MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 128.


__ADS_3

"Kamu ngapain masuk ke kamar mandi juga?" bentak Alam yang kaget sambil menutupi tubuhnya, untungnya tadi baru bajunya saja yang dia copot belum bawahannya. Kan berabe kalau sampai Rahman melihat cucak Rowonya.


"Ya Mas tadi sendiri nya kenapa teriak teriak, ada apa?" balas Rahman pula, tak kalah kesal karna di bentak.


 Alam mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu menunjuk ke sudut dinding kamar mandi.


"Ada kecoa, besar sekali. Geli saya," ucapnya.


 Mata Rahman bahkan sampai melotot melihat ke arah Alam lalu beralih pada si kecoa yang bertengger santai saja di dinding itu, dia bahkan tidak bergerak.


"Kenapa kamu ngeliatin saya begitu?" gerutu Alam saat melihat Rahman rupanya malah senyum senyum sendiri setelah memindainya dan si kecoa.


"Ah, nggak. Abisnya Mas ini badan doang gede sama kecoa seuprit masa takut," kekeh Rahman sambil hendak berlalu.


"Heh mau kemana kamu?" seru Alam terdengar gemetar.


 Rahman kembali berbalik.


" Ya keluarlah, masa iya mau saya tungguin di sini."


 Alam tampak gugup namun karna tak kuasa menahan takut akhirnya dia utarakan juga maksudnya.


"I- itu, bisa tolong di bawa? Saya geli sumpah. Nanti kalau dia terbang gimana?" gumamnya sambil menunjuk si kecoa yang tidak tahu apa-apa itu.


"Ya udah saya ambilkan," dengus Rahman menahan tawa.


 Setelahnya dengan santainya Rahman masuk ke ruang kecil beraroma Cemara itu, mengambil si kecoa dengan santainya dan langsung keluar.


"Hwaaaa!"


Brraakkk


 Setelah Rahman keluar bersama si kecoa, Alam langsung menutup pintu karna takut itu kecoa akan terbang kembali.


 Rahman hanya bisa geleng-geleng kepala saja sambil menyeringai kecil lalu meneruskan langkahnya untuk keluar.


"Abbas!" seru Rahman saat melihat bocah itu berjalan bergandengan tangan dengan Asiyah.


"Apa om?" sahut Abbas dengan wajah polosnya.


"Mau kemana?"


"Beli es krim!"

__ADS_1


"Oom mau dong."


"Minta aja sama bibi Asy, om. Yang mau beliin bibi kok."


Rahman beralih menatap Asiyah, perempuan berwajah teduh dan manis yang selalu di rindukannya itu kini tampak tersenyum kecil.


"Nggak jadi deh, buat Abbas aja es krimnya."


 Abbas tampak mengacungkan jempolnya lalu dia dan Asiyah pun kembali berjalan menuju pintu keluar pondok untuk membeli es krim di toko yang tak jauh dari sana.


"Beli es krimnya kenapa banyak banget sih, Bas? Emangnya Abbas bisa abisin semuanya?" tanya Asiyah lagi setelah mereka kembali dari toko dengan Abbas yang menenteng sebuah kantong berisi empat buah es krim dengan rasa dan bentuk yang sama.


"Bisa, bibi. Kan nanti Abbas mau kasih ke temen baru Abbas, nanti kami makan bareng es krimnya," sahut Abba yang akhirnya membuat Asiyah mengerti mengapa bocah pintar itu meminta empat buah es krim.


Saat mereka baru saja akan masuk kembali ke dalam pondok, sebuah mobil tampak berhenti di depan gerbang membuat Asiyah turut menghentikan langkahnya.


"Nah, itu temen temennya Abbas, bi." celetuk Abbas sambil menunjuk mobil itu, Asiyah tertegun sembari menunggu siapa yang akan keluar dari sana.


 "Abbas!" seru suara anak anak dari dalam mobil itu, di susul pintu mobil bagian belakang yang terbuka dan tiga bocah yang tampak lebih muda dari Abbas turun dengan wajah sumringah.


"Adam, Azka, Yuna!" seru Abbas pula dengan wajah tak kalah bersemangat.


 Mereka berjalan mendekat dan berebut mencium tangan Asiyah. Membuat Asiyah tersenyum kecil melihatnya, karna anak anak itu tampak begitu lucu dan menggemaskan.


 Asiyah mengangguk lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan para bocah lucu itu.


