MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 130.


__ADS_3

Acara syukuran di pondok berlangsung meriah, semua berbahagia terlebih anak anak yang di bebaskan orang tuanya membeli dan memakan berbagai jenis makanan ringan maupun berat yang ada di sana.


"Bibi Asy!" panggil Abbas dan triplets berbarengan, mereka berlari kecil menghampiri Asiyah yang tengah duduk di sebelah Alam, menikmati sajian hiburan hadroh yang mengalun merdu di panggung hiburan.


"Hei, anak anak pegang apa itu?" sapa asiyah ramah sambil menunjuk tangan anak anak itu yang penuh dengan makanan.


"Jajan!" sahut mereka lalu tertawa.


"Ya ampun banyak sekali jajannya, om minta satu dong," timpal Alam sambil mendekat dan mengulurkan tangannya pada anak anak.


Awalnya mereka saling pandang, lalu tersenyum dan meletakkan satu dari banyaknya jajanan mereka ke tangan Alam.


"Dadah bibi, oom." Empat bocah itu langsung lari begitu saja setelah memberikan jajanan mereka pada Alam, Asiyah mengangguk terkekeh kecil sambil memindai arah perginya anak anak itu yang ternyata di ajak Abbas menuju ke asrama putra.


"Anak anak itu lucu ya," gumam Alam sambil kembali duduk ke kursinya dan melihat empat buah permen berbeda bentuk di tangannya.


Asiyah menoleh, dan dahinya sontak berkerut saat mendapati kabut di wajah sang suami.


"Mas nangis?" tanyanya pelan namun jelas sekali di telinga Alam.


Alam terkesiap, reflek mengusap matanya dan tersenyum.


"Ah, nggak kok. Cuma terharu saja di kasih permen sama anak anak," dalihnya.


Alam kembali menunduk, seolah menghindari tatapan mata Asiyah yang terus menerus menatapnya penuh tanya. Karna si julid di sebelahnya ini benar benar bisa di taklukkan oleh anak kecil.


Asiyah geleng-geleng kepala lalu tertawa kecil, sebelum akhirnya kembali fokus pada hiburan di depan sana.


"Permisi, apa boleh kami duduk di sini?" ucap seseorang pada Asiyah.


Asiyah mendongak, dan mendapati sepasang perempuan dan laki laki tengah berdiri di dekatnya. Lalu dengan ramah ia pun mengangguk, membiarkan pasangan yang sepertinya suami istri itu duduk bersama mereka di meja melingkar yang cukup untuk empat orang itu.


"Maaf mengganggu, tidak ada yang mau berbagi tempat dudukp pada kami sejak tadi, karna istriku ...." Pria itu menatap ke arah istrinya, tampak wanita yang di gandengannya hanya menatap kosong ke depan tanpa ekspresi sama sekali.


"Ah, iya tidak apa," sela Asiyah seakan mengerti.

__ADS_1


Pria itu tersenyum, dan setelahnya tak ada percakapan lagi antara mereka karna pria itu sibuk membantu istrinya untuk makan. Menyuapi dan mengusap bibir sang istri dengan tisu dengan sangat telaten.


Asiyah pun tanpa sadar sejak tadi terus memperhatikan mereka berdua, ke dua sudut bibirnya tertarik membentuk garis lengkung yang cukup lebar. Hingga tanpa sengaja mata sang wanita --istri pria tersebut -- menatapnya dan pandangan mereka pun bertemu, ada gelenyar aneh di sudut batin Asiyah yang dia sendiri tidak tahu apa itu.


"Anakku ...," bisik wanita itu pelan sekali, namun masih bisa tertangkap oleh penglihatan Asiyah akan gerak bibirnya.


  Mereka berpandangan cukup lama, hingga mata Asiyah terasa memanas dengan sendirinya tanpa dia tahu sebabnya. Mata wanita itu pun terlihat berair, namun beberapa kali tampak di usap oleh sang suami yang tengah menyuapinya.


"Kapan kita juga punya anak?" ucap Alam tiba-tiba, tanpa memperhatikan sekeliling. Pokoknya asal njeplak aja itu mulut.


Asiyah yang tengah menikmati suasana hatinya yang melow langsung buyar begitu saja, dan dengan geram dia langsung menjatuhkan geplakan maut ke bahu pria yang berstatus suaminya itu.


Plaaakkkkk


"Aduhhhh, tanganmu itu loh, ringan sekali." Alam menggerutu sambil mengusap pundaknya yang terasa panas bin perih akibat pukulan Asiyah tadi.


