
"Apa, Nak? Kamu serius? Kamu nggak becanda kan? Kenapa kamu baru bilang sekarang sih?" cecar Amelie pada sang putri, Asy yang kini tampak menggigit bibir bawahnya dengan gelisah sembari meremas ujung jilbab besarnya.
"Maaf, Mam. Asy ... Asy bingung waktu itu harus bagaimana." Asy menunduk dalam, siap jika sang ibu sampai marah padanya. Toh semua itu memang salahnya, membiarkan orang asing itu masuk ke dalam ruangan walau kala itu Amelie sudah mewanti-wanti agar tak ada orang yang di perkenankan menjenguk Satrio.
Tapi, di luar dugaan. Amelie tidak memarahinya, Amelia malah mengalungkan tangannya di ke dua pundak Asy dan membawanya ke dalam pelukan.
"Stay calm, Honey. ITS okay, itu bukan salah kamu. Sekarang lebih baik kita temui Papi dan katakan tentang semua ini, sebelum semuanya terlambat."
Asy mengangguk dan mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruangan Ed, dimana Rahman juga tengah berada di sana. Ed memanggilnya untuk meminta tolong sesuatu.
Namun saat Asy dan Amelie sampai di depan pintu ruangan itu, pintunya terbuka dan Rahman keluar dari sana dengan wajah pias.
"Mas? Kenapa?" sambut Asy sembari mendekati Rahman.
Sedangkan Amelie langsung melanjutkan langkah menuju ke dalam ruangan khusus sang suami.
"Nggak papa, Mas pamit pergi dulu ya. Ada yang harus Mas kerjakan, kamu baik baik di sini ya. oh ya, ingat untuk jangan pergi kemana pun sendirian ya."
Walau masih bingung dengan maksud perkataan Rahman, tapi Asy menurut saja karena dari raut wajahnya Asy tahu kalau Rahman saat ini tengah sangat terburu-buru. Setelah mencium tangan Rahman, Asy melepas kepergian suaminya tanpa mengantarnya ke teras sebab Rahman langsung saja berlari setelah itu.
Dengan hati penuh tanya, Asy memilih masuk ke dalam ruangan ayahnya. Tampak di dalam sana Ed dan Amelie sedang berdiskusi serius.
"Apa kau yakin, sayang? Itu bisa jadi masalah besar jika benar terjadi."
Suara Ed langsung menyergap pendengaran Asy, rasa bersalah seketika merayap di relung hatinya mendengar kalimat itu pastilah di tujukan Ed untuk keteledorannya.
"I- ...."
Amelie menghentikan ucapannya ketika ekor matanya menangkap keberadaan Asy di dekat pintu masuk. Asy tercenung di sana, tak berani melanjutkan langkahnya mendekat ke arah Ed dan Amelie. Sekilas tampak sudut matanya berembun.
"Hei, Nak. Kenapa tidak masuk?" sapa Ed dengan lembut, kala juga menyadari kalau ada putrinya di sana.
Asy menghapus air mata yang hendak jatuh dari sudut matanya, di paksanya bibirnya tersenyum walau terkesan kaku.
"Ah, tidak apa, Papi. Sebaiknya ... sebaiknya Asy pergi agar Mami dan Papi bisa lebih leluasa berbincang."
Asy berbalik hendak melangkah keluar ruangan, namun suara Amelie menghentikan langkahnya.
"Tunggu, Nak."
"Kamu mau kemana? Apa kamu marah pada Mami karna menyampaikan ini pada Papimu?" sambung Amelie setelah berhasil menyusul Asy di ambang pintu.
Asy menggeleng. "Tidak begitu, Mam. Hanya saja ... Asy masih merasa bersalah dengan semua yang terjadi."
Amelie memeluk Asy kembali berusaha menenangkan putrinya itu. Putri yang mengingatkan betapa lemahnya dia dulu, sedangkan Aish adalah cerminan dirinya di masa sekarang kuat dan berani serta tegas seperti Ed. Sedang kepribadian Asy lebih lembut dan penyayang serta sangat mudah kasihan terhadap orang lain hingga sangat mudah di pengaruhi dan di manfaatkan.
