
"Siapa perempuan ini, Nak?" tanya Sonia saat melihat Axel membawa masuk seorang wanita dengan penampilan acak-acakan ke dalam rumahnya.
Jeni menunduj dalam, tak berani membalas tatapan Sonia yang menyelidik.
"Kita duduk dulu, Ma." Axel menarik tangan Sonia dan memintanya duduk di sebelahnya.
'apa? Jadi wanita cantik ini ... mamanya Bang Adam?' batin Jeni tak percaya.
"Jen, silahkan duduk," ucap axel setelah melihat Jeni yang hanya berdiri mematung di tempatnya.
"Eh, i- iya, Bang. Makasih, cicit Jeni tak enak hati.
Apalagi melihat sofa empuk yang tampak sangat mahal itu membuat Jeni bahkan takut untuk sekedar duduk di atasnya. Tapi akhirnya dia tetap duduk juga, ketimbang duduk di lantai nanti di kira pembantu.
(Sempet-sempetnya gengsi si Jeni)
"Sekarang bisa kamu jelaskan siapa dia, Nak? Jangan bertindak gegabah, ingat sebentar lagi kamu menikah. Mama nggak mau kamu sampai mengecewakan calon istri kamu."
Degh
Hati Jeni berdenyut nyeri, ucapan singkat dari Sonia serasa melemparnya ke jurang terdalam dimana dia tak akan pernah bisa keluar dari dalamnya.
__ADS_1
"Jadi begini, Ma. Mama tenang dulu ya, saya nggak pernah berniat untuk bermain api kok. Dia ini mantan istri saya yang pernah saya ceritakan ke Mama dan Papa waktu itu. Tadi dia di kejar penjahat makanya dia nggak sengaja lari ke sini dan minta bantuan saya supaya bisa lepas dari kejaran penjahat itu," papar axel menjelaskan.
Tapi Axel sama sekali tidak menyebutkan perihal uang seratus juta miliknya yang sudah berpindah tangan pada si penjahat. Padahal tadi Jeni sudah berpikir kalau sebenarnya Axel masih mencintainya karna rela mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk bisa membebaskannya dari pria buncit. Tapi kenyataannya ternyata Axel malah sudah akan menikah kembali.
"Oh, jadi ini mantan istri kamu itu. Kenapa dia bisa tau rumah kamu di sini? Bukannya dia hanya tau kamu berasal dari panti asuhan? Harusnya dia akan mencari kamu ke sana kan kalau memang ingin minta tolong?" cecar Sonia yang sudah merasa tak suka pada Jeni pada pandangan pertama.
Bagaimana tidak, kondisi pakaian Jeni yang terbuka dan tampak sobekan di beberapa bagiannya karena ulah pria buncit itu di lengkapi juga dengan hiasan warna merah di sekitaran leher dan dadanya yang tidak tertutup sempurna dengan baju yang dia pakai.
"Ah, iya Jen. Bagaimana kamu bisa tau kalau sekarang Abang tinggal di sini?" tanya Axel yang juga merasa penasaran.
Jeni semakin menundukkan kepalanya dalam, merasa begitu kecil dan Makki berada di tempat itu. Hampir tidak percaya kalau lelaki yang sudah dia sia-siakan ternyata adalah seorang crazy rich yang di sembunyikan.
Menyesal? Pasti, sakit hati? Jangan di tanya lagi. Tapi begitulah kehidupan, kau akan selalu menuai hasil dari apa yang sudah kau taburkan. Dan kini baru awal dari buah kelakuan Jeni dahulu, selanjutkan akan masih banyak sekali hal tak terduga yang akan Jeni terima.
Jeni masih diam, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan lidahnya bahkan tidak mampu untuk berucap.
Axel berinisiatif untuk mengambilkan segelas air untuk Jeni, dia ingat jika sedang ketakutan atau merasa tidak nyaman Jeni selalu butuh segelas air untuk menenangkan dirinya.
Sepeninggalan Axel, barulah Sonia merasa bebas untuk bisa bicara dengan Jeni yang di anggapnya hanya muncul untuk kembali mengganggu putranya yang sudah hidup berkecukupan.
