
Amelie dan Aish turun dari mobil dengan terburu buru, terlebih saat melihat pria yang berkubang lumpur itu kini mulai naik ke atas masih sambil ngedumel.
"Mas, mas tolong maafkan saya ... Saya nggak sengaja," ujar Amelie menangkup tangannya di dada.
Pria itu hanya melengos, mengelap wajahnya yang penuh lumpur dengan tangannya yang juga sama berlumpurnya.
"Om, Tolong maafkan Mami saya. Kami tidak sengaja, om". Aish menimpali.
Melihat pria itu kesulitan mengelap lumpur dari wajahnya, amelie berinisiatif masuk kembali ke dalam mobil guna mengambil sebuah handuk kecil yang biasa di bawa suaminya bika bepergian, kebiasaan yang sudah sering dia lakukan sejak dulu.
"Ini," ucap Amelie menyodorkan handuk itu.
Pria itu menoleh, melirik Amelie sekilas lalu menerima handuk itu tanpa berkata apa apa.
"Om, maukan maafin kami? Kami benar benar tidak sengaja, om." Aish mendesah lirih karna pria itu tak kunjung memberi tanggapan..
Karna pria yang sebelumnya memakai kemeja rapi dengan bawahan celana bahan itu tak kunjung memberi jawaban akhirnya Aish memilih mengajak sang ibu pergi.
"Kita pergi saja, Mam kayanya Om ini nggak mau maafin kita," gumamnya.
Sontak pria itu berbalik saat Aish dan Amelie baru saja hendak membuka kembali pintu mobilnya.
"Hei, tunggu!" serunya membuat pergerakan Aish dan Amelie berhenti.
"Apalagi? Bukankah kamu tidak mau memaafkan kami? Lalu apa gunanya kami berada di sana lebih lama?" ketus Amelie mulai terpancing emosi.
"Kalian bahkan tidak meminta maaf dengan baik!" serunya membalas.
Amelie mendengus kesal, setelah sekian lamanya hanya berdiam diri di istana suaminya. Ini kali pertama setelah belasan tahun ada lagi orang yang menantang adrenalinnya.
Amelie menggerakkan lehernya, serta melemaskan otot-otot jari tangannya dengan tatapan kesal.
"Katakan, apa maumu." Amelie menggumam pelan, namun mampu membuat lawan bicaranya merinding.
Tapi sepertinya pria itu sangat pandai mengatur ekspresinya hingga raut ketakutannya hampir tak terlihat, kecuali matanya yang mulai menatap tak tentu arah.
"Kretekkk!" bunyi Amelie yang tengah melenturkan bagian otot lengannya, membuat pria itu seketika menelan ludah dengan susah payah.
__ADS_1
"Ka- kalian sudah membuat aku masuk ke dalam got! Lihat sekarang baju ku kotor, aku punya interview kerja sekarang dan kalian mengacaukan segalanya." Pria itu meberanikan dirinya mengatakan isi hatinya.
Setelahnya dia terengah-engah saking kuatnya mental yang dia keluarkan tadi untuk bicara pada Amelie.
"Oooh, hanya itu?" gumam Amelie berhenti tepat satu setengah meter jaraknya dari pria tersebut.
Pria itu mengangguk cepat, walau kegugupan menguasai tubuhnya seolah seluruh tubuhnya melemah dan ingin terbaring saat itu juga.
"Dimana kau akan interview?" tanya Amelie.
"D- di ... di perusahaan E, tepat di jalan raya sana." Pria itu mengelapkan lagi handuk ke wajahnya yang basah sebab air yang jatuh dari rambutnya yang gondrong.
"Ah, itu ... baiklah silahkan kamu pulang dan berganti pakaian. Tenang saja saya akan ganti rugi atas baju kamu, tapi motor kamu tidak apa apa kan? Sepertinya hanya jatuh dan tidak banyak tergores." Amelie menunjuk motor di pria yang masih tergeletak di tanah.
"Tapi ... tapi ... waktu interviewnya tinggal setengah jam lagi, tak akan ada waktu yang cukup untuk ikut interview. Padahal hanya inilah satu satunya jalan agar aku bisa mengumpulkan uang guna menikahi kekasih ku," gumam pria itu dengan nada memelas.
Dia mendesah panjang, lalu beranjak mengangkat motornya agar kembali tegak berdiri.
Amelie tampak mengutak atik ponselnya, lalu tersenyum sebentar dan meminta aish mengambil dompetnya dari dalam mobil.
