MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 204.


__ADS_3

Jeni tersentak mendengar ucapan Asy, perempuan cantik yang kini tengah menangis di sisinya itu kelihatan sangat putus asa.


"Kamu, bicara begini pasti ada alasannya kan Asy?" tanya Jeni belum sepenuhnya percaya.


Asy mengangguk, lalu kembali menyambung ceritanya.


"Sebenarnya waktu itu ...."


Asy menjelaskan semua yang terjadi di kala ada orang asing yang mengaku sebagai teman kerja Satrio meminta menjenguknya, padahal beberapa saat sebelumnya Amelie sudah memperingatkannya agar tidak menerima tamu siapapun yang berniat menjenguk satrio.


Namun semuanya terlambat, orang yang mengaku teman Satrio itu sudah lebih dulu masuk dan langsung mengambil tempat duduk di sisi Satrio. Awalnya Asy merasa biasa saja kala pria itu mengucapkan kalimat prihatin pada Satrio walau Satrio dalam keadaan tidak sadar waktu itu, namun mungkin satu yang luput dari pandangan Asy, kala pria itu menyentuh tangan Satrio dan berpura pura mengajak bicara Rahman yang kala itu juga menemaninya.


Dan setelah itu pria itu langsung buru buru pamit sambil memegangi lengan Hoodie yang di kenakannya.


"Semua salah Asy, Mbak. Harusnya asy bisa lebih tegas melarang orang itu masuk waktu itu, jadi secara nggak langsung Asy lah penyebab kematian Satrio bukan, Mbak?" desah Asy lagi, tampak sangat terpukul dan putus asa.


Kening Jeni mengernyit, dia berpikir sebentar untuk mencerna ucapan Asy sebelumnya.


"Tapi, menurut Mbak itu bukan salah kamu, Asy. Kamu tidak sengaja melakukan itu, kamu nggak dengan sengaja membiarkan orang itu masuk kan? Jadi, ya sebenarnya ini juga nggak bisa di katakan salah kamu. Kamu nggak salah dalam hal ini," pungkas Jeni mengungkapkan apa yang baru saja menjadi buah pikirannya.


"Apa benar begitu, Mbak?" Asy menoleh dengan mata basah.


Jeni mengangguk dan tersenyum simpul, membantu Asy menyeka air mata di sudut matanya dengan selembar tisu yang dia ambil dari atas meja.


"Iya, sekarang tenanglah dan jangan di pikirkan lagi. Kalau orang lain yang mendengar ucapan kamu tadi, bisa bisa kamu beneran di bawa ke kantor polisi dan masalahnya jadi panjang bagaimana? Memangnya kamu mau bertengkar dengan saudari kamu hanya karna hal yang jelas jelas bukan salah kamu?" balas Jeni pula.


Asy menggeleng pelan, sangat pelan hingga tak terlihat jika tidak berada dalam posisi dekat.


"Baiklah, sekarang Mbak harap kamu tidak perlu lagi sedih akan hal itu. Percayalah semua orang yang kamu tanya pun akan mengatakan hal yang sama dengan yang Mbak katakan saat ini. Semua bukan salah kamu, Asy." Jeni menggenggam tangan Asy lembut.


Asy menoleh dan tersenyum kecil.


****


Setelah puas bercengkrama dengan Jeni dan Gus Musa, Asy dan Rahman langsung mohon pamit undur diri untuk kembali ke rumah mereka.


Di dalam mobil, Asy tampak lebih banyak diam. Tak banyak yang dia lakukan selain memeriksa ponselnya sesekali dan menatap ke arah luar jendela mobil dengan tatapan tak dapat di artikan.


"Neng? Kamu kenapa?" tanya Rahman membuka percakapan lagi di antara mereka.


"Hmmm? Nggak papa kok, Mas." Asy menjawab sekenanya.


"Tumben sekali diam saja? Biasanya juga kamu cerewet kalau pergi berdua sama Mas?" kekeh Rahman menggoda Asy yang belakangan selalu terlihat murung dan kurang bersemangat lagi.


