MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 57.


__ADS_3

 Bulan berlalu, kini usia kehamilan Sarah sudah memasuki bulan ke tujuh. Malam ini akan di adakan acara tujuh bulanan untuk mendoakan kehamilan Sarah agar di beri kelancaran hingga tiba waktunya melahirkan.


 Semua orang tampak sibuk mengatur acara, lalu lalang orang yang bertugas untuk mengatur dekorasi, konsumsi dan segala kebutuhan lainnya tampak tak kunjung surut.


"Mas, kamu dimana?" panggil Sarah mencari suaminya. Perutnya yang membuncit besar itu tampak akan jatuh kapan saja.


 Axel berlari tergopoh-gopoh mendapati istrinya yang berjalan sambil berpegangan pada dinding.


"Ya ampun, Sayang. Kan udah Mas bilang jangan ke mana-mana sendiri. Perut kamu sudah besar sekali sayang, kalo jatuh gimana? Udah kamu duduk aja ya," ujar Axel lembut sambil menuntun Sarah kembali menuju ranjang.


 Nafas Sarah nampak ngos-ngosan, maklumlah bayi kembar yang sangat aktif di perutnya itu seperti selalu bermain di dalam sana. Tak ada jeda hingga Sarah selalu merasa tak nyaman bagaimana pun posisinya.


"Mas, pinggang ku pegel," rengek Sarah sambil memutar tubuhnya.


 Axel tersenyum dan langsung memijat belakang punggung hingga pinggul istrinya yang kini tampak semakin melebar itu. Tapi Axel tidak mempermasalahkannya, justru Sarah semakin tampak mempesona di matanya. Di tambah akan hadirnya tiga bayi kecil yang akan melengkapi kebahagiaan mereka nantinya.


"Udah enakan, Sayang?" tanya Axel setelah beberapa saat memijat dan Sarah tampak tak bersuara sambil berbaring miring.


"Sayang?" ulang Axel karna Sarah tak kunjung menyahut.


 Perlahan, Axel bangkit dan melihat wajah istrinya yang ternyata tertidur tanpa sengaja itu. Wajahnya tampak lelah, mungkin karena membawa tiga bayi sekaligus di dalam rahimnya. Membuat semua aktivitas yang di lakukan Sarah menjadi tidak nyaman untuknya.


"Tuan muda," panggil seorang perempuan berpakaian daster yang sudah pudar warnanya membawa segelas teh di tangannya.


"Ya? Oh Jen, sini bawa kemari tehnya."


 Ya, dialah Jeni. Tuan Bryan yang membawanya pulang ke rumah untuk menjadikannya pembantu di rumah Sarah. Sembari merawat anaknya, dia lah yang bertanggung jawab atas semua urusan rumah karna Tuan Bryan tak ingin kehamilan putrinya sampai terganggu kalau harus mengerjakan tugas rumah.


 Awalnya Jeni menolak jika harus di rumah Sarah, dia takut tak akan bisa menjaga perasaan Sarah apalagi dia dan Axel pernah mempunyai hubungan, namun Tuan Bryan malah mengancamnya jika berani menolak dan macam-macam maka mereka akan mengambil paksa anaknya dan memisahkan mereka.

__ADS_1


  Walau Nyonya Ellen awalnya menentang, tapi akhirnya luluh juga karna bujukan Tuan Bryan yang ingin Jeni membayar semua kejahatannya dulu pada Sarah. Begitulah, hingga saat ini Jeni bekerja di rumah Sarah. Namun setiap semua pekerjaannya selesai dia akan kembali ke rumah belakang yang memang di sediakan untuknya agar tidak tinggal menyatu dengan Sarah.


" Saya permisi dulu, Tuan." Jeni berbalik hendak meninggalkan kamar Sarah setelah meletakkan cangkir teh hangat itu ke nakas.


"Baiklah, jangan lupa tutup kembali pintunya istri saya baru saja tidur," tukas Axel sambil menyelimuti Sarah yang kini tampak sudah lelap itu.


 Jeni mengangguk dan kembali meneruskan langkahnya keluar kamar, saat hendak menutup pintu tanpa sengaja dia melihat Axel tengah menjatuhkan sebuah kecupan mesra di pipi istrinya.


Nyutt


 Rasanya ada yang tercubit di dalam hati Jeni, tapi dia harus sadar siapalah dia sekarang. Hanya seorang pembantu yang tak boleh memimpikan hal-hal di luar nalar atau di luar jangkauannya.


