MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 187.


__ADS_3

"Aaaaaaaaa!"


Terdengar suara teriakan dari dalam ruangan tersebut, sontak membuat tubuh Axel dan Sarah serentak menegang dan langsung berlari masuk ke dalam sana. Ke tengah kegelapan yang tak mendapat sinar kecuali dari bias cahaya temaram dari luar.


"Mas aku ambil senter dulu," tukas Sarah dengan nafas tersengal, lalu kembali berbalik keluar dari ruangan untuk mengambil senter guna penerangan.


Axel kembali melangkah, menajamkan pendengarannya untuk bisa tahu dimana posisi anaknya tadi berteriak. Azkara tak kelihatan, entah karena ruangan yang memang gelap atau memang anak itu tak lagi berada di dekat sana. Padahal tadi Azkara masuk ke dalam ruangan itu belum lama, harusnya dia masih ada di sekitar sana tapi nyatanya nihil, sekarang tak lagi terdengar suara apapun di sekitar.


Klik


Sarah yang baru saja kembali setelah mengambil senter langsung menghidupkannya dan mengarahkannya ke dalam ruangan sembari berjalan mendekat ke arah suaminya.


"Mas dimana Azkara?" tanyanya cemas.


Axel menggeleng lemah. "Entahlah, setelah suara tadi tak terdengar suara apapun lagi di sini."


Sarah histeris, dia memekik tanpa sadar sembari menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Apa maksud kamu, Mas? Di dalam bahkan nggak ada Ayuna, lalu maksud kamu sekarang Azkara juga hilang? Anak kita semua hilang?" cecar Sarah dengan wajah yang basah, hal yang paling dia takuti pada akhirnya terjadi juga.


Axel tak menjawab, hanya ******* berat yang terdengar dari bibirnya. Sarah menyerahkan senter besar itu ke tangan Axel sembari mengusap air matanya kasar.


"Baiklah, sekarang kita tenang dulu. Mas kamu sekarang, cari anak anak di sekitar sini aku yakin mereka belum jauh. Aku akan telepon Papa dan Mama untuk minta bantuan."


Belum sempat Axel menjawab Sarah sudah beranjak dari tempatnya, meninggalkan Axel kembali ke ruang depan guna menghubungi ke dua mertuanya.


"Papa!"


Seruan itu kembali terdengar dari arah bagian ruangan yang lebih dalam, Axel lekas menoleh lalu berjalan cepat menuju sumber suara tersebut.


"Azka! Adam! Ayuna!" serunya memanggil nama anak anaknya, berharap mereka masih ada di ujung ruangan sana dimana dia mendengar suara baru saja.


Hening, tak lagi ada suara ataupun jeritan yang seperti di dengar Axel tadi. Axel mempercepat langkahnya, keningnya berkeringat, berbagai macam rasa berkecamuk dalam benaknya. Takut, cemas dan kesal bercampur menjadi satu. Bahkan dia marah pada dirinya sendiri kenapa tidak menutup pintu rahasia tersebut dengan lebih baik untuk menghindari hal semacam ini terjadi.

__ADS_1


Namun itulah, untung tak dapat di raih malang tak dapat di tolak. Semua yang sudah di gariskan terjadi maka akan terjadi jua bagaimana pun cara menghindarinya.


Axel sampai ke ujung ruangan tersebut, dimana terdapat tangga menuju ke atas di sana. Di rabanya tangga itu, debu mulai menyelimutinya. Kening Axel berkerut, itu tandanya belum ada orang yang menaikinya sejak terakhir dia dan Andrew berada di sana.


"Berdebu, itu artinya tidak ada yang masuk ke ruangan ini. Tapi ... kemana anak anakku? Tidak mungkin mereka bertingkah iseng, anak anakku bukan anak seperti itu," desis Axel menduga duga.


Kretakkk


Saat sedang berpikir tentang hal hal yang mungkin terjadi, sebuah suara mengagetkan Axel. Dari arah belakangnya, Axel berbalik dengan cepat namun tak tampak apapun di sana hanya dinding tanah dengan permukaannya yang lembab.


