MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 148.


__ADS_3

"Rahman! Cepatlah, ini sudah siang kita harus buru buru. Nanti si Ed malah pergi lagi," desak Bu Hannah tak sabar, sejak tadi wanita tua yang semenjak tinggal di lingkungan pesantren itu memilih mengenakan jilbab dan gamis itu menunggu di depan pintu kamar sang anak.


Ceklek.


"Iya iya, Bu ini udah kok.".


Rahman keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi dengan baju Koko dan celana bahan juga tak lupa kopiah hitam yang selalu setia berada di kepalanya.


"Ya sudah ayo, ibu sudah nggak sabar mau ketemu cucu cucu ibu."


Bu Hannah menarik tangan Rahman cepat menuju ke tepi jalan raya.


"Om Rahman! Nenek!" panggil Abbas yang tengah bermain bersama teman teman di pondoknya.


Rahman menghentikan langkahnya begitu pula dengan Bu Hannah yang sudah menganggap Abbas sebagai cucu kandungnya sendiri.


"Om sama nenek mau ke mana?" tanya Abbas setelah berada di dekat Rahman sembari memegangi jemarinya.


"Mau ke rumah paman om sebentar, " jawab Rahman.


Abbas tampak manggut-manggut.


"Abbas sayang, nenek sama om Rahman pergi dulu ya, nanti balik lagi kok." Bu Hannah yang sudah tak sabaran itu mencoba menjelaskan.


Abbas mengangkat wajahnya menatap mata tua Bu Hannah.


"Abbas tahu kok, nek."


Kening Bu Hannah berkerut. "Lalu? Abbas mau ikut?"


"Nggak, Abbas tadi di pesanin Abi katanya om Rahman ada panggilan nanti malam di masjid Nurul hidayah di jalan B," jelas Abbas menjelaskan maksudnya memanggil Rahman.


"Oh iya iya, nanti nenek sama om Rahman bakalan pulang cepat kok ya. Kamu tenang aja ,sekarang Abbas masuk ya nenek sama om mau pergi dulu supaya bisa cepat pulang nanti," ucap Bu Hannah cepat.


Abbas mengangguk lalu kembali ke tempatnya semula bermain dengan teman temannya.


"Buruan!" Bu Hannah menyentak tangan Rahman dan tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di tepi jalan menunggu angkutan umum yang lewat.


Tiga puluh menit berkendara dengan angkot hingga dua kali ganti akhirnya Bu Hannah dan Rahman sampai juga di kediaman mewah Ed.


Satpam yang bertugas jaga sudah mengenal Bu Hannah dan juga Rahman, hingga tak sulit bagi mereka untuk masuk ke rumah itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Bu Hannah sembari menapaki lantai rumah mewah itu mencari keberadaan sang empunya rumah.


Karna tak kunjung mendapat jawaban di lantai satu, Bu Hannah melayangkan kakinya ke lantai dua bermaksud mencari sang pemilik rumah ke kamarnya.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum, Amel kau di dalam, Nak?" ucap Bu Hannah mengetuk pintu kamar Ed dan Amelie.


Tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam ruangan tersebut, di susul pintu kamar yang akhirnya terbuka lebar.


"Wa'alaikumsalam," sahut seseorang yang suaranya begitu lembut menyapa telinga mereka.


Yang pasti itu bukan suara amelie, karna Bu Hannah begitu hafal suara istrinya dari keponakannya tersebut.


"Neng Asy?" Rahman tersentak begitu gadis yang menjawab salam ibunya tadi menunjukkan batang hidungnya di depan pintu.


Namun reaksi gadis itu sangat di luar nalar, Rahman melihatnya seperti kebingungan dan tidak mengenalnya. Tatapannya pun berbeda dengan tatapan Asiyah setiap menatapnya, tak ada kehangatan di sana. Namun bagaimana mungkin wajahnya bisa begitu mirip bak pinang di belah dua.


Sejurus kemudian gadis itu melangkah keluar dan memamerkan senyuman indahnya yang bensr benar mirip senyum Asiyah.


"Kamu siapa, neng. Apa kamu, yang di katakan Ed sebagai anaknya?" tanya Bu Hannah sambil lebih dekat dan menyentuh pipi gadis di depannya itu.


Gadis itu mengangguk. "Iya, Nek. Tapi maaf, saya bukan Asy saya Aish lebih tepatnya Aisyah. Saudara kembar' Asy."


Gadis itu berkata sambil menatap Rahman, Rahman cepat menunduk dan mengucapkan istighfar berkali kali.


