MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 203.


__ADS_3

"Hei, ada apa? Kamu menangis terlalu banyak, sudahlah jangan membuat Mami terus menerus ikut sedih. Kita semua kehilangan, bukan hanya Aish. Mami tahu itu, Nak tapi menunjukkan pada Aish seperti ini juga bukan tindakan yang benar," nasihat Amelie menghapus air mata di wajah Asy.


  Asy masih sesenggukan, di sekanya air mata yang tak henti meleleh dari pelupuk matanya. Lalu dia mengangkat wajahnya menatap mata amelie lekat.


"Tapi, asy merasa bersalah. Semua ini terjadi karena keteledoran Asy waktu itu, Mi. Ini semua salah Asy, asy tidak pantas di maafkan, huhuhu ."


 Lekas Amelie menutup mulut Asy, menggelengkan kepala sebagai isyarat agar dia diam.


 Asy mengangguk walau dia bingung dengan sikap ibunya itu. Setelah itu , Amelie bergerak memeluk Asy kembali, di elusnya ringan lengan Asy memberi kekuatan.


"Sudahlah, Nak berhenti membahas hal itu, Mami merasa lebih bersalah kalau tidak bisa membuatmu berhenti menyalahkan diri sendiri. Sungguh, kamu tidak salah, sayang tidak. Berhentilah bicara begitu , ya?"


"Tapi, tapi ... bagaimana dengan Aish, Mi? Dia begini karna Asy ..."


"Ssshhhh, sudahlah diam dan jangan bicara lagi. Mami tidak mau lagi kamu menyalahkan diri sendiri begini, sudah cukup oke?" sela Amelie menempelkan telunjuknya di bibir.


 Asy dengan terpaksa mengangguk, walau dalam hatinya belum sepenuhnya bisa berdamai dengan dirinya sendiri pasca perkara yang membuat semua ini bermula itu.


"Ada apa ini, mi?"


 Amelie dan Asy terkejut bukan main, di belakang mereka rupanya sudah berdiri Aish dengan wajah sembab dan mata yang memerah. Entah sejak kapan dia berdiri di sana, namun sekarang wajah Asy dan Amelie tampak tegang.


"A- Aish? Kamu ... sejak kapan ada di sini, Nak? Bukannya tadi kamu tidur, sayang?" tanya amelie berusaha tampak biasa saja.


 Aish berjalan mendekat, lalu langsung duduk di tengah tengah antara Amelie dan Asy.


"Aish bosan sendiri di kamar, makanya Aish keluar dan melihat Mami hanya memeluk Asy. Mami tidak adil, padahal yang sedih sekarang kan Aish." Aish berpura pura merajuk dan memanyunkan bibirnya.


 Merasa Aish tak mendengar apa yang tadi dia bicarakan dengan Asy membuat Amelie menghembuskan nafas lega. Sekarang dia bisa bersikap biasa di depan anaknya yang tengah berduka itu.


"Ouh, begitu rupanya. Baiklah, anak anak Mami sayang. Sekarang Mami akan memeluk kalian berdua sekaligus," pungkas amelie tersenyum lebar.


 Mereka berpelukan, berusaha menghibur hati yang terasa lara setelah kepergian sang pujaan. Namun satu yang bisa di sadari aish, perubahan wajah Asy yang sangat begitu kentara.


"Asy kenapa tegang begitu?" tanya Aish setelah Amelie melerai pelukannya.


 Asy langsung salah tingkah, dan berusaha tersenyum menutupi kegugupannya.


"Ah, eh ... ti ... tidak apa apa kok, Aish."


 Amelie sendiri juga ikut tegang mendengar pertanyaan Aish, apa dia sudah salah duga terhadap anaknya itu?


****


 Di tempat lain.


 Axel tengah mondar mandir di depan sebuah kamar rawat rumah sakit, di dalam Herman tengah terbaring lemah karna tembakan yang menebus lengannya ternyata beracun. Axel tak memprediksi itu, dan kini yang harus menanggung akibatnya adalah anak buah kepercayaan sang ayah karena terlalu lama dia bawa ke rumah sakit.


"Papa, kapan kita pulang dan ketemu Mama dan Ayuna?" rengek Adam memegangi celana jeans yang di kenakan Axel, sedang Azkara tampak tertidur di kursi tunggu rumah sakit.


