
"Abang antar," tukas Axel cepat sembari berdiri dan hendak menyusul Jeni yang sudah berada di teras rumah.
Jeni mengangguk karna merasa tidak punya pilihan lain, rumahnya cukup jauh dan untuk memesan taksi online rasanya akan memakan waktu.
"Mau kemana kamu, Ax?" seru Sonia yang baru saja kembali dari dalam kamar dengan sebuah paper bag di tangannya.
Wajahnya tampak marah minat Jeni yang sudah beranjak dari duduknya dan Axel Atang seperti akan mengikutinya.
"Kamu mau kemana sama si jal*ng itu hah? Sudah Mama peringatkan untuk jangan macam-macam Axel! Kamu akan menikah, ingat itu!" marah Sonia sambil berjalan cepat menuju anaknya dan menarik tangannya menjauh dari Jeni.
Jeni menangis, baru kali ini dia merasa begitu terhina di hadapan seseorang.
"Sudahlah, Bang. Biar Jeni pulang sendiri, mungkin di depan sana masih ada ojek atau angkut. Jeni khawatir sama Abah dan Emak." Jeni memutar tubuhnya dan dengan segera berlari menuruni tangga rumah.
"Jeni, tunggu!" seru Axel tak tega.
Sonia menarik tangan Axel menahan pergerakannya. "Mau kemana kamu? Kenapa sih kamu masih harus peduli sama mantan istri kamu itu? Bukannya dulu dia yang sudah menyia-nyiakan kamu?"
"Iya, Ma. Tapi maaf, kali ini kondisinya berbeda. Mantan mertuaku dalam kondisi yang sepertinya tidak baik, Jeni bilang dia lupa memberi makan mereka dua hari ini, Axel hanya takut terjadi sesuatu pada mereka, Ma. Selama ini mereka begitu baik sama Axel." Axel memegang tangan Sonia berharap dia mau mengerti kalau semua ini dia lakukan bukan untuk Jeni.
"Kalau begitu Mama ikut." Sonia mengalah dan memilih untuk melihat langsung kondisi mantan mertua Axel dan mereka pun segera naik ke mobil mengejar Jeni yang ternyata sudah sampai di pinggir jalan.
Jeni menoleh ke kiri dan ke kanan berharap menemukan ojek atau angkot yang lewat, tapi sayangnya karena rumah tersebut berada di kompleks perumahan maka sangat jarang kendaraan yang lalu lalang.
"Abah, Emak. Maafkan Jeni ... tolong jangan pergi tanpa Jeni, Jeni segera pulang. Semoga masih ada kesempatan untuk kita bersama lagi, Jeni janji akan memperlakukan kalian sebaik mungkin. Tunggu Jeni," gumam Jeni dengan air mata yang membanjir di pipi.
Segala pikiran buruk sudah menyambangi benaknya, namun berusaha dia tepis dan meyakini kalau orang tuanya masih baik-baik saja.
Semua rasa sakit dan penyiksaan yang di alaminya ternyata mampu membuat mata hatinya untuk menilai dirinya sendiri selama ini, begitulah terkadang besi yang berkarat hanya perlu di tempa kembali untuk bisa kembali berkilau. Walau prosesnya kasar dan menyakitkan bagi si besi tapi hasil akhirnya biasanya luar biasa.
__ADS_1
Tin
Tin
Axel menghentikan mobilnya DJ sebelah Jeni yang masih berdiri di pinggir jalan dengan wajah cemas dan kalut.
"Hei, ayo naik. Biar kami antarkan!" seru Sonia ketus, tapi melihat Jeni yang tampak begitu cemas dan kacau hatinya bersimpati juga walau tak sepenuhnya.
Jeni tergugu dan mengucapkan terima kasih berulang kali, lalu dengan cepat masuk ke mobil dan mereka melaju dengan kecepatan tinggi karna mengkhawatirkan kondisi kedua lansia yang terlupakan itu.
****
Dua hari sebelumnya.
"Kamu mau kemana, honey?" tanya Nyonya Ellen saat melihat Sarah tenaga bersiap dengan memakai helm kesayangannya.
"Ah, Mom. Sarah ada keperluan sedikit, ada yang mau jual kontrakan di daerah X. Sepertinya tempatnya bagus kalau mau untuk investasi, dan harganya juga termasuk murah. Makanya Sarah mau lihat ke sana dulu siapa tau cocok," sahut Sarah sambil tersenyum.
"Hah, tapi kamu itu kan sudah mau menikah sayang. Masa keluyuran terus, apa nggak bisa di wakilkan sama siapa gitu? Bawahan kamu di kantor kan banyak?"
