MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 14.


__ADS_3

"Diam kamu laki-laki pembawa sial! Kalo bukan karna menikah dengan kamu pasti hidupku sekarang nggak sengsara kayak gini! Dasar laki-laki nggak guna!"


Degh


 Hati Adam serasa tercubit mendengar makian dari istrinya, selama ini memang dia tau kalau Jeni belum mencintainya dan selalu menerima kelakuan Jeni yang tak pernah menerimanya. Bahkan dia rela tak menyentuh Jeni selama pernikahan mereka, hanya karna menghormati keputusan Jeni. Dia bahkan tak pernah menuntut apapun pada Jeni, namun baru kali ini Jeni dengan lantang meneriakkan kalau dia menyesal menikah dengannya.


"Maaf," lirih Adam sambil menunduk, seluruh tubuhnya serasa lemas namun dia tetap bertahan agar tak terlihat rapuh.


"Apa kamu bilang, Bang? Maaf? Semudah itu kamu bilang maaf? Kamu udah buat hidup hancur dan terkekang dengan pernikahan ini, Bang! Kenapa sih dulu kamu nggak nolak aja waktu di jodohin sama aku hah? Kenapa baru sekarang kamu minta maaf?" maki Jeni lagi, bahkan kali ini dia sampai melempar berbagai macam benda di depannya ke tubuh Adam.


Prak


Prak


Prak


 Berbagai macam botol parfum, handbody, dan lulur milik Jeni berserakan di lantai. Adam hanya diam tak bergeming, dengan ikhlas dia terima semua makian dan lemparan istrinya tanpa berniat membalas.


"Kalau saja waktu itu kita nggak menikah, pasti sekarang aku sudah bahagia sama jodoh pilihanku sendiri, Bang! Kamu paham nggak sih? Kamu itu cuma benalu di hidup aku, Bang! Benalu! Aku benci sama kamu, Bang! Aku benci!" teriak Jeni frustasi bahkan kini semua macam benda di atas mejanya berserakan di lantai, tak peduli walau banyak dari benda itu yang pecah dan tak beraturan lagi bentuknya.


 Jeni menangis di sudut tempat tidur, semua sesak di dalam dadanya dia tumpahkan. Namun tak sedikit pun Adam berani mendekat untuk menenangkannya karna Jeni selalu mewanti-wanti Adam untuk tak menyentuhnya untuk alasan apapun.


"Maaf, maafkan Abang. Abang nggak tau kalau kamu semenderita ini nikah sama Abang, Jen. Maaf," ucap Adam terus meminta maaf.


 Namun Jeni justru kembali melemparnya dengan bantal.


"Stop! Berhenti minta maaf! Maaf kamu nggak akan pernah bisa mengubah hidup aku yang sudah hancur ini, Bang! Nggak akan bisa!"


 Adam menghela nafas dalam. "Kamu masih bisa memulai kembali hidup baru dengan pria yang kamu inginkan, Jen. Bukankah sampai sekarang pun Abang nggak sekalipun nyentuh kamu? Jadi kamu masih suci kan? Dan bisa kamu serahkan ke orang yang kamu cintai."

__ADS_1


 Jeni berdiri dan menunjuk Adam. "Jadi kamu cerein aku sekarang hah? Udah capek kamu ngebiayain hidup aku? Memang dasar licik kamu, Bang!"


 Kali ini Adam memberanikan diri menyentuh kedua bahu Jeni, dan tak mendapat penolakan apapun darinya.


"Abang nggak pernah berniat menceraikan kamu, tapi kalo kamu memang sudah capek, kamu sudah nggak mau lagi hidup dalam pernikahan ini sama Abang. Abang akan pulangkan kamu ke orang tua kamu dengan baik-baik sebagaimana dulu mereka menyerahkan kamu juga dengan baik-baik."


 Adam menyusut sudut matanya saat mengatakan itu, sekilas Jeni bisa melihat ketulusan yang luar biasa di mata Adam untuknya. Namun egonya kembali menepis hal itu dan terus menekankan kalau Adam adalah penyebab dia hidup dalam kemiskinan seperti sekarang.


"Lalu bagaimana dengan hutang itu? Bagaimana kalau bapak pemilik panti itu mengungkit lagi masalah hutang itu ke keluarga ku? Kamu tau kan orang tua aku udah sepuh, mereka udah nggak kuat kerja. Bahkan untuk hidup aja mereka cuma ngandelin kiriman yang dari kamu kan? Tega ya kamu, Bang!"


Lagi Adam memegang bahu Jeni setelah tadi tangannya sempat di tepis saat Jeni membahas hutang.


