MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 199.


__ADS_3

 Sudah berhari-hari lamanya Sarah hanya mengurung diri di dalam kamarnya, tak mau makan dan bahkan kondisinya lebih parah ketimbang saat dia kehilangan ke dua orang tuanya sekaligus.


 Berbagai macam bujukan tak ada yang dapat digunakan untuk membujuknya, semua hanya terasa bagai angin lalu saja. Bahkan Ayuna yang setiap hari bertandang ke kamarnya untuk mengantarkan makanan pun hanya mendapati air mata atau wajah datar sang Mama saja.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Sonia saat mendapati cucu kesayangannya itu tengah termenung di sisi jendela, menatap keluar hingga angin menerbangkan anak anak rambutnya ke belakang.


"Oma," lirih Ayuna dengan suara serak.


"Ya, sayang? Katakan pada Oma? Apa yang terjadi? Kenapa Ayuna sedih?" Sonia berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Sonia.


"Kapan Azka dan Adam pulang? Mereka kemana?" tanya Ayuna, kali ini air mata lolos dari kedua netra beningnya yang tak henti menatap ke luar seolah berharap ke dua saudara laki lakinya akan datang dari sana.


 Sonia memeluk kepala Ayuna, mengelus rambutnya perlahan dengan perasaan tak menentu.


"Ayuna doakan saja ya, semoga Azka dan Adam segera pulang. Oma juga nggak tahu mereka kemana, Nak. Oma cuma bisa berdoa semoga kakak kakak kamu itu bisa segera pulang ke rumah ini, berkumpul bersama kita lagi."


 Ayuna makin terisak-isak, Sonia memeluknya. Mengangkat tubuhnya ke atas sebuah sofa dan duduk di sana sembari memangkunya.


"Sshhhh, tenanglah sayang. Jangan menangis, Oma juga akan menangis kalau Ayuna begini," bujuk Sonia sembari terus mengelus punggung cucunya.


"Ayuna kangen Azka dan Adam, apa mereka nggak kangen ayuna? Sampai nggak mau pulang pulang?" rintik Ayuna lagi, semakin pilu terdengar.


"Kasihan Mama, Oma. Mama setiap hari nangis karna kangen sama Azka dan Adam tapi mereka malah nggak tahu ada di mana? Apa mereka nggak sayang lagi sama Ayuna, juga mama dan papa?"


"Azka sama Adam nakal! Gara gara mereka nggak pulang pulang Ayuna yang jadinya di cuekin sama Mama, padahal Ayuna kan kangen di peluk Mama, Oma. Mama jadi nggak mau main sama Ayuna lagi karna Azka dan Adam nggak ada. Nanti kalau mereka pulang jewer aja telinganya ya, Oma Azka sama Adam nakal."


 Sonia hanya bisa mengangguk mengiyakan semua ucapan Ayuna yang di selingi isakan tangisnya, dia tahu bocah cantik itu tengah meluapkan semua rasa sedih di hatinya hanya saja di bingung bagaimana caranya. Saudara saudara yang tiba tiba menghilang tak tahu kemana, dan sang Mama yang tak bisa di ajak bermain serta papanya yang sangat jarang ada di rumah karna harus sibuk mengurus kasus penculikan anak anaknya yang lain.


 Ayuna terpukul, bocah seusianya harus merasakan semua itu membuat Sonia tak tega. Namun dia pun tak bisa mencari solusi yang lebih baik ketimbang terus membujuk Ayuna dan melimpahkan banyak kasih sayang untuknya seorang.


 Puas menangis, kini tak lagi terdengar suara tangisan Ayuna atau rengekannya seperti tadi. Saat Sonia melirik sekilas rupanya di dapatinya sang cucu sudah tertidur dalam dekapannya. Perlahan , di angkatnya tubuh ayuna yang perlahan menjadi kurus itu ke dalam kamar. Membaringkannya di kasur dan menutupinya dengan selimut, di perhatikan nya wajah Ayuna yang belakangan ini selalu saja murung dan tak bersemangat.


