
Nyonya Ellen bergolek resah di atas pembaringannya, hari ini dia memutuskan pulang ke rumahnya sendiri setelah beberapa Minggu berada di rumah Sarah untuk memantau perkembangan ketiga cucunya.
Namun sejak pertanyaan tiba tiba Sarah tempo hari, rasanya nyonya Ellen selalu resah dan gelisah setiap harinya.
"Ada apa, sayang? Kau tampak gelisah?" tamat Tuan Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melilit di pinggangnya.
Nyonya Ellen bangkit dan mengembuskan napas panjang, menyugar rambut pirang panjangnya dan menatap suaminya dengan nanar.
"Hei, ayolah kau tampak kacau. Apa kita perlu jalan jalan saja malam ini? Ini pasti karna sayangku ini terlalu memaksakan diri merawat para cucunya beberapa Minggu terakhir ini," ucap Tuan Bryan mencolek dagu lancip istrinya.
Nyonya Ellen menepis pelan tangan Tuan Bryan, membuatnya terheran heran dengan sikap istrinya saat ini.
"Ada apa, sayang? Kau membuatku cemas." Tuan Bryan meraih tangan lentik Nyonya Ellen dan menggenggamnya erat, membawanya ke pipinya dan menciumnya penuh kehangatan.
"Aku hanya teringat dengan anak kembar Ed yang kita sembunyikan, Dad." Nyonya Ellen buka suara.
Tuan Bryan tampak terhenyak, dan langsung bangkit berdiri dari duduknya semula.
"Kita sudah berjanji untuk tidak membahas ini lagi, Mom." Tuan Bryan menegaskan.
"Ya, aku tahu itu, Dad. Tapi ...." Nyonya Ellen menggantung kalimatnya sembari meremas kesepuluh jari tangannya yang lentik.
Tuan Bryan mendengus, memilih untuk tidak peduli dan beranjak menuju lemar guna mengambil pakaian dan mengenakannya.
"Berhentilah memikirkan mereka, Mom. Aku tidak mau kalau sampai tembok di rumah ini pun tahu dimana keberadaan dua bayi itu," tegas Tuan Bryan sambil kembali berjalan mendekat pada nyonya Ellen yang masih terduduk di atas kasur empuknya.
Setetes air mengalir dari mata Nyonya Ellen, sekali kerjab saja alirannya malah semakin deras dan banyak.
"Tapi kenapa Sarah bisa sampai bertanya tentang ke dua anak itu, Dad?" tanyanya pilu.
Tak percaya dengan pendengarannya, Tuan Bryan gegas duduk di hadapan Nyonya Ellen dan menangkup ke dua bahunya.
"Katakan sekali lagi."
Nyonya Ellen tergugu. "Bagaimana Sarah bisa tahu tentang ini? Bagaimana? Katamu tidak satu pun orang yang akan tahu tentang ini."
Tuan Bryan termangu, menutup mulutnya dengan tangan dan menatap nanar ke luar jendela kamar mereka.
"Apa, apa yang di katakan Sarah padamu, Mom?"
"Katanya, apakah Momy tahu tentang orang tua dari seorang gadis yang mengirimkan surat padanya?"
__ADS_1
Kening Tuan Bryan tampak berkerut dalam. " Gadis? Siapa maksudmu, Mom?"
Nyonya Ellen menarik nafas panjang, mengusap sudut matanya dengan tisu dan berkata pelan.
"Kau ingat gadis yang ku ajak bicara saat Jeni menjenguk Sarah di rumah sakit waktu itu, Dad? Bahkan dari matanya saja aku tahu kalau dia salah satu dari bayi kembar itu."
Tuan Bryan ternganga, pikirannya seakan terbuka mendengar pengakuan Nyonya Ellen. Sekelebat bayangan memori berputar cepat di benaknya, tentang wajah gadis yang di maksud istrinya. Gadis yang tak hanya matanya tapi juga memiliki senyuman yang persis seperti Amelie, istri dari Edwin yang saat ini terkena gangguan jiwa.
"Gadis itu ... gadis itu, kita harus membuatnya pergi dari kota ini, Mom. Segera sebelum Ed menemukannya!"
****
Sementara itu.
"Paman!" panggil Asiyah pada seorang pria duafa yang tengah mengais kotak sampah di luar pagar pesantren.
Sebagai abdi, tentu Asiyah mempunyai hak untuk berjalan keluar dari areal pondok namun dengan batas waktu yang ditentukan.