 Axel meraih Adam dalam gendongannya, wajahnya yang sangat mirip dengan dirinya waktu kecil itu membuat Axel sangat bersyukur memiliki anak anaknya.


"Sebentar lagi ya, Nak. Kita tunggu oom Herman sembuh dulu, jadi nanti pulangnya sama sama, ya?"


 Adam tampak mengerucutkan bibirnya, namun kepalanya tampak mengangguk pasrah.


"Papa, kenapa kita nggak bawa Rio dan mamanya pergi sama kita? Kasihan loh mereka, Pa tinggal di sana banyak orang jahatnya," timpal Adam lagi, yang kini sudah berpindah ke pangkuan Axel dan memainkan kancing baju sang ayah.


 Dahi Axel sontak berkerut mendengar keinginan anaknya.


"Orang jahat? Orang jahat yang bagaimana maksud Adam, Nak?" tanyanya ingin mengorek informasi lebih dalam.


 "Orang jahat yang kaya di tivi tivi itu, Pa. Yang suka datang ke rumah dan bentak bentak Mamanya Rio," jawab Adam apa adanya.


 Axel berpikir sejenak, namun otaknya terlalu buntu untuk mencari jalan keluar sekarang. Masih banyak hal yang harus dia urus selain urusan rumah tangga orang lain dan apapun yang menyangkut di dalamnya. Bahkan kondisi Herman sekarang pun berada di luar kendalinya, karna tujuannya datang ke pulau itu semata mata karna ingin menjemput anak anaknya.


"Nanti kita bahas lagi ya, masalahnya sekarang kamu sama Azkara sudah di tunggu sama Mama dan Ayuna. Jadi lebih baik nanti setelah om Herman sembuh kita pulang ke rumah dulu ya, Adam sudah kangen kan sama Mama sama Yuna?" tandas Axel menengahi.


 Adam mengangguk dengan penuh semangat, dan langsung melupakan perkataannya mengenai Rio tadi.


 Tak lama, seorang dokter muncul dari arah dalam ruangan tempat Herman di rawat. Axel langsung menyongsongnya dan berharap jawaban yang memuaskan darinya.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi teman saya, dok?"


 Dokter itu tersenyum ramah. "Alhamdulillah, racunnya bukan racun yang sangat berbahaya. Dan masih bisa kami tangani, sekarang kondisi saudara Herman sudah lebih baik dan bisa di bawa pulang."


"Alhamdulillah, " desah Axel penuh rasa syukur.


 Setidaknya sekarang satu masalah selesai dan dia bisa lekas pulang ke rumah.


Setelah membangunkan Azkara dan menyelesaikan semua urusan di rumah sakit tersebut. Axel langsung meminta perawat membantunya membawa Herman ke mobil, membaringkannya di jok belakang dan meluncur menuju rumah dimana Rio tinggal sebelumnya.


"Kok kita ke sini lagi, Papa?" tanya Azkara.


"Iya, ada yang Papa lupakan kemarin. Kalian tunggu di sini sama om Herman sebentar ya, Papa mau ke sana dulu."


 Azkara dan Adam mengangguk, lalu Axel pun keluar menuju rumah itu dengan menggunakan Hoodie dan celana training biasa.


Tok


Tok


Tok


 Axel mengetuk pintu, dan tak menunggu lama Lira keluar dari dalam rumahnya dan menatapnya dengan sorot ketakutan.


"Siapa kamu? Mau apa ke sini? Jangan ganggu kami, kami tidak akan bicara apa apa pada siapapun."


 Kening Axel berkerut mendengarnya, apa maksud perkataan Lira barusan?.


****


 Suasana mendung dan berawan yang menyelimuti kota sore itu, di manfaatkan oleh Jeni untuk duduk di teras rumahnya. Bertemankan secangkir teh dan buku novel kesukaannya, dia mengelus perut buncitnya yang sudah masuk bulan kelahiran itu dan menatap langit temaram yang menyejukkan.


"Lagi apa, dek?" sapa Gus Musa yang keluar dari rumah karna mencari sang istri di dalam kamar dan tidak mendapatinya.


"Eh, mas. Nggak ngapa ngapain, cuma ngadem aja. Enak di sini, dingin." Jeni tersenyum manis sekali.