 Kantung matanya yang cekung menandakan dia sangat terpukul dengan kondisi ini, serta pipi yang mulai tirus juga rambutnya yang perlahan rontok tak terurus membuat hati Sonia terenyuh.


 Sonia tergugu, di kecupnya sekilas kening sang cucu dengan penuh kasih sayang.


"Azkara, Adam ... pulanglah, Nak. Lihatlah adik kalian ini, kasihan dia kangen," bisik Sonia, berharap sang angin akan mau membawakan pesannya untuk dua cucunya yang saat ini entah dimana rimbanya.


****


 Sonia menutup pintu kamar Ayuna perlahan, setelah itu dia berdiri di tepian pagar lantai dua sembari memperhatikan ke arah bawah.


 Dulu, rumah itu selalu ramai dengan si kembar tiga yang akan terus berlarian di sana sambil membawa mainannya masing-masing. Menggoda Ayuna hingga menangis, atau sekedar bermain dan makan bersama. Namun kini, semuanya sepi tak ada lagi canda tawa itu terdengar.


 Sonia tersenyum miris, air matanya kembali tumpah saat berusaha menghadirkan suara tawa para cucunya itu di dalam benaknya.


"Assalamu'alaikum," ucap axel yang baru saja pulang setelah semalaman berada di luar bersama sang ayah, mereka begitu gigih mengusahakan semua hal untuk bisa menemukan jejak si kembar.


"Wa'alaikumsalam." Sonia menghapus jejak air matanya, lalu dengan cepat turun dan menyongsong kedatangan sang putra semata wayangnya itu.


"Nak, bagaimana? Apa ada perkembangan? Atau, kabar baik?" cecar Sonia tak sabar.


 Axel duduk di sofa ruang tamu, di ikuti Sonia yang duduk pula di sampingnya dan menanti jawaban dengan tak sabar.


"Ada, Ma. Tapi ... Axel juga tidak tahu apa ini kabar baik ... atau malah kabar buruk," sahut Axel tampak tak bersemangat.


 Sonia membelalak, lalu menyentuh lengan Axel. "Maksud kamu apa, Nak?"

__ADS_1


 Axel mendesah, berat sekali hatinya untuk menyampaikan kabar itu pada sang ibu. Namun jika tidak tak mungkin juga sang ibu tak akan tahu, jika bukan darinya maka dari ayahnya yang kini juga tengah berjuang demi menemukan cucu cucunya.


"Nak, seburuk apapun katakanlah. Mama berhak tahu juga bukan? Mereka cucu cucu Mama juga, jika pun bisa ingin sekali Mama ikut langsung membantu kalian mencari Adam dan Azka namun di sini juga ada Ayuna yang butuh Mama, belum lagi Sarah yang tak kunjung membaik." Sonia mendesah berat, menyadarkan kepalanya ke sofa dan menatap langit-langit yang terasa hampa.


"Terima kasih sudah membantu Axel selama ini, Ma doakan saja semoga Adam dan Azka lekas di temukan." Axel tergugu, tak dapat lagi menahan tangisnya.


  Sonia bangkit dan memeluk tubuh putranya. "Ya Allah, Nak. Mama ikhlas melakukan ini semua, sudahlah jika kamu belum kuat dan belum mau bercerita pada Mama tidak apa apa. Mama akan tunggu sampai kamu siap, sekarang sebaiknya kita makan dulu ya, kamu pasti lapar kan?" tukas Sonia tak lagi memaksa.


 Axel menjawab dengan anggukan, lalu Sonia pun membawanya menuju meja makan dan menyiapkan makanan untuknya.


"Mana Ayuna, Ma?" tanya Axel di suapan pertamanya.


 Sonia yang tengah menuang air di gelas menoleh sekilas lalu tersenyum tipis.


" Lagi tidur, tadi dia nangis gara gara kangen kakak kakaknya. Tapi sekarang sudah tenang, semoga saja usaha kamu tidak sia sia dan anak anak bisa cepat di temukan."


Axel mengamini ucapan sang ibu dan kembali melanjutkan makannya dalam diam.


