MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 198.


__ADS_3

"Ssttttt ... anak anak kalian diam dulu ya, kita sudah sampai jangan bicara sampai kita turun dari kapal ya." Pria berjaket itu memperingatkan.


 Azkara dan Adam kompak mengangguk, lalu diam sembari melihat ke sana ke mari lewat kaca mobil yang tidak tembus ke dalam itu.


 Selama menunggu mobil mobil lain yang antri untuk turun dari kapal, ponsel pria berjaket itu beberapa kali berbunyi namun tak di indahkannya. Membiarkan dering ponsel itu terus menjerit memekakkan telinga. Azkara dan Adam hanya bisa saling pandang tanpa berani bicara sepatah kata pun.


 Setelah menunggu beberapa saat lamanya, akhirnya mobil keluar dari kapal dan mulai meluncur kembali ke jalanan raya. Di suatu ruas jalan yang sepi pria berjaket menghentikan mobilnya, lalu meraih ponselnya dan mulai melihat siapa yang sejak tadi menelponnya.


"Astaga," desis pria itu pelan, namun dari nada suaranya terdengar kegusaran di sana.


 Pria itu meletakkan ponselnya di telinga, sepertinya dia menelpon balik nomor yang sejak tadi tak henti menelponnya.


"Ada apa? Mas baru saja turun dari kapal," ucapnya setelah panggilannya terhubung.


 Tak terdengar jawaban dari orang yang di telponnya, namun dari raut wajah dan gestur tubuh pria itu tampaknya dia tengah di landa kegelisahan yang sangat.


"Ya ya baiklah, kebetulan ini sudah di dekat rumah. Mas akan sampai sebentar lagi, tunggulah ya. Berhentilah menangis kasihan anak kita."


Tut


Setelah itu sambungan telepon pun terputus, pria itu menarik nafas dalam sembari menyandarkan kepalanya ke jok kursi.


Di rogohnya dompet usang yang ada di dalam kantong celananya dan di bukanya perlahan. Mendadak dadanya terasa sesak kala mendapati di dalam dompet itu hanya terdapat beberapa lembar uang saja, itupun jumlahnya tak seberapa.


"Paman?" panggil Azkara memberanikan diri, sedangkan Adam sejak tadi sudah tertidur karena kekenyangan.


"Ya?" sahut pria berjaket itu tanpa menoleh, cepat cepat dia menutup dompetnya dan memasukkannya lagi ke dalam saku celananya.


"Apa kita akan ke rumah paman?" tanya Azkara lagi.


"Kenapa kau mau tahu?"


 Azkara menggeleng. "Tidak, lalu ... apa paman punya anak?"


 Pria berjaket itu diam sejenak, lalu setelah beberapa helaaan nafas dia menjawab. "Ya, ada. Masih balita dan dia sakit sakitan."


 Azkara menunduk mendengar jawaban pria berjaket itu, sepertinya perkerjaan yang di lakoninya tak bisa menopang penghidupan dan kebutuhannya. Tapi dia juga tak bisa semudah itu berlepas tangan, sebab telah berani berususan dengan sang bos yang terkenal kejam dan tak kenal ampun. Walau sebenarnya dia tak pernah memberi upah yang layak untuk para anak buahnya, hanya ancaman dengan menggunakan keluarga terdekat para anak buahnya lah dia bisa menahan anak buahnya itu untuk tetap menjadi pengikutnya.


 Azkara membuka jam tangan yang melingkar di tangannya, jam yang sama seperti yang di pakai Adam dan juga Ayuna hanya berbeda warna saja. Jam itu adalah pemberian dari almarhum sang kakek, Bryan. Di buat khusus untuk mereka bertiga, para penerusnya yang sah.


"Paman, bisakah kau menolongku?" tanya Azkara pada pria berjaket di depannya yang kini mulai menghidupkan kembali mesin mobil yang tadi sempat di matikannya saat menerima telpon.


"Tolong apa? Apa kau mau pipis?" tanyanya.


 "Tidak, bukan. Aku ingin menjual jam ini, apa ada toko yang mau menerimanya?" Azkara menyodorkan jam tangannya pada pria itu.


