MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 179.


__ADS_3

 Waktu berlalu, meninggalkan semua yang telah terjadi di masa lalu. Tahun tahun yang indah terlewati dengan berbagai suka duka dan jalan cerita yang akan mengukir kenangan baru.


 Dua tahun sudah berlalu, membawa semua kisah lama menemui puncak di akhir kisahnya. Kisah baru terbentuk, melanjutkan apa yang sudah terjadi sebelumnya.


"Nona cantik sekali, seperti bidadari yang turun dari surga. Pasti calon suami Nona nanti akan sangat terpesona dengan kecantikan Nona." seorang perias memuji penampilan Asy hari ini, hari dimana dia akan mengikat janji suci untuk yang ke dua kali dengan pria yang sejak dulu cintai. Namun, dia masih sering bertanya dalam hati, apakah cinta itu masih sama?


"Terima kasih," gumam Asy, hanya itu yang bisa di ucapkan.


 Lidahnya kelu, terlebih saat teringat satu tahun yang lalu dia mendapat undangan pernikahan dari Alam dan Juli. Dia masih tidak mengerti mengapa saat itu dia menangis hingga tiga hari lamanya. Mengurung diri dan tidak mau melakukan apapun. Jika saja tidak ada aish yang mendampinginya waktu itu mungkin saja saat ini Asy belum akan kembali normal seperti sekarang.


 Dan pernikahannya kali ini, akan di langsungkan berbarengan dengan pesta pernikahan Aish dan Satrio. Pesta yang luar biasa mewah yang sudah di persiapkan Ed sejak jauh jauh hari khusus untuk anak anaknya yang telah kembali, sekaligus untuk memperkenalkan anak anaknya pada khalayak ramai.


" Apa mempelai wanita di sini sudah siap?" tanya seseorang yang baru saja menyembulkan kepalanya dari balik pintu yang terbuka sedikit.


 Perias Asy mendongak setelah menyapukan bedak sekali lagi ke wajah Asy.


"Ah ya, kami sudah siap," sahutnya.


"Baiklah, sebentar lagi mempelai prianya akan tiba silahkan menunggu di bawah." seseorang tadi berkata lagi, lalu beranjak meninggalkan kamar pengantin Asy yang juga di hias layaknya kamar raja dan ratu, indah sekali.


 Asy di jemput oleh Amelie di kamarnya, tentu saja setelah mengantarkan Aish lebih dulu untuk menunggu di lantai bawah bersama keluarga yang lainnya.


 Asy di apit oleh Ed dan Amelie yang pada akhirnya mewujudkan impian mereka mengantarkan anak anaknya dalam bahtera rumah tangga.


 Semua keluarga yang hadir termasuk tamu undangan yang berada di dalam rumah megah itu tak ada yang tak berdecak kagum melihat Asy dan Aish yang walaupun berada dalam balutan baju pengantin yang berbeda namun wajahnya tetap seperti pinang di belah dua. Apalagi saat ini Aish memutuskan untuk memakai jilbab di hari pernikahannya membuat mereka semakin tak ada bedanya.

__ADS_1


"Subhanallah, Asy ... kamu cantik sekali." Aish berbisik di dekat telinga Asy dengan hati hati.


 Asy tersenyum malu. "Kamu juga, Aish. Pasti Mas Satrio bakalan tergila gila sama kamu setelah ini.".


"Haha, yang benar itu Kak Rahman yang bakalan terpesona sampe termangap mangap melihat kamu saat ini," kekeh Aish bercanda.


"Sudah, sudah anak anak Mami dan Papi memang cantik cantik dan luar biasa. Para lelaki itu pasti akan klepek-klepek melihat kalian dan hanya akan melihat kalian saja seumur hidup mereka." Amelie menengahi, lalu merangkul penuh kasih dua anak kembarnya itu.


  Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya rombongan pengantin pria yang di tunggu tunggu datang juga. Dua rombongan sekaligus membuat suasana tampak sangat ramai dan padat. Untunglah halaman rumah Ed yang luas cukup untuk menampung mereka semua.


 "Akhirnya, anak-anak ku akan pergi lagi setelah ini." Ed mengusap air mata yang jatuh tanpa sengaja di pipinya.


 Lalu berusaha tersenyum menyambut para calon menantu dan besannya.


