MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 158.


__ADS_3

"Bibi," panggil Ed dengan suara lembutnya, mendekati wanita paruh baya yang selama ini sudah di anggap sebagai ibunya sendiri itu.


"Hmmm?" Bu Hannah menjawab dengan gumaman, matanya masih lurus menatap pepohonan yang tumbuh subur di halaman samping rumah Ed dari balkon lantai dua rumahnya.


"Apa tidak apa apa, kalau kita menceritakan semuanya pada Robin, ah maksud ku Rahman?"


 Bu Hannah tampak mendesah. "Berusahalah untuk tak lagi menyebut nama itu, Ed. Tak boleh ada yang tahu nama kecil putraku, kita sudah hampir kehilangannya satu kali. Setelah ini jangan lagi, hanya dia satu satunya alasanku masih bernafas hingga hari ini."


 Bu Hannah melangkah pelan menuju ke kursi yang ada di sana, mendudukkan tubuhnya dengan nyaman di sana dan tak lepas memandangi dedaunan pohon yang bergoyang di terpa angin.


"Hah, baiklah Bibi. maafkan aku.


," Ujar Ed sembari menyusul Bu Hannah duduk di sebrangnya.


"Bagaimana perkembangan penjahat itu?" tanyaa Bu Hannah lebih lanjut.


Kali ini gantian Ed yang mendesah berat. "Mereka ... meninggal, bibi."


 Seketika mata Bu Hannah melebar dan menatap Ed dengan tatapan tak percaya.


"Kau yang melakukannya?"


 Ed memejamkan matanya sejenak. "Ah, bibi kenapa kau sangat mirip dengan putramu yang menyebalkan itu? Apa wajahku ini benar benar wajah penjahat, hingga jika ada kasus seperti ini kalian akan seenaknya saja menuduhku?"


 Bu Hannah hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Bukan begitu maksudku, Ed. Kau sensitif sekali semenjak anak anakmu sudah kembali?"


"Hah, yah aku hanya khawatir bibi pun akan mulai tidak memercayai aku, percayalah bibi aku tidak membunuh mereka. Ada seseorang yang tidak kami tahu sudah melakukannya, karna saat kami membebaskan Rahman waktu itu orang itu masih hidup, hanya pingsan saja." Ed mencoba menjelaskan apa yang di ketahuinya, sembari memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


  Bu Hannah menundukkan pandangannya ke bawah.


"Begitukah?"


"Ya, bibi. Percayalah kalau aku tidak berbohong, kau mengenalku dengan baik, bi."


 Bu Hannah mengangguk pelan. "Ya, aku tahu. Lalu ... siapa kira kira yang melakukan itu, apa keluarga mereka punya musuh selain kita?"

__ADS_1


"Entahlah, bibi." Ed menggelengkan kepalanya.


"Kau harus mencari tahu hal itu, Ed. Jangan sampai musuh baru mereka itu mengetahui tentang keluarga kita, jika perlu jangan sampai ada yang tahu tentang putri putri mu itu, sembunyikan mereka dengan sebaik mungkin. Kita tidak tahu siapa musuh kita selanjutnya ini, dan bagaimana sifatnya."


 Ed mengangguk mantab. "Iya, kau benar bibi. Akan aku lakukan seperti yang kau katakan tadi."


 Bu Hannah mengangguk puas, dan kembali membuang pandangannya ke arah pepohonan itu. Yang kini menggugurkan daunnya di terpa angin yang lebih kencang dari sebelumnya.


"Ed, apa kau tahu?"


"Tahu apa, bibi?" tanya Ed mengangkat wajahnya.


 Bibir Bu Hannah tampak tersenyum miring. "Kalau putraku yang nakal itu mencintai salah satu putrimu?"


 "Ah, apa maksud bibi?" tanya Ed berpura pura tak tahu, padahal dia lebih dahulu mengetahui hal itu ketimbang Bu Hannah sendiri.


"Kau sudah mendengar dengan jelas bukan, Ed? Apa kata kata ku tadi kurang terdengar di telingamu? Atau kau sudah mulai beranjak tua hingga tak jelas mendengar?" cecar Bu Hannah


 Ed hanya bisa cemberut mendengar kalimat bernada sindiran dari bibinya itu.


"Aku mendengarnya dengan baik, bibi."


"Aku tak tahu harus berkata apa, tapi ... Seperti yang bibi tahu, ke dua putri ku sudah punya pasangan."


