
Kilas balik.
Bima menyeringai di tempatnya, tempat yang sekian lama tak dia kunjungi. Ruangan dimana dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang tuanya di siksa dan di perlakukan layaknya binatang oleh orang yang beberapa tahun kemudian berhasil dia jadikan mertua.
Bayangan menyakitkan itu jualah yang menjadikannya kuat untuk bisa membalas semua itu, dengan menjadi seorang bos dari anak buah yang dia dapatkan dengan cara mengancam dan menyakiti keluarga mereka.
Tidak manusiawi memang, tapi bukankah lebih tidak manusiawi lagi orang yang menjadikan dia demikian? Dan Bima berjanji pada dirinya sendiri dia akan kembali,i menuntut balas akan kematian orang tuanya tersebut.
"Kamu harus membayar semuanya, Sarah. Mungkin dulu aku gagal merebut semuanya saat masih menjadi suamimu, karna aku terlalu terlena dengan Jeni sehingga lupa akan tujuan utamaku menikahimu. Tapi sekarang tidak, tidak akan ada lagi wanita atau apapun yang akan membuatku silap dan lupa akan tujuan utamaku. Merebut kembali semua yang sudah orang tuamu ambil dari orang tuaku, termasuk nyawa mereka ."
Dan begitulah, pembunuhan yang terjadi pada orang tua Sarah sama sekali tak tersentuh polisi. Dengan liciknya Bima bermain, tahun tahun yang dia gunakan untuk menghilang dan melebur bersama orang orang awam rupanya sukses membuat Sarah dan keluarganya lengah hingga tak begitu waspada akan kemungkinan yang akan terjadi. Dan bodohnya lagi orang tua Sarah sama sekali tidak memperingati nya akan pembalasan dendam yang mungkin saja akan terjadi di masa mendatang. Mereka terlena, mengira jika Bima tak akan muncul kembali atau mungkin saja karna mereka tidak mengenali Bima sebagai anak dari orang yang sudah mereka bunuh.
Dan kini, Bima mulai menyasar orang orang terdekat Sarah. Bertujuan untuk membuatnya stress dan akhirnya dengan suka rela menyerahkan semua harta almarhum orang tuanya pada Bima karena itu semua adalah haknya.
"Kenapa, Sarah? Kamu terkejut? Pastinya kamu tidak akan menyangka kalau semua ini adalah ulahku bukan?" kekeh Bima sembari membuka tudung jaketnya yang melindungi kepala yang kini di botak itu, untuk melindungi identitasnya agar tidak mudah di kenali. Namun rupanya sebagai mantan istri yang menghabiskan hampir dua tahun masa bersama membuat Sarah masih mengingat rupanya walau samar.
Sarah terdiam, dia tak lagi menjawab. Mungkin benar kalau saat ini Sarah tengah merasakan kebingungan yang sangat.
"Tenang saja , aku tidak kembali untuk menyakiti kalian. Aku hanya sedikit bermain main dengan keluarga mu saja. Berusaha mengingatkan mereka Bagaimana dulu mereka memperlakukan orang tuaku seperti mainan sebelum akhirnya membunuh mereka dengan keji. Hah, andai saja sewaktu membunuh orang tuamu dulu aku bisa melakukan lebih keji dari mereka memperlakukan orang tuaku dulu, namun sayangnya rasa belas kasih di hatiku ini sepertinya belum mati hingga tak tega melakukan itu. Yah, kau tahu aku pantas mendapatkan ucapan terima kasih untuk itu bukan?" Bima terkekeh-kekeh, sedangkan Sarah kini mulai tampak pias mendengar ceritanya.
"Ja- jadi yang ... yang membunuh orang tua ku ... itu, itu kamu Mas?" cicit Sarah dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Bima tertawa lepas, di angguk anggukan kepalanya yang botak itu dengan penuh semangat.
"Ya ya ya, kau masih saja pintar rupanya. Itulah yang sejak dulu tidak ku sukai darimu, Sarah kau terlalu pintar tapi di saat bersamaan juga terlalu bo doh."
"Apa maksud mu, Mas?" Sarah mulai berang, dia melangkah mendekat hendak melayangkan tamparan ke wajah pria yang pernah menjadi pendamping nya itu.
"Hei, santailah jangan terburu buru menghakimi ku. Bukan aku pelakunya di sini, tapi akulah korbannya kau tahu?" ucap Bima membuat pergerakan Sarah terhenti seketika.
"Sekali lagi aku tanya, apa maksud mu?" gertak Sarah tak sabar. Sudah cukup dia selama ini mendengar omong kosong, sekarang dia ingin sesuatu yang pasti menjelaskan akan apa yang sudah terjadi bukan lagi bermain main seperti tak punya nyali.
"Sayang," suara Axel membuyarkan semuanya, lelaki yang baru saja keluar dari rumah sakit itu memaksa kan diri untuk keluar dari rumah menemui istrinya. Dari sang ayah dia mengetahui kalau selama ini yang sudah meneroro keluarganya adalah tak lain dan tak bukan ialah bima, mantan suami dari Sarah.
Sarah berpaling dan langsung dengan sigap membantu Axel duduk di kursi teras bersebelahan dengan bima yang tampak tak peduli sama sekali.
"Kenapa kamu keluar, mas? Tetaplah di dalam . Aku bisa mengatasi semua ini sendiri," gumam Sarah pelan dan lembut.
Namun Axel menggelengkan kepalanya sembari meringis menahan sakit yang masih terasa di dadanya akibat tusukan pisau yang di lakukan Bima tempo hari.
"Tidak, kamu perempuan sudah seharusnya Kamu di lindungi bukan nya malah menghadapi semua ini sendiri ."
Sarah mengangguk dan tak lagi memperpanjang percakapan mereka, ada hal lain yang lebih penting untuk di bahas saat ini dan itu sudah menunggunya di hadapan.
"Apa sudah selesai drama suami istri nya?" celetuk Bima tanpa menoleh sedikit pun.
Sarah berdiri dan melempar tatapan tajam padanya. "Sekarang katakan apa maumu, Mas jangan bertele-tele."
Bima mendengkus, kali ini dia balas menatap nyalang pada Sarah dan Axel.
"Bukankah aku sudah mengatakan semuanya dengan jelas sejak tadi? Bahkan sejak sebelum sebelumnya bukankah apa yang menjadi tujuanku itu sudah jelas? Kenapa kau masih menanyakannya lagi ha?" sergahnya kesal.
Sarah tersurut mundur, tidak menyangka Bima akan menyerang balik dengan kata katanya yang tajam. Padahal sejak menikah dengannya dulu Bima termasuk lelaki pendiam yang tak banyak bicara, namun Sarah kini paham pastinya semua itu hanya kedok untuk menutupi wajahnya yang sebenarnya ini.
__ADS_1
"Bicaralah yang sopan pada istriku," tegur Axel turut kesal.
Bima menatapnya bengis, kemudian membuang pandangan ke arah lain dengan nafas tersengal.
"Kembalikan harta orang tua ku, maka aku akan pergi dari kehidupan kalian." Bima mengulang ucapannya.
Sarah saling pandang dengan Axel, karna sama sekali tak mengerti akan harta yang mana yang tengah di bahas Bima.
"Apa maksud kamu, Mas? Harta apa? Harta yang mana? Jangan mengada-ada dan membuat kami bingung dengan tingkahmu," tukas Sarah mulai tak sabar.
"Iya, Bima katakan lah yang jelas. Jelas dan gamblang jangan mutar mutar saja," imbuh Axel.
Bima mendekur, menundukkan kepalanya dengan raut wajah tampak sangat kesal.
"Tentu saja harta peninggalan orang tuamu, Sarah! Harta mana lagi? Harta itu sebenarnya adalah milikku yang di wariskan pada ku sebelum orang tuaku wafat di tangan orang tuamu yang serakah itu. Dan sekarang aku menuntutnya kembali karna itu hak ku! Milikku! Bukan milikmu! Dan harta itu tak ada hubungannya dengan perjanjian pra nikah kita karna itu semua murni harta orang tuaku termasuk rumah yang di tempati orang tuamu dulu, itu sebenarnya adalah rumah kami yang dulu mereka rebut dan dengan teganya membuangku yang masih kecil ke panti asuhan!" gertak Bima berang.
Lagi, Sarah hanya bisa terdiam mendengar ucapan sarat ancaman Bima. Belum lagi Axel yang tampak sama kagetnya dengan Sarah.
"Ap- apa? Harta ... orang tuamu?" tukas Axel pelan, matanya memicing menatap lekat wajah mantab suami istrinya itu.
Bima mendengus dan mengangguk samar. "demikian lah adanya," tandasnya.
Axel beralih menatap Sarah, namun yang di tatap malah membuang muka tak ingin memperlihatkan kekalutannya pada sang suami.
"Sayang, apa yang di katakan Bima itu benar?" tanya Axel lembut.
Sarah bergeming, air matanya lolos dari sudut netranya.
"Kalau begitu ... akan lebih baik kalau kalian membicarakan ini lebih dulu, musyawarah tidak akan membawa kerugian. Dan saya rasa ... itu jalan yang paling baik saat ini bukan?" ujar Axel memberi saran.
"Baiklah, aku setuju. Lagi pula, rasanya aku juga sudah lelah bermain main dengan kalian. Asal kalian tahu, kalian terlalu lemah dalam menghadapi musuh, cobalah untuk lebih waspada dan merencanakan semuanya secara matang. Padahal seharusnya kalian bisa lebih kuat dari pada seorang amatiran seperti aku yang bahkan tak mampu menggaji anak buahku dengan lebih layak. Tapi, yah begitulah kalian yang tak ingin mendalaminya lebih dalam dan itu bukan urusanku sayangnya." Bima berkata panjang lebar.
Sarah hanya diam, sesekali dia tampak mengusap sudut matanya yang masih saja basah.
"Sayang, duduklah. Kita bicarakan ini sampai mendapat jalan keluarnya." Axel menarik tubuh Sarah, hingga Sarah mau tak mau akhirnya duduk di kursi sebelahnya.
"Baiklah, di sini aku hanya akan menjadi penengah. Silahkan kalian bicarakan apa yang seharusnya sejak dulu di bicarakan baik baik. Aku akan bersikap netral di sini," pungkas Axel jelas.
"Baik," sahut Bima, dan Sarah pun menjawab dengan anggukan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan bicara lebih dulu," kata Bima dalam mode serius.
"Silahkan," gumam Axel.
"Di sini, aku tidak akan meminta maaf atas semua yang sudah aku lakukan pada kalian dan keluarga kalian. Toh menurutku kalian pantas mendapatkannya karna balasan atas apa yang dulu sudah di lakukan oleh ke dua orang tuamu pada ku dan keluarga ku. Dan di sini aku menuntut akan harta keluarga ku yang masih atas namamu itu, berupa rumah dan juga perusahaan yang pernah di kelola ayahmu itu, kesemuanya itu sebenarnya adalah hasil jerih payah orang tuaku yang dengan teganya mereka rebut paksa. Dan sekarang sudah waktunya aku mendapatkannya kembali, semuanya, tanpa terkecuali."
Axel manggut-manggut mendebat ucapan Bima, namun sebenarnya dia juga sangat kesal dengan lelaki yang sudah melukainya dengan sengaja itu dan sekarang malah mengatakan tidak akan minta maaf atas semua yang dia lakukan.
"Lalu, kalau aku tidak mau memberikannya bagaiamana?" tantang Sarah yang merasa semua yang di katakan Bima terlalu mengada ada dan di dramatisir.
Padahal Sarah merasa sangat mengenal orang tuanya, mereka orang baik yang tak akan mungkin tega menghabisi nyawa orang lain hanya demi harta. Terlebih lagi sampai menyiksa seperti kata Bima, Sarah sama sekali tak bisa percaya itu.
"Itu semua adalah hak ku! Kau harus dan wajib mengembalikannya padaku," geram Bima.
__ADS_1
Sarah mencebik. "Oh ya? Lalu, apa kau punya buktinya kalau semua itu adalah milikmu, Mas?"
Bima mendengus keras, kesabarannya benar benar di uji saat ini. Ingin dia menggunakan anak buahnya yang kini masih setia menunggunya di halaman rumah namun dia tak ingin gegabah, atau jika tidak tak menutup kemungkinan Sarah akan membawa seluruh keluarga dan harta kekayaannya pergi menjauh yang akan membuatnya kesulitan menemukan jejaknya nanti.
"Kenapa diam, Mas? Kau tidak punya buktinya kan? Mau di bawa kemana pun masalah ini kalau kau tak punya cukup bukti atas tuntutan mu, kau tetap tak akan menang Mas." Sarah kembali menimpali.
Axel menyentuh tangan Sarah, memintanya untuk lebih tenang dan kalem karna nada suara Sarah mulai meninggi tanpa dia sadari.
.
"Licik," geram Bima lagi.
Sarah membuang muka, malas sekali rasanya kembali berhadapan dengan mantan suami yang sudah menorehkan luka di hatinya terlalu dalam itu. Untungnya sekarang luka itu sudah sembuh hingga tak berbekas berkat Axel .
"Sudahlah, Mas. Jadi selama ini kau hanya ingin membuang buang waktuku saja rupanya untuk menangis dan merasa terpuruk siang dan malam akibat ulahmu, begitu bukan?".
Bima diam sejenak, sebelum akhirnya kembali menatap Sarah dengan seringai miring di bibirnya yang menghitam karna terlalu banyak menghisap nikotin.
"Apakah ceritanya akan menjadi lain jika aku bisa menunjukan buktinya kalau sebenarnya semua harta yang atas nama mu dan orang tuamu itu adalah hak ku ?" tanyanya membuat wajah Sarah seketika menegang.
****
Di tempat lain.
"Hei, Nak. Bawa apa kamu?" sapa Amelie ramah, dia tengah duduk di kursi taman sembari membaca majalah. Semilir angin yang sejuk membuat Amelie selalu betah berlama lama di sana.
Asy duduk di sisi sang ibu, memamerkan rainbow cake yang baru saja berhasil di buatnya.
"Tara, ini rainbow cake. Mami cobain deh rasanya enak sekali, pas dan tidak enek," tukas Asy sembari memotong kuenya dan membagi potonganya untuk Amelie.
"Di ajari mertuamu lagi, hemm?" ucap amelie menerima potongan kue itu dengan tersenyum manis.
Asy mengangguk, dan ikut menikmati kue yang memang terasa sangat pas dan enak tersebut.
"Bibi Hannah memang sangat pandai memasak, apapun yang dia buat rasanya tak pernah gagal. Asal kamu tahu Mami pun lebih memilih memakan makanan bibi Hannah ketimbang harus membeli makanan di luaran sana. " Amelie menimpali sembari menikmati kue bagiannya dengan sangat lahap.
"Iya, mi hanya saja kasihan Ibu Hanna, beliau sudah tua tenaganya tak lagi sekuat dulu. Tadi saja beliau lebih banyak duduk dan mengajari ketimbang mengadon langsung, jadi ... sebenarnya ini kue bisalah ya di katakan buatan Asy sendiri, eheh."
Amelie melebarkan matanya dengan tatapan bangga.
"Wah, benarkah? Kalau benar begitu sepertinya kamu berbakat membuat kue kue seperti ini, sayang. Kenapa tidak kamu kembangkan saja bakat kamu ini? Sepertinya bisa menghasilkan, iya kan?"
Mata Asy langsung berbinar-binar. "Iya kah? Mami benar, tapi ... Asy masih perlu belajar lebih banyak lagi untuk itu, semoga saja nanti akan di beri jalannya oleh yang Maha Kuasa untuk bisa membuka usaha dari kue kue ini," tandas Asy penuh harap.
Amelie mengaminkan doa sang putri dengan tulus, lalu memotong kembali kue yang masih ada di hadapannya dan sekali lagi memakannya dengan sangat lahap.
Tak lama, tampak oleh mereka Aish dan Hendro yang tengah berjalan santai berdua di sekitar perkebunan mangga, keduanya tampak sangat akrab dan Aish mulai terlihat tertawa lepas saat bercanda bersama Hendro.
"Lihatlah, sepertinya saudarimu itu akan move on lebih cepat ketimbang yang kita kira," celetuk amelie ikut tersenyum sumringah menatap wajah Aish yang sangat lepas tertawa semenjak adanya Hendro di rumah mereka.
Asy menatap pula ke arah yang di tunjuk Amelie, perlahan matanya mulai menghangat.
"Kalau begitu, kira kira bagaimana perasaan almarhum Mas Satrio jika tahu hal ini, Mi?" gumamnya lirih.
__ADS_1