 Acara pun di mulai, Aish dan Satrio melaksanakan akad lebih dahulu kemudian di susul oleh Asy dan Rahman. Dan yang menikahkan mereka adalah Edwin yang turun tangan secara langsung.


"Sayang, sadarlah. Semua orang melihatmu tahu." Amelie mencubit pelan perut suaminya yang masih saja menangis terisak sembari memeluk tubuh Asy putrinya.


 Sedang Rahman sudah mengangkat wajahnya dari tangan Amelia yang sebelumnya di ciumnya. Tersenyum simpul melihat ke arah Ed yang masih menangis hingga air matanya tumpah kemana mana.


"Biarkan saja mereka melihat, aku sedang melepas kepergian putriku pada suaminya. Aku sedihhhh," gugu Ed tanpa peduli beberapa orang mulai berbisik bisik sembari mengulum senyum menyaksikan tingkahnya..


"Papi, Asy tidak akan pergi jauh. kenapa Papi berlebihan, Asy tidak pindah planet kok," kikik Asy pelan, merasa sang ayah memang terlalu berlebihan menanggapi semuanya. Namun bagi Ed, tak ada yang berlebihan jika untuk anak anaknya.


 Ed akhirnya mau melerai pelukannya, kali bergantian memeluk Rahman sebagai menantunya. Sedang Asy berpindah ke pangkuan Amelie untuk sungkem.

__ADS_1


"Tolong jangan lagi bawa anakku jauh dariku, atau aku akan kembali menculik ibumu," ujar Ed sembari menghapus air matanya ketika Rahman selesai mengucapkan kalimat meminta restunya.


 Rahman tersenyum. "Insyaallah tidak, uncle. Jika pun Uncle meminta kami untuk tetap tinggal di sini setelah ini, insyaallah saya mau".


 Tampak binar di mata Ed saat mendengar ucapan Rahman, tak di pedulikannya lagi suara musik pengantar atau suara MC yang memandu acara di panggung sebrang sana. Dia hanya fokus pada wajah teduh Rahman yang sangat mirip dengan almarhum pamannya itu.


"Benarkah? Kalian mau tinggal bersama Papi?" tanyanya lagi, untuk lebih memastikan.


 Rahman menatap Asy, lalu Asy pun mengangguk mengiyakan perkataan Ed.


 Ed yang merasa terharu, lagi lagi memeluk tubuh Rahman dan kembali menangis, membuat Amelie dan orang orang yang sejak tadi memperhatikannya tak mampu lagi menahan tawa.


 Para mempelai sudah duduk di pelaminan masing-masing saat ini, sebuah pelaminan yang tak ubahnya singgasana. Begitu besar dan mewah, semua keluarga dari mempelai bahkan muat di sana. Namun yang ada di sana hanya keluarga inti yaitu orang tua mempelai saja, duduk bersanding dengan senyum tulus yang mengembang sempurna.


 Para tamu undangan mulai naik ke atas pelaminan untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pada pengantin dan orang tuanya. Bergantian hingga antrian yang ingin naik mengular panjang, membuat mempelai lumayan lelah dan kewalahan menerima uluran tangan para tamu yang seolah tak ada habisnya.


 Hingga di baris terakhir, orang yang paling tidak ingin di temui dahulu oleh Asy muncul dengan seringai puas di wajahnya.


"Hai, kita bertemu lagi ya," ucap wanita dengan perut buncit itu yang kini tengah mengelus elus perutnya seolah memamerkannya pada Asy dan yang lain.


 Asy tertegun melihatnya, terlebih dia tahu kalau yang ada di perut wanita itu pastilah ...


"Mas Al, sayang. Ayo kasih kadonya, biar kita cepat pulang dari sini. Kalau lama-lama takutnya nanti ada yang kepanasan lagi ," kekeh wanita hamil yang tak lain adalah Juli itu, dia bahkan datang dengan dandanan yang mentereng dengan berbagai macam jenis gelang, kalung dan cincin emas di tangan dan lehernya. Sangat kemaruk sekali.


 Lelaki yang berdiri di sebelah Juli itu menurunkan kado yang ukurannya lumayan besar , hingga sebelumnya sampai menutupi wajahnya. Setelah kado berada di bawah, wajah sayu itu kembali bertatap mata dengan Asy.

__ADS_1


"Ya Allah, Mas Al? Ini kamu?" tanya Asy sembari menutup mulutnya tak percaya.


__ADS_2