
"Lalu, apa hubungannya semua itu dengan apa yang terjadi sekarang, Pa?" tanya Axel lagi, mencoba menghubungkan semua yang sudah di jelaskan sang ayah dengan semua kejadian yang ada.
Andrew menunduk, sembari mengenang semua yang pernah dia alami dulu karna kekejaman ambisi Kakak sepupunya itu. Dimana dia pun harus rela menjadi korban yang bahkan hampir saja merenggut nyawanya saat itu.
"Pa, Papa menangis?"
Tepukan tangan axel di pundaknya membuat Andrew tersentak, sejenak dia larut dalam ingatan lamanya dulu yang membuatnya bahkan masih trauma hingga kini.
"Ah, tidak maaf . Papa terbawa perasaan," kilah Andrew menghapus jejak air mata di pipinya yang sudah terlanjur jatuh.
"Maaf kalau membuat Papa tidak nyaman, tapi apa yang terjadi sekarang juga perlu kesaksian Papa untuk bisa mendapat jawabannya bukan?" ujar Axel pelan, penuh pengertian.
Andrew mengangguk.
"Kita keluar dulu, tempat ini tidak terlalu nyaman untuk bercerita."
Axel menurut, lalu membimbing Andrew yang tiba tiba menjadi limbung untuk keluar dari sana.
"Paku saja pintu itu, Ax. Untuk berjaga jaga agar tidak ada yang bisa keluar masuk ke sana," titah Andrew setelah mereka sampai keluar dan Axel sudah mendudukkannya ke sofa ruang tengah.
Axel kembali menuruti perintah sang ayah, kembali ke sudut garasi dan memaku pintu yang terbuat dari kayu itu dengan tiga paku sekaligus. Setelahnya dia kembali lagi ke tempat dimana Andrew duduk menunggu, tampak di sana sang Mama, Sonia tengah membantunya minum.
"Pa, Ma."
Axel duduk di sebelah Andrew, sembari menunggunya selesai dengan minumnya. Bisa di tebak kalau saat ini Andrew merasa terguncang sebab ingatan lama yang di paksa muncul sebab kejadian yang menimpa cucu cucunya tadi.
"Apa yang terjadi, Ax? Kenapa papamu bisa lemas begini? Tidak biasanya dia begini." Sonia bertanya dengan nada cemas.
Axel menarik nafas dalam, melirik sekilas ke sang ayah yang kini malah tampak pucat pasi seperti kehabisan darah.
"Papa ... ingin menceritakan apa yang papa tahu tentang almarhum Papa Bryan, Ma."
"Apa?" mata Sonia langsung melotot bahkan tanpa sadar dia meninggikan suaranya di depan Axel, sesuatu yang bahkan belum pernah dia lakukan setelah mereka kembali berkumpul sebagai keluarga.
Axel tertunduk dalam, tak berani menatap balik wajah sang Mama yang tampak berang.
"Ma, kenapa kamu berteriak pada anak kita?" Tegus Andrew dengan nada tak suka.
. Sonia terhenyak sesaat setelah sadar dia meminta maaf pada Axel walau sebenarnya itu juga bukan salahnya.
__ADS_1
"Tidak apa, Ma. Axel yang salah karna sudah memaksa Papa bercerita, ax tidak tahu kalau akan jadi seperti ini. Sepermya cerita itu terlalu mengguncang jiwa Papa," tukas Axel pelan.
"Tidak, Nak." Andrewm menyentuh pundak Axel. "Tapi ... karna ini mungkin juga akan membuat kamu terguncang nantinya, sebab sekarang hal itu mulai terjadi pada anak anakmu."
"Pa, apakah harus menceritakannya pada Axel?" sela Sonia cepat, raut wajahnya tampak menyiratkan kekhawatiran.
Andrew memegang tangan istrinya lembut dan mengangguk. "Tidak apa, supaya dia bisa mengantisipasi jikalau terjadi hal yang sama dengan yang dulu aku alami."