"Hanya keajaiban lah yang nanti mungkin bisa membawa anak nakal itu menjadi menantuku," imbuh Ed lagi sembari mengulas senyum setipis kulit bawang.


 Bu Hannah turut tersenyum walau tanpa memandang Ed.


"Yah, semoga saja keajaiban itu lekas tiba."


****


Di sepanjang perjalanan, Rahman sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus saja melayang terngiang akan kata kata Asy saat masih di rumah ed tadi. Namun sayang, saat ingin memperjelas lagi Asy sudah lebih dulu meminta Rahman naik ke mobil dan dia sendiri sudah duduk di depan. Ingin bertanya tentu saja Rahman akan berpikir berkali-kali sebab adanya seorang supir di sana yang bisa mendengar percakapan mereka dengan bebas. Malu dong kalau sampai ketahuan mencintai istri orang, eh.


  Akhirnya untuk membuang rasa bosan, Rahman memilih menyadarkan kepalanya ke tepian jendela mobil dan menatap gedung gedung tinggi yang mereka lewati sebagai hiburannya.


 Setelah beberapa saat saling diam dalam kebosanan, akhirnya mobil mulai memasuki pelataran sebuah rumah sakit yang Rahman tahu sebagai tempat Alam di rawat.

__ADS_1


"Ada apa lagi bawa kakak ke sini, Neng?" tanya Rahman sembari mengikuti langkah kaki Asy menuju ke sebuah ruangan pastinya.


 Asy berdehem dan menjawab pertanyaan Rahman.


"Ada yang ingin di sampaikan pada Kakak, dan itu harus di sampaikan langsung oleh yang bersangkutan. Makanya Asy bawa kakak ke sini, tapi janji ya. Jangan kabur lagi," pinta Asy sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Rahman.


 Rahman mengangkat sebelah alisnya bingung, namun pada akhirnya dia menggamit juga kelingking Asy dengan kelingkingnya seperti janjiannya anak kecil.


 Asy berhenti di muka sebuah pintu ruangan dan membukanya perlahan.


"Assalamualaikum," ucapnya sambil memberi kode pada Rahman untuk mengikutinya.


 Terdengar sahutan dari dalam sana, dan Rahman sudah bisa menebak kalau itu adalah suara Alam. Tapi kenapa suaranya yang biasa lantang itu kini terdengar begitu lemah?


 Dengan hati bertanya tanya, Rahman melangkah masuk. pemasangan memilukan menyambut ke hadirannya.


 Di sana di atas ranjang pasien, terbaring lemah tubuh Alam yang tampak sangat lemah pucat, senyum yang di paksakan terpancar dari wajahnya pun tampak tak sempurna.


"Akhirnya kamu datang, ustadz. Apa waktu itu kau begitu marah hingga meninggalkan kami begitu saja?" tanya Alam dengan suara yang begitu lemah hingga rasanya hati Rahman tersayat mendengar suaranya.


 Rahman mendekat, menepuk pelan pundak Alam dan tersenyum hangat.


"Maaf, saat itu saya hanya belum siap mendengarkan permintaan sampean. Dan sekarang saya datang lagi untuk mendengarnya," jawab Rahman pasti.


"Bukan karna ustadz takut diculik lagi?" kekeh Alam yang entah tahu dari mana peristiwa penculikan itu.


 Rahman tercengang sesaat, mendadak pikirannya langsung penuh dengan praduga kalau Alam ada andil di balik peristiwa penculikannya beberapa waktu lalu itu. Bahkan tanpa sadar Rahman menatap Alam lekat sampai dirinya tak nyaman sendiri.


" Jangan berpikir buruk dulu, ustadz. Apa ustadz lupa kalau saya sedang sakit?" celetuk Alam lagi, membuyarkan lamunan Rahman.


 Rahman terkesiap, keningnya tampak membentuk kerutan karna Alam seolah bisa menebak isi pikirannya.


 Alam tersenyum penuh arti, sebelum akhirnya semuanya di putus oleh asy yang sudah tak sabar.


"Sudahlah, Mas berhenti berkata yang tidak penting dulu. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan pada Kak Rahman lebih dulu," ucap Asy sembari menyentuh pundak Alam.


 Alam menarik nafas panjang dan mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, tolong dengarkan baik baik, Mas Rahman. Saya ... tidak akan menyampaikan pesan penting ini dua kali, jadi tolong mendekat lah agar suara saya bisa terdengar jelas."


 Rahman menurut dan mendekatkan wajahnya dengan bibir Alam. Lalu, alam mulai mengatakan permintaannya ....


__ADS_2