MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 200.


__ADS_3

Ceklek


Jdeeerrr


 Aish keluar dari kamarnya dengan bersimbah air mata, di banting nya pintu kamar itu untuk melampiaskan emosinya yang memuncak karna tak kunjung bisa membuat sang suami bicara tentang apa yang membuatnya jadi sangat pendiam seperti saat ini.


"Huuuuuuaaaaaaaaaaa!" pekik Aish di bagian balkon belakang rumahnya, di tumpahkan semua sesak di dadanya dengan berteriak. Melonggarkan semua beban yang bercokol di dalam dadanya.


"Aish? Ada apa?" seru Asy yang kebetulan lewat hendak ke dapur dan di kejutkan oleh suara teriakan Aish yang terdengar frustasi.


 Aish tak menjawab, hanya bahunya tampak berguncang hebat seiring semakin derasnya arus air yang keluar dari matanya.


 Asy berlari, memburu sang saudari dan memeluknya dengan erat. Membawa kepala Aish ke dalam dekapannya dan mengusap punggungnya perlahan.


"Aish? Kenapa? Katakan ada apa?" bisik Asy mengimbangi suara tangisan Aish yang semakin menggema.


 Tak lama tampak Amelie berlarian dari arah kamarnya yang juga terletak di lantai dua. Tak jauh dari posisi balkon tempat dimana asy dan Aish kini berada.


"Anak anak? Ada apa?" serunya dengan wajah cemas.


 Asy menggeleng, amelie dengan langkah lebar berjalan menghampiri mereka berdua. Meriah bahu Aish dan mengambil alih memeluknya dengan erat. Menyalurkan kekuatan seorang ibu pada anaknya yang tak akan bisa tertandingi oleh apapun.


 Amelie membiarkan Aish menumpahkan semua rasa di dadanya lewat tangisan, hingga beberapa saat kemudian Aish mulai agak tenang. Barulah Amelie mulai menanyainya.


"Ada apa, Nak? Apa suamimu masih tidak mau bicara?" gumam Amelie.


 Perlahan Aish mengangguk, dengan posisi masih dalam pelukan Amelie.


 Amelie mengelus lembut rambut panjang sang putri, sedangkan Asy mengambil tempat di sisi Aish dan mulai mengelus punggungnya, seolah mengatakan kalau Aish tak sendiri masih ada keluarga yang akan membantunya dari setiap permasalahannya.


"Apa mungkin ...."


 Amelie menggantung ucapannya, sekilas bisa di liriknya wajah asy dari sudut matanya. Sorot matanya menampakkan penyesalan yang besar.


"Apa, Mi? Apa mami tahu sesuatu tentang kondisi Mas Satrio?" tanya Aish mengangkat kepalanya dari pelukan Amelie.


 Amelie menunduk, menatap dalam netra Aish sang sangat mirip dengan dirinya. Sedangkan warna mata Asy lebih mirip dengan Edwin, berwarna coklat dengan semburat kebiruan karna masih mempunyai darah blasteran.


"Apa menurutmu, sebaiknya kita kembali membawa satrio ke rumah sakit? Agar di periksa lebih mendalam akan apa yang terjadi padanya, Nak?" gumam Amelie lembut, menyingkirkan anak rambut yang mengganggu di wajah sang putri.


 Aish menunduk, berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk pasrah. Walau sebenarnya dia tak setuju jika Satrio terus menerus di rawat di rumah sakit sedangkan tubuhnya tampak segar namun hanya saja dia masih tak mau bicara sama sekali saja.


****


 Sementara itu.


 Satrio memejamkan matanya kala mendengar suara pintu yang di tutup dengan sangat kasar oleh Aish, istrinya yang baru satu Minggu ini dia resmikan. Istri yang sejak dulu begitu di dambanya dan begitu tulus dia harapkan cintanya. Kini tampak sangat marah dan kesal karnanya.


 Satrio mendesah, di biarkannya bulir bening itu jatuh ke kedua belah pipi yang masih tampak luka lebam di sana. Di angkatnya tangan kanannya, di tariknya lengan baju panjang yang dia kenakan yang selalu dia pakai semenjak pulang ke rumah tersebut.


"Ya Allah," desisnya kala mendapati sebagian besar tangannya sudah mulai membiru lebam.


