
"Gus kenapa nggak ikut? Kan lumayan bisa jalan jalan sama Abbas?" tanya Rahman yang tengah bersiap untuk pergi ke sebuah desa yang jaraknya cukup lumayan dari tempat mereka berada sekarang. Mendengar dari cerita orang hatinya desa itu masih asri dengan udara yang sejuk dan warganya yang ramah.
Membayangkannya saja sudah membuat otak fresh.
Gus Musa tersenyum simpul sambil memeluk bocah laki laki di hadapannya yang semakin hari tampaknya semakin lengket saja dengannya itu.
"Saya ada undangan juga dua hari lagi, Man. Makanya saya nggak ikut, lagi pula kan mereka ngundangnya kamu bukan saya haha," tawa Gus Musa berderai.
"Yah, padahal seru ya Gus kalau bisa pergi sama sama. Anggap saja jalan jalan melepas penat di kota," sahut Rahman masih sibuk mengepak pakaian ganti untuknya selama di desa nanti, walau hanya akan berceramah satu hari namun Rahman akan menginap dua hari di sana karna perjalanan yang cukup memakan waktu.
"Kamu saja kali penat, penat menahan rindu yang tak berujung," kekeh Gus Musa, masih asik terus menggoda Rahman.
Rahman tersenyum kecut, namun tak membantah karna apa yang di katakan Gus Musa adalah benar adanya. Dia lelah, penat sekali rasanya terus menerus berharap tanpa jawaban yang pasti, namun dia tetap yakin Gusti Allah SWT pasti akan mengabulkan permohonannya entah kapan waktunya.
"Jam berapa jemputannya datang, Man?" Gus Musa bangkit dan menggandeng Abbas yang tengah asik mengunyah permen susu.
Rahman menatap arloji di tangannya sekilas.
"Mungkin sekitar setengah jam lagi, Gus. Kenapa?"
"Ya sudah, kalau begitu saya ke dalam dulu ya nanti kalo kamu sudah mau berangkat panggil saya dulu." Gus Musa berbalik dengan di ikuti Abbas.
"Injih, Gus." Rahman menyahut santai.
Setelah selesai mengepak beberapa lembar pakaiannya juga perlengkapan untuk nanti selama di sana agar tidak merepotkan, Rahman memutuskan untuk menunggu jemputan dari desa tersebut di masjid, beri'tikaf sambil berdzikir memuji asma Allah SWT.
Rahman tampak sangat fokus memutar tasbih di tangannya, hingga tak sadar kalau sejak tadi ada orang yang memperhatikannya dari luar masjid. Mata orang itu berkilat, entah apa maksudnya namun dengan langkah pelan dia berjalan menuju Rahman tanpa suara.
"Maaf siapa ya?" suara santer Gus Musa mengagetkan orang itu, dengan cepat dia berbalik dan hendak pergi namun secepat itu pula Gus Musa meraih kerah baju belakangnya dan menariknya hingga pria itu tak bisa bergerak kemana mana.
Rahman yang tersadar pun segera bangkit untuk melihat siapa orang itu.
"Kenapa, Gus?" tanyanya bingung.
__ADS_1
Gus Musa menunjuk orang yang kini berdiri membelakangi mereka tanpa bisa berjalan kemana mana itu, namun kaki dan tangannya tak berhenti bergerak sebagai upaya membebaskan diri. Namun sayang, semua itu tak ada gunanya karna Gus Musa tak akan melepaskannya sampai dia tau tujuannya pria itu.
"Hei, anda siapa?" tanya Rahman sambil berjalan sampai bisa melihat wajah orang itu.
Pria itu sejenak menyeringai, namun saat Rahman sampai di depannya dia merubah raut wajahnya seolah ketakutan.
"Tolong jangan sakiti saya, saya ke sini hanya di suruh," ucapnya bergetar.
Kening Rahman sontak mengernyit.
"Di suruh? Di suruh siapa maksud kamu?" tanyanya.
"Saya di minta pimpinan saya untuk menjemput seseorang bernama Rahman."
Gus Musa yang juga mendengar itu langsung melepas pria itu hingga jatuh berlutut di lantai.
"Kamu orang yang mau jemput ustadz Rahman?" tanya Gus Musa mencoba meyakinkan.
Pria itu mengangguk sambil mengusap lehernya yang terasa nyeri akibat gesekan yang terjadi saat Gus Musa menarik kerah bajunya tadi.