Bahkan tangan Asiyah yang baru saja menyentuh pundaknya tadi saja masih terasa kebas, mungkin saking bernafsunya memukul Alam yang mulutnya bocor itu.


"Mulutmu ituloh, bocor sekali!" balas Asiyah sambil melotot pada Alam, membuat pasangan suami istri yang ada satu meja dengan mereka terlihat tersenyum senyum.


Alam lagi lagi berkata seenak jidatnya, namun satu yang bisa di banggakan Asiyah darinya walau tak ada cinta di hatinya untuk Alam, bahwa kenyataan kalau Alam tidak menyukai perselingkuhan bahkan cenderung mengutuk perbuatan itu, dan sifat itu di turunkan oleh sang bapak yaitu mertuanya Asiyah yang juga sangat membenci perselingkuhan.


"Kalian ini suami istri?" celetuk pria tadi yang ternyata sudah selesai menyuapi istrinya dan kini tengah menikmati makanannya sendiri.


"Hah, sayangnya iya." Asiyah menyahut namun dengan nada malas.


Sedangkan Alam langsung mendongak menatap ke sumber suara.


"Hei, sejak kapan ada orang lain di sini?" sentaknya kaget, namun mengesalkan sekali bagi Asiyah.


Dengan senyum manis di wajahnya Asiyah melayangkan cubitan mautnya lagi ke arah perut Alam. "Nggak sopan dong bilang begitu, Mas."


  Alam yang merasai sakitnya cubitan Asiyah lagi mulai meringis, lalu menunduk dan tak ingin menunjukkan wajahnya hingga akhirnya Asiyah melepas cubitannya tapi Alam masih dalam posisinya. Mungkin takut di cubit lagi.


"Kalau boleh tahu, kapan menikahnya?" tanya pria yang belum di kenal itu dengan santainya.

__ADS_1


Asiyah menoleh lalu berusaha tetap tersenyum manis. "Ah, baru dua bulan yang lalu."


Pria itu mengangguk. "Lalu ...  apa ayahmu langsung yang menjadi wali nikahnya?" tanyanya lagi.


  Kening Asiyah berkerut keheranan karna orang yang baru di temuinnya hari ini tiba-tiba menanyakan hal yang sebenarnya bukanlah ranahnya.


Menyadari arti tatapan Asiyah, pria itu tampak tersenyum penuh arti. "Ah, maksud saya bukan begitu, maaf kalau pertanyaan saya mengganggu tapi saya hanya ingin tahu sebab sedang belajar menjadi penghulu." Pria itu menjelaskan sekenanya.


"Oh, begitu." Asiyah manggut-manggut.


"Iya, lalu bagaimana? Apa bisa di jawab ... pertanyaan saya?" tanya pria itu lagi.


  Asiyah mengangkat ke dua bahunya. " Kenapa tidak tanyakan langsung pada ustadz?" ujar Asiyah sambil menunjuk ke arah Rahman yang kini tengah duduk manis di atas panggung menunggu gilirannya untuk berceramah.


Pria itu mengikuti arah telunjuk Asiyah, laki segera berbalik lagi sambil menggeleng pelan.


"Tidak, dia belum menikah. Akan lebih lebih baik bertanya pada yang sudah mengalaminya," tolaknya.


"Kalau begitu saya sendiri juga bingung," sahut Asiyah.


Terlihat pria itu mengangkat wajahnya dengan mata berbinar. "Kenapa?"


Asiyah menggeleng. "Yah, saya menikah kemarin dengan wali hakim. Karna sejak kecil saya tidak tahu siapa orang tua kandung saya, tapi ada seseorang yang mengatakan kalau orang tua saya masih hidup. Dan saya di lema sekarang karna belum bisa menemukan mereka."


Selarik senyum miring terbit di bibir pria itu. " Ah ya, kita tadi belum berkenalan. Kenalkan, nama saya Edwin."


Asiyah menyambut tangan pria itu. " Saya Asiyah."


****


"Tugasmu sudah selesai, kau bisa mengambil ibumu kapanpun kau mau." suara seseorang di telpon mendominasi ruangan kecil itu.


"Baiklah, pastikan ibuku dalam kondisi yang paling baik. Aku akan menjemputnya sore nanti," sahut orang di dalam ruangan temaram tersebut lalu mematikan sambungan teleponnya.


Dia berbalik, mata elang yang di bingkai bulu lentik alami terlihat basah.

__ADS_1


"Maaf, tapi aku ingin ibuku tetap hidup."


__ADS_2