MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 223.


__ADS_3

Asy mengangguk samar lalu kembali menunduk memperhatikan laci yang tertutup tersebut, mendadak keningnya kembali berkerut saat mendapati sebuah paku kecil tampak menancap di sudut laci yang membuatnya tidak dapat di buka. Siapa yang melakukannya?


 Saat tengah asik berpikir terdengar suara Salma memanggil mereka arah depan kamar, yang lagi lagi membuat Asy semakin merinding karenanya.


"Asy, Nak Rahman. Ayo kita makan dulu, ibu sudah masak rendang daging untuk kita semua."


 "Iya, Bu." Rahman yang menjawab panggilan Salma, karna melihat Asy malah diam tak bergeming di tempatnya.


 Karena khawatir istrinya kenapa kenapa Rahman mencoba menggoyangkan bahu Asy, terasa sekali jika Asy langsung tersentak begitu tangan Rahman menyentuh pundaknya.


"Kakak? Ngagetin saja sih," protes Asy sembari bangkit dan memegangi dadanya yang berdebar kencang.


 Rahman terkekeh pelan. "Habisnya sayangku kenapa melamun pagi pagi? Itu ibu sudah memanggil ngajak sarapan bersama. Ayo kita keluar, nggak enak kalau sampai di tungguin," ujar Rahman sembari menarik tangan Asy.


 Asy menoleh ke arah laci itu lagi lalu mengangguk dan mengikuti langkah Rahman keluar dari kamar.


 Dan di sana benar saja , Salma dan Pardi tampak sudah duduk di meja makan menghadap hidangan yang tampak terlalu berat untuk menu sarapan .


"Nah, akhirnya pasangan ini keluar juga. Aayo sini duduk kita makan sama sama," sambut Pardi dengan penuh keramahan dan kehangatan, namun semua yang terjadi justru malah membuat Asy semakin curiga ada sesuatu di balik semua ini.


"Ayo, Asy makan ya kamu mau makan pake apa, Nak. Sudah lama loh kamu nggak makan masakan ibu, pasti kamu kangen ya kan?" ucap Salma yang tanpa bertanya langsung saja mengambilkan nasi untuk Asy dan meletakannya di hadapan Asy.


 Namun saat Salma hendak memasukkan potongan rendang daging yang tampak menggiurkan dan menggugah selera itu, Asy menahan tangannya.


"Ini siapa yang masak?" tanya Asy tiba tiba, membuat Salma dan Pardi sontak saling pandang.


"Ya ibu dong yang masak, siapa lagi? Memangnya bapak kamu bisa masak? Aneh kamu ini kayak nggak pernah tinggal sama ibu dan bapak saja sih, Asy." Salma terkekeh lalu meletakan potongan daging yang tampak tebal dan besar itu ke piring Asy.


 Asy menelan ludah, bayangan seseorang yang sedang memotong daging dan tulang belulang yang serba besar semalam melintas di benaknya, membuatnya mual seketika.


Mual yang menderanya membuat Asy menutup mulutnya seketika, lalu berlari menuju kamar mandi dan menutup pintunya rapat rapat.


"Hueeekkkkk! Hueekkkk!" Asy memuntahkan semua isi perutnya di lantai kamar mandi, lalu menyiramnya dengan cepat setelah itu melanjutkan dengan mencuci wajahnya berulang kali.

__ADS_1


 Asy merinding, di bukanya sedikit lengan bajunya dan tampak sekali di sana jika semua bulu tangannya berdiri.


"Ya Allah, ada apa sebenarnya ini?" batin Asy mulai ketakutan.


 Tok


Tok


Tok


 Tak lama pintu kamar mandi di ketuk, dan terdengar suara yang sangat akrab di telinga Asy memanggilnya dengan nada cemas.


"Asy? Dek? Kamu nggak papa?"


Tak ingin bicara di dalam kamar mandi, Asy memilih membuka pintu dan langsung mendapati wajah cemas Rahman di depan sana.


"Ya Allah, kamu pucat sekali. Kamu sakit?" tanya Rahman bertubi tubi sembari memapah tubuh Asy yang lemas kembali ke meja makan.


 "Di minum dulu, Nak." Salma menyodorkan segelas air putih yang baru saja dia tuang ke hadapan Asy.


"Sudah lebih baik?" tanya Rahman setelah segelas penuh air itu berpindah ke lambung Asy.


 Asy mengangguk, pandangannya masih sedikit berkunang-kunang. Lalu mulutnya mulai terasa tidak enak dan dia menginginkan sesuatu yang berbeda.


