MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 132.


__ADS_3

"Sudah dimana, dek? Oh, udah deket ya. Ya udah Mas tunggu ya."


 Satrio mematikan sambungan telepon lalu duduk di kursi di depan restoran, senyumnya terkembang membayangkan sebentar lagi akan segera bertemu dengan sang pujaan hati yang sangat dia rindukan. Walau sebenarnya hatinya bertanya tanya kenapa Aisyah tiba-tiba mengatakan kalau hendak ke kota tanpa mengatakan alasannya.


"Hah, mungkin sudah tidak sabar untuk mencari orang tuanya." Satrio mendesah sambil mengutak atik ponselnya tak lama senyumnya kembali mengembang.


"Senang sekali, Sat? Ada kabar baik apa?" tanya Axel yang memang sedang berkunjung untuk melihat langsung kondisi restoran yang dia percayakan pada karyawan kepercayaannya itu.


 "Eh, bos. Duduk, bos," ujar Satrio berbasa-basi sembari menunjuk kursi kosong di sebelahnya.


Axel menghenyakkan tubuhnya di atas kursi dan menghela nafas panjang, memang semakin bertambahnya usia semakin tubuh lebih cepat lelah, dan itu di rasakan Axel sekarang.


"Muka kamu secerah sinar matahari loh, Sat. Dapat togel kamu?" kekeh Axel.


"Ah, si bos bisa aja, saya kan nggak ngerti yang begitu begitu mah, Bos. Ini saya seneng karna sebentar lagi mau ketemu Aish, bos," sahut Satrio dengan wajah tersipu malu.


"Oh, Aish mau ke kota?" Axel tampak terkejut.


 Satrio mengangguk.


"Memangnya selama ini dia tinggal di mana, Sat? Saya kenapa bisa lupa ya kalau dia pacaran sama kamu? Hah, begini lah memang kalau sudah tua dan punya anak tiga, jangankan yang tidak penting yang penting saja kadang bisa lupa," keluh Axel sambil memijat kepalanya yang beberapa bagian rambutnya terlihat agak memutih.


"Di kampung B, bos. Ya memang lumayan jauh sih dari sini, memangnya ada apa, bos kok nyariin Aish kayanya?"


"Itu, kemarin ...."


Tin


Tin

__ADS_1


 Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Axel terhenti karna sebuah mobil berwarna hitam tampak berhenti di depan restoran. Satrio menoleh dan raut sumringah kembali tercetak jelas di wajahnya yang kini terlihat lebih bersih dan terawat itu.


"Dek Aish!" serunya saat pintu mobil terbuka dan sang pujaan hati keluar dari sana dengan senyum lebar yang sama.


"Assalamu'alaikum, Mas." Aisyah mendekat dengan kepala menunduk malu, kemudian setelah itu dia mendekati Axel dan menyalami tangannya.


"Ya Allah, ini beneran Aish? Aisyah?" tanya Axel dengan mata terbelalak takjub.


 Aish mengangguk dan tersenyum simpul. "Iya, Pak. Ini saya aish, yang dulu pernah kerja sama bapak jadi pengasuhnya Ayuna. Apa kabar triplets sekarang, Pak?".


"Alhamdulillah, semua baik. Nanti kamu jangan lupa ke rumah ya, Mbak Sarah pasti kangen sekali sama kamu, oh ya ada yang mau kami sampaikan juga tapi nanti saja saat kami ke rumah," papar Axel panjang lebar.


 Aisyah yang awalnya tak mengerti, pada akhirnya menurut saja. Toh tujuannya ke kota memang untuk mencari informasi, siapa tahu dengan memiliki banyak relasi dan bertandang ke sana bisa membuatnya cepat bertemu orang tua dan saudari kembarnya, begitu pikir aish.


 Setelah berbasa-basi sebentar dengan Aish dan juga Hendro yang mengantar, Axel mohon diri karna masih ada urusan lain. Dan mengingatkan Aish agar bertandang ke rumahnya dan Sarah.


"Iya, dek. Ini salah satu restoran punya Pak Axel, kita masuk yuk pasti kalian belum makan kan." Satrio bangkit lalu memimpin Aisyah dan Hendro masuk ke dalam kawasan restoran luas dan elegan itu.