Ceklek


 Pintu tertutup seiring dengan air mata yang jatuh menetes dari mata Jeni.


"Sungguh luar biasa sakitnya ternyata, apa begini rasanya dulu Mbak Sarah waktu mendapati aku dan Mas Bima keluar berdua dari kamarnya? Dan sekarang, hanya dengan melihat mantan suamiku yang menciumnya saja hatiku rasanya sakit sekali, padahal mereka sudah resmi menikah. Balasan yang luar biasa sekali, Mbak. Bahkan kamu tidak melakukan apapun dan hanya tertidur pun sudah bisa menyakiti hati ini."


 Seorang bayi mungil yang tampak tertidur di atas ayunan sederhana menggeliat saat Jeni masuk ke rumah dengan langkah terburu-buru. Lalu menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan menangis sejadi-jadinya.


"Bang Adam! Kembalilah, Bang! Aku nggak sanggup selama ini terus melihat kemesraan kalian! Hatiku sakit, Bang! Di mataku kamu itu masih Bang Adam suamiku yang lembut dan penyayang. Tapi kenapa sekarang semua itu di nikmati wanita lain, Bang? Aku belum ikhlas! Aku nggak ikhlas, Bang!"


 Jeni menangis meraung, sampai bayinya pun ikut menangis keras.


"Tujuh bulan sudah setiap hari aku melayani kalian seakan tidak ada apa-apa. Tapi hari ini rasanya sakit sekali, Bang. Kenapa harus jadi begini?"


 Jeni mengambil bayinya dari dalam ayunan, dan menimangnya sebentar sampai dia tenang dan Jeni mulai menyusuinya.


 "Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi saja, setelah uang kita cukup, mari kita pergi dari sini."

__ADS_1


****


 Acara tujuh bulanan Sarah berlangsung dengan sangat meriah, dengan di bantu Axel, Sarah menyelesaikan semua prosesi acara dengan baik dan tidak mengalami banyak kendala.


 Setelah semua acara selesai, para tamu pun mulai menikmati hidangan. Sementara dua sejoli itu kini tengah beristirahat di sofa empuk yang di letakkan di tengah tempat acara untuk Sarah beristirahat sambil menerima tamu yang ingin mengucapkan selamat pada mereka.


"Mas, aku mau puding," pinta Sarah menunjuk ke sebuah meja prasmanan yang berisi panganan dari jenis dessert .


"Siap, ratuku. " Axel mengangguk dan berdiri hendak menuju meja prasmanan itu.


 Namun, saat bersamaan Jeni lewat sambil menggendong anaknya menggunakan jarik.


"Jen!" panggil Axel bernada datar.


 Ya, karna di hatinya sudah tak ada lagi Jeni. Semua tempat sudah di isi oleh Sarah dan calon buah hati mereka.


"Saya, Tuan muda." Jeni mendekat sambil menundukkan kepalanya.


 Bayi berusia tujuh bulan yang ada dalam gendongannya tampak menggapai ingin di gendong Axel.


"Tolong ambilkan puding untuk Nyonya muda, saya tunggu di sana." Axel menunjuk tempat Sarah dan langsung beranjak meninggalkan Jeni.


 Jeni mendesah saat bayinya merengek karena ingin di gendong Axel, selama ini di tempat itu bahkan tak ada satu orang pun yang mau menimang atau mengajak bicara bayinya. Padahal bayi itu sangat kah menggemaskan, berbeda dengan calon bayi Sarah yang bahkan sudah sangat di puja bahkan sejak dalam kandungan.


 Mengabaikan semuanya, Jeni bergegas mengambilkan puding yang di inginkan Sarah kemudian membawanya ke atas panggung di mana Sarah dan Axel berada.


"Ini pudingnya, Tuan Nyonya." Jeni membungkuk seraya menyerahkan sebuah nampan berisi beberapa jenis puding pada Sarah.


 Bayi Jeni masih merengek karna kembali melihat Axel yang justru sibuk memotong puding untuk Sarah. Sarah menarik tangan Jeni untuk mendekat dan berbisik di telinga.

__ADS_1


"Sepertinya bayimu menginginkan seorang ayah, kenapa tidak kau carikan untuknya? Lihatlah, dia terus saja menggoda suamiku."


__ADS_2