Padahal hal yang selalu menarik untuk di lihat Rahman setiap hari adalah senyum dan tawa sang istri yang belakangan ini menjadi sangat jarang sekali tampak. Bukan dia tak tahu, Rahman tahu semua yang mengganjal di hati Asy, namun dia juga tak bisa berbuat banyak. Toh sekarang Satrio sudah tenang di alamnya, tak perlu membuatnya semakin berat melangkah dengan terus mempermasalahkan dirinya di dunia yang fana ini.


"Nggak papa, Mas." Lagi, Asy menjawab dengan malas malasan.


Rahman mendesah, raut wajahnya menunjukkan kekecewaan. namun tak serta merta dia melontarkan kekecewaannya langsung pada sang istri. Rahman memilih diam dan terus saja beristighfar di dalam hati agar terhindar dari sifat pemarah.


Setelah beberapa menit berlalu dalam diam, akhirnya Rahman melihat sebuah gerai bakso yang tampak lumayan ramai pengunjung. Karna tahu bakso adalah makanan kesukaan sang istri Rahman langsung berinisiatif menghentikan mobilnya di pelataran warung bakso tersebut.


"Kok berhenti di sini, Mas? Katanya mau pulang?" tanya Asy kebingungan, kepalanya celingukan melihat ke sekitar tempat dimana mereka berhenti sekarang.


"Iya, kita makan dulu ya. Mas sudah laper banget," sahut Rahman sembari mengulas senyum.

__ADS_1


Asy pasrah, dia mengikuti langkah kaki suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam warung bakso itu, dan tanpa bertanya apa yang ingin dia pesan Asy langsung saja duduk di salah satu kursi dan mengambil sebungkus kerupuk jangek panjang lalu memakannya dengan hati masygul.


"Mas sudah pesen kesukaan kamu, Neng." Rahman mengambil tempat duduk di depan Asy.


"Terima kasih banyak ya, mas," sahut Asy memaksa bibirnya mengulas senyum. Senyum yang sudah lama tidak dia tampakkan di hadapan sang suami tercintanya itu.


Rahman juga tampak senang sekali kini istrinya sudah lebih ceria, pikirnya mungkin asbab bercerita pada Jeni tadi maka Asy bisa lebih tenang sekarang. Bersyukur Rahman menuruti keinginan sang istri untuk berkunjung ke pondok dan bertemu Jeni juga Gus Musa, dengan itu dia bisa kembali melihat senyum wanita tersayangnya kembali.


"Tersenyumlah terus, neng. Kamu cantik kalau senyum," celetuk Rahman membuat wajah Asy seketika memerah.


Asy menunduk malu, menyembunyikan wajahnya di antara dada dan meja makan di depannya. Hingga akhirnya sang penjual bakso menghidangkan makanan pesanan mereka. Dua mangkok bakso urat dan satu mangkok khusus penuh tetelan yang merupakan kesukaan Asy. Tampak matanya berbinar senang melihat potongan tetelan yang ukurannya tak main main itu, air liur Asy seolah terbit walau sebelumnya dia tak begitu merasa lapar.


Tanpa membuang waktu lagi, Asy gegas memakan bakso bagiannya. Tak lupa di tambahkan tetelan yang membuat selera siapapun tergugah melihatnya. Makan malam yang nikmat hingga Asy rasanya bisa melupakan semua masalah yang sejak kemarin bercokol di dalam dadanya.


Yah, semudah itu membeli kebahagiaan perempuan. Tidak perlu barang mahal dan mewah, hanya sedikit perhatian dan pengertian yang tepat bisa menguapkan semua gundah dan sesak di dadanya entah kemana.


****


Sementara itu .


Axel menggeser tubuhnya lebih ke kiri, tubuhnya seakan mati rasa belum lagi mata yang rasanya ingin terpejam rapat dan menikmati sejenak waktu tidur dan istirahatnya.


Namun sayangnya kondisi tak memungkinkan untuk itu, jalanan yang panjang dan lengang menunggunya di depan sana. Belum terlihat tanda tanda adanya rest area yang terdekat .


