
Sarah melangkah gontai menuju ke taman belakang rumahnya, pikirannya tiba tiba ruwet segala hal yang ada tiba tiba bisa menjadi sebuah kemungkinan.
Surat dari Asiyah, kenyataan hidup Aisyah, belum lagi kejadian dengan paman Edwin membuatnya mencoba menghubungkan semua itu. Sepertinya ada benang merah yang menghubungkan semuanya, namun apa? Itu yang tengah coba di pecahkan Sarah saat ini.
"Apa mungkin, jangan jangan ...."
"Kamu lagi apa, honey?"
Sarah terpaksa menggantung ucapannya sendiri karena tiba tiba dari arah belakangnya Nyonya Ellen datang dengan sebuah limun di tangannya. Limun yang tampak segar dengan es batu yang mengambang di dalamnya.
"Kamu mau?" tanya Nyonya Ellen saat melihat Sarah menatap limun di tangannya sambil menelan ludah.
Sarah tersenyum dan mengangguk dengan semangat. "Yes please, Momy."
Dengan cepat gelas limun itu berpindah, Sarah yang sejak tadi merasa haus karna terlalu banyak memikirkan kemungkinan kemungkinan di pikirannya pun langsung menyesap minuman segar itu hingga tersisa setengah gelas saja.
Nyonya Ellen tersenyum hangat dan ikut duduk di sebelah putrinya.
"Oh, Mom. Sorry, aku menghabiskannya tanpa sengaja," ucap Sarah dengan wajah penuh sesal.
"Hei, kenapa wajahmu begitu? Ini cuma limun, Sayang. It's okay," pungkas Nyonya Ellen tak mempermasalahkannya sama sekali.
"Aaahhh, kenapa kau baik sekali, Mom?" desah Sarah sambil memeluk tubuh langsing Nyonya Ellen dan menjatuhkan kepalanya di dadanya.
Nyonya Ellen mengelus rambut Sarah yang berada di pelukannya, meresapi saat saat dulu saat Sarah masih bayi dan sering tidur di dekapannya seperti sekarang. Tanpa sengaja sebuah kelebat ingatan berputar di benak nyonya Ellen, ingatan yang selama ini berusaha di buang dan di lupannya, namun sayangnya tak pernah berhasil.
"Mom?" panggil Sarah membuat Nyonya Ellen seketika tersentak.
Merasa ibunya terkejut hanya karna sebab panggilan kecil Sarah langsung bangun dan menatap nyonya Ellen dengan bingung.
"Kenapa, Mom? Momy terkejut?" tanyanya heran.
Nyonya Ellen berusaha mengatur ekspresi wajahnya dan memaksakan tersenyum di hadapan Sarah, walau senyuman yang di lihat Sarah tampak kaku dan tegang.
"Ah, ti- tidak, honey. Momy hanya ... hanya ...."
__ADS_1
"Mom, boleh Sarah tanya sesuatu?" sela Sarah sungguh sungguh.
Nyonya Ellen balas menatap mata anaknya lekat. "Y- ya? Tentu saja, tanyakanlah. Apa itu?"
"Apa Momy ingat gadis yang di bawa Jeni ke rumah sakit saat menjenguk Sarah dan triplets dulu?"
Nyonya Ellen tampak berpikir sejenak, mungkin mencoba mengingat di sela ingatannya yang campur aduk.
"Entahlah, Momy tidak begitu yakin." Nyonya Ellen menyerah untuk mengingat saat di dapatinya ingatannya di momen itu tergantikan dengan tragedi datangnya Edwin ke rumah sakit.
"Lalu ... apa Momy tahu asal usul Aisyah?" imbuh Sarah lagi.
Lagi, nyonya Ellen tampak berpikir. Tapi kali ini sepertinya ingatannya mulai berbelit.
"Ah, gadis itu ... ya, Momy ingat. Saat itu bahkan Momy sempat menanyainya tentang orang tuanya, dan kamu tahu? Ternyata dia bisa karate," kekeh Nyonya Ellen saat mengingat percakapannya dengan Asiyah.
Kening Sarah membentuk kerutan dalam, karna jawaban ibunya tersebut terdengar sangat rancu.
"Tapi, Mom. Sarah sedang membahas Aisyah saat ini," cetus Sarah dengan wajah heran.
"Ah, entahlah. Momy rasa sat ini Momy tidak bisa konsentrasi, begini saja ... kita lupakan saja hal itu, sekarang fokuslah pada apa yang mau kamu tanyakan, sayang."