 Tangis tak dapat di bendung, kesendirian yang selama ini menemaninya kembali dia rasa karna tak ingin membuat istrinya cemas berlebih karenanya.


 Satrio perlahan membuka sedikit kancing baju kemeja panjangnya, di tatapnya dadanya. Dan kenyataan yang sama dia dapati, dadanya membiru tak hanya itu lebamnya mulai terasa sakit.


 Satrio pasrah, di tutupnya pakaiannya dan menutup mata dengan semua gundah yang ada dan masih setia di simpannya sendiri.


****


 Di tempat lain.


"Bagaimana dengan anak anak s*alan itu?" tanya bos botak lewat sambungan telepon pada anak buahnya yang berada di sebrang sana.


"Aman, bos. Tapi mereka belum di buang seperti perintah Bos. Masih di amankan oleh Roy di rumahnya."


 Pria botak tertawa sinis. "baiklah, terus awasi sebaik baiknya. Pihak lawan mulai bergerak untuk menolong mereka, pastikan jika ada yang mencurigakan segara habisi saja," tukasnya tanpa perasaan.


"Siap, bos. Laksanakan!"


Klik


 Smbungan telepon di putus sepihak, lalu si pria pelontos langsung kembali menelpon anak buahnya anak buahnya yang lain.


Tut

__ADS_1


Tut


Tut


 Tak butuh waktu lama, panggilan langsung disambut. Suara seorang pria yang terdengar serak muncul dari speaker ponsel mahal itu.


"Ha- halo, Tuan? Ada ... uhuk uhuk yang bisa saya bantu, Tuan?" ucapnya dengan nada seperti orang yang tengah menggigil.


 Namun hal itu sama sekali tak menyentuh hati si pria pelontos untuk tak meneruskan niatnya.


"Pergilah ke kediaman musuh, awasi pria yang kemarin sudah kau beri racun itu."


"Ta- tapi ... Tuan .... Saya."


"Apa kau mau ibumu yang tua renta itu meregang nyawa di ujung pistolku?"


"Ba- baiklah, Tuan. Akan segara saya laksanakan."


 Klik


Kembali panggilan di matikan, si pria pelontos menyunggingkan senyum puas. Sembari berputar ria di atas tempat duduk kebesarannya. Tawanya perlahan membahana, dalam hati memuji dirinya sendiri yang bisa membuat banyak orang menurut padanya dan berada di bawah kakinya.


****


 Sementara itu, kondisi si kembar.


"Anak anak, ayo makan dulu."


 Istri dari pria bernama Roy yang telah membawa si kembar ke pulau yang berbeda dengan tempat tinggal mereka sebelumnya, keluar dari dapur memanggil si kembar dan anaknya yang sedang asik bermain di halaman. Pasir pasir halus sisa pembangunan rumah tetangga menjadi pengisi waktu mereka tak peduli walau tangan, kaki dan tubuh mereka menjadi kotor.


"Sebentar lagi, Bu." Rio, sang putra menyahut tanpa menoleh ke arah sang ibu, Lira yang kini tengah memperhatikan mereka dari ambang pintu.


 Senyumnya terbingkai cerah menatap sang buah hati yang sudah tampak lebih sehat semenjak si kembar tinggal bersama mereka. Dan tentu saja karna obat yang di beli menggunakan uang dari hasil penjualan jam tangan Azkara jualah yang membuatnya bisa seperti itu.


"Ayo, makan dulu nanti mainnya di lanjut lagi Rio. Kasihan itu kakak kakaknya sudah lapar," pungkas Lira mencoba membujuk anaknya yang baru berusia 4 tahun itu.


 Akhirnya Rio mengalah, dia bangkit dari tumpukan pasir itu dan mengajak Azka serta Adam untuk mencuci kaki dan tangan mereka di keran air yang berada di sudut rumah.


"Bapak kemana, Bu?" tanya Rio setelah mereka duduk melingkar di lantai ruang tengah di depan televisi, di hadapan mereka sudah terhidang sepiring telur dadar dan juga sop sayuran juga kecap sebagai pelengkap. Sebagai orang yang kadang kekurangan, makanan itu sudah termasuk mewah bagi Rio dan Lira.


"Ibu, Rio telurnya yang banyak ya, Bu. Rio kan jarang jarang bisa makan pake telur Bu." Rio merengek pada ibunya saat sang ibu tengah memotong motong telur dadar itu menjadi beberapa bagian untuk di bagi rata untuk mereka makan.