"Apa itu?" gumam Axel sembari melangkah mendekat, dan mulai meraba permukaan tanah itu.


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


"Bagaimana mungkin?" desisnya lagi, tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Axel menempelkan telinganya ke dinding, dan seperti mendengar suara berisik seperti suara yang tertahan namun tak begitu jelas. Dia masih berusaha menajamkan pendengarannya namun suara yang terdengar masih sama, tidak begitu jelas. Bahkan kini hilang sama sekali.


"Mas!"


Seruan dari Sarah membuyarkan konsentrasi Axel, dia menarik kepalanya dari dinding tanah dan menatap istrinya yang berlari kecil menuju ke arahnya.


"Ada apa sayang? " tanya Axel saat menyadari wajah sang istri memucat.


"Anak anak ... anak anak, Mas!" Sarah berseru.


"Kenapa? Anak anak kenapa? Katakan yang jelas, sayang." Axel sedikit mengguncang ke dua pundak Sarah.

__ADS_1


Tenggorokan Sarah terasa tercekat, ingin menjelaskan keadaan yang sebenarnya namun lidahnya seolah berat untuk di gerakkan. Akhirnya tanpa berkata apa apa Sarah langsung saja menarik Axel menuju keluar dari ruangan tersebut menuju ke rumah utama.


"Loh? Ta- tapi ... tapi anak anak? Bagaimana bisa?k?"


Axel mematung di pintu, dimana kamar anak anaknya berada. Di dalam sana, tampak ketiga anak kembarnya tengah duduk melingkar dengan mainannya masing masing.


Sarah pun menoleh dengan wajah pucat, tatapannya nanar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sungguh di luar dugaan.


"Ini ... ini mustahil! Bahkan tadi Mas masih bisa mendengar suara mereka di dalam ruang rahasia itu," desis Axel seakan tak ingin suaranya mengusik anak anaknya yang tampak masih sibuk dengan mainannya masing masing. Namun anehnya, tak terdengar suara ocehan seperti biasanya dari bibir mungil ketiganya.


Kalut.


Itulah yang saat ini di rasakan pasangan suami istri baru saja mengalami kejadian luar biasa di rumahnya itu. Rumah yang dulu selalu membawa hawa nyaman dan menyenangkan kini mulai berselimut misteri yang belum juga terpecahkan.


Membuat Sarah hampir frustasi di buatnya, jika saja tak ingat akan anak anaknya sudah pasti dia akan memilih untuk meneruskan depresinya.


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki tergesa, saat Sarah dan Axel masih saja tertegun menatap anak anaknya yang sepertinya tidak menyadari atau sengaja tidak ingin menyadari kehadiran orang tuanya di sana.


"Ax! Sarah! seru Sonia sembari mempercepat laju langkahnya dan memeluk Sarah erat.


"Ada apa lagi, Ax? Kamu membuat kami cemas," cecar Andrew sembari memindai tubuh Axel dari atas hingga bawah, lalu melongok sekilas ke dalam kamar si kembar.


Kening Andrew tampak berkerut, karna apa yang di dengarnya dari sang menantu, Sarah tadi tidak sesuai dengan kenyataan yang ada sekarang.


"Anak anakmu ada di dalam? Tapi ... bukankan Sarah tadi bilang kalau si kembar mendadak menghilang?" cecar Andrew lagi, dengan tatapan menuntut.


Axel tak kuasa menjawab, karna diapun tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Bahkan Sarah kini sudah menangis terisak di pelukan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kejadian ini ... Benar benar membuat Papa menjadi de javu, sangat persis dengan apa yang pernah Papa alami dulu. Tepat, saat Papa masih seumuran si kembar," gumam Andrew hendak memaparkan pengalamannya, pengalaman yang jika bisa memilih dia kan meminta untuk tidak pernah mengalaminya saja.


__ADS_2