"Ma- maafkan saya, saya tadi hanya takut salah orang." pria itu mencoba menjelaskan.
Rahman memberi kode Gus Musa untuk tidak meneruskan lagi perdebatan ini, karna tak ada gunanya juga sebab pria itu juga sudah mengakui kesalahannya.
Singkat cerita, kini Rahman sudah berada di mobil yang di kemudikan oleh pria tadi. Sepanjang jalan pria itu hanya diam tak ada barang sepatah katapun yang keluar dari lisannya.
"Apa tempatnya jauh sekali, Mas? Saya dengar bisa sampai lima jam lebih perjalanan ya?" tanya Rahman mencoba membuka percakapan, bosan juga dia terlalu lama berdiam diri seperti ini.
"Tidak," sahut pria itu singkat sesingkat-singkatnya.
Karna heran dengan jawabannya, Rahman mencoba memperhatikan wajah pria itu diam diam, karna dia juga merasa ada yang aneh saat ini. Karna setahunya, orang orang yang di tugaskan menjemputnya selama ini pasti bersifat supel dan sangat suka bertanya ini dan itu padanya secara pribadi.
Saat pria itu lengah karna terlalu sibuk dengan setirnya, Rahman diam diam memperhatikannya dan bertapa terkejutnya ia saat mendapati wajah pria itu terdapat sebuah bekas codet memanjang dari kening sebelah kiri hingga pipi kanannya. Menjelaskan sekali kalau pria ini pasti pernah terlibat perkelahian yang dahsyat. Juga tubuh yang tampak mempunyai tato di leher dan tangannya membuat Rahman semakin sanksi kalau pria itu berasal dari desa.
__ADS_1
Saat tengah asik berfikir tentang berbagai kemungkinan di kepalanya, mobil tiba tiba berhenti di depan sebuah rumah bergaya Victoria modern. Entah rumah siapa itu Rahman pun baru melihatnya.
"Sudah sampai, ayo turun," tegas pria tadi sambil membuka pintu mobil dan meninggalkan Rahman sendiri sebelum dia sempat bertanya apapun.
Walau bingung akhirnya Rahman turun dan memindai situasi sekitar yang sangat asing baginya saat ini.
"Hei! Jangan melamun saja cepat masuk!" seru pria tadi yang ternyata masih menunggu Rahman di pintu masuk rumah itu.
Rahman bergegas karna dirinya pun ingin tahu kenapa dia berada di sini saat ini, dan bukan di desa seperti yang sebelumnya di katakan sebagai tempat jadwal ceramahnya.
Setelah Rahman masuk, atmosfer yang berbeda segera menyambutnya, dan yang lebih mengejutkan lagi akhirnya Rahman bisa melihat ibunya lagi di sana, di tengah ruangan namun dalam kondisi tertidur di atas sebuah brankar tampak sangat tenang dan damai namun malah membuat Rahman gelisah.
Tak lama seorang pria yang selama ini begitu di benci Rahman muncull dari atas tangga dengan senyuman seringai liciknya.
"Bagaimana, Robin? Kau suka kejutanku?"
Wajah Rahman menegang tangannya mengepal erat dengan buku buku jari yang memutih.
" Apa maksud semua ini, Uncle Edwin?" desisnya marah.
****
Sementara itu.
"Berhenti menatapku seperti itu, gadis sial!" seru Alam ketus saat mendapati asiyah tengah mengamati kegiatannya yang sedang menghitung uang di atas meja.
Asiyah membuang muka, sesak sekali dadanya saat ini mendapatkan kehidupan yang tak pernah dia inginkan selama ini.
"Jangan bertingkah, kau tahu aku menikahimu hanya karna penasaran. Lagipula aku tidak mencintaimu, aku bahkan tak akan menyentuhmu. Tapi kau, harus tetap memberi kepuasan padaku dengan cara lain tanpa berhak mencampuri urusan ku!" hardik Alam sambil bangkit berdiri dari duduknya setelah menyimpan uang itu di laci.
Asiyah tampak gelisah saat Alam kini sudah kembali berdiri di hadapannya dengan tatapan menyeringai dan tangan yang sudah siap di tubuh bagian bawahnya.
"Ayo, lakukan lagi tugas utamamu seperti tadi malam, cantik," gumamnya dengan suara serak.
__ADS_1
Sedangkan Asiyah kini hanya bisa menangis dengan tubuh gemetaran.