MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 104.


__ADS_3

"Minum dulu." Jeni menyodorkan segelas air putih pada Asiyah yang masih tampak sesegukan, kini mereka sudah berpindah ke dapur ndalem', tempat yang menurut Jeni lebih aman untuk bercerita ketimbang halaman untuk menjemur pakaian yang terbuka dan bisa saja ada mata dan telinga yang melihat dan mendengar.


 Asiyah menerima gelas itu, lalu meminum isinya hingga tandas, hingga dadanya terasa lebih lega dan plong ketimbang sebelumnya.


"Haaahhh, jadi ... keputusan kamu sendiri gimana, As?" tanya Jeni setelah beberapa saat saling diam.


 Asiyah menarik nafas lelah, walau tak ada lagi air mata yang mengalir dari matanya tapi tatapan kesedihan itu masih sangat kentara di sana.


"Asy belum tahu, Mbak. Pengennya Asy tetap di sini, tapi kata orang tua angkat Asy mereka nggak akan balik lagi ke kota ini, mereka akan menetap selamanya di desa," sahutnya lirih sekali, dengan suara yang masih serak sisa menangis tadi.


 Jeni turun prihatin dengan kondisi Asiyah, hidup sebagai anak angkat dari keluarga yang bisa di bilang tidak begitu berada dan selalu lebih mementingkan diri sendiri, membuat Asiyah bahkan sampai rela bekerja di ndalem' untuk bisa memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri jika orang tuanya itu tidak memberikan kiriman uang untuknya.


"Coba sampaikan baik baik sama orang tua kamu, walaupun mereka hanya orang tua angkat tapi ... mereka juga kan sudah berjasa merawat kamu sejak kecil, jadi tetap saja kamu harus berbakti pada mereka," saran Jeni lembut.


"Tapi kalo mereka nggak mau mendengar perjuangan Asy gimana, Mbak? Asy sudah terlanjur betah di sini, Asy nggak mau kemana mana lagi," tukas Asiyah putus asa.


"Mbak paham, makanya Mbak bilang cobalah bicarakan baik baik sama orang tua angkat kamu. Cari solusinya sama-sama, supaya dapat jalan keluar terbaik," kata Jeni kembali memberi harapan.


 Asiyah menatap lurus ke depan, tatapan yang nanar penuh dengan harapan yang mungkin tak akan pernah sampai.


"Baiklah, Asy akan coba. Semoga saja Bapak dan ibu akan tetap mengizinkan Asy mondok di sini. Lagi pula, insyaallah tanpa kiriman uang dari mereka pun, Asiyah bakalan tetap bisa bertahan di sini," pungkasnya pelan namun penuh keyakinan.


 Jeni menepuk pundak Asiyah lembut, sambil menatap matanya dalam memberi kekuatan dari sana. Seolah berkata semua akan baik-baik saja.


****


"Bagaimana? Kalian jadi berangkat siang ini?" tanya nyonya Ellen pada sang supir yang dia minta datang ke rumahnya setelah serah terima kepemilikan tanah di desa yang sebelumnya milik Nyonya Ellen menjadi milik sang supir, Pardi.


 Pardi mengangguk ragu, seakan masih ada yang mengganjal di hatinya.


"Ja- jadi, jadi Nyonya," sahutnya tergagap.


 Nyonya Ellen menggeleng acuh.

__ADS_1


"Kenapa bicaramu itu? Kau bukan kemarin sore aku kenal, Pardi. Jangan coba coba berbohong padaku." Nyonya Ellen mendesak sang sopir untuk mengatakan yang sebenarnya ada di pikirannya.


 Pardi terjingkat dalam duduknya dan mengelap keringat dingin yang bercucuran di keningnya. Aura seorang pemimpin yang di bawa Nyonya Ellen sejak turun temurun rupanya sangat berpengaruh besar terhadap caranya memperlakukan para bawahannya, lembut namun penuh wibawa hingga tak akan ada anak buahnya yang berani berkhianat.


"Hemmm, sebenarnya ... sebenarnya ...." Pardi masih menggantung kalimatnya ragu, namun Nyonya Ellen yang tak sabar langsung beranjak dan menggebrak meja di depannya.


Brrraaakkk


"Astaghfirullah," seru Pardi kaget sambil memegangi dadanya yang langsung terasa nyeri karna terkejut.


 Nyonya Ellen menatap berang pada sang sopir yang baru saja mendapat warisan besar darinya itu. Membuat Pardi seketika menciut dan tak berani mengangkat wajahnya menatap Nyonya Ellen.


"Katakan! Jangan berani menutupi apapun dariku!" sentak Nyonya Ellen garang.


 Pardi dapat merasakan tubuhnya mulai bergetar, lidahnya terasa kelu namun tetap harus di paksakan untuk menjawab, sambil sesekali mengusap keringat dingin dari keningnya.


"Aaa ... anu, anu Nyonya. Ehh, emmm ... anak saya, ah maksudnya, anak kami ... anak kami belum memberi jawaban atas ajakan kami untuk pindah," sahut Pardi dengan suara yang turut bergetar.