Sarah mendesah dan terpaksa mengangguk walau sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa yang di ketahui ibunya, ekspresi keterkejutan sn keterangan dari Nyonya Ellen sebelumnya seperti menegaskan kalau sebenarnya wanita berusia setengah abad itu mengetahui sesuatu.
"Apa yang mau kamu tanyakan, honey?" suara Nyonya Ellen terdengar lembut menusuk ke pendengaran Sarah, mengejutkan Sarah yang beberapa detik lalu tanpa sadar malah melamun.
"Tadi, Momy bilang kalau saat di rumah sakit Momy sempat bercakap-cakap dengan teman Jeni itu kan?" tanya Sarah.
Nyonya Ellen mengangguk. "Iya, benar. Bahkan mertuamu, Sonia juga dengar percakapan kami saat itu."
Sarah manggut-manggut tanda mengerti. "Lalu, bagaimana? Apa Momy tahu siapa orang tuanya gadis itu?" tanya Sarah setelah merasa menemukan celah untuk mendapat jawaban yang di inginkannya.
Nyonya Ellen tampak terperanjat mendengar pertanyaan Sarah, sesaat dia membuang pandangannya ke arah lain menghindari tatapan mata sarah yang menuntut.
"U- untuk apa kamu mau tahu?" nyonya Ellen malah balik bertanya tanpa menatap Sarah sama sekali, jemarinya tampak memainkan ujung bajunya ciri khas Nyonya Ellen saat sedang di landa gelisah.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya penasaran saja. Bukankah Momy bilang dia jago karate? Sepertinya dia masih punya hubungan keluarga ya dengan kita?" celetuk Sarah berusaha terdengar santai.
"Ya, hanya itu yang Momy tahu. Dia sabuk hitam karate, dia besar di pesantren dan untuk orang tuanya ... maaf, tapi Momy tidak tahu. Dia tidak menjawab saat itu," ucap nyonya Ellen lirih namun masih cukup terdengar di telinga Sarah.
"Apa ... dia juga ada hubungan keluarga dengan kita, Mom?" desak Sarah.
Nyonya Ellen malah menatap Sarah penuh tanya. "Kenapa kamu berpikir begitu?"
Sarah menggelengkan kepalanya kaku. "entahlah, hanya menebak."
"Tapi ... sayangnya tidak, dia bukan keluarga kita." Nyonya Ellen menjawab pasti.
"Are you sure, Mom?"
Nyonya Ellen mengusap wajahnya dengan raut frustasi, lalu menatap Sarah dengan tajam seakan mengatakan kalau Sarah tak seharusnya bertanya hal itu.
"Yes! Iam sure!" Nyonya Ellen langsung berdiri dan hendak melangkah pergi dari bangku taman itu. Namun lagi lagi suara Sarah menghentikan langkah kakinya.
"Mom, apa Momy tidak memperhatikan kalau gadis itu sangat mirip dengan Aisyah?"
Langkah nyonya Ellen sontak terhenti dan dia berbalik menatap Sarah lagi. Wajahnya tampak tegang, seolah memang sedang menutupi sesuatu.
"Maybe, no!" sahutnya lalu benar benar melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
Sarah masih terpekur di tempatnya, bertanya tanya dengan sikap yang baru saja di tunjukkan ibunya. Sarah mendesah berat, dan membuang nafasnya dengan kasar seakan meminta semua beban di dadanya pergi secepatnya.
"Hah, Mom. Kenapa semuanya jadi rumit begini? Bukankah akan lebih baik kalau Momy mau jujur mengatakan siapa orang tua gadis itu, aku pun rasanya seperti familiar dengan wajahnya, tapi siapa dan dimana pernah berjumpa aku lupa. Momy sepertinya tahu sesuatu, tapi kenapa dia seperti ketakutan saat membahas ini? Apa mungkin benar kalau gadis itu dan kami masih punya hubungan keluarga? Di kota ini, sangat sulit menemukan orang yang bisa mencapai sabuk hitam karate selain dari bagian keluarga Momy. Ah, semua ini membuat penasaran saja," keluh Sarah sambil mencungkil rerumputan di bawah dengan ujung sandalnya.
Sarah kembali menuju kamarnya dengan langkah gontai, semua tanya di dalam benaknya menari nari mencoba mencari dan merangkai jawaban sendiri. Namun nihil, semuanya malah seperti semakin ruwet dan tak terkendali.
Sarah membuka pintu kamar dan tampaklah suaminya Axel kini tengah duduk di atas tempat tidur dengan posisi kepala sedikit menunduk.
"Sayang, ini surat siapa?" tanyanya sambil menunjukkan surat dari Asiyah yang terlupakan oleh sarah.
"I- itu ...."
__ADS_1