Itu juga salah satu penyebab Ed dan Amelie sepakat untuk tidak membiarkan Asy tinggal terpisah dari mereka kecuali di lingkungan yang sudah terjamin aman situasinya seperti di pesantren tempat asy tinggal dulu.
"Tenanglah, Nak. Tidak ada yang akan menyalahkan mu di sini, Papi dan Mami percaya sepenuhnya padamu." Ed mengelus kepala Asy yang sudah berhasil di bawa Amelie ke sofa mereka.
Asy tergugu, namun tak kuasa mengatakan apapun. Dalam hatinya dia tak henti menyalahkan dirinya sendiri.
"Kita harus ke rumah sakit, dan memastikan keadaan Satrio saat ini." Ed menatap istrinya yang mengangguk menyetujui.
"Asy, kamu masih ingat kan bagaimana wajah orang yang menemui Satrio saat itu? Penjelasan dari kamu akan sangat membantu, sayang." Ed berjongkok di depan Asy, membuat gadis manis yang masih menyandang status pengantin baru itu menurunkan tangan dari wajahnya.
"Se- sepertinya ... Asy masih ingat walau agak samar, Pi. Waktu itu yang langsung berinteraksi dengannya Mas Rahman."
Ed tersenyum lalu bangkit berdiri dan mengelus kepala Asy lembut.
"Kamu dan Rahman akan sangat membantu, percayalah. Jangan lupakan sedetik pun kejadian di waktu orang asing itu datang, penjelasan dari kalian sangat penting nantinya."
__ADS_1
Asy mengangguk dengan jantung berdebar, antara yakin dan tidak dia bisa membantu orang tuanya.
" Kita ke rumah sakit sekarang." Amelie mengambil alih keadaan dan berjalan cepat di ikuti Asy dan Ed di belakangnya.
Singkatnya mereka sudah berada di dalam mobil, mobil sport milik Amelie hadiah pernikahan yang di berikan Ed padanya sejak dulu. Tapi sangat jarang di gunakan Amelie sejak dia kehilangan anak anaknya. Tapi tidak untuk sekarang, inilah waktu yang tepat menggunakannya kembali.
"Kalian siap?" tanya Amelie yang bertindak sebagai supir kali ini.
Sedangkan Ed dan Asy duduk di barisan belakang. Wajah Ed tampak pias hingga Asy agak terheran di buatnya.
"Siap, Mam. Tapi ... papi kenapa begitu?" tanya Asy polos.
Amelie terkekeh, sedang Ed langsung memasangkan seat belt di tubuh sang putri dengan cekatan.
"Ada apa, Papi? Kenapa ketakutan begitu?" bisik Asy kala Ed tengah memasang seat belt di tubuhnya.
Ed menggeleng. "kamu akan mengerti setelah ini, pegangan yang kencang dan berdoalah sepanjang jalan. Akan lebih baik kalau kamu memejamkan mata selama perjalanan kita ini."
Asy masih tak mengerti, namun dia tak banyak bertanya lagi. Mobil mulai berjalan pelan meninggalkan halaman rumah megah tempat tinggal mereka. Sampai di depan jalan raya Asy masih tak paham apa alasan Ed tadi berkata demikian padanya, hingga akhirnya semuanya terjawab habis kala Amelie mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan di luar nalar.
"Aaaaaaahhhhhhh!" pekik Ed dan Asy serentak sedangkan Amelie tampak sangat menikmati suasana tegang yang dia ciptakan sendiri dengan ngebut di jalanan. (Plis jangan di tiru) dengan menyalip beberapa kendaraan yang membuat spot jantung naik berkali kali lipat dan juga berbelok tajam hingga ban mobil terdengar berdecit nyaring.
Sekarang Asy paham kenapa Ed memintanya menutup mata saat di perjalanan, dan dia juga langsung paham kenapa Ed setuju begitu saja kala Amelie memperkenalkan Sutris sebagai supir pribadi keluarga mereka.