 Gus Musa ikut duduk di sebelah istrinya, dan turut menatap langit yang mulai menggelap di atas sana.


 Jeni mengangguk. "Iya, mas. Kira kira sekarang gimana ya kabarnya?"


 Gus Musa mengukir senyum di wajah yang mulai bercambang tipis itu. "Semoga saja masih baik baik saja dan akan terus baik baik saja, dek."


 "Amiiinnn," timpal Jeni balas tersenyum.


Baru saja Jeni mengatupkan bibirnya usai mengamini ucapan Gus Musa, tampak sebuah mobil merapat ke halaman rumah ndalem', mengetahui penjaga pos mengizinkan pemilik mobil masuk itu artinya orang tersebut memang sudah mereka kenal, jika belum biasanya petugas jaga pos akan meminta pemilik kendaraan memarkirkan kendaraannya di parkiran depan pagar, tidak masuk ke halaman.


"Assalamu'alaikum," sapa seorang wanita cantik bergamis putih dengan jilbab warna pink yang serasi dengan tas yang dibawanya tersenyum pada Jeni.


"Wa'alaikumsalam, ya Allah Asy ... akhirnya ke sini juga, baru aja Mbak sama Gus Musa ngomongin kamu," celetuk Jeni sambil berjalan mendekati Asy dan menyambutnya dengan pelukan hangat.


Asy tersenyum menanggapi, dari sorot mata dan bahasa tubuhnya a Jeni menyadari ada sesuatu yang terjadi.


"Ayo masuk, kamu sama Rahman?" tanya Jeni mengalihkan lebih dulu perhatiannya.


 Asy kembali mengangguk, di susul seorang ustadz yang memutuskan tinggal di rumah mertuanya setelah menikahi wanita pujaannya.


"Ustadz Rahman, ayo silahkan masuk jalan malu malu," seloroh Jeni mengundang tawa Rahman yang kala itu kompak mengenakan pakaian berwarna putih senada dengan pakaian sang istri.


"Ah, Mbak Jen bisa aja. Saya di luar aja, Mbak enak adem." Rahman menolak halus, lalu langsung bergabung dengan Gus Musa yang kembali memintanya duduk di tempatnya tadi.


 Jeni mengangguk setuju, lalu mengajak Asy untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Umi mana, Mbak?" tanya Asy setelah masuk ke dalam ruang tamu ndalem', tempat dimana dia dulu sering menghidangkan minuman dan cemilan untuk tamu pondok yang datang menemui Abah kyai Hasan atau Gus Musa.


"Ada, di atas lagi tidur siang sama Abah. Sudah kamu santai saja ya, Mbak bikin minum dulu."


"Nggak usah repot-repot, Mbak." Asy berusaha menolak.


"Halah, nggak repot. Sudah tunggu di situ, Mbak cuma sebentar," kilah Jeni dan langsung menghilang di balik tirai pembatas dapur.


"Gimana kabar orang tua dan saudara kamu, As? Sehat?" tanya Jeni setelah mengantarkan minuman pula untuk suaminya dan Rahman yang lebih suka duduk duduk di teras rumah.

__ADS_1


 Asy mengulas senyum kecil, senyum yang terasa hampa dan terpaksa.


"Alhamdulillah, semua sehat, Mbak. Kecuali ...."


"Kecuali?" Kening Jeni mengernyit.


 Asy membuang nafas panjang lebih dulu, lalu kembali menatap lekat ke arah Jeni.


"Suami Aish, meninggal dunia Mbak."


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun, kapan? Kenapa? Kamu kok nggak ngasih tahu, Mbak? Kan tahu begitu Mbak bisa takziah," cecar Jeni terkejut, bukan apa apa dia sudah menganggap Asy sebagai adiknya sendiri, maka semua keluarganya pun akan dia anggap demikian. Kabar itu, bagaikan petir yang menyambar di kepalanya saat ini. Walau sebenarnya Jeni pun belum mengenal dengan baik suami aish yang waktu itu dia bertemu saat acara pernikahan mereka berlangsung.


 Titik titik bening mulai terbentuk di pelupuk mata Asy, menyadari ada yang tak beres. Jeni berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Asy, memeluknya dari samping memberinya kekuatan.


"Ceritanya panjang, Mbak. Tapi ... tapi Asy takut mau cerita sama Mbak," Isak Asy tergugu.