 Pria itu menerima jam tangan Azkara, lalu melihatnya dengan seksama.


"Jam ini tampaknya sangat mahal, tapi ... untuk apa kau ingin menjualnya? Kau masih anak kecil, dan ini kan pasti pemberian orang tuamu? Apa kau tak takut di marahin karena sudah menjual jam bagus ini?"


 Azkara berdiri dari tempat duduknya, dengan berpegangan pada jok mobil di depannya dia menatap sang pria lebih dekat.


"Bukankah kita akan ke rumah paman dan bertemu anak paman? Sudah sepantasnya kami sebagai tamu membawakan buah tangan untuknya. Tapi, karna Azka tidak punya uang untuk membeli oleh oleh makanya Azka minta jualkan jam itu untuk kita beli oleh oleh."


Ckiiiiitttttttttt

__ADS_1


 Sontak pria itu langsung menekan pedal rem sedalam yang dia bisa, hingga mobil berdecit dan bannya meninggalkan jejak di aspal.


 Azkara jatuh terduduk sedangkan Adam langsung tersungkur ke depan akibat rem mendadak itu.


"Addduuuuhhhh kepalaku," rintih Adam sembari memegangi pelipisnya yang baru saja terbentur jok mobil di depannya, yaitu kursi supir yang di duduki pria berjaket.


"Ada apa, paman? Kenapa mengerem mendadak?" tanya Azkara sambil membantu Adam bangkit setelah dia sendiri bangkit dengan berpegangan sisi jok mobil.


 Pria itu masih tercenung di tempatnya, menghadap ke depan dengan tatapan kosong.


 Lalu tak lama air matanya menetes, semakin lama semakin deras dan berubah menjadi tangisan tergugu.


Azkara iba, dengan perlahan di dekatnya pria yang di panggilnya paman itu, di elusnya tangannya yang menutupi wajah dan di tepuknya pelan punggung sang pria dengan lembut.


"Paman, kenapa menangis? Apa karna kami nakal sudah bertanya tadi? Maaf paman, tapi kami hanya kaget sebab paman mengerem mendadak, maafkan kami ya kami janji tidak akan nakal lagi."


 Sontak tangisan pria itu semakin menjadi jadi, tanpa aba aba di peluknya tubuh Azkara dengan sangat erat dengan berkali kali mengucapkan terima kasih walau Azkara sendiri bingung untuk apa pria itu berterima kasih padanya.


"Kau memang anak berhati malaikat, salah ku yang terlalu buta untuk melihat semua itu. Harusnya aku tidak menurut saat di minta menculik dan membuang kalian seperti ini. Maafkan aku, maafkan aku." Pria itu mulai memukuli kepalanya sendiri, namun dengan cepat Azkara meraih tangannya dan memeluknya kembali, pria itu menumpahkan semua tangisnya di pelukan kecil Azkara yang entah bagaimana terasa sangat hangat dan nyaman di tubuhnya.


"Sudahlah paman, ayo kita pulang dan jual jam tangan itu. Lalu beli oleh oleh dan temui anak paman, kami tidak sabar ingin bertemu dengannya. Apa dia laki laki? Atau perempuan seperti saudari kami?" tanya Azkara dengan nada riang.


 Pria berjaket itu membuka hoodie jaketnya, membiarkan rambutnya yang kusut dan tak terurus tertiup angin dari luar mobil.


 Di ulasnya selarik senyum manis walau dua sisi wajahnya masih tampak basah.


" Anak paman laki laki, seperti kalian hanya saja dia masih lebih kecil dari kalian. Terima kasih karna sudah memecahkan masalah paman dan berbaik hati memberi paman jalan keluar, sekali lagi terima kasih," pungkas pria itu sembari menciumi tangan Azkara berulang kali.


 Azkara mengangguk. "Sama sama, paman. Kalau begitu ayo bawa kami pulang ke rumah paman."


 Pria itu mengangguk, lalu kembali menjalankan menuju ke tempat dia akan menjual jam tangan milik Azkara, dalam hati dia berjanji akan kembali menebus dan mengembalikan jam itu suatu saat nanti.