Sarah mendesah dan berjongkok di hadapan sang ibu. "Sarah cuma sebentar kok, Mom. Setelah lihat lokasinya Sarah langsung pulang, kebetulan pengen beli Boba juga hehe. Jadinya sekalian, plis Mom boleh ya?"
Sarah menatap Nyonya Ellen dengan puppy eyes nya, membuat Nyonya Ellen lagi lagi tak bisa menolak keinginan putri kesayangannya itu.
"Hah, kau memang pintar membuat Momymu ini kalah. Baiklah, tapi ingat jangan terlalu lama dan beri kabar pada calon suamimu okey?"
"Hah? Kenapa Sarah harus ngasih kabar Bang Adam, Mom? Kan kami juga belum resmi menikah?" tanya Sarah heran.
Nyonya Ellen tersenyum. "Axel, Sayang. Namanya asli calon suamimu itu Axel, bukan Adam. Itu hanya nama samaran agar tidak ada yang mengetahui latar belakangnya dulu."
__ADS_1
Dahi Sarah berkerut, tapi sepertinya hal itu bukan hal penting yang harus mendapatkan penjelasan berlarut, di tambah lagi Sarah saat ini tengah di kejar waktu.
"Baiklah, Mom. Sarah pergi dulu ya," pamit Sarah sambil mencium tangan Nyonya Ellen.
Sarah keluar dari rumah dan mengenakan kembali helm yang tadi sempat dia buka. Dengan menaiki motor metik berwarna pink kesayangannya Sarah membelah jalanan menuju ke tempat tujuannya.
"Assalamu'alaikum, Pak? Iya ini saya sudah sampai di tempatnya. Lokasi tepatnya yang mana ya, Pak?" ucap Sarah bertanya pada seseorang di telepon.
Orang yang di telpon Sarah menjawab, dan mengarahkannya pada suatu titik lokasi. Sampai akhirnya Sarah sampai di depan sebuah rumah semi permanen dengan kondisi yang sangat kotor dan berantakan.
"Pak, saya sudah sampai di depan rumah bercat kuning ini. Apa ini yang mau di jual? Tapi ... kenapa tempatnya kotor sekali ya, Pak? Apa karna belum di bersihkan?" tanya Sarah lagi, masih menempelkan ponsel di telinganya.
"Hah? Tidak kok, Mbak. Rumah kontrakan yang mau saya jual itu di jamin bersih, karna penyewanya baru keluar Minggu lalu. Bahkan tadi pagi juga sudah di bersihkan ulang sama istri saya. Sebentar saya ke sana, kebetulan ini saya lagi jalan ke lokasi. Sebentar ya, Mbak."
Sarah mematikan sambungan telepon, dan memilih menunggu sang pemilik rumah yang akan dia beli di sebuah warung kecil yang tak jauh dari tempatnya berhenti.
"Bu, air mineralnya satu ya." Sarah duduk di bangku kayu warung dan memesan minuman pada sang pemilik warung.
"Ini, Mbak." Sang pemilik warung membawakan sebotol air mineral dingin ke hadapan Sarah.
"Mbak, ngapain berhenti di depan rumahnya si Jeni? Ada masalah ya sama dia. Tapi percuma sih, Mbak. Mbak datengin rumahnya, wong dianya aja udah dua hari nggak pulang. Nggak tau pergi kemana, malah orang tuanya yang udah sepuh ditinggalin gitu aja di rumah itu," papar pemilik warung yang seorang wanita paruh baya itu tanpa di tanya.
Raut wajah Sarah berubah, saat mengetahui kalau rumah kotor yang tadi di sangka rumah yang akan di jual itu ternyata adalah rumah Jeni. Di tambah raut wajah tak suka yang di tunjukkan ibu pemilik warung itu cukup menjelaskan kalau Jeni tidak begitu di sukai di tempat tinggalnya ini.
"Jadi, itu rumahnya Jeni?" tanya Sarah.
"Lha iya, Mbak. Kok Mbak malah nanya sih? Bukannya Mbak mau ke sana buat ngelabrak dia ya? Duh, Mbak sejak dia pisah sama si Adam itu hidupnya blangsak, Mbak. Sering di datengin perempuan-perempuan yang nggak terima suaminya dia goda."
"Ah, masa sih, Bu?" Sarah tak percaya, kiranya Jeni hanya bermain gila dengan mantan suaminya saja, rupanya dia sudah pemain lama di dunia perpelakoran ini. Pantas saja semua orang seperti sudah hapal akan kekakuannya.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Bahkan kemarin orang tuanya yang di tinggal di rumah itu ...."