MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 224.


__ADS_3

 Setelah mendengar kabar itu, Rahman memilih untuk segera pulang. Selain karna sudah terlalu lama di sana dia juga ingin menyampaikan berita itu pada Asy terlebih dahulu.


"Assalamualaikum, " ucap Rahman sembari melangkah masuk dan langsung meletakkan barang yang di belinya di minimarket tadi di atas meja makan.


 Sepi, tak tampak ada siapapun di rumah itu hingga akhirnya tak lama terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi dekat dapur.


 Rahman memilih duduk menunggu, sembari menuang air di gelas dan meminumnya hingga tandas. Teringat lagi di benaknya berita yang baru saja beredar di kampung tersebut, yang sempat dia dengar dari warga tadi sebelum memutuskan untuk pulang.


"Tapi katanya ada barang bukti yang tertinggal di pemakaman."


 "Oh ya? Apa?"


"Cangkul katanya, mungkin saja jatuh sewaktu pelaku kabur sambil membawa itu mayit, ih serem saya bayanginnya."


"Terus sekarang teh gimana? Apa sudah di laporkan ke polisi?"

__ADS_1


"Belum tahu saya juga, tergantung Pak kades itu mah."


 Pak kades yang saat itu masih diam menjadi salah tingkah sendiri mendengar warga mulai mempertanyakan keputusannya. Beliau menoleh ke arah Rahman, yang di tatap saat itu pun hanya bisa pasrah dan mencoba memahami perasaan warga lain yang tentu saja gelisah karna ini kali pertama di desa mereka ada mayit yang di curi.


"Bagaimana, ustadz? Apa ustadz bisa memberi solusi untuk kami?" ucap Pak Kades mencoba mendengar aspirasi warga.


 Rahman berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab hal yang baginya sudah paling mungkin di lakukan di saat seperti ini.


"Kalau saya boleh usul, sebagai orang luar sebenarnya saya juga tidak begitu ingin ikut campur masalah ini, namun jika warga berkenan mendengar saran saya, yah seperti yang kita semua sepakati sepertinya memang lebih baik kasus ini kita limpahkan saja ke pihak kepolisian, supaya bisa di usut tuntas dan kita semua juga jadi tenang dan bisa lebih berhati hati ke depannya."


 Pak kades manggut-manggut saja kala itu, menyetujui usul Rahman.


 Warga semua setuju, dan setelah itu bersama Pak kades beberapa warga pergi untuk membuat laporan ke pihak kepolisian.


"Sudah lama, Kak? Kok melamun saja?" sapa Asy yang baru saja keluar dari kamar mandi, menyentuh pundak Rahman dan membawanya kembali dari lamunan.

__ADS_1


 Rahman langsung menoleh dan mendapati istrinya sudah rapi dan cantik dengan wangi sabun menguar dari tubuhnya.


"Ah, sayang. Habis mandi ya? Ini kok sepi bapak sama ibu kemana?" tanya Rahman mengalihkan pembicaraan lebih dahulu.


 Asy duduk di sisi Rahman dan meraih kantong plastik berisi roti dan selai kacang juga beberapa makanan ringan lainnya itu sebelum kemudian membukanya dan mulai memakannya.


"Biasa, ke kebun Kak. Katanya mau lihat sayuran yang mau di panen."


 Rahman mengangguk samar, lalu menerima sepotong roti berisi selai kacang yang baru saja di berikan Asy untuknya, lalu mengunyahnya perlahan sembari menunggu saat yang tepat untuk membicarakan hal yang baru terjadi di desa tersebut pada sang istri.


"Kakak nggak beli mie instan ya?" tanya Asy lagi sembari membuka buka plastik berisi makanan ringan dengan merk minimarket berlogo biru itu.


"Ada kok kayaknya, memangnya kamu mau makan mie? Bukannya ibu sudah masak daging?"


 Asy menggeleng. "Nggak mau ah, mau makan mie aja," pungkasnya seraya mengambil sebungkus mie instan rasa rendang dan mulai masak.

__ADS_1


 Sesaat kemudian aroma mie tersebut mulai memenuhi dapur, membangkitkan selera makan Asy untuk segera nenyantapnya. Setelah mie itu matang dia pun membawanya ke meja, namun sayang saat hendak menyantapnya Asy dan Rahman di kejutkan oleh suara seseorang yang sangat mereka kenal.


"Loh? Kenapa makan mie Asy? Bukankah daging lebih enak?".


__ADS_2