Hingga lima menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit dimana Satrio di rawat, jarak tempuh yang biasanya memakan waktu hingga lima belas menit kini bisa di pangkas Amelie hingga lebih dari separuhnya saja. Sungguh di luar nalar dan sangat luar biasa pastinya, mereka masih hidup dan selamat hingga di tempat tujuan.
"Aku merasa hidup," ucap Amelie sumringah sembari melangkah keluar dari mobil, di ikuti Ed yang langsung muntah muntah ketika baru saja keluar.
Sedang Asy langsung mencari air minum dan meredakan debaran jantungnya sesaat sebelum turun.
"Aku merasa akan mati ..."
Ed merosot jatuh ke pelataran semen rumah sakit di depan mobil sport milik Amelie terparkir, dan secepatnya sembari terkekeh amelie menghampiri suamianya dan memapahnya dengan di bantu Asy.
Setelah sampai di lobi rumah sakit, Amelie dan Asy mendudukan Ed di kursi tunggu dan mulai meregangkan otot tubuhnya masing-masing.
"Kenapa kau begitu berat, sayang? Ku rasa kau harus mulai diet sekarang," ucap Amelie sembari menggoyangkan tangannya yang terasa linu setelah memapah Ed tadi.
"Hei, aku menjadi insekyur mendengar itu. Kenapa jadi aku yang harus diet? Biasanya bukankah itu kebiasaan perempuan?" tutur Ed dengan nada suara lemas seperti akan pingsan.
Amelie mencebik. "Sudahlah, kami akan meninggalkan mu kalau kau tak kunjung bangun sendiri. Kamu pikir badanmu itu sangat langsing dan ringan apa?"
Lalu Amelie langsung menggandeng tangan Asy meninggalkan Ed yang masih tampak lemas di kursi tunggu.
"Mi, tapi ... Papi bagaimana?" tanya Asy yang lagi lagi sangat mudah tersentuh.
Amelie mengalihkan tatapan Asy ke depan dan berkata santai. "Sudahlah, Papimu itu bukan anak kecil lagi. Jangan takut akan ada yang menculiknya, tak akan ada penculik yang sanggup memberinya makan dan meladeni rengekannya selain Mamimu ini."
Asy terkekeh dan mereka pun melanjutkan langkahnya kembali tanpa beban.
Sejurus kemudian senyum di wajah Asy dan Amelie tampak memudar, berganti raut kecemasan saat melihat Aish yang tengah menangis di depan ruangan Satrio.
"Aish, ada apa?" cecar Asy sembari berlari dan menubruk saudarinya, menenggelamkan wajah Aish di dadanya.
"Mami, Asy ... tolong ... Mas Satrio ...."
****
Lautan lepas, tanpa ujung. Hanya langit yang tampak menjadi pembatas di antara ke duanya.
Dua pasang mata menatap matahari yang bersinar semakin redup di ufuk barat sana dengan tatapan pasrah dan sayu. Kantung mata yang bengkak karna terlalu banyak menangis, dan tubuh yang kotor karna tak ada kesempatan untuk mereka membersihkan diri sama sekali.
__ADS_1
"Kita mau di bawa kemana, Azka?" lirih Adam sembari memeluk tubuh saudara kembarnya itu dengan erat, rona ketakutan sangat kentara di wajahnya yang mempunyai sebagian besar garis wajah ibunya, Sarah.
Azka balas memeluk tubuh Adam dan meletakkan kepalanya di pundaknya.
"Entahlah, Dam. Berdoa saja semoga kita bisa selamat dan bertemu lagi dengan Papa dan Mama," pungkasnya pelan.
Terdengar getaran dari suara Azkara, mungkin saat ini bocah itu juga tengah menahan ketakutan yang sengaja di sembunyikannya agar saudaranya tak terlalu cemas.
Adam terdengar mulai terisak kembali, ini entah sudah berapa jam mereka di culik dan belum di beri makan sama sekali.
"Azka, Adam lapar ...."
Azkara mengusap sudut matanya, tak ingin terlihat jika dia menangis saat ini. Berusaha terlihat kuat agar bisa mengayomi adik adiknya menjadi prinsip yang selalu di pegangnya sejak dia mulai mengerti kehidupan.
