk dan tersenyum simpul.
"Mas, bisa tolong ambilkan si kembar ke mari?" pinta sarah pada Axel yang selalu sigap berada di sampingnya.
"Tentu saja, sebentar ya." Axel beranjak menuju box bayi bayinya yang tengah terlelap itu, dan memindahkan mereka satu persatu ke kasur dimana Sarah berada. Sarah menggeser tubuhnya agar muat di tempati bayi bayinya pula.
"Subhanallah," bisik Jeni ketika melihat rupa rupawan bayi bayi itu dari dekat, begitu juga Asiyah yang langsung ikut mendekat dan mengambil hand sanitizer di ujung ranjang Sarah untuk bisa menyentuh bayi bayi itu.
"Mbak, aku izin pegang ya," ucap Asiyah meminta izin Sarah lebih dahulu.
"Silahkan, tapi pelan pelan ya." Sarah memberi izin dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Mbak, apa aku boleh gendong?" pinta Jeni sambil memegang bayi lelaki pertama Sarah yang tubuhnya paling tambun ketimbang dua saudaranya yang lain.
Sarah mengangguk. "Boleh, kamu juga kan lebih pengalaman gendong bayi. Oh ya, kemana anakmu Jen. Kok nggak di bawa?"
"Dedek di bawa calon ayahnya main ke taman bermain, Mbak," celetuk Asiyah.
Jeni yang sedang ingin mengambil bayi Sarah langsung mencubit pinggangnya hingga dia mengaduh kesakitan.
"Nggak, Mbak. Nggak ada seperti itu, tadi anakku di bawa sama Umi pengasuh pondok tempat aku bekerja, Mbak. Jadi nggak ada itu calon ayah calon ayah. Mimpi mulu kamu itu, As." Jeni mulai mengomel sembari menggendong bayi Sarah.
Mereka semua tertawa mendengar banyolan dua perempuan berhijab syar'i itu, bahkan Nyonya Ellen kini beranjak mendekat ke arah Asiyah dan menawarinya kue.
"Ini, ayo di makan, Nak. Ini Tante yang bikin sendiri di jamin enak, duh melihat kamu kok Tante jadi inget waktu Tante muda ya. Apa kamu bisa karate?" tanya Nyonya Ellen.
Asiya tersenyum dan mengambil sepotong bolu gulung yang di sodorkan nyonya Ellen, kemudian sedikit menjauh dari ranjang Sarah dimana bayi bayinya berada. Nyonya Ellen menuntun Asiyah menuju ke sofa yang ada Sonia juga di sana.
"Terima kasih ya, Tante. Kuenya enak sekali," jawab Asiyah setelah menghabiskan sepotong kue pemberian nyonya Ellen.
Nyonya Ellen tersenyum lembut. "Lalu bagaimana pertanyaan Tante tadi, apa kamu bisa karate?"
Asiyah mengangguk cepat. "Bisa, bahkan aku sudah sabuk hitam, Tante."
Mata nyonya Ellen terbelalak kagum. "Oh ya, lalu dimana sekarang kamu tinggal?"
"Di pondok pesantren yang di ujung jalan itu. Yang ada pohon durian bawor di depannya."
Nyonya Ellen menatap Asiyah semakin lekat. "Lalu ... dimana orang tuamu?"
__ADS_1