
Acara pernikahan Sarah dan Axel akhirnya usai, sementara semua kru wo membereskan peralatan weeding sebelumnya. Kini Axel, Sarah dan kedua orang tua mereka yang sudah resmi menjadi besan itu kini duduk bersama di ruang keluarga rumah Tuan Bryan.
"Alhamdulilah, Acaranya berjalan lancar dan kalian sekarang sudah sah menjadi sepasang suami istri. Selamat ya, Axel. Kamu akhirnya bisa menaklukkan hati anak saya yang nakal ini," tutur Tuan Bryan tersenyum senang.
"Iihhh, Dad. Sejak kapan memangnya Sarah jadi anak nakal?" gerutu Sarah memanyunkan bibirnya.
Tuan Bryan tergelak. "Hahaha, bukankah sejak dulu kau memaksa menikah si berandal itu kau sudah jadi anak nakal, Honey?"
" Yah, setidaknya sekarang aku sudah mendapatkan gantinya, Dad. Dan yang lebih baik lagi, karna suami Sarah sekarang adalah mantan suami dari selingkuhannya si berandal Bima itu. Bisa kita bayangkan bagaimana mental mereka sekarang bukan?" sahut Sarah yang nampak mulai menuruni jiwa kepemimpinan ibunya.
Tegas dan berwibawa, dia kini bukan lagi Sarah yang lembut dan penyabar. Sejak pengkhianatan itu, Sarah sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat dan hebat.
"Tapi, kau tidak sengaja menikahi putraku karna hanya ingin balas dendam pada gundik mantan suamimu itukan, Sarah?"
tanya Andrew cemas, dia sangat menyayangi Axel sebagai anak kandungnya dan dia tidak ingin kalau kelembutan hati Axel ternyata hanya akan di manfaatkan semata.
Sarah menggeleng, kini semua mata tertuju padanya namun dia tetap tenang. "No, uncle. Tenang saja, walaupun awalnya niatku balas dendam, tapi ... kelembutan hati putramu ini sudah berhasil menyentuh hatiku dan menjinakkan bom di dalamnya."
Sarah menatap Axel yang kini juga menatapnya dengan tatapan penuh cinta, mereka sudah pernah membahas ini sebelumnya jadi sudah tak ada masalah bagi Axel tentang itu.
Axel meraih jemari Sarah dan menggenggamnya erat.
"Maaf, maksudnya? Uncle tidak mengerti, Sarah." Andrew mengerutkan keningnya dalam.
"Ya, sepertinya yang uncle lihat." Mengangkat genggaman tangan Axel di tangannya. " Sekarang, kami justru benar-benar saling mencintai. Ummm mungkin saja anak kesayangan uncle dan aunty ini akan benar-benar bucin padaku nanti."
"Jangan salahkan kalau nanti suamiku akan lebih menyayangi ku ketimbang uncle dan aunty ya," imbuh Sarah terkekeh.
Dia menatap Sonia yang kini bangkit dan melenggang ke arah kursi mereka.
"Wah, wah, wah. Sepertinya menantu kita ini ingin mengambil alih sepenuhnya putra kita, Pa. Kira-kira apa yang harus kita lakukan ya?" Sonia berpura-pura kesal namun masih tampak kerlingan nakal di matanya.
"Ya ampun, Ma." Axel meraih tangan Sonia dan menggenggamnya jadi satu dengan tangan Sarah. "Tenang saja, saya akan memperlakukan kalian semua dengan baik. Sama dengan sebelumnya. Saya pastikan tidak akan ada ketidak adilan untuk Mamaku dan istriku. Kalian berdua sama hebatnya di mataku."
__ADS_1
Sarah terharu dan bersama Sonia mereka berpelukan bersama. Sebuah pelukan yang sejak lama di rindukann Sarah semenjak tidak lagi rukun dengan Bima. Kini dia mendapatkan lagi semua kebahagiaannya, bahkan berkali-kali lipat.
****
Ctarr
Ctarrr
Ctaarrr
Lagi, sabetan ikat pinggang itu mendarat dengan mulus ke tubuh Jeni yang tengah meringkuk menahan sakit di sudut kamar mandi sebuah hotel.
Keadaan yang semakin sulit membuat Jeni akhirnya menyerah dan kembali menjalani pekerjaan nistanya untuk bisa menyambung hidup.