"Ini ya temen temennya Abbas? Kenalin nama bibi Asiyah, kalian bisa panggil bibi Asy ya kayak Abbas," ucap Asiyah yang di angguki si kembar tiga itu.


"Aku Azka, bibi."


"Aku Adam."


"Kalo aku Ayuna," ucap si bungsu Ayuna sambil tersenyum manis sekali.


 Asiyah bangkit berdiri dan mengusap kepala mereka satu persatu dengan penuh kasih sayang. Melihat mereka rasanya ia seperti de Javu namun dia pun bingung ingatan yang mana yang membuatnya merasa seperti pernah bertemu tiga anak itu.


" Temen temen, kita masuk yuk. Tadi kita di beliin es krim sama bibi, kita makan sama sama ya." Abbas mengajak teman temannya masuk dan langsung di iyakan oleh mereka.


 Setelah empat bocah itu masuk, Asiyah yang hendak menyusul harus menghentikan langkahnya karena panggilan seseorang yang terasa familiar sekali.


"Aish!" serunya.


 Tak lama tampak muncullah seorang wanita cantik yang Asiyah ingat sebagai teman atau saudara dari Jeni.

__ADS_1


"Aish, kamu aish kan?" cecar wanita yang tak lain adalah Sarah itu dengan tatapan nanar, matanya terlihat berkabut walau tak ada air mata yang jatuh.


 Asiyah tampak kebingungan, karna mendengar nama yang asing di telinganya.


"Maaf, siapa?" tanyanya.


"Aish, Aisyah! Ini kamu kan? Katakan kalau ini memang kamu, saya kangen sekali sama kamu," ucap Sarah mulai terisak lalu tanpa aba-aba dia pun menubruk Asiyah dan memeluknya erat sekali.


Asiyah gelapan, dia bingung harus menjelaskan bagimana karna sepertinya Sarah salah mengenalinya sebagai orang lain.


"Maaf, Mbak. Tapi saya ...."


"Kamu kemana saja? Kamu tahu saya selaku cari informasi tentang kemana kamu pergi tapi nggak pernah ketemu. Dan sekarang kamu muncul di sini, kamu cantik sekali pakai jilbab begini," ujar Sarah sambil melepas pelukannya dan menyusut air mata di pipinya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Axel yang sejak tadi ternyata memperhatikan dari dalam mobil.


"Ini aish, Mas." Sarah menjawab dengan yakin pertanyaan Axel, wajahnya tampak sumringah.


 Dahi Axel berkerut, lalu dia pun ikut mendekat ke arah berdirinya Sarah.


"Aish? Kamu benar aish?" tanya Axel memastikan.


 Asiyah tersenyum getir, lalu dengan sungkan dia pun menggeleng.


 Sarah terkesiap. "Apa? Bagaimana mungkin kamu bukan aish? Tapi wajah kamu ...."


"Iya bukan, Mbak. Nama saya Asiyah, bukan Aish," sahut Aisyah lembut.


"Tapi ... tapi, Mas kamu lihat sendiri kan? Mirip sekali," desah Sarah seperti memendam kekecewaan.


Axel merangkul pundak istrinya dan mencoba menenangkan.


"Apa maksud Mbaknya kalau saya mirip seseorang? Atau ada seseorang yang mirip saya?" tanya Asiyah penasaran.


 Sarah mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar.


"Ini, namanya Aisyah dia mantan baby sitter Ayuna." Sarah menyodorkan ponselnya dan menunjukkan foto Aisyah saat dulu masih mengasuh Ayuna, bahkan di foto itu tampak Aisyah tengah tersenyum lebar sambil menggendong ayuna yang masih bayi.


 Asiyah terhenyak mundur, matanya nanar seakan tak percaya. Pikirannya berputra, mengingat lagi masa masa dimana ada seseorang yang datang padanya dan mengatakan tentang orang tua kandung dan juga saudara kembarnya.


"Dimana? Dimana dia sekarang?" tanya Asiyah dengan air mata membasahi pipinya.


 Tapi Sarah menggelengkan kepala, sebab memang hingga lima tahun berlalu pun dia masih tak mendapat jawaban dimana gadis manis itu berada.

__ADS_1


"Apa, mungkin dia sudah bersama orang tua kandung kami? Apa Mbak tahu kalau mungkin saja kami adalah saudara kembar'?" selidik Asiyah penuh tanya.


__ADS_2