"Astaghfirullah, astaghfirullah."


"Apa? Saudara kembar'? Jadi ... kembaranmu pun sudah di temukan?" cecar Bu Hannah yang dulu ikut merasa terpukul saat bayi bayi yang dulu di lahirkan Amelie hilang secara bersamaan.


Aish mengangguk, dan dengan cepat Bu Hannah langsung memeluknya erat.


"Subhanallah, sekarang kamu sudah besar dan cantik, Nak. Kamu sangat mirip dengan Ed saat dia masih muda," gumam Bu Hannah di sela isakan tangisnya yang keluar begitu saja saking terharunya.


"Iya, nek. Saya senang sekali bisa kembali berkumpul bersama Mami dan Papi, terlebih Asy. Dan nenek pasti akan melengkapi semuanya," gumam Aish penuh harap.


Bu Hannah melerai pelukannya, mencium kedua belah pipi Aish dan mengusap air mata yang tersisa di pipinya.

__ADS_1


"Ayo kita temui ibumu," ucap Bu Hannah sambil menggandeng tangan Aish masuk ke dalam kamar Amelie karna sekilas tadi Bu Hannah melihat Amelie tengah duduk di balkon kamar.


Rahman masih tercengang di tempat, pikirannya berkecamuk antara tidak percaya dengan bahagia atau entah perasaan apa namanya yang ada di hatinya saat ini diapun bingung bagaimana mendeskripsikannya, apalagi author yang tahunya cuma halu aja.


"Rahman! Ayo!" seru Bu Hannah saat menyadari Rahman tak mengikuti langkah mereka.


Rahman sempat terjingkat, karna saking kagetnya dengan kenyataan yang ada dia sampai tidak sadar di tinggal begitu saja di depan pintu.


"Rahman di luar aja, Bu." Rahman coba menolak.


"Setidaknya Salami dulu Aunty mu." Bu Hannah kembali memberi titah.


Akhirnya dengan langkah gontai danĀ  pikiran semrawut Rahman berjalan mendekat, saat melewati gadis yang mengaku bernama Aisyah itu entah bagaimana jantung Rahman berdetak demikian kencangnya.


"Hei, Robin kau sudah besar sekarang. Aunty bahkan hampir tidak mengenal mu karna terlalu banyak tahun tahun yang ku habiskan hanya untuk meratapi anak anakku," ucap Amelie saat Rahman mencium tangannya dan dia mengelus kepala Rahman yang tertutup kopiah.


Rahman mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil.


"Panggil aku Rahman, aunt. Nama itu sudah lama ku tanggalkan, mungkin aunty lupa," jelasnya memberi tahu.


"Ah, baiklah. Rahman," gumam Amelie sembari tersenyum kecil.


Rahman beranjak bangkit.


"Rahman tunggu di depan saja ya, Bu."


Bu Hannah mengangguk dan membiarkan Rahman keluar dari kamar itu, lagi lagi saat berpapasan dengan Aish yang melangkah mendekat pada sang ibu jantungnya kembali berdegup kencang.


'hah, pasti ini karna dia begitu mirip dengan Asy. Tapi ... benarkah mereka anak anak uncle?' batin Rahman berkecamuk.


Rahman menuruni tangga menuju ke lantai satu, niatnya ingin bersantai dengan duduk duduk di taman belakang rumah Ed yang terdapat kolam ikan dimana dulu dia sering bermain ketika masih bocah.


"Hah, bahkan suasana di sini tak ada yang berubah. Tapi ... kenapa semuanya terasa rancu, padahal dulu paman adalah mafia kejam yang tak punya belas kasih, tapi ... kenapa ibu ngotot mengatakan kalau semua yang terjadi dulu termasuk pembantaian opa dan Oma bukan hasil perbuatannya? Lalu siapa?" gumam Rahman seorang diri karna sang ibu belum juga memberi tahu dirinya tentang kisah yang membuat ia memandang sang paman sebagai manusia yang kejam selama ini.


Rahman memainkan tangannya di permukaan kolam yang di penuhi ikan ikan dari jenis koi itu, warna warni yang memanjakan mata membuat ia sejenak lupa yang menjadi beban pikirannya beberapa hari ini.


.


"Kak Rahman? Kakak di sini?" panggil seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakang Rahman.


Rahman berbalik dan terkejut bukan main kala mendapati wajah perempuan itu pucat pasi layaknya orang meninggal.

__ADS_1


"Neng Asy? Ini kamu?" cecarnya cemas.


__ADS_2