 Setelah mendapat sejumlah uang untuk jam tangan yang memang berharga itu, pria itu keluar dengan wajah sumringah.


"Kalian mau beli apa?" tanyanya riang.


"Adam mau mekdi," sahut Adam penuh semangat sembari membayangkan bagaimana lezatnya ayam goreng yang terkenal itu.


"Baiklah, ohya Nak ini paman pinjam dulu uangnya ya. Nanti setelah paman punya uang akan paman ganti dan akan paman kembalikan lagi jam tangan punya kamu, ya?" ucap pria berjaket itu pada Azkara.


 Azkara mengangguk cepat tanpa raut keberatan sama sekali


.


"Iya Paman," sahutnya tenang.


 Setelah itu mereka kembali meluncur, menuju ke sebuah resto ayam besar yang mempunyai logo M di depannya. Pria itu membelokkan mobilnya ke arah antrian Drive thru dan menunggu untuk bisa memesan.


 Setelah selesai urusan dengan panganan yang sangat terkenal itu, mereka kembali ke jalan. Berjalan sebentar hingga sampai di depan sebuah rumah sakit yang tak begitu besar.


"Tunggu di sini sebentar ya, Paman mau beli obat dulu."


 Azkara dan Adam mengangguk, lalu pria itu pun beranjak keluar dari mobil untuk membeli obat yang di pinta istrinya tadi. Sekilas di tatapnya mobil yang di dalamnya terdapat dua orang bocah tak berdosa yang sebenarnya di perintahkan sang bos untuk membuang mereka di pulau sebrang ini.


 Meninggalkan mereka di pinggir jalan hingga tak ada yang bisa menemukan mereka. Tapi dia tak sanggup, anak anak itu bahkan belum mengerti apapun untuk di lepas di dunia luar. Mereka hanya korban dari ambisi seseorang yang tidak pada tempatnya.

__ADS_1


"Totalnya tujuh ratus lima puluh ribu, Pak." Suara seorang perawat yang melayani si pria membuyarkan lamunannya.


 Segera dia mengeluarkan dompetnya yang kini sudah penuh dengan uang hasil menggadaikan jam tangan Azkara tadi dan memberikan sejumlah yang di sebutkan si perawat.


 Setelah itu langsung bergegas pergi, agar anak anak yang secara tak langsung sudah menolongnya itu tak menunggu terlalu lama.


"Terima kasih ya Allah, terima kasih sudah memberi jalan keluar bagi masalah hamba saat ini, semoga saja hamba masih bisa menyelematkan anak anak ini tanpa mengorbankan anak dan istri hamba sendiri. Tolonglah hamba- Mu ini ya Allah." Pria itu bermonolog dalam hatinya meminta pertolongan pada yang kuasa dalam ketidak mampuannya.


 Mobil kembali melaju, membawa mereka hingga tiba di sebuah pelataran sebab rumah petak kecil yang sangat sederhana. Pria itu turun dan membantu Azkara dan Adam membawa beragam makanan yang sudah dia beli tadi di jalan.


 Dengan mata berkabut pria itu menuntun Azkara dan Adam menuju rumahnya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya tepat di depan pintu.


 Dari dalam terdengar suara sorak girang seorang anak kecil di sertai suara langkah kaki yang sangat cepat seperti berlari.


"Yyeeeyyy, bapak pulang!"


 Ceklek.


"Wa'alaikumsalam, Mas. ya Allah akhirnya kamu pulang juga, Mas?."


 Seorang perempuan berdaster dan seorang anak kecil laki laki yang rambutnya sangat tipis berlari menghampiri pria itu, di peluknya penuh sayang anak laki laki itu sebelum akhirnya berpindah memeluk sang istri yang sudah beberapa bulan tak di jumpai karna tak di izinkan mudik oleh sang bos yang terlalu egois itu.


"Apa kalian baik baik aja? Apa selama Mas pergi ada orang yang jahat sama kalian?" tanya pria itu sembari menggendong anaknya.