 Lira mengelus puncak rambut anaknya yang tipis karna sering sakit panas, di tatapnya dalam mata sang anak yang begitu mirip dengannya itu.


"Di bagi rata ya, telurnya. Kan kak Azka sama kak Adam juga mau telurnya, Rio makan sehabisnya saja ya, Nak. Nggak boleh serakah," nasihat Lira lembut, berharap sang putra yang memang sangat jarang makan enak itu bisa mengerti.


 Bibir Rio tampak mengerucut, tapi ketimbang tak mendapat telur sama sekali karna membuat ibunya marah akhirnya Rio memilih mengalah dan mengangguk walau sebenarnya dia begitu menginginkan telur dalam jumlah yang lebih banyak karena menurutnya sangat enak itu.


 "Azka sama Adam makan yang banyak ya, biar sehat dan cepat besar." Lira memberikan kepada Adam dan Azka masing masing sepiring nasi lengkap dengan sepotong telur dadar dan sayur sop, tak lupa juga dia menuangkan kecap sebagai pelengkapnya.


 "Adam nggak mau cepat besar, Adam mau cepat ketemu Mama, Papa sama Yuna." tukas Adam sembari menerima piringnya dan menatapnya sendu.


Y


 Lira terhenyak, tangannya yang tengah bersiap menyuapkan makanan untuk Rio berhenti di udara dengan mata berkaca-kaca.


Sejurus kemudian, dia tersadar langsung mengusap air mata yang belum sempat jatuh dari netranya dan mengulas senyum tipis.


"Iya, Nak. Nanti kalian pasti bakalan ketemu Mama kalian lagi kok. Sekarang Azka sama Adam makan dulu ya, ini makanannya enak loh, Tante bikinnya pake kasih sayang dan cinta," seloroh Lira berusaha menghibur hati anak anak yang kini jauh dari orang tua kandungnya karna keegoisan seseorang itu.


 Adam mengangguk lalu memulai makannya, demikian juga dengan Azka. Namun baru beberapa suap dia sudah mendorong piringnya ke depan hingga Lira keheranan melihat tingkahnya.


"Azka kenapa? Makanannya nggak enak ya?" tanyanya lembut.


 Azka menggeleng. " Makanan Tante enak kok, tapi ... Azka nggak suka telur dadar Tante."


Kening Lira tampak membentuk lipatan, begitu pula dengan Rio dan Adam.


"Biasanya kamu paling suka telur, Azka. Apalagi kalo Mama bikin telur mata sapi setengah matang kamu yang selalu habisin kan?" pungkas Adam membuat Azka salah tingkah.


 Lira mengulas senyum simpul. "Oooh, jadi Azka maunya telur mata sapi setengah matang? Sebentar Tante bikinkan ya."


 "Eh jangan, Tante." Azka berseru cepat, membuat Lira yang sudah hendak beranjak langsung mengurungkan niatnya dan duduk kembali.


"Loh kenapa? Nggak papa Tante goreng lagi aja, yang penting Azka mau makan ya," bujuknya terdengar sangat keibuan.

__ADS_1


 Azka kembali menggeleng. "Nggak, Tante. Azka lagi nggak pengen makan telur."


"Jadi, Azka maunya makan apa, Nak?" tanya Lira lagi, penuh kesabaran dan kelembutan.


 Azka menunjuk mangkuk berisi kuah sayur sop yang isinya tak seberapa itu.


"Ini saja, Azka jarang makan ini. Kayaknya ini lebih enak," pungkasnya berusaha terdengar meyakinkan.


 Lira tersenyum dan mengangkat mangkuk itu sebelum menuangkan lagi isinya ke piring Azka.


"Di makan ya, Nak."


 "Telurnya ambil, Tante. Azka nggak mau," ucap Azka lagi.


 "Buat rio aja telurnya Kak Azka kalo nggak mau," sela Rio cepat, matanya tampak menatap penuh harap.


 Azka mengangguk. "Iya, ambil aja."


"Yyyeeeeyyyyy, Rio makan telur banyak." Rio bersorak girang sembari mengangkat tangannya ke udara.


 Lira menyeka sudut matanya yang berair, dengan senyuman tertahan karna menyadari semua itu hanyalah cara Azka untuk bisa menyenangkan anaknya.