"Nah, ini menunya silahkan di pilih mau makan apa. Nanti Mas yang traktir, Mas Hendro juga ya, nggak usah sungkan anggap saja ini sebagai rasa terima kasih saya karna sudah mengantarkan calon istri saya sampai ke mari dengan selamat," ujar Satrio masih dengan senyum ramahnya.


 Hendro tampak tersentak, matanya nanar menatap ke arah buku menu yang di sodorkan Satrio.


"Terima kasih ya, Mas." Hendro berkata dengan nada serak, sekuat tenaga dia berusaha menahan diri agar rasa sakit di hatinya tak terungkapkan, cukup dia yang tahu kalau mendengar kata itu dari pria lain nyatanya lebih sakit ketimbang mendengar langsung dari mulut Aish.


 Setelah menentukan pilihan, tak berapa lama makanan mereka di antar. Semuanya terlihat menggugah selera namun tak satu jua yang membuat Hendro ingin memakannya. Ya, tau sendirilah bagaimana perasaan orang yang lagi patah hati, makanan paling enak pun bakalan jadi hambar di lidahnya.


"Dek, nanti sementara tinggal di kos kosan deket kontrakan Mas dulu ya. Insyaallah selama kamu di sini biar Mas yang nanggung semua kebutuhan kamu. Bilang saja sama Mas ya, jangan sungkan." Satrio membuka obrolan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Nggak usah, Mas. Aish nggk mau merepotkan," tolak Aisyah halus.

__ADS_1


 Satrio menggeleng. "Tidak ada penolakan, kalau kamu menolak nanti Mas langsung bawa saja kamu ke penghulu, memangnya kamu mau?"


"Uhuk! Uhuk!" Hendro sampai tersedak mendengar ucapan Satrio, rasa panas dan pedas yang mengaliri hidung dan tenggorokannya nyatanya tak sepanas hatinya yang terasa terbakar cemburu sebab ucapan Satrio tadi.


"Mas minum dulu, Mas." Satrii cepat menyodorkan segelas besar air putih ke hadapan Hendro, yang langsung di tenggaknya hingga tandas.


"Pelan pelan saja, A. Makannya, nggak ada yang minta kok," kekeh Aish memamerkan senyuman indahnya yang selama ini selalu menjadi penyemangat bagi Hendro, namun kini senyuman itu akan ada yang memiliki, dan itu bukan dirinya. Kenyataan apa lagi yang bisa lebih sakit ketimbang itu?


 Setelah cukup tenang, mereka kembali melanjutkan makan. Hendro yang sebenarnya sudah tak berselera hanya memaksa saja makanan itu masuk ke mulutnya dengan cepat, tanpa di nikmati.


"Maaf, setelah ini Mas Hendro mau langsung pulang atau mau menginap dulu? Kalau mau menginap biar setelah ini saya antar ke kontrakan saya sekalian antar dek Aish, kalian pasti lelah kan seharian di mobil?" tawar Satrio masih dengan sikap ramahnya.


 Merasa mendapat kesempatan Hendro langsung tak menyia-nyiakannya.


"Kalau boleh saya mau menginap barang sehari, Mas. Capek sekali badan saya soalnya kalau harus langsung pulang," papar Hendro.


 Aish terlihat melipat keningnya bingung, sebab selama ini dia mengetahui kalau Hendro bahkan lebih sering pulang pergi langsung dari desa ke kota untuk menjual hasil bumi dari kampungnya. Tapi dia segera menepis pikiran buruk yang menyambangi benaknya, mungkin saja Hendro memang benar lelah kali ini.


"Ini kontrakan saya, Mas. Maaf kalau kecil ya, " ucap Satrio setelah mereka keluar dari restoran dan berjalan ke arah belakang dimana banyak terdapat kontrakan dan juga kos kosan di sana.


"Tidak apa, saya yang harusnya minta maaf karna bakalan merepotkan," timpal Hendro.


"Bagus ya, Mas kontrakannya. Luas, lengkap juga," komentar Aisyah yang juga ikut masuk untuk melihat lihat kondisi tempat tinggal calon suaminya itu.


"Iya, kebetulan yang carikan kontrakan ini bos Axel." Satrio menjawab sambil berjalan menuju dapur guna mengambil beberapa camilan untuk tamunya.


 Aish masih asik berjalan dan melihat lihat hingga tanpa sengaja menemukan sebuah foto kecil di antara barang di lemari tv.


"Foto perempuan? Siapa?" desisnya dengan gemuruh di dada.

__ADS_1


__ADS_2