"Sebenarnya apa tujuan mu kembali mendekati putraku hm? Apa belum cukup dulu sudah kau sakiti hatinya? Sekarang ketika kau tau dia sudah kembali menjadi dirinya yang kaya dan berkecukupan, kau kembali seakan semua hanyalah ketidak sengajaan. Jangan kau pikir aku tidak tau kalau semua ini hanya rekayasamu untuk mendapatkan simpati putraku yang penyayang itu. Perlu aku ingatkan! Dia akan segera menikah, dan akan aku pastikan tidak ada celah untukmu kembali padanya. Camkan itu, gundik!"
__ADS_1
Nyuttt
Sakit sekali hati Jeni mendengar sindiran pedas dari orang yang mengaku sebagai ibu kandung mantan suaminya itu. Perlahan butiran bening itu meluncur turun juga dari matanya dan meleleh ke bawah pipi sebelum berakhir di atas dress yang dia kenakan.
Bahkan Sonia sudah menjadi orang kesekian yang mengatainya sebagai gundik, hal itu sebenarnya tidaklah salah, karna sejak dulu Jeni memang menjadi simpanan banyak pria untuk bisa memenuhi gaya hidupnya yang hedon dan boros.
"Apa jangan-jangan, kamu kembali hanya untuk menguasai apa yang sudah di miliki putraku bahkan sejak belum berpisah denganmu? Apa kau tidak bisa berkaca? Bagaimana kondisi mu dan putraku yang sudah bagaikan langit dan bumi sekarang? Dulu kau siakan dia saat dia masih begitu mencintaimu, dan kini aku pastikan kau yang akan merasai hal yang sama dengan apa yang dulu di alami putraku." Sonia menekan semua kalimat yang keluar dari bibirnya, darahnya mendidih setiap mengingat perlakukan Jeni yang sempat di ceritakan Axel padanya.
Ibu mana yang tak sakit hati kalau mendapati anaknya di sakiti orang lain? Terlebih lagi orang itu adalah orang terdekatnya sendiri yaitu pasangannya yang seharusnya saling menyayangi dan menghargai namun yang di dapat malah kebalikannya.
"Katakan! Berapa yang kau inginkan? Asal kau harus pergi jauh dari kehidupan anakku, aku tidak mau wanita tak tahu diri seperti mu masih mengganggu hidupnya. Tak bisa kah kau biarkan dia bahagia? Hidupnya kini bukan hanya tentang mu! Kalian sudah bercerai ingat itu! Dan jangan lupakan kalau dia, akan menikah dalam waktu dekat. Dan ku harap kau tidak akan datang untuk merusak segalanya atau aku tak akan segan mencabut kebahagiaan mu dari tempatnya. Ku tidak tau kan? Siapa keluarga yang akan menjadikan Anakku menantu mereka? Mereka adalah keluarga yang sangat berpengaruh, memusnahkan orang sepertimu dari peradaban ini bukanlah hal yang mustahil bagi mereka. Jadi ... ku harap kau bisa tau batasanmu." Sonia menyudahi ucapannya, dan setelah itu beranjak menuju sebuah kamar yang berada tak jauh dari mereka.
Tujuannya yaitu mengambil beberapa gepok uang untuk dia berikan pada Jeni, supaya dia bisa menghilang dari kehidupan putranya yang sudah bahagia.
Tapi Axel lebih dulu sampai ke tempat Jeni duduk dan menyodorkan segelas air padanya.
"Minumlah, supaya kamu bisa lebih tenang."
Jeni menerima air itu dan langsung meminum isinya hingga tandas. Dia perlu meredam semua kemelut yang bergelora di dadanya. Ketika semua rasa sakit dan terhina bercampur di dalam sana.
"Bagaimana kabar Emak dan Abah?" tanya Axel setelah Jeni lebih tenang.
__ADS_1
Mata Jeni melotot mendengar Axel menyinggung kedua orang tuanya, dia lupa kalau sudah dua hari dia belum pulang ke rumah bahkan tidak bisa masuk kerja karna kelakuan bejat si pria buncit yang mengikatnya di kamar hotel.
"Jeni harus pulang sekarang, Bang. Sudah dua hari Abah dan Emak sendirian di rumah, pasti mereka belum makan karena kalau bukan Jeni yang belikan tak ada yang peduli pada kami."