MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 220.


__ADS_3

Ctaarrrrr


Bleeeggarrrrr


Wusssshhhh


Wuushhhhh


 Angin dan petir bersahut sahutan malam itu, suasana yang dingin dan mencekam membuat Asy semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami yang sejak tadi tak berhenti melafalkan ayat ayat suci Al-Quran.


 Asy merunduk, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Menutup ke dua telinganya agar tak mendengar suara petir dan jatuhnya tetesan hujan di atap rumah yang masih berbahan dasar seng itu.


"Tidurlah, kakak akan menjagamu di sini. " Rahman berbisik di telinga Asy.


 Asy mendongak menatap mata teduhnya, mencari kejujuran di sana Karna rasa takutnya membuatnya lupa semuanya.


"Kakak akan berjaga di sini, jangan takut. Tidurlah," tukas Rahman lagi, yang mengetahui dengan jelas kegelisahan istri nya.


 Asy mengangguk samar, lalu kembali meletakkan kepalanya di antara ceruk leher Rahman yang kembali melanjutkan bacaannya.


Terdengar begitu merdu mengalahkan suara hantaman air hujan yang sangat deras itu hingga membuat Asy lama kelamaan menjadi mengantuk dan mulai tertidur.


Krosakkk


Graaattaakkk


Srreettt


Grudukk


 Entah sudah berapa lama Asy tertidur, kala terjaga dari tidurnya hujan sudah berhenti dan hanya menyisakan rintik kecil yang masih terdengar di atas seng juga hawa dingin yang masih merajalela.


Grudukk


 Asy terjengit kala terdengar suara berisik yang sepertinya asalnya tak jauh darinya.


 Perlahan dia bangkit, di gesernya tangan Rahman yang bersandar di pinggangnya. Lalu Asy bangkit dengan leluasa.

__ADS_1


 Di pindainya kondisi sekitar kamar, tak ada yang berubah semua masih sama seperti saat terakhir dia menempati kamar ini. Suara suara aneh itu kembali terdengar membuat Asy semakin penasaran, ketimbang suara hujan Asy sebenarnya lebih berani dengan suara seperti yang sekarang terdengar olehnya kini.


Tak


Tak


Tak


Sreeeettt


 Sreeetttt...


 Kali ini suaranya seperti seseorang yang tengah memotong sesuatu di dapur, Asy melirik jam di dinding. Pukul tiga dini hari, siapa yang hendak memasak di saat seperti ini? Apa ibunya? Tapi seingatnya sang ibu sangat jarang sekali kelaparan tengah malam dan memasak di jam jam seperti ini. Jikapun untuk sahur, biasanya dulu mereka akan memasak di jam 4 subuh sesaat sebelum waktu imsak dan itupun hanya masakan sederhana yang ringkas saja agar cepat, atau sekedar memanaskan sisa makanan yang telah di masak malam sebelumnya.


Dok


Dok


Dok


 Asy merinding, membayangkan siapa yang saat ini tengah berada di dapur rumahnya. Kamarnya yang berada di belakang tak jauh dari dapur, membuat suara itu kian jelas terdengar.


Asy memikirkan cara agar dia bisa mengintip keluar, hingga tanpa sengaja matanya menatap ke arah lubang kunci yang sudah rusak dan tak bisa di gunakan lagi itu hingga pintu kamarnya itu tak pernah di kunci lagi hingga sekarang. Asy mengambil posisi berjongkok, menempatkan matanya tepat di lubang kunci yang mulai memindai kondisi di seantero dapur.


 Matanya membulat kala melihat objek seseorang yang tengah berdiri menghadap meja dapur, lampu rumah yang memang tak pernah di matikan walau malam menjelang membuat Asy tahu apa yang di lakukan orang tersebut di sana.


"Astaghfirullah, daging apa itu?" bisik Asy kala melihat orang itu meletakan sepotong besar daging berwarna merah pekat ke dalam baskom besar yang juga sama sudah penuh dengan daging.


 Dan tak lama orang itu tampak mengambil baskom besar lainnya, kali ini meletakkan potongan tulang tulang yang ukurannya besar besar ke dalam sana. Asy terus memperhatikan hingga tanpa sadar tubuhnya terlalu condong dan jatuh tersungkur ke depan.


