
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu panjang, semua itu karena semua rasa takut, sedih, senang, bercampur menjadi satu di dalam dada Axel. Tak hentinya dia membisikkan kalimat kalimat penghibur di telinga Sarah, berharap istrinya yang tengah berjuang untuk kehidupan anak anaknya itu bisa bertahan dan membawa kehidupan baru untuk mereka.
Setelah puluhan menit yang terasa sangat panjang, akhirnya pelataran rumah sakit yang di tuju terlihat juga. Axel berbisik di telinga Sarah mengatakan kalau mereka sudah sampai, sekilas tampak gurat lega di wajah Sarah yang terpejam dengan bibir pucat pasi.
"Dokter! Tolong majikan saya!" seru Lasmi begitu pintu belakang mobil di buka dan beberapa petugas mulai membawa brankar Sarah turun.
Jdaaaggggg
Tanpa sengaja seorang petugas yang memegang sisi kanan brankar tersandung dan jatuh. Hingga membuat brankar turut jatuh bersamaan dengannya.
"Aaahhhh!" jerit Sarah pilu sambil memegangi perutnya yang terasa semakin sakit karna hentakan itu.
Axel meraih tangan Sarah dan menenangkannya sambil sesekali ikut mengusap usap perut Sarah berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.
"Sabar ya, Sayang. Sabar ... Mas percaya kamu kuat, kamu pasti bisa sayang. Bertahan ya, demi si kembar, demi Mas.
Sarah semakin menangis keras, walau brankarnya sudah diangkat kembali tapi rasa sakitnya malah semakin menjadi jadi.
Petugas mendorong brankar menuju ruang bersalin, di ikuti Axel dan Lasmi di belakangnya.
Sepanjang koridor menuju ruang bersalin, Sarah terus menerus menangis dan berteriak, rasa sakit yang di rasakannya semakin berlipat ganda rasanya. Hingga rasanya semua tulang di tubuhnya rontok dan patah.
"Ibu, di tahan teriakannya ya, Bu. Di tahan tangisan nya ya, soalnya nanti takutnya ibu kehabisan tenaga dan malah nggak kuat buat prosesi melahirkannya. Sebisanya di tahan ya, Ibu. Biar Dede bayinya nanti juga tidak stress. Kalau rasa sakitnya bertambah, ibu bisa tarik nafas dalam dan hembuskan ya, Ibu." seorang perawat wanita yang membantunya mendorong brankar Sarah mencoba memberi tahu dengan perlahan.
__ADS_1
Namun Sarah yang sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya malah menjadi kesal dan tanpa sadar memaki suster tersebut.
"Kamu nggak ngerasain gimana rasanya makanya bisa ngomong begitu, kamu tau nggak sih ini rasanya pinggang saya udh mau putus? Semuanya badan saya sakit, terutama perut! Apalagi tadi dengan cerobohnya petugas itu malah bikin brankar saya jatuh di depan pintu bagasi ambulan. Perut saya rasanya sudah mau meledak kamu tau? Kamu pasti masih gadis kan? Iya kan? Makanya kamu itu nggak tau gimana rasa sakitnya mau melahirkan itu, jadi diam dan jangan banyak ngajarin saya!"
Axel menatap sang suster dengan tatapan memohon maaf, suster itu mengangguk seolah memahami. Dan perjalanan berlanjut hingga tiba di ruang bersalin.
Semua persiapan sudah lengkap, Lasmi di minta menunggu di luar, sementara Axel di ajak masuk ke dalam untuk menemani istrinya.
Seorang bidan perempuan tampak memakai sarung tangan karet dan mendekati pangkal paha Sarah yang sebelum sudah di arahkan oleh suster untuk membuka.
"Subhanallah," desah bidan itu sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa, Bu?". tanya Axel cemas.
Axel berada di sisi Sarah, menguatkannya dan membisikkan kata kata penyemangat di telinganya.