Menahan lelah, Axel menatap ke arah belakang. Dimana anak anaknya, Azkara dan Adam tengah tertidur pulas sambil saling berpelukan. Axel tersenyum kecil, lalu memelankan laju mobilnya dan sedikit menggerakkan lehernya yang kaku.


"Biar saya gantikan menyetirnya, bos." Herman yang duduk di bangku paling belakang rupanya sejak tadi memperhatikan Axel, dengan bersusah payah dia bangkit dan hendak berpindah ke depan untuk menggantikan Axel.


"Tidak tidak, kamu berbaring saja di sana. Saya bisa kok, sebentar lagi juga ada rest area, nanti kita berhenti sebentar kemudian sholat," tolak Axel halus.


Herman kembali merebahkan tubuhnya ke jok belakang yang sudah di beri sebuah bantal oleh Axel. Walau tubuhnya masih terasa kurang enak namun Herman tak mau menunjukkan hal itu pada Axel, takut malah menambah bebannya saja. Jadi sekuat tenaga di tahan semua rasa tidak enak dan nyeri hebat yang terkadang mengganggu itu dari pandangan Axel.


Beruntung tak lama mobil melambat, dan mulai terdengar suara berisik orang orang dari rest area. Anak anak terbangun, langsung menatap ke arah jendela mobil dengan wajah sayu.


"Kita turun dulu ya, anak anak. Kita mau sholat dulu di masjid itu," tunjuk Axel pada sebuah mushola yang tampak ramai oleh orang orang yang juga sama tengah beristirahat seperti mereka.


Azkara dan Adam menurut saja, tak banyak bicara karena sepertinya juga masih mengantuk.


"Kalau kamu belum kuat tunggu di sini saja, man. Saya nggak lama kok, nanti kita makan di warung itu saja," imbuh Axel kala melihat anak buahnya itu tampak kesulitan saat ingin keluar dari mobil.


"Nggak papa, bos. Saya ikut saja, kebetulan juga mau ke kamar mandi." Herman menarik senyum.


Axel mengalah, dia membantu Herman menurunkan kursi jok tengah dan membantunya turun. Setelah itu mereka semua langsung menuju mushola untuk sholat berjamaah bersama.


Usai sholat, Axel membawa mereka ke dalam sebuah warung makan yang lekatnya tak begitu jauh dari mobil mereka. Memesan beberapa menu makanan dan mulai makan dengan tenang.


"Permisi, apa saya boleh bergabung. Tidak ada tempat kosong lagi di sini," ucap seorang pria yang tak di kenal, membawa sebuah nampan berisi makanan dengan wajah kebingungan.


Axel memutar pandangan, benar apa yang di katakan pria itu tak ada tempat kosong lagi di mana mana. Jadi tanpa pikir panjang lagi Axel bergeser sedikit memberi ruang untuk pria itu duduk bersama mereka di tempat makan lesehan tersebut.


"Silahkan, duduk saja "


"Terima kasih." Pria itu duduk dan mengulas senyum yang tampak aneh di mata Herman yang sejak tadi memperhatikannya, namun sayangnya hal itu luput dari pandangan Axel yang kini lebih fokus pada makanannya.


"Mau kemana, Mas?" tanya pria itu setelah semua hidangan di depan mereka habis, hanya tinggal es krim yang di pegang anak anak yang masih di habiskan oleh mereka.

__ADS_1


"Mau ke kota J, pulang." Axel menjawab apa adanya, sembari menyeruput kopi panas yang tadi sempat di pesannya juga.


"Kalau Masnya sendiri mau kemana?" timpal Herman bertanya pula, tatapannya menyimpan kecurigaan pada si pria tak di kenal yang sejak tadi di liriknya terus mencuri pandang ke arah si kembar.


Mendengar pertanyaan Herman, tiba tiba pria itu tampak tersentak. Namun cepat cepat dia menutupinya dengan mengulas senyum lebar.


"Ah, eh ...  saya ... saya mau ke ... mmmm ke kota P, ah iya ke kota P," sahutnya gugup.


Belum sempat Herman kembali bertanya padanya, pria itu langsung cepat cepat pergi tanpa membereskan  bekas makannya yang berantakan.