"Mama antar makanan untuk Sarah dulu ya, kamu lanjut makan saja."


Axel mengangguk dan Sonia beranjak membawa sebuah nampan berisi makanan untuk sang menantu di kamarnya.


 Lama Axel termenung setelah menghabiskan setengah dari isi piringnya, selera makannya hilang dia sama sekali tak berniat makan jika saja tak ingat tubuhnya juga perlu asupan agar tak tumbang selama mencari anak kembarnya.


 Axel terkesiap tatkala ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya.


"Nak?"


"Ah, Papa? Papa baru pulang?" Sapa Axel pada Andrew yang baru saja kembali dengan wajah yang sama lelahnya dengan dirinya.


Semua itu mereka lakukan demi sang anak dan cucu tentunya.


"Anak buah Papa sudah mendapatkan informasi tentang si kembar," gumam Andrew pelan.


 Namun sukses membuat Axel membulatkan matanya dengan sorot penuh harap.


"Papa serius?"


 Andrew mengangguk dan mengambil sepotong roti lalu mengunyahnya perlahan.


 "Alhamdulillah! Apa, Pa? Katakan apa kabar itu, Pa?" cecar Axel dengan tak sabar.


"Hei ada apa ini?" Kabar apa? Tolong Mama juga di beri tahu," sela Sonia yang baru saja kembali dari mengantar makanan kamar Sarah.


 Kebetulan saat itu Sarah mau makan sendiri, jadi sonia tidak perlu berlama lama di sana untuk membujuknya.


"Kemari dan duduklah, Ma kau juga perlu tahu kabar ini." Andrew melambaikan tangan pada istrinya.


 Sonia mengangguk, lalu menarik kursi di samping suaminya dan duduk di sana.


"Jadi begini." Andrew mulai membuka percakapan.


 Sonia dan Axel tampak menunggu dengan tak sabar. Andrew mengangkat wajah menatap bergantian wajah anak dan istrinya.


"Si kembar, di bawa oleh penculik itu ... ke pulau sebrang."


"Apa?" seru Sonia kaget, bahkan dia sampai berdiri dari tempat duduknya dan menatap tak percaya pada Andrew.

__ADS_1


"Tenanglah, dan dengarkan lebih lanjut.". Andrew menarik tangan Sonia dan memintanya duduk kembali. Sonia menurut dan kembali duduk walau kini dia sangat syok.


"Iya, mereka di bawa ke pulau sebrang menggunakan kapal dengan tujuan akan di buang ke sana. Tapi ... beruntungnya salah satu anak buah Papa mengetahuinya, dia bergerak cepat dan mengikuti mobil yang menbawa anak anak. Dan saat ini ... dia masih mengintai di tempat dimana anak anak berada."


 "Alhamdulillah, Alhamdulillah terima kasih ya Allah." Axel menjatuhkan dirinya ke lantai dan bersujud syukur berulang kali sembari terus melafazkan hamdalah.


 Air mata tak dapat ia bendung dari netranya, merasa mendapat angin segar setelah beberapa hari ini terus saja tertekan karna tak kunjung ada kabar dari anak buah sang ayah dan dari pihak kepolisian.


 Sonia pun tampak memeluk Andrew dengan penuh haru, walau si kembar belum kembali tapi setidaknya kabar baik yang dibawa suaminya bisa sedikit melepas gundah di hatinya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini, Pa? Kita harus secepatnya menjemput si kembar, aku tidak bisa lebih lama berpisah dari mereka pa


.kasihan Sarah dan Ayuna," tukas Axel sembari kembali duduk di kursinya.


 Andrew mengangguk mengerti dengan permintaan anaknya, namun masalahnya rupanya tidaklah sesederhana itu.


"Maaf, Nak. Tapi ... tidak bisa secepat itu," tandasnya.


 "Tidak bisa bagaimana maksud Papa? Bukankah sekarang anak buah Papa sudah mengetahui dimana keberadaan si kembar? Lalu untuk apa lagi kita membuang waktu, Pa? Kasihan mereka jika terlambat kita jemput, mereka pasti ketakutan." Axel melayangkan protes.