" Ibu, kita akan lakukan persalinannya normal ya. Jadi saya mohon kerja samanya untuk meminimalisir terjadinya robekan atau hal lainnya yang mungkin memicu jalannya persalinan menjadi terhambat. Karna bayinya kembar tolong ikuti arahan saya supaya tenaga ibu cukup sampai semua bayinya keluar ya," tukas sang bidan dengan sabar dan telaten.
Tak tampak sama sekali gurat kemarahan di wajahnya, padahal sejak tadi Sarah terus saja melontarkan kata kata penuh kekesalannya pada para petugas yang menurutnya lamban itu, sedangkan dia sudah sangat tak tahan dengan sakit yang di deritanya.
"Ayo, bismillahirrahmanirrahim ikuti arahan saya ya, ibu. Tarik nafas dalam ... dorong sekuat tenaga, matanya jangan di tutup ya, Ibu. Mungkin bisa dengan lihat perutnya saja, semangat ya sebentar lagi ketemu baby."
.
__ADS_1
Sarah mengikuti saran bidan tersebut dengan baik, apalagi di tambah mendengar kata bayi rasanya Sarah pun menjadi semakin tak sabar untuk meminang bayi yang lahir dari rahimnya sendiri.
Axel masih memegangi pundak Sarah dan mengecup keningnya berkali-kali, membisikkan kata kata semangat dan berulang kali membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an di telinga Sarah.
Karena Sarah bisa di ajak kerja sama, akhirnya gak butuh waktu lama bayi pertama pun lahir. Tangisannya yang begitu melengking memenuhi ruang bersalin itu, Axel tersenyum menyaksikan sendiri bagaimana bayinya terlahir dari rahim wanita yang di cintainya itu.
Sarah ikut tersenyum, namun hanya sesaat karna sedetik kemudian rasa sakit yang sama seperti sebelumnya kembali merajam dirinya.
"Nah, sudah mulai lagi. Bismillahirrahmanirrahim, ayo kita ulangi seperti tadi ya, Ibu. Ibu kuat, bayi sehat." Sang bidan terus saja memberikan semangat dan motivasi pada Sarah, namun tenaga Sarah ternyata mulai terkuras, perlahan matanya justru tertutup seperti akan tidur. padahal baru kali dia mengejan untuk membawa bayi ke duanya menuju ke dunia.
Seorang suster sigap memberikan air teh hangat bercampur gula merah di dalam gelas untuk di minum oleh Sarah.
Setelah beberapa tegukan masuk ke dalam tenggorokan dan mengalir di lambungnya, barulah Sarah seperti mendapatkan tenaganya kembali.
Dengan di bimbing ibu bidan, Sarah kembali mengejan dan lagi sama seperti tadi tak butuh waktu lama sejak Sarah kembali mendapatkan tenaganya bayi kedua lahir. Dengan tangis yang tak kalah kuat dari bayi pertama.
"Alhamdulillah, bayi kedua kita sudah lahir juga, Sayang. Kamu hebat, Mas bangga sekali sama kamu sayang. Satu lagi, semangat ya sayang," tutur Axel sambil menciumi puncak kepala Sarah.
Sarah tampak berkeringat, keningnya basah dan Axel dengan sigap langsung mengelap keringat itu dengan bajunya.
"Ya Allah, ternyata bayinya kembar tiga? Saya kira hanya kembar dua. Bagaimana ibu? Apa ibu masih kuat untuk satu bayi lagi?" tanya bidan itu dengan wajah menyiratkan kekhawatiran di sana rumah sakit yang berbeda dengan tempat sebelumnya Sarah periksa maka wajar jika bidan itu terkejut mengetahui bayi Sarah adalah kembar tiga, dan kini bayi terakhir masih berada di dalam rahim, menunggu gilirannya untuk di bawa keluar ke dunia yang sama dengan kedua saudaranya yang lain, yang selama 9 bulan telah menghabiskan waktu bersama.
Namun ketakutan mulai menyambangi sang bidan, melihat wajah sarah yang pucat pasi dan lemas. Bisakah Sarah melahirkan bayi ketiganya dengan selamat? Cari jawabannya besok, author juga mau lebaran.
__ADS_1
Minal aidin wal Faidzin semuanya