"Ini, untuk ganti rugi atas bajumu dan waktumu yang terbuang. Maafkan kami sekali lagi, kami sungguh tidak sengaja," ujar Amelie menyodorkan beberapa lembar uang merah yang jumlahnya kira kira mencapai dua juta rupiah itu.
Amelie terenyuh, sudah sangat lama di tidak bertemu orang yang tampak sangat jujur dan tulus seperti pria di hadapannya itu.
"Kau butuh pekerjaan?" tanya Amelie.
Pria itu menatap Amelie sekilas dan mengangguk.
Amelie tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya.
"Terima ini, dan datanglah ke alamat itu nanti malam. Akan ku beri kau pekerjaan yang pantas, dengan gaji yang pantas juga tentunya," gumam Amelie sembari menyerahkan kertas kartu nama itu dan lembaran uang yang tadi dia berikan ke tangan pria itu.
Dan tanpa menunggu jawaban darinya Amelie bergegas mengajak Aish untuk masuk kembali ke dalam mobil.
"Mam, kenapa Mami memberikan pekerjaan untuknya? Kita bahkan belum mengenalnya, Mam?" tanya Aish setelah mobil mulai melaju membelah jalan yang ternyata lebih lega di bagian dalamnya itu.
Amelie mengangkat ke dua bahunya. "Entahlah, Mami hanya merasa dia orangvyang baik dan jujur. Lagi pula apa salahnya kita menberi kesempatan pada mereka, Nak? Siapa tahu memang mereka membutuhkan dan kita bisa membantu bukan?"
__ADS_1
Aish mengangguk dan tak lagi banyak bicara, hanya diam hingga mobil merapat ke halaman rumah kontrakan Satrio yang lumayan luas.
Rumah itu tampak lengang, namun pintu depannya yang terbuka membuat Aish yakin kalau ada penghuni di dalamnya.
"Nak, Mami ke sana sebentar ya. Sepertinya ada tukang somay di sana Mami mau beli, kamu mau?" ucap Amelie sembari membenahi rambutnya.
Aish menoleh sekilas ke arah jalan dimana memang tampak tukang somay yang mangkal di depan bangunan kos kosan dimana di sempat tinggal sebentar dulu.
"Iya, Mam. Aish mau juga ya, kayanya enak."
Amelie mengangguk dan mulai berjalan menuju tukang somay itu sedangkan Aish melanjutkan langkahnya menuju ke teras rumah Satrio.
"Assalamu'alaikum, Mas ... mas Satrio, assalamu'alaikum," ucap Aish sedikit keras hingga suaranya menggema di dalam ruangan minimalis itu.
Gedubrakkk
Krompyangg
Suara gaduh terdengar santer, sebelum akhirnya si empunya rumah keluar dari dalam rumahnya dengan tubuh basah bahkan di tangannya masih terdapat busa sabun cuci.
"Wa'alaikumsalam, eh dek Aish? Sama siapa ke sini? Mas lagi nyuci piring tadi di belakang. Sebentar ya, Mas cuci tangan dulu," jawab Satrio dengan senyum sumringah di wajahnya, lalu berlalu masuk kembali ke dalam dapur guna membasuh busa yang masih ada di tangannya.
Aish memilih menunggu di teras karna tak ada orang lain bersama mereka, takutnya nanti ada tetangga yang lihat dan jadi bahan gosipan.
"Dek, kenapa di luar?" tanya Satrio yang baru saja kembali ke luar dengan sebuah teko berisi es sirup merah dan setoples biskuit coklat.
"Nggak papa, Mas dingin di sini," jawab Aish tersenyum.
"Maaf ya, dek sudah bikin kamu salah paham dan cemas. Hape Mas beneran mati, terus tadi ada Sri sama pacarnya di sini jadi Mas pinjem hapenya buat telpon kamu, eh malah bikin salah paham."
"Iya, Mas nggak papa kok."
"Kamu tadi sama siapa ke sini, dek?" tanya Satrio lagi sembari menuang minuman ke gelas dan memberikannya pada Aish.
"Sama Mami," sahut Aish santai.
Mata Satrio sontak membulat, menatap ke arah dirinya sendiri yang saat ini hanya memakai pakaian biasa kaos oblong di padu celana training panjang serta celemek yang lupa dia lepaskan saat tadi mencuci.
__ADS_1
"Gawat!" seru Satrio sembari bergegas berlari masuk ke dalam rumah.