 Tapi Andrew hanya menanggapinya dengan tenang, kembali di tenggaknya air yang masih ada setengah di dalam botol hingga tandas.


"Pa, ayolah. Sekarang bukan waktunya untuk bersantai," desak Axel tak sabar.


 Tapi Andrew tak menjawab, wajahnya menyiratkan kegamangan yang sangat kentara.


"Tidak semudah itu, Ax. Lawan kita saat ini adalah orang yang sangat rapi dan juga licik, bukan hanya memerintahkan membawa si kembar ke luar pulau ini tapi juga dia memerintahkan seseorang lainnya untuk terus mengintai mereka. Dan akan menghabisi siapa saja yang mencoba mendekat dan menolong si kembar. Jadi ... sekarang mereka lebih aman di tempatnya berada sekarang, menurut laporan anak buah kita di sana mereka di perlakukan dengan layak walau hanya tinggal di rumah sederhana. Syukurnya orang yang ditugaskan membuang si kembar malah membawanya ke rumahnya dan tidak benar benar membuang mereka," papar Andrew menyampaikan apa saja yang di ketahuinya.


 Axel mendesah pelan, menyandarkan punggungnya ke belakang dengan lemas.


"Tidak adakah sesuatu yang bisa kita lakukan saat ini, Pa? Kita tidak mungkin berpangku tangan saja seperti ini menunggu keajaiban datang bukan?"


 Andrew kembali mengangguk. "Yah, Nak kau benar. Kita memang tidak bisa diam saja dan menunggu, dan Papa sudah memikirkan itu sebelumnya."


Sontak Axel menegakkan punggungnya. " Jadi, Papa sudah punya solusinya?"


 Andrew mengangguk. "Bisa di bilang begitu, tapi ... ini masih sebatas rencana, semoga saja akan berjalan dengan lancar."


****


 Di tempat lain.


"Pelan pelan aja, Mas ." Aish duduk di samping Satrio, suaminya itu sudah keluar dari rumah sakit namun entah kenapa sejak dari sana tempo hari Satrio sangat jarang sekali mau bicara, bahkan terkadang Aish mendapatinya seperti tengah ketakutan sendiri.


 Satrio meminum teh hangat yang di bawakan Aish seperti sangat kehausan, hingga tak mau menunggu hingga teh itu menjadi lebih dingin untuk menghabiskannya.


"Mas, kamu beneran nggak mau ngobrol sama aku? Aku bingung Loh, Mas kalo kamu diam terus begini, sebenarnya kamu kenapa sih, Mas? Kenapa nggak mau ngomong?" desah Aish mengelus pundak suaminya yang setelah minum sama sekali masih tak mau bicara.


 Satrio menurunkan pandangannya, tatapan nanar dia arahkan pada sang istri. Namun seperti tertahan sesuatu Satrio masih sama sekali tidak bicara.


 Aish terdiam, di elusnya pipi Satrio lalu beralih ke lengannya. Dengan sesak yang memggumpal di dada Aish menubruk Satrio dan tergugu sambil memeluknya.


"Bicaralah, Mas meskipun itu akan menyakitkan tapi setidaknya jangan diam begini, aku lelah Mas. Aku hanya ingin kamu bicara dan bercerita sebenarnya kamu kenapa? Dokter bilang secara fisik kamu sehat tapi kenapa sampai hari ini kamu tidak bicara sma aku, Mas? Kenapa?"


 Dan ya, Satrio hanya diam tak menjawab barang satu patah kata pun namun tampak lelehan air mata turut jatuh dari sudut matanya. Perlahan berubah menjadi sebuah isakan yang tertahan.


 Aish melerai pelukannya, di pegangnya ke dua tangan suaminya dan di tatapnya dalam mata suaminya walau Satrio sepertinya berusaha menghindari tatapannya.

__ADS_1


"Mas, apa kamu sudah nggak cinta lagi sama aku? Bilang, Mas biar aku urus perpisahan kita kalau memang benar begitu adanya. Aku tidak mau berada di situasi ini terus menerus."


__ADS_2