 Nyonya Ellen menghela nafas lelah, lalu kembali menjatuhkan diri di atas sofa empuk miliknya dan menyandarkan kepalanya di sana.


"Sa- saya, Saya akan temui dia sekarang juga, Nyonya." Pardi langsung bangkit dari posisi duduknya dan berlari keluar rumah untuk menjemput anaknya di tempatnya menimba ilmu selama ini, yang bahkan nyaris tak pernah di jenguk apalagi di ajak pulang saat lebaran.


 Nyonya Ellen menyeringai di tempatnya, akhirnya semua masalah yang sudah bertahun tahun berupaya di tutupinya mulai selesai dengan sendirinya hanya dengan sedikit kecerdasan.


.


Namun sayang, ada satu hal yang di lupakan nyonya Ellen dan tak akan bisa di rubah dengan apapun. Suatu saat nanti, semua perjuangannya hingga sejauh ini akan tetap berakhir dengan percuma dan sia sia belaka.


****


"Man, masih kuat?" tanya Gus Musa pada Rahman yang kini baru saja mengangkat karung beras ke dua puluhnya di bahu untuk di turunkan di di dapur santri.


 Rahman yang masih tampak santai itu malah melempar senyum manis.

__ADS_1


"Insyaallah, Gus. Doakan saja, jangan lupa kopi hitamnya buat sajen," kekehnya sambil berjalan cepat menuju dapur santri.


Gus Musa hanya geleng-geleng kepala lalu berjalan menuju dapur ndalem' untuk membuat sendiri kopi untuknya dan Rahman, juga segelas air jahe untuk sang Abah yang saat ini juga tengah duduk santai di teras sambil mengawasi para santri yang membantu Rahman menurunkan semua barang belanjaan untuk para santri.


 Setelah semua minuman dengan rasa yang khas itu selesai, Gus Musa langsung membawanya ke depan. Mendekat pada sang Abah dan menyajikan segelas wedhang jahe itu untuk beliau.


"Lihat itu, le. Memang nggak salah kita terima pemuda itu untuk ikut ngabdi di pondok ini, bukan cuma cekatan anaknya juga gesit dan tenaganya itu. Ckckck, benar benar mirip Abah waktu muda," kekeh kyai Hasan membanggakan diri.


 Gus Musa hanya tersenyum miring sambil menikmati kopi hitam buatannya sendiri karna tak ingin merepotkan sang istri hanya untuk membuatkan minuman. Apalagi kini Jeni tengah sibuk menidurkan baby Abbas di kamarnya, tentu tidak sopan rasanya jika Gus Musa tiba tiba datang hanya untuk minta di buatkan minuman.


"Sampun, Gus." Rahman yang baru saja selesai mengangkat karung terakhir sedang mencuci tangan dan kakinya yang tampak berdebu di keran air di depan rumah kyai Hasan. Tak lupa dia juga membasuh wajahnya membuat sinar wajah itu bahkan bisa membuat silau siapa saja yang melihat.


 Gus Musa tersenyum dan melambai pada Rahman.


" Kalau sudah beresan ke sini, Man. Kita ngopi bareng," ajak Gus Musa ramah sambil menunjuk segelas kopi yang masih tampak mengepulkan asap itu pada Rahman.


 Wajah Rahman tampak sumringah, dan tanpa di pinta dua kali dia langsung saja naik ke atas teras rumah dan duduk di antara Gus Musa dan kyai Hasan yang menatapnya takjub dan bangga.


"Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian lama bisa ngerasain ngopi juga. Terima kasih ya, Gus padahal tadi saya cuma becanda loh minta kopinya. Malah dibuatin beneran," ucap Rahman penuh syukur.


"Monggo di minum, le." Kyai Hasan mempersilahkan sambil turut mengangkat gelas miliknya juga, sebagai tata Krama saat menyuguhkan minuman bagi tamu.


 Rahman mengangguk dan dengan senang hati menuruti perkataan kyai Hasan, bersama sama mereka menikmati kopi dan jahe sore itu.


"Ahhh, Alhamdulillah," gumam Rahman dengan wajah berseri-seri seakan begitu bahagia bisa kembali menikmati kopi yang begitu nikmat buatan asli tangan Gus Musa.


 Tapi saat tengah anteng menikmati kopi, mereka di kejutkan oleh suara Isakan tangis seorang gadis yang ternyata adalah Asiyah yang di bimbing Jeni untuk menuju ke garasi.


"Ada apa, Dek?" tanya Gus Musa sambil berlari kecil mendekati istrinya dan Asiyah.


 Jeni menatap miris pada Asiyah lalu kembali pada suaminya.


"Adek mau minta izin anterin Asiyah pulang ya, Mas. Asiyah lagi ada masalah dan perlu sekali bertemu orang tuanya saat ini juga," papar Jeni meminta izin.

__ADS_1


 Namun belum sempat Gus Musa menjawab, Rahman langsung menyela dari belakang tubuhnya.


"Biar saya aja yang anter, Mbak."


__ADS_2