"Sabar ya, mungkin sebentar lagi kita di beri makan," pungkasnya lembut, lagi lagi hanya bisa berusaha membesarkan hati saudaranya tanpa bisa berbuat banyak.
Adam hanya bisa mengangguk, memegangi perutnya yang terasa perih dan menangis pelan.
"Hei, apa sih berisik sekali kalian dari tadi? Nggak lihat apa orang lagi tidur begini?" bentak orang bejaket hitam yang sejak tadi tertidur pulas bahkan hingga mendengkur cukup keras.
Ia juga yang membawa Azkara dan Adam pergi entah kemana.
"Ammm .... Om, kami lapar ... Apa boleh kami minta sedikit makanan?" tanya Azkara memberanikan diri.
Pria yang baru saja bangkit dan meminum sebotol air itu menoleh, lalu mendesah lirih.
"Ah iya, aku sampai lupa kalian belum makan. Tunggu sebentar di sini, aku segera kembali," tukasnya kemudian.
Pria berjaket itu keluar dari mobil dan kemudian menghilang di balik banyaknya mobil mobil lain yang terparkir di kapal besar tersebut. Kapal yang membawa mereka jauh dari tempat tinggal orang tua Azkara dan Adam. Azkara yang pintar itu pun tahu kalau kini ia dan Adam tengah di culik, tapi tak dia katakan agar saudaranya tak terlalu banyak berpikir.
Klek
Pintu mobil kembali terbuka, aroma mie cup kemasan langsung menguar begitu saja memenuhi ruang kecil dalam mobil tersebut.
"Ini, makanlah. ingat makan yang rapi, jangan sampai tumpah dan berantakan."
Pria itu memberikan dua buah mie cup ke tangan si kembar, Adam menerimanya dengan semangat namun sejurus kemudian dia terdiam sembari mengaduk mie cup yang masih mengepul tersebut.
"Azka, bukankah Mama melarang kita makan makanan instan begini?" ucapnya getir.
Pria berjaket hitam sempat melirik Adam, namun secepatnya Azka langsung mengambil alih keadaan.
"Tidak papa, Adam. Di sini adanya cuma ini, ngga ada yang lain. Kita makan ini aja ya, kasihan omnya sudah belikan. Lagipula sekali sekali nggak papa kok makan mie instan, kan tidak setiap hari."
"Baiklah," sahut Adam riang, karna sebenarnya dia juga sangat suka mie instan namun oleh Sarah sangat jarang di perbolehkan untuk makan dengan alasan kesehatan.
Sekilas Azkara bisa melihat seulas senyum di wajah pria berjaket hitam yang biasanya selalu berwajah serius itu.
"Di sini mulai panas, paman buka kaca mobilnya tapi kalian jangan teriak ya." ucap pria itu.
"Iya, Paman," sahut Azkara menjawab, sedangkan Adam sedang berusaha meniup mie yang panas agar cepat bisa di makan.
Setelah mie miliknya agak dingin karna terpaan angin dari luar, Azkara mulai menyantap mie miliknya. Air matanya tak sengaja menetes kala teringat Omelan sang Mama setiap Adam dan dirinya meminta makan mie.
Akhirnya satu cup mie instan tandas, Azkara mengakhirinya dengan meminum sebotol air yang di berikan pria berjaket untuknya dan Adam.
"Terima kasih, Paman. Kami sudah kenyang," ujarnya sembari mengulas senyum tipis pada pria berjaket yang sejak semalam baru kali ini di lihat wajahnya karna selalu mengenakan masker.
Pria itu mengangguk, tapi masih tertangkap penglihatan Azkara kala pria itu mengusap sudut matanya yang berair kala melihat Adam dan Azka makan dengan lahapnya.
"Sebenarnya paman siapa sih? Dan kami mau di bawa kemana? Kenapa papa dan mama tidak di ajak?" celetuk Adam entah keberanian dari mana.
__ADS_1
Tampak pria di depannya itu terkejut dan langsung cepat cepat menutup kaca jendela mobil yang terbuka dengan raut wajah ketakutan.