"Terima kasih, Nak." Lira berbisik lirih, hingga hanya dia yang bisa mendengarnya.


****


Di kediaman Andrew.


"Bagaimana, Pa? Apa rencana yang kemarin Papa bilang bisa kita lakukan secepatnya?" tanya Axel setelah menilik sebentar kondisi sang istri yang ternyata masih sama saja dengan hari hari sebelumnya. Duduk diam dengan air mata yang tak hentinya menetes.


 Andrew mendesah berat, raut wajahnya mendadak berubah masam.


"Maaf, Nak. Sepertinya ... tidak bisa," gumamnya gundah.


 "Apa? Tapi kenapa, Pa? Kenapa tiba tiba tidak bisa?" cecar Axel dengan tatapan sedih dan putus asa.


Andrew menggeleng pelan. "Karna orang yang ingin Papa ajak kerja sama, rupanya dia sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk membantu kita."


 Axel menyugar rambutnya kasar, wajahnya tampak sangat frustasi sekarang.


"Apa tidak ada cara lain selain rencana itu, Pa?" desak Axel mulai tak sabar.


 Andrew perlahan menjatuhkan tepukan lembut ke pundak anaknya dengan senyum getir tersungging di bibirnya.


"Ada, pasti ada. Kita akan cari cara itu bersama, Nak. Yakinlah kita pasti akan bisa menyelamatkan anak anakmu," pungkasnya yakin.


 Axel mengusap ke dua matanya yang basah, netranya memerah. Mata yang sejak anak anaknya hilang itu sangat jarang bisa terpejam walau hanya sesaat itu semakin mengabur karna air mata yang terus berdesakan keluar.


"Kenapa kita tidak langsung pergi ke sana dan menjemput si kembar, Pa? Kenapa kita harus menunggu terus menerus seperti ini? Kasihan anak anak ku, Pa." Tangis Axel pecah, tak dapat di bendung lagi.


 Andrew merangkul pundak anaknya dan menepuk pundaknya memberi kekuatan.


 "Apa kau yakin? Papa takut, Nak. Papa takut malah akan kehilangan lebih banyak lagi," gumam Andrew terdengar terisak pula.


"Apa yang Papa takutkan? Aku bahkan rela kehilangan nyawaku demi anak anakku. Asalkan mereka bisa kembali dengan selamat, Pa." Axel semakin tergugu.


"Papa tahu, Papa tahu, Nak. Tapi tolong jangan katakan itu, jangan bilang kau akan meninggalkan Papamu ini. Tenanglah, Nak jangan gegabah." Andrew menangkup wajah Axel dan menatap netranya yang basah dengan lekat.


 Axel tersulut emosi karena sang ayah terkesan terlalu menghalanginya untuk menjemput anak anaknya langsung, padahal mereka sudah mengetahui dimana posisi pasti keberadaan anak anaknya saat ini.


 Di tepisnya tangan Andrew dengan kasar dari wajahnya, Axel bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah Andrew.


"Nak apa yang kamu lakukan? Jangan bilang kalau kamu akan nekat, Nak. Papa tidak mau kehilangan kamu lagi!" tegas Andrew berusaha menahan Axel.


 Tapi axel yang sudah tak tahan lagi untuk menemui ke dua putranya tak ingin mendengar alasan apapun.


"Lebih baik aku yang mati ketimbang aku harus berjauhan dari anak anakku tanpa bisa menolong mereka, Pa! Sama saja Papa tengah membunuh Axel perlahan jika seperti ini caranya. Kenapa papa seolah tidak mau aku bertemu lagi dengan anak anakku?" sentak Axel untuk pertama kalinya berkata dengan nada tinggi pada ayahnya.


 Andrew tertegun, tak bisa berkata kata lagi. Hanya bisa menatap Axel dengan tatapan tak percaya.


"Sudahlah, jika Papa terlalu takut untuk mengambil resiko biarkan aku saja yang akan melakukannya. Papa hanya perlu membantu doa agar aku bisa membawa pulang Azka dan Adam dengan selamat tanpa kurang satu apapun. "


 Setelah berkata seperti itu, Axel berbalik dan menghilang di balik pintu.


 Menunaikan niatnya untuk ke pulau sebrang menjemput anak anaknya walau tanpa restu ayahnya dan tanpa rencana yang matang.

__ADS_1


__ADS_2