Jdughhh


 Asy cepat memegangi kepalanya yang terasa benjol, namun bukan itu yang dia takutkan. Dengan segera dia memindai kembali ke arah luar, dan nihil tak di dapatinya seseorang yang dia lihat tadi di tempatnya semula.


 Seluruh tubuh Asy terasa seperti di taburi pasir, merinding hebat hingga dia seolah tak sanggup menahan beban tubuhnya lagi.


Tap

__ADS_1


 Asy terjengit kaget, seseorang yang dia lihat tadi kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Perlahan tubuh tinggi yang menutupi lubang kunci itu tampak turun perlahan. Asy menahan nafas, lalu gerakan gesit dan lincah dia berpindah ke tempat tidur dan berpura pura tidur walau kini dahinya di penuhi peluh dingin. Tubuh asy terasa panas, namun dia memilih merapatkan selimut yang di pakainya menutupi tubuhnya hingga ke leher.


Ceklek


Ceklek


Klek


 Asy membuka sedikit matanya, kala mendengar suara pintu kamarnya seperti di buka paksa padahal Asy sudah meletakkan sebuah tas yang lumayan berat sebagai ganjal agar tak sembarang orang bisa masuk ke dalam kamarnya.


 Asy kembali menahan nafas kala tanpa sengaja melihat sebuah siluet sinar mata yang terlihat menatap kosong ke arah mereka. Lampu kamarnya yang sengaja di matikan membuat Asy tak perlu cemas orang yang saat ini masuk ke dalam kamarnya akan mengetahui jika dia tak tidur, hanya sekedar berpura pura tidur saja.


Tap


Tap


Tap


 Kali ini suara langkah kaki terdengar memasuki kamar tersebut, untungnya suara dengkuran halus Rahman terdengar setidaknya itu bisa membuat orang yang masuk itu mengira jika mereka benar benar tidur.


 Asy berusaha bersikap senormal mungkin, walau kamar tersebut gelap tidak menutup kemungkinan orang itu akan tahu jika dia hanya pura pura tidur dari desau nafasnya yang memburu.


 Asy masih menatap lewat celah matanya yang terbuka sedikit, orang itu tampak berjalan pelan menuju ke arah ranjang. Asy sempat menahan nafasnya beberapa saat Karna mengira orang itu hendak memastikan mereka benar benar tidur atau tidak. Namun setelah itu dia bisa bernafas lega karna rupanya orang tersebut langsung berjongkok di sisi ranjang dan seperti melakukan sesuatu di sana. Lalu setelah beberapa saat dia bangkit dan langsung meninggalkan kamar tersebut dan tak lupa pula menutup kembali pintunya.


 Asy menajamkan pendengarannya, memastikan langkah kaki orang tersebut menjauh dari kamar mereka sebelum dia sendiri bangkit dan meraih ponselnya yang tergeletak di sisi bantal. Turun perlahan dari ranjang dan menilik ke arah lubang kunci terlebih dahulu, memastikan jika orang yang tadi tak ada di tempatnya lagi. Setelah memastikan semuanya aman Asy berbalik dan melangkah menuju nakas, yang terletak di sebelah ranjang.


 "Sebenarnya ada apa sini? Apa yang di ambil orang tadi dari dalam sini?" gumam Asy lirih sekali, dalam gelap di hidupkannya lampu flash ponselnya, lalu berjongkok dan mengarahkan tangannya ke laci nakas paling bawah. Laci yang di larang oleh bapaknya untuk di buka.


K


"Aku harus tahu, apa yang di sembunyikan oleh bapak." Asy meyakinkan dirinya sebelum akhirnya tangannya bergerak cepat membuka laci yang rupanya tak terkunci itu.


 Asy terjingkat kaget, rasanya malam ini adalah malam olahraga jantung yang sangat luar biasa untuknya. Matanya membulat sempurna, dengan raut wajah yang tampak sangat syok melihat isi dari laci tersebut.


"A- apa ini? Bagaimana bisa ada di sini?" desis Asy ngeri.


.*kira kira Asy ngeliat apa ya? Temukan jawabannya di episode besok ya.

__ADS_1


__ADS_2