"Kak, aku pengen roti selai kacang." Asy berbisik pada Rahman, sebab sekilas di lihatnya Pardi dan Salma tengah menikmati makanan mereka dengan lahapnya.


 Rahman yang juga baru saja ingin memasukkan potongan daging rendang ke mulutnya menjadi urung dan memilih meletakkannya kembali ke piring.


"Di sini belinya dimana?" balas Rahman berbisik pula.


 Asy tampak berpikir sejenak. "Di minimarket yang baru buka itu?"


 Rahman manggut-manggut paham. "Ya sudah, Kakak pergi belikan dulu ya."

__ADS_1


 Rahman bangkit dari duduknya dan hendak melangkah menuju wastafel untuk mencuci tangan.


",Loh? Nak Rahman kok sudah makannya?. Kenapa tidak di habiskan dulu? Dagingnya tidak enak ya? Padahal itu daging kualitas terbaik loh," ucap Salma tiba tiba, yang sukses membuat Asy kembali merasa mual sebab mendengar kata daging tersebut.


 "Iya, Nak Rahman duduklah dulu dan habiskan makanannya. Tidak baik bukan buang buang makanan?" timpal Pardi yang kembali menyendok rendang ke dalam piringnya yang sudah di penuhi nasi untuk ke tiga kalinya, Asy saja ngeri melihat porsi sarapan bapaknya yang sejak dulu tidak berubah, selalu saja banyak seperti kuli.


 Rahman yang sudah selesai mencuci tangan berbalik dan tersenyum. "Punyanya Rahman biar di situ saja dulu, Bu Pak. Rahman mau keluar ke minimarket depan sebentar."


"Mau apa ke sana, nak?" tanya Salma tak kalah lembut dari Pardi, namun jika ini Asy tak heran sebab Salma memang seseorang yang lembut dan baik pada siapa saja.


"Mau beli roti sama selai kacang buat istriku, Bu." Rahman menatap Asy sembari mengulas senyum miring, membuat Asy bisa bisanya tersipu di kondisi seperti ini.


"Ya sudah, pergilah kalau begitu. Nanti biar ibu simpankan makanan kamu yang belum habis itu," pungkas Salma.


 Rahman mengangguk, lalu setelah berpamitan pada semuanya dia melangkah ke depan dan menaiki motor milik Pak kades yang masih di pinjamnya.


 Perjalanan menuju minimarket yang baru buka itu tak terlalu jauh rupanya, beberapa warga yang berpapasan dengan Rahman menegurnya ramah, membuat Rahman merasa betah berada di sana dimana sepertinya semua orang tampak saling menghargai. Namun entahlah yang lainnya, itu hanya penilaian Rahman semata karna seseorang yang watak dan sifatnya ajaib bukankah akan selalu ada?.


 Dalam perlahan pulang ke rumah pardi tanpa sengaja Rahman melihat kerumunan orang orang yang tengah berbincang serius di pinggir jalan. Tampak pula Pak kades di antara warga tersebut.


"Assalamualaikum," sapa Rahman seraya menghentikan motornya tak jauh dari kerumunan warga yang mayoritas adalah bapak bapak itu.


"Wa'alaikumsalam, " sahut mereka hampir bersamaan.


"Maaf, ini ada apa ya bapak bapak? Kok berkumpul di pinggir jalan begini?" tanya Rahman sopan, sembari berjalan mendekat ke arah kerumunan yang perlahan memberinya jalan itu.


 Rahman sampai di dekat pak kades, raut wajah Pak kades dan warga lain yang tampak sama tegang membuatnya cemas jikalau ada kabar tidak baik lagi yang akan di temuinya.


"Ah, begini ustadz .... sebenarnya, ini memang masalah warga kampung ini saja, tapi ... berhubung kami semua juga sudah buntu untuk memecahkan masalah ini, maka tolong beritahu kami jika saja ustadz punya jalan keluarnya untuk kami," ucap Pak kades mewakili warga lainnya yang tampak manggut-manggut setuju.


 Rahman mengangguk matanya tak lepas memandangi wajah Pak kades yang kian risau.


"Insyaallah, jika saya punya cara saya akan sampaikan, Pak. Memangnya ini ada apa kalau saya boleh tahu lebih dulu."

__ADS_1


 Pak kades mengangkat wajah menatap mata Rahman, tampak gelayut harapan di mata yang mulai menua itu padanya.


"Seseorang sudah mencuri mayat Juli dengan membongkar makamnya."


__ADS_2