 " Kalau begitu simpan saja dulu, kamu bisa cerita kapanpun kamu siap. Mbak akan setia mendengar setiap cerita kamu, ya ." Jeni masih mengelus lembut lengan Asy.


 Asy mengangguk pelan sekali, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan berusaha meredam sakit yang tengah dia rasakan.


 Beberapa saat saling diam, Asy terkesiap ketika mendengar suara langkah kaki dari lantai atas, yang artinya itu adalah langkah kaki Umi Nafisah. Umi berwajah lembut dan teduh itu berjalan dengan mata menatap lurus pada tangga di depannya hingga tak menyadari adanya Asy di ruang tamu rumahnya.


"Jen, dimana Abbas?" tanyanya malah menanyakan cucunya lebih dulu bahkan beliau belum berbalik dan menatap menantunya.


"Ada di pondok putra, Umi. Tadi katanya mau main sama temen temennya," sahut Jeni.


"Umi, coba lihat dulu siapa yang datang," imbuh Jeni lagi, membuat Umi Nafisah yang sedang mengambil air di dispenser langsung berbalik dan menatap tamunya.


 Cukup lama hingga ia bisa mengenali siapa gerangan yang ada di sana, tengah duduk sembari mengulas senyum tipis padanya.


"Subhanallah, neng Asy?"


Asy mengangguk, menghampiri Umi Nafisah dan mencium tangannya takzim.


"Gimana kabar Umi?" tanya Asy dengan suara parau, walau sekuat apapun berusaha tak menunjukkan kesedihannya tapi ternyata tak semudah itu, kegelisahan itu tak dapat di tutupi.


"Alhamdulillah, baik. Kamu kok lama nggak main ke sini? " ujar Umi Nafisah mengelus puncak kepala Asy.


 Asy tersenyum simpul, namun urung menjawab pertanyaan Umi Nafisah. Memilih kembali ke tempatnya semula duduk bersebelahan dengan Jeni.


"Kalian ngobrol saja ya, Umi mau bikinin minum untuk Abah," pungkas Umi Nafisah kala menangkap gelagat yang tak biasa dari asy.


 Asy dan Jeni kompak mengangguk, dan Umi Nafisah pun berjalan meninggalkan mereka berdua di sana. Memberi ruang untuk mereka bercerita.


"Mbak," panggil Asy setelah merasa lebih baik ketimbang sebelumnya. Di tatapnya dalam netra Jeni yang juga membalas tatapannya lembut.


"Minum dulu, As biar lebih enak ngobrolnya," sela Jeni.


 Asy mengangguk, mengambil gelas minumannya dan meminumnya hingga tandas setengahnya.


"Sudah lebih baik?" tanya Jeni lagi.


 "Sudah, terima kasih ya Mbak."


"Ada yang mau kamu sampaikan, Asy?" tanya Jeni hati hati, karna melihat gelagat asy yang seolah ragu untuk bicara.


Asy menelan ludahnya dengan susah payah, di kumpulkannya keberanian untuk mengungkap apa yang sejak awal memang menjadi niatnya bicara dengan Jeni.


"Mbak, sebelumnya berjanjilah untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun."


 Jeni mengangguk pasti, dan menyentuh lutut Asy untuk meyakinkannya.


"Mbak janji, ceritakan lah. Siapa tahu Mbak bisa membantu mencari solusinya," pungkas Jeni lembut.


"Mbak." Air mata Asy kembali menetes. "Bagaimana kalau aku sudah membunuh seseorang?"


"Hah? Apa?" Jeni tersentak ke belakang, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Hal yang sangat amat mustahil di lakukan oleh seorang perempuan manis seperti Asy, Jeni kenal asy dan dia yakin Asy pasti tak akan berbuat demikian.


"Iya, Mbak ... aku , aku menjadi penyebab kematian seseorang," sahut Asy semakin terisak, walau bada suaranya dia buat selirih mungkin, hingga hanya Jeni yang bisa mendengarnya.


 Jeni menggelengkan kepalanya cepat. "Itu nggak mungkin, Asy jangan mengada ada."

__ADS_1


"Tapi memang begitulah kenyataannya yang ada , Mbak. Asy harus bagaimana sekarang? Hidup Asy jadi tidak tenang, apa Asy harus menyerahkan diri ke polisi?"


__ADS_2