"Oh, ngg ....."


"Ada, Pak. Kemarin pernah ada orang jahat datang dan marah marah sama ibu, tapi aku nggak tahu kenapa. Ibu bilang jangan bilang sama bapak tapi nggak mungkin kan, Pak adek nggak bilang? Adek kasihan sama ibu, Pak. Makanya bapak di sini aja kerjanya, biar ibu nggak di jahatin orang lagi," celoteh di kecil yang berada di dalam gendongan si pria.


 Pria itu mendesah, pikirannya seketika berkecamuk. Namun di tepisnya lebih dulu kala melihat si kembar yang kini sepertinya telah saat lelah berdiri. Wajah lesunya menunjukkan betapa mereka sangat menginginkan istirahat yang nyaman dan membersihkan diri yang pastinya terasa sangat lengket setelah sejak kemarin malam tidak mandi.


  Usai membawa masuk Azkara dan Adam dan mempersilahkan mereka mandi, mereka pun duduk berkumpul di ruang keluarga yang merangkap ruang tamu rumah tersebut. Rumah kecil yang hanya punya dua ruangan saja, yaitu dapur dan kamar sedang ruang tamu berdampingan dengan sekat kamar, sebuah kamar mandi kecil menempel di dinding dapur.


"Mas, sebenarnya siapa anak anak ini?" tanya istri si pria dengan tatapan kebingungan.


 Pria itu mendesah, menatap ke arah Azkara dan Adam yang saat ini tengah menikmati makan malam bersama putra semata wayangnya yang tampak sangat bahagia bisa mencicipi makanan yang termasuk mewah baginya itu.


"Anak anak itu ... korban penculikan, Bu," sahutnya pelan, sangat pelan hingga sang istri harus mendekatkan telinga untuk bisa mendengar jawabannya.


 Membeliak mata sang istri, terlebih dari perawakannya ke dua bocah yang dibawa suaminya itu tampaknya adalah anak orang berada.


"Mas! Lagi? Kamu jangan becanda, Mas! Kan aku sudah berkali kali minta kamu untuk keluar dari pekerjaan itu! Pekerjaan itu haram, Mas! Kasihan anak anak itu." Sang istri tanpa sadar mengeraskan nada suaranya, hingga anak anak yang tengah asik menonton tv sembari makan itu jadi mengalihkan pandangan padanya.


"Tenanglah dulu, jangan berpikiran buruk tentang Mas. Sekarang lebih baik kamu dengarkan ini ...."


*


"Tapi bagaimana bisa,Mas? Kita juga bisa dalam bahaya sekarang." Istri pria itu mengeluh sembari meremas ujung daster lusuhnya.


 Kehidupan yang serba pas Pasan sekarang harus di tambah beban akan di curigai polisi pula sebab Azkara dan Adam ternyata memanglah anak orang berada dan berpengaruh di kotanya.


"Entahlah, Bu. Mas juga bingung seorang, tapi untuk menuruti orang orang tak berperasaan itu dan membuang mereka di jalan Mas juga nggak tega, mereka anak anak baik. Lihatlah, mas bisa membeli makanan yang banyak dan obat obatan untuk anak kita itu semua berkat kebaikan mereka, mereka rela berkorban dengan meminta Mas menjual barang berharga mereka untuk membawakan oleh oleh untuk kamu dan anak kita," tutur si pria berharap sang istri mau mengerti.


 Dan benar, sang istri tampak terbelalak tak percaya namun mau tak mau semua yang sudah dia liat di depan mata bahkan stok obat obatan anaknya untuk satu bulan ke depan juga beberapa lembar uang yang di berikan suaminya padanya tadi menjawab semuanya.

__ADS_1


"Lalu, aku harus bagaimana, Mas?"


 Setelah berpikir sejenak pria itu menjawab. " Rawatlah dahulu anak anak itu sampai kondisi ini agak mereda. Setelah itu kita akan berusaha mencari tahu tentang keluarga mereka nanti, berusahalah agar tak ada yang bisa mengenali mereka selama mereka tinggal di sini."


__ADS_2