Sonia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
Axel menatap ke dua orang tuanya dalam diam, sudah bisa di tebak ya kalau yang akan di ceritakan andrew adalah hal besar yang mungkin saja akan membuat tak hanya Andrew tapi juga dia yang akan terguncang nanti.
"Jadi, begini ceritanya, Nak. Dengarkan dan simaklah baik baik, mungkin saja jawaban dari semua pertanyaan mu ada di dalam kisah lama ini."
*Flashback.
Malam yang pekat menyambut, Andrew muda yang kala itu baru saja pulang dari rumah temannya untuk mengerjakan pr bersama berjalan santai menuju rumahnya yang hanya berjarak sekitar lima rumah dari rumah temannya.
Tugas matematika yang menurutnya sulit bagi anak kelas satu sekolah dasar sepertinya bisa di kerjakan dengan mudah di rumah temannya yang kakaknya adalah seorang guru les.
Sesampainya di rumah, Andrew langsung masuk ke kamar. Mencuci kaki dan tangan lalu bersiap tidur, tapi sebuah suara aneh di belakang dinding lemari pakaiannya membuatnya terus terjaga.
"Apa itu? Berisik sekali tidak biasanya?" gumam Andrew kecil sembari beranjak turun dari ranjangnya dan melangkah pelan menuju ke tempat dimana lemari pakaiannya berada.
Kretekkk
Kretekkk
Suara seperti dinding yang di cungkil kembali terdengar, Andrew semakin melangkah mendekat namun tak bisa dia pungkiri kalau sebenarnya dia pun takut saat ini.
"Siapa di sana?" ucap Andrew memberanikan diri.
Tak ada jawaban, hanya suara suara aneh tadi yang terus terdengar semakin kuat dan keras. Bahkan kini terdengar suara seperti pintu yang terbuka perlahan.
Langkah kaki Andrew tersurut mundur, ingin dia berlari secepatnya ke pintu dan memanggil ke dua orang tuanya yang telah telah terlelap di kamarnya yang tak begitu jauh dari kamarnya berada.
Namun belum sempat Andrew melaksanakan niatnya, seseorang sudah menyembul dari balik lemari pakaiannya, bahkan lemari itu kini sudah bergeser ke depan seiring masuknya sosok misterius tersebut.
Kamarnya yang remang karna kondisi kamar yang lampunya sudah di matikan membuat Andrew tak bisa melihat siapa gerangan orang yang masuk ke kamarnya. Tenggorokannya bahkan terasa tercekat hanya untuk berteriak memanggil orang tuanya, hingga tanpa sadar tiba tiba tubuh kecilnya sudah melayang di udara menuju tempat yang dia sendiri tak tahu di mana.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaa!" jerit Andrew muda saat baru saja membuka mata dan mendapati ruangan penuh benda tajam dan rantai rantai yang berkarat di hadapannya. Tangan dan kakinya terikat, dia tak bisa bergerak selain berteriak karna hanya mulutnya saja yang masih bebas.
"Diamlah," seru seseorang yang rupanya berdiri di belakang Andrew.
Dengan susah payah Andrew berbalik, dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang ada di sana. berdiri tegak dengan tangan memegang sebuah golok tajam mengkilat tanpa rasa takut sedikitpun. Padahal usianya hanya beberapa tahun saja di atas Andrew, dia lah Bryan muda, yang saat itu terjadi usianya bahkan baru 12 tahun.
"K- kak Bryan?" ucap Andrew yang tiba tiba merasa gugup, bagaimana tidak selama ini dia bahkan tidak dekat dengan saudara sepupunya itu yang terkenal dingin dan jarang bergaul di antara keluarga namun sangat di segani karna sifatnya yang sangat mirip sang ayah, datar dan dingin namun berwibawa.