"Eh, Neng." Pria duafa yang mengenakan kaos lusuh dengan sarung kotak kotak yang tampak sobek dan bertambalan di beberapa sisinya itu tersenyum ramah saat Asiyah mendekat padanya.
"Nyari sampah lagi?" tanya Asiyah setelah dekat dengan pria itu.
Pria itu mengangguk sopan.
Asiyah tertegun sesaat, sambil memindai tubuh kurus kering pria yang beberapa hari belakangan ini terus ada di luar pagar pesantren untuk mencari sampah atau botol plastik yang bisa di jual kembali.
Asiyah merogoh kantong gamisnya, dan menemukan selembar uang berwarna hijau di sana. Asiyah ingat itu adalah uang pemberian Jeni untuknya saat di minta membelikan Pampers untuk baby Abbas dan uangnya lebih.
"Paman," panggil Asiyah lagi.
Pria duafa itu menghentikan kegiatannya dan menoleh.
"Kenapa, Neng?" tanyanya bingung seraya memasukkan sebuah gelas plastik ke dalam karung yang setia di panggulnya.
"Makan bakso?" tunjuk Asiyah pada deretan warung makan murah meriah yang berjejer di sepanjang jalan depan pondok.
Mata pria itu tampak berbinar senang, dan kepalanya sontak mengangguk.
"Boleh, Neng. Eh, tapi ...." Pria itu berhenti dan merogoh kantung baju kemeja lusuhnya yang sebenarnya sudah sangat tidak layak di pakai itu.
Mengeluarkan beberapa uang receh dari sana dan menatap sedih pada Asiyah.
__ADS_1
"Nggak deh, Neng. Uang saya nggak cukup, nanti aja kalau saya udah dapat botol plastik yang banyak baru kita makan bakso," tolak pria itu halus.
Asiyah mengibaskan tangannya. "Haish nggak usah di pikirin, Paman. Kan Asy yang ngajak, ya Asy dong ya traktir."
"Beneran, Neng?" tanya pria itu lagi dengan mata berkaca-kaca.
Asiyah mengangguk mantab, dan berjalan mendahului pria itu menuju ke sebuah warung bakso langganannya sejak pertama kali mondok.
Mereka sudah duduk di dalam, namun pria itu tampak risih karna berkali kali menatap ke arah tubuhnya sendiri yang hanya terbalut pakaian lusuh. Tidak seperti orang orang yang kebetulan juga ada di warung itu yang kebanyakan memakai baju bersih dan juga sarung yang juga tampak baru. Karna pengunjuk warung bakso itu kebanyakan juga santri di pesantren kyai Hasan yang datang makan saat jam istirahat.
"Mbok, tolong baksonya tiga porsi ya." Asiyah melambai pada perempuan paruh baya penjual bakso yang sudah lumayan dekat dengannya itu.
"Injih, siap Neng As." Mbok penjual kembali berbalik dan sibuk dengan mangkok dan bakso baksonya.
Sedangkan Asiyah tampak sumringah bersitatap dengan pria di depannya.
"Neng, saya ... saya di bungkus aja ya." Pria itu tampak sungkan.
"Loh, kenapa? Makan disini aja, Paman lebih enak. Kalo di bungkus nanti keburu dingin," protes Asiyah.
Pria itu tampak menunduk ragu, namun tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya.
Sampai akhirnya bakso pesanan mereka sampai dan Asiyah menyodorkan dua buah mangkok bakso panas ke hadapan pria itu.
"Buat saya?" tanyanya bingung menatap dua mangkok bakso yang masih mengepulkan asap itu.
Asiyah mengangguk dan mulai melahap bakso miliknya sendiri.
"Tapi ini terlalu banyak, Neng. Saya ... saya ...."
"Kalau paman nolak, Asiyah nggak bakalan mau kenal sama paman lagi," ucap Asiyah tegas.
Pria itu mengalah, memakan baksonya dengan pasrah dan menghabiskan semuanya.
"Nah kan habis, ya udah Asiyah pulang dulu ya, Paman. Besok datang lagi aja ke sini, Asiyah bantu kumpulin botol botol yang ada di pondok buat paman."
"Terima kasih ya," ucap pria itu dan mereka pun berpisah di depan pintu masuk pondok.
Pria itu berjalan gontai ke arah barat, dan berhenti di sebelah sebuah mobil yang tampak menunggunya. Kaca mobil bagian kemudi tampak terbuka, menampakkan seorang pria berkacamata hitam tengah duduk di sana.
"Bagaimana?" tanya pria itu dingin.
__ADS_1
Pria duafa menggeleng lemah. "Maaf, bos. Saya belum menemukan petunjuk pentingnya."