"Hahahh, dasar gundik murah*n! Gaya sekali kemarin kau menolak ku setelah di tolong lelaki sok kaya itu hah? Lihat sekarang, bahkan untuk sekedar melawanku pun kau tak bisa hahahaha, bod0h!" tawa pria buncit dengan kumis lele itu terdengar begitu memuakkan di telinga Jeni.
Ingin dia berlari dari semua siksaan ini, tapi wajah kedua orang tuanya yang kelaparan kembali terbayang di pelupuk mata membuat nya menguatkan diri untuk bertahan menahan segala sakit di tubuhnya karna fetis aneh pria tua di depannya itu.
Setidaknya setelah ini Jeni masih bisa membawa pulang uang yang cukup untuk membeli makanan dan kebutuhan rumah dan orang tuanya untuk satu Minggu ke depan.
Air matanya luruh, ingatannya melayang ke saat Sarah harus masuk rumah sakit karna di aniaya sedemikian rupa oleh Bima. Dan semua itu juga terjadi karena idenya untuk bisa segera membuat Sarah menandatangani surat pengalihan hartanya pada Bima. Namun nyatanya kini penyiksaan itu justru dia alami sendiri.
Ctarr
Ctarr
Ctarr
Bukannya berhenti, pria itu malah semakin bersemangat menghajar Jeni hingga memar di tubuh jeni bukan lagi berwarna merah melainkan sudah biru keunguan. Tidak terbayangkan bagaimana rasa sakitnya saat ini.
"Ini belum seberapa, Cantik. Kau sudah kurang ajar dengan menolak ku kemarin. Dan kini kau ingin aku memberi keringanan hukuman untukmu? Tcih! Jangan mimpi! Rasakan saja semua ini olehmu. Agar kau selalu ingat akibat dari menolak ajakanku!"
Ctarr
__ADS_1
Ctarrr
Ctarrr
Jeni ambruk ke lantai dengan wajah meringis menahan sakit, dengan segera pria buncit dan bulat itu mengangkat tubuh Jeni yang sudah tampak kurus itu ke atas kasur dan menghempaskan nya ke sana dengan kasar.
Brughhh
Jeni tak sanggup melawan, seluruh tubuhnya kini serasa mati rasa. Dia hanya mampu melihat sekilas suasana sekitar yang perlahan mulai buram.
"Sepertinya kau lupa, kalau di kalangan peminat open b.o ini, hanya aku yang masih mau memakai dan membayarmu dengan upah yang pantas untuk setiap pelayanan mu padaku. Tapi sepertinya kau terlalu angkuh untuk mengakui itu, dan sekarang aku akan mengingatkan mu lagi ... posisimu di sini."
Pria itu membuka semua pakaiannya dan menindih Jeni, sebelum menyerangnya dengan brutal hingga Jeni hanya bisa mengingat setiap kesakitannya saja sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Memeluk gelap dan hampa yang selama ini melingkupinya dan hidupnya.
"Hah, payah. Belum apa-apa sudah pingsan," ujar pria buncit itu tanpa menghentikannya gerakannya di atas tubuh Jeni yang sudah tak sabar akan apa yang dia alami.
Plakk
Plakk
Bahkan dengan sengaja pria itu menampar pipi mulus Jeni hingga terdapat jejak kemerahan di sana.
"Hei, gundik! Bangun! Jangan tidur! Tugasmu di sini melayani ku bukannya tidur! Hei! Gundik si*l! Bangun tidak?" gertaknya pada tubuh lemas Jeni yang sudah penuh lebam hasil perbuatannya.
Jeni tak bangun sedikitpun bahkan bisa di bilang dia sangat nyaman seperti ini, saat dia tak perlu merasakan sakit akibat pekerjaan yang dia tak sukai namun terpaksa dia lakoni ini.
"Hah, tidak seru! Baiklah, kalau ini maumu. Maka jangan salahkan aku kalau aku juga akan melakukannya semauku." Pria buncit mempercepat gerakannya agar lekas mencapai akhirnya dan setelah semburan air itu memenuhi rahim Jeni segera dia mengikat kaki Jeni terkangkang ke atas kepala ranjang, membuat kakinya terangkat dengan tubuh bagian atasnya terkulai lemas di bawah kasur. Sungguh fetis yang mengerikan.
"Hahahah, rasakan kau gundik tak berguna!"
Pria itu turun dari kasur dan mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.
Brakkk
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar di dobrak paksa oleh segerombolan orang berseragam hitam berkacamata.
"Jangan bergerak! Atau peluru ini akan menembus tengkorakmu!"