"Kamu tenang aja, masalah hutang biar nanti Abang yang bakal cicil ke pemilik panti. Jadi kamu dan orang tua kamu bisa bebas."


 Adam berbalik hendak kembali ke dapur dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu bagaimana dengan biaya hidup orang tua ku yang selama ini bergantung sama kamu, Bang?" ucap Jeni lagi.


 Adam hanya memutar kepalanya sedikit tanpa membalikkan tubuhnya.


"Masalah itu, Abang pikir kamu sebagai anak harusnya bisa memikirkannya. Setelah kita resmi berpisah, berarti orang tua kamu bukan lagi tanggung jawab Abang. Maka dari itu, pikirkan lah baik-baik keputusan apa yang akan kamu ambil, istriku ...."


 Adam melanjutkan langkahnya dengan hati yang tak berbentuk lagi, dia sengaja menyebut istriku agar Jeni bisa mengambil keputusan dengan matang. Jika hatinya tersentuh saat Adam memanggilnya demikian berarti besar kemungkinan Jeni sudah mempunyai sedikit ruang di hatinya untuk Adam. Namun jika tidak, maka Adam akan berusaha ikhlas untuk melepas Jeni ke kehidupan yang di inginkannya.


"Kamu jahat, Bang!" teriak Jeni sebelum di susul dengan bunyi pintu kamar yang di tutup dengan kasar.


Brakk


 Adam mengelus dadanya, sambil memejamkan mata setetes air mata jatuh di pipinya.

__ADS_1


"Sungguh aku mencintai kamu dengan tulus, Jen. Tapi kalau kamu tidak lagi menginginkan pernikahan ini, maka aku akan berusaha ikhlas melepasmu walau harus sakit hati ini tanpamu," gumam Adam sambil meneruskan pekerjaannya.


****


 Adam kembali ke gerobak jualannya setelah mengambil lagi nasi goreng di rumahnya. Namun tampak di tempatnya berjauhan beberapa orang sudah menunggu.


"Dari mana sih, Bang?" tanya salah satu pelanggan yang memakai kacamata tebal dan membawa ransel seperti anak kuliahan.


"Maaf, maaf. Tadi ambil stok nasi di rumah, yang bawa tadi pagi habis." Adam tergopoh-gopoh menuju gerobaknya dan mulai menyiapkan beberapa pesanan pelanggan sekaligus.


 Adam bahkan sampai tak sadar ada dua pasang pasang mata yang sejak tadi mengamatinya dari bagian belakang kursi tempat duduk pelanggan.


"Jadi itu orangnya?" bisik seorang pria tua dengan tampilan rapi dan gagah layaknya orang kaya.


"Iya, Pak," sahut pria di sampingnya yang tampak lebih muda dan memakai headset di telinga kanannya, kacamata hitam yang mereka kenakan membuat keduanya tampak keren dan gagah. Berbeda sendiri dari para pembeli Adam yang rata-rata datang dari kalangan mahasiswa dan warga sekitar dengan ekonomi menengah ke bawah, karna harga nasi goreng Adam yang tergolong murah.


"Hmmmm ... aroma ini benar-benar menggiurkan. Aku sampai hampir melupakan tujuan kita kesini hanya dengan mencium baunya, harusnya orang ini tidak menjual nasi goreng di pinggiran seperti ini, tapi di hotel berbintang," celetuk si pria tua berkacamata sembari menghidu aroma nasi goreng yang tengah di aduk Adam di atas wajan.


 Pria muda di sampingnya tampak tersenyum. "Bagaimana kalau kita makan dulu, Pak? Tampaknya anda begitu penasaran dengan rasa nasi goreng itu."


"Hmmm," pria tua itu hanya berdehem tanpa menjawab.


 Adam yang sudah selesai dengan para pelanggannya lekas mendatangi kedua pria di bagian belakang barisan kursi pelanggannya dengan wajah ramah.


"Ada yang bisa saya bantu bapak-bapak? Apa mau beli nasi goreng?"


  Pria tua itu mengangguk mantab.


 Dengan senyum lebarnya yang khas Adam mengangguk sopan. "Mau di bungkus atau makan di sini?"

__ADS_1


"Saya mau semua jualan kamu termasuk gerobaknya dan kamu juga, silahkan hitung berapa harganya."


*Notes: Jangan lupa mampir ke cerita author yang lainnya juga ya. Judulnya: ~TABIR( pelakor itu ternyata adikku)~ dan ISTRI UNTUK SUAMIKU, hanya di Noveltoon ya.


__ADS_2