"Bos, apa bos melihat gelagat pria itu sangat mencurigakan." Herman berbisik pada Axel, sesekali masih bisa di lihatnya pria tadi berbalik menatap ke arah mereka dengan tangan di telinga sepertinya tengah menelpon.


Axel meneguk kopi terakhirnya dan menatap Herman lekat. "Mencurigakan bagaimana maksud kamu?"


"Sejak tadi, dia selalu mencuri pandang ke arah si kembar, bos. Saya takut kalau kalau dia adalah salah satu anak buah dari orang yang sudah menculik si kembar kemarin." Herman menjelaskan.


Axel langsung berpaling menatap ke arah dimana orang yang di maksud Herman tadi pergi, namun sayangnya sudah tak tampak lagi batang hidungnya di sana, mungkin dia sudah pergi atau malah mungkin sengaja bersembunyi. entahlah, itu rahasia ilahi eh author.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikiran. Sekarang ayo kita berangkat, supaya lekas sampai ke rumah," tandas Axel tak ingin berspekulasi lebih dulu.


  Herman akhirnya menurut, dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa mereka sadari sebuah mobil berwarna hitam mulai mengikuti mereka dari belakang, berjajar dengan mobil mobil lainnya hingga tersamarkan.


"Baik, Tuan. Saya sudah mendapatkan jejaknya."


****


Perjalanan yang sangat panjang itu akhirnya berakhir juga, di sebuah perempatan jalan yang terdapat sebuah minimarket si kembar tiba tiba meminta berhenti untuk membeli es krim.


"Papa, Azka mau es krim."


"Adam juga, Pa. Sudah lama rasanya Adam nggak makan es krim," timpal Adam pula.


"Oke anak anak Papa, sekalian kita beli cemilan untuk Mama dan Ayuna ya," sahut Axel tak keberatan.


Mobil berbelok, Axel membawa anak-anaknya masuk ke dalam dengan senang. Senang karna pada akhirnya kedua anaknya selamat tanpa kurang suatu apapun seperti yang di cemaskan ayahnya.


Sedangkan Herman, sebelum pulang tadi sudah lebih dulu dia antar pulang ke rumahnya menemui istrinya. Lelaki yang belum di karuniai seorang anak itu langsung di sambut dengan suka cita oleh sang istri. Tentunya tak ada drama marah marahan karna gaji yang di berikan Andrew padanya sangat memadai untuk hanya membayar sebuah luka kecil akibat operasi untuk mengeluarkan peluru di tangannya.


Usai membeli beberapa makanan, Axel lekas mengajak anak anaknya pulang. Dengan perasaan bercampur aduk karna sebentar lagi akan bertemu dengan orang tua dan istri juga putrinya yang tentunya sudah sangat merindukan Azka dan juga Adam.


Namun saat sampai di parkiran, sewaktu hendak masuk ke dalam mobilnya Axel sedikit teralihkan dengan sebuah mobil hitam yang sepertinya dia kenal.


"Hai, Mas kita bertemu lagi?" sapa seorang pria berjaket kulit yang wajahnya tampak tak asing di mata Axel.


"Y- ya? Maaf saya kurang begitu ingat," cetus Axel apa adanya.


Di tatapnya lekat wajah pria muda di depannya itu, namun masih saja tak mampu mengingat siapa gerangan dirinya dan dimana mereka pernah bertemu.


"Ah, tidak apa kalau begitu. Siapa tahu nanti kita akan bertemu lagi di lain kesempatan. Dan mungkin ... di lain situasi," pungkas si pria dengan sebuah senyuman aneh di wajahnya.


Axel mengernyit, namun baru saja hendak berkata pria itu langsung minta diri begitu saja.


"Kalau begitu saya pamit dulu, masih ada urusan."


Lalu dia masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di samping mobil Axel dan melaju membelah jalan raya meninggalkan Axel yang masih terpaku diam di sana hingga suara anak anaknya menyadarkannya untuk segera pulang.

__ADS_1


"Sepertinya benar ucapan Herman tadi, aku harus lebih ekstra hati-hati sekarang," batin Axel dalam diam.


__ADS_2