MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 211.


__ADS_3

"Lihatlah, sepertinya saudarimu itu akan move on lebih cepat ketimbang yang kita kira," celetuk amelie ikut tersenyum sumringah menatap wajah Aish yang sangat lepas tertawa semenjak adanya Hendro di rumah mereka.


 Asy menatap pula ke arah yang di tunjuk Amelie, perlahan matanya mulai menghangat.


"Kalau begitu, kira kira bagaimana perasaan almarhum Mas Satrio jika tahu hal ini, Mi?" gumamnya lirih.


"Hei, kenapa kau malah mengatakan itu, sayang? Bukankah harusnya kau juga senang karena Aish sudah bisa melupakan kesedihannya?" tanya Amelie.


 "Yah, mungkin aku hanya khawatir berlebihan saja, Mi. Apalagi Aish bilang kalau sebenarnya kematian Mas Satrio, itu sepertinya memang di sengaja oleh seseorang," tukas Asy.


 Amelie menghentikan kunyahannya, di tatapnya piring yang ada di hadapannya lekat.


"Ya, mungkin saja memang benar begitu bukan?"


"Mami tampak tidak cemas sama sekali?"


 Amelie mengangkat bahu sembari menarik nafas dalam dan kembali melanjutkan makannya.


"Apa lagi yang bisa Mami cemaskan, sayang?" Toh apapun yang akan kita lakukan untuk mengungkapnya tak akan bisa mengembalikan Satrio lagi ke dunia ini kan? Jadi ... mami rasa semua ini sudah benar, biarkan Aish melupakan semua kesedihannya berikan dia kesempatan untuk bahagia dengan pilihannya. Itu sudah lebih dari cukup bagi Mami," tandas Amelie tampak tak begitu tertarik dengan ucapan Asy.


 Asy pun tak dapat lagi memaksa, walah sebenarnya dia pun sangat penasaran siapa gerangan yang sudah merencanakan pembunuhan atas almarhum Satrio. Namun seperti yang di katakan Amelie tadi, semua tak akan bisa di rubah walau dia tahu. Tapi ... apa yang salah dengan mencari tau bukan? Toh Aish juga sempat bercerita padanya kalau seorang dokter di rumah sakit dimana Satrio berpulang kemarin berkata akan bersedia membantunya untuk menyelidiki kasus tersebut jika Aish berkenan.


"Mam, Asy pamit ke dalam dulu ya." Asy bangkit dari tempat duduknya a dan mengecup sekilas pipi Amelie sebelum masuk.


"Ya, honey beristirahatlah. Jangan terlalu lelah okay?"


Asy berbalik dan mengangguk mantab.


 Asy melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar ,beberapa pembantu rumah tangga yang kebetulan berpapasan dengannya saling melempar senyum dan sapaaan padanya. Setelah beberapa saat Asy akhirnya sampai di dalam kamarnya, merebahkan tubuhnya sesaat sembari mengatur rencana apa yang sekiranya bisa dia lakukan untuk membantu saudarinya mencari penyebab kematian Satrio yang masih abu abu. Namun satu sisi hatinya meragu sebab tak ada instruksi dari Aish sendiri.


 Berbalik ke sana ke mari, pada akhirnya tanpa sadar membuat Asy terlelap dalam tidur yang panjang. Kenyamanan selembut beludru seolah menyelimutinya, hingga dia tak sadar berapa lama sudah waktu yang dia habiskan untuk tidur.


"Astaghfirullah!" seru Asy saat terbangun dan melihat suasana sekitar sudah berubah menjadi gelap. Di tatapnya jam dinding yang masih bergerak, jam setengah tujuh malam. Pantas saja sudah gelap.


 Tak ingin membuang waktu, Asy gegas masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu dan segera melaksanakan sholat maghrib yang hampir habis waktunya.


"Assalamu'alaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah."


Tok


Tok


Tok


 Baru saja selesai dengan sholatnya, ketukan di pintu sudah memaksa Asy untuk beranjak dan membukakan pintu yang memang sengaja di kuncinya tadi.


Ceklek


"Hei, baru selesai sholat?"


 Wajah cantik Aish muncul di depan pintu kala Asy membukanya, dan langsung di jawab Asy dengan anggukan samar.


"Masuklah, Ai. Ai selesaikan zikirku dulu," gumam Asy sembari kembali ke tempatnya sholat tadi untuk berzikir lebih dulu.


 Aish mengambil tempat di sisi ranjang asy sembari menunggunya selesai. Asy sempat meliriknya, wajah yang sebelumnya pucat dan sembab karna terlalu banyak menangis kini sudah tampak lebih baik dan lebih ceria ketimbang saat itu. Entah apa yang membuat Aish demikian tapi Asy malah merasa semua ini terlalu cepat bagi saudarinya.


"Ada apa, Ai? Tumben sekali ke sini di waktu maghrib? Biasanya kan kamu lebih senang menunggu di meja makan?" ucap Asy seraya membereskan peralatan sholatnya dan meletakannya di tempatnya semula sebelum melangkah mendekati Aish.


 Aish mengulum senyum tipis . "Tidak ada, hanya saja rasanya sepi di kamar sendiri. Makanya aku ke mari, apa aku tidak boleh lagi memasuki kamar mu ini karna sudah ada raja yang bertahta di sini hm?" goda Aish terkekeh.


 Asy mengibaskan tangannya di udara dan menggeleng pelan..

__ADS_1


"Tidak, tidak ada yang mengatakan begitu. Lagipula siapa rajanya? Kak Rahman? Dia bukan raja, Ai tapi imam," kekeh Asy.


 "Ya ya baiklah, terserah kamu saja." Aish mengangguk.


"Oh ya, Asy," imbuh Aish lagi, sembari memutar tubuhnya menghadap Asy.


"Ya? Kenapa?" tanya Asy heran, terlebih perubahan wajah Aish yang tiba tiba membuatnya agak sedikit takut.


"Ada ... yang ingin ku bicarakan," gumam Aish dengan nada rendah.


 Asy segera memutar tubuhnya menghadap Aish. "apa itu? Katakan lah aku janji tidak akan memberi tahu siapapun," ucapnya dengan penuh semangat.


 Aish tergelak. "Hei hei sabar memangnya siapa yang bilang kalau ini rahasia?"


 Kening Asy langsung membentuk kerutan kerutan dalam. "maksudmu? Lalu kalau bukan rahasia kenapa harus bicara bisik bisik begini?"


 Lagi lagi Asy tergelak. "Bukannya sejak tadi yang bicara bisik bisik itu kamu sendiri, Asy? Aku bicara dengan nada normal kok."


Asy menepuk jidat. "Astaghfirullah, kamu benar. Iya iya, maaf aku lupa. Sekarang katakan apa yang ingin kamu sampaikan?"


 Aish menarik nafas, selarik senyum dia pamerkan walau terasa getir di tangkap mata Asy.


"Menurut mu, apa ... aku perlu memperpanjang kasus kematian Mas Satrio? Untuk bisa mengungkap ada rahasia apa di baliknya atau lebih baik tidak? Karna semuanya juga tak akan bisa membuat Mas Satrio ku kembali lagi ke dunia ini?" tutur Aish dengan wajah perlahan mencetak mendung.


 Asy mengusap lengan Aish dengan lembut, tatapan matanya pun berubah lembut sebagai mana tatapan Ed kala menatap penuh kