
Jeni menoleh setelah sebelumnya meminta Mbak MUA untuk menghentikan sejenak aktivitas make up-nya.
"Ya, As? Kenapa nenek?" tanyanya.
Asiyah diam sejenak.
"Ehmmm ... eh, nggak papa deh, Mbak. Nanti aja, hehe." Asiyah kembali menghilang di balik pintu setelah menutupnya a perlahan.
Jeni kembali geleng geleng kepala di buat tingkah anak gadis manis itu.
N
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya semua persiapan Jeni pun selesai, dengan di bantu para asisten dan Mbak MUA sendiri Jeni berjalan pelan menuju ke depan. Untuk bertemu dengan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
"Bismillah ya, Mbak. Jangan nervous," bisik Mbak MUA menggoda Jeni yang wajahnya dan riasannya kini benar benar akan membuat pangling siapapun yang melihat.
"Ah, Mbak bisa aja." Jeni tergelak ringan dan terus berjalan menuju ke tempat yang sudah di sediakan.
Sebuah kursi yang hanya cukup di duduki satu orang menyambut Jeni, asisten dan Mbak MUA membantunya duduk sembari menunggu prosesi pernikahan ala adat Jawa selanjutnya.
"Subhanallah, cantiknya mantuku," celetuk Umi Nafisah yang tau tau sudah berada di sisi Jeni dan menatap takjub pada menantu barunya itu.
Jeni tampak tersipu, tapi wajah merahnya tak akan tampak sebab riasan flawless yang menempel di wajahnya.
"Terima kasih, Umi."
Umi Nafisah meminta Mbak MUA untuk mengambil foto dirinya dan Jeni, untuk kenang kenangan katanya.
"Ummm, dek Abbas sama siapa, um?" tanya Jeni saat mengedarkan pandangannya dan tak menemukan putra tampannya itu di sekitar sana.
__ADS_1
Umi Nafisah yang tengah melihat hasil foto di ponselnya langsung memasukkan ponsel itu ke saku gamis dan menatap Jeni.
"Ada kok, tadi Umi minta Asiyah bawa Abbas ke belakang. Soalnya di sini nanti bakalan berisik kan? Biar mereka di sana aja, soalnya ini sudah jam tidur paginya dek Abbas juga," sahut Umi Nafisah penuh perhatian.
Bahkan walau hanya mempunyai satu orang anak, tapi Umi Nafisah tahu jadwal tidur dari Abbas kecil. Walau baru beberapa bulan saja dekat dengannya.
Jeni mengangguk dan menurut saja, baginya apa yang di putuskan Umi Nafisah untuknya insyaallah pasti yang terbaik.
Umi Nafisah pamit ke belakang, ungkapnya ingin segera mempersiapkan untuk prosesi pernikahan yang sebentar lagi akan di laksanakan.
Beberapa orang mendekati Jeni, memapahnya untuk berdiri dan membawanya ke halaman di mana prosesi pernikahan ala Jawa itu akan di laksanakan. Sebuah gulungan daun kapur sirih dengan isian yang Jeni sendiri tidak begitu paham di berikan ke tangan kanannya. Jeni di minta melempar gulungan itu nanti ke lutut Gus Musa, sedangkan Gus Musa juga di beri untuk di lemparkan ke dada Jeni.
*Untuk maknanya silahkan cek gugel\, mau up di sini takutnya jadi manipulasi kata*
Setelah itu di lanjutkan dengan menginjak telur oleh Gus Musa dan Jeni di bimbing untuk membersihkan bekas pecahan telur dari telapak kaki suaminya. Sebagai tanda bakti dan kasih sayangnya sebagai istri.
Dan masih ada serangkaian proses lagi, hingga akhirnya semua proses itupun selesai dan kyai Nurdin memasangkan sebuah kain merah putih ke belakang punggung Jeni dan Gus Musa, membimbing mereka ke pelaminan di depan sana.
"Selamat atas pernikahan kalian nggih, le. Semoga menjadi keluarga samawa dan di limpahi keberkahan oleh Gusti Allah SWT," ucap kyai Nurdin membubungkan doa tulusnya untuk sepasang suami istri yang baru saja menikah itu.
"Subhanallah, terima kasih, Kyai." Gus Musa menunduk, meraih tangan kyai Nurdin dan menciumnya takzim.
Konon katanya, doa seorang kyai besar yang tidak menampakkan kezuhudannya, itu lebih Maqbul dan bisa lekas menembus langit. Lahaula wala quwwata Illa Billah.
Kyai Nurdin mengangguk dan tersenyum lebar, setelah menepuk pelan pundak Gus Musa barulah kyai Nurdin turun dari panggung. Memberi kesempatan bagi para tamu undangan yang lain untuk bersalaman dan memberi selamat pada pengantin.
Setelah menyalami banyak orang dan entah yang keberapa kali terkena jepretan flash dari kamera foto, setelah itu semua Jeni barulah bisa duduk dan menghembuskan nafas lega. Karna sejak tadi tak hentinya orang datang bersalaman dan meminta foto dengan pengantin.
"Duh, capek juga ya dek Jen. Padahal cuma terima berdiri sambil nyalamin orang tapi pegelnya boleh di adu ini," kekeh Gus Musa sambil meregangkan otot-otot nya di atas kursi pelaminan.
__ADS_1
Jeni mengangguk tapi matanya sejak tadi tak hentinya memindai seluruh bagian tempat pesta, namun apa yang di carinya tak kunjung tampak.
"Kamu cari apa, Dek Jen?" celetuk Gus Musa sambil menyodorkan segelas minuman kemasan yang di berikan Mbak MUA padanya. Bahkan dengan romantisnya Gus Musa sudah menusukkan pipetnya jadi Jeni hanya tinggal minum.
Jeni mengucapkan terima kasih sebelum menjawab pertanyaan Gus Musa.
"Cari nenek, Mas. Kok dari tadi nggak kelihatan ya?" tanya Jeni dengan wajah cemas, sambil matanya terus awas menatap lalu lalang orang di depannya. Namun nihil, tetap tak tampak nek Minah di sana.
Gus Musa turut ikut celingak-celinguk, namun hasilnya sama saja. Tak ada sedikitpun tampak nek Minah di sana.
Hati Jeni mulai tak karuan, pasalnya pagi ini dia hendak di beri tahu oleh Asiyah tentang Nek Minah namun Asiyah malah mengurangkan niatnya, membuat Jeni semakin menjadi berpikir yang tidak-tidak di buatnya.
H
Di tengah kekalutannya, beberapa orang tamu undangan tampak naik ke atas dan menjabat tangan Jeni dan Gus Musa sembari memberi selamat dan nasehat nasehat yang menurut mereka berguna.
Jeni hanya tersenyum dan manggut-manggut saja saat itu karenan fokusnya sudah tak lagi di sana, bahkan dia tidak paham siapa siapa saja yang sudah datang dan memberi kado dan selamat untuknya dan Gus Musa.
"Dek, kamu melamun?" tanya Gus Musa saat melihat Jeni malah asik berdiri walau saat ini tak ada tamu yang naik ke atas panggung untuk bersalaman.
Jeni terhenyak dan langsung menatap sekitar, dimana Umi Nafisah yang juga duduk di atas panggung bersama kyai Hasan tersenyum menatapnya. Jeni menunduk dan langsung duduk mengikuti Gus Musa.
"Ada apa, Sayang? Kok kayaknya lesu begitu? Masih kepikiran nenek? Kayaknya nenek nggak kelihatan karna lagi bantuin jaga Abbas kali ya? Kan biasannya juga begitu," tukas Gus Musa lirih, namun masih cukup terdengar di telinga Jeni.
Jeni langsung berpaling menatap pria yang baru beberapa jam saja menjadi suaminya itu dengan tatapan nanar.
"Iya, tapi masa Mas nggak aneh sih? Sejak tadi kita sudah ambil banyak foto keluarga. Bahkan sama santri santri juga, tapi masa selama itu nenek sama sekali nggak ada ke sini untuk ikut foto sama kita?" sahut Jeni cemas.
Gus Musa tampaknya membenarkan ucapan istrinya, namun saat ini mereka bisa apa. Paling hanya meminta seorang santri atau siapapun untuk membantu mereka mencari Nek Minah untuk melegakan hati Jeni.
__ADS_1
Beruntungnya saat itu, tampak Asiyah berlari kecil menuju ke atas panggung pelaminan dan langsung mendekat ke arah Jeni. Asiyah membisikkan sesuatu, dan sukses membuat air mata Jeni turun karenanya.
"A- apa? Ta- tapi nggak mungkin, As." Jeni mendesis tak percaya.