"Akhirnya setelah sekian lama kau ku dapatkan juga ya, sepupuku yang sok baik," kekeh Bryan sembari berjalan mendekat masih dengan go lok di tangannya, terayun ayun mengikuti langkah kaki dan tangannya yang semakin mendekat padanya.
Andrew gemetar, tatap matanya terus mengikuti arah langkah Bryan yang terus mendekatinya. Walau masih anak anak tapi Andrew tahu, bahaya tengah mengintainya.
"Ka- kakak mau apa?" desisnya ketakutan.
Bryan berhenti tepat di depan Andrew, menyeringai sinis dan mencondongkan tubuhnya tepat ke depan Andrew sembari mengacungkan go lok mengkilat itu ke bawah lehernya.
"Kau tanya apa mauku? Apa kau sedang ketakutan adik sepupuku?" seringainya lebar, membuat Andrew semakin ketakutan hingga air mata tanpa di perintah sudah jatuh membasahi wajah putih kemerahannya.
"To- tolong jangan sakiti aku, Kak," cicit Andrew memohon.
Dia terus mundur saat go lok di tangan Bryan terus mendekat ke lehernya.
"Ahahhaa, tenang saja adikku. Aku tidak akan melakukan hal yang melebihi batas, paling banyak hanya ... menjual organ tubuhmu ku rasa," gelak Bryan muda yang merasa kalau apa yang di katakan nya adalah hal biasa, padahal itu merupakan pembicaraan yang mengerikan bahkan bagi orang dewasa sekalipun.
"Huhuhu ... Papa, Mama tolong aku," Isak Andrew mulai menangis, membayangkan tubuhnya di belah dan di ambil isinya membuatnya semakin gemetar ketakutan, apalagi teringat dia adalah anak satu satunya ke dua orang tuanya pasti mereka akan merasa sangat kehilangan. Memikirkan hal itu membuat ketakutan di hati Andrew semakin menjadi jadi.
"Huahahahha," gelak Bryan menertawai Andrew, dia bangkit hingga go lok yang tadinya mengacung di depan leher Andrew ikut terangkat menjauh membuat Andrew bisa sedikit bernafas lega walau belum bisa sepenuhnya lega.
"Menangis lah, aku sangat suka mendengar suara tangisan! Setelah ini akan aku dengar jeritan dari bibir tipismu yang selalu membuat orang orang memujimu ini, hahahah. Pasti akan menyenangkan mendengarnya, " sambung Bryan lagi sembari menyentuh bibir Andrew dengan tangannya yang entah kenapa kala itu berbau sangat anyir hingga rasanya Andrew ingin muntah.
Andrew merasa tenggorakannya tercekat, kala dinginnya permukaan go lok itu kembali menempel di permukaan lehernya. Dengan tatapan ngeri dia menatap sang pelaku, Bryan yang saat itu menatapnya penuh nafsu membunuh .
"Tidak, belum sekarang. Aku akan memberimu kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, tapi dengar ini baik baik. Aku akan mengembalikan mu ke kamar mu, bersikaplah seakan tidak ada apa apa. Tapi ... nanti saat orang tuamu lengah, masuklah ke kamar mereka dan ambil sebuah map berwarna merah dari lemarinya. Tak peduli bagaimana caramu mengambilnya kau harus mendapatkannya dan menyerahkannya padaku. Jika tidak, lehermu ini yang akan menanggung akibatnya kau tahu?"
tutur Bryan tepat di depan wajah Andrew yang sudah pucat pasi karna ketakutan.
"Jawab aku! Apa kau dengar? Kau tidak mau kan golok ini sampai melukai kulit mulusmu yang seperti perempuan ini? " Bentak Bryan kesal.
Andrew tersentak, lalu dengan terpaksa karna ketakutan dia memilih mengangguk menuruti perkataan Bryan lebih dulu.
__ADS_1
"Jika sampai ada orang lain yang mengetahui hal ini aku akan menburumu, dan menjualmu ke luar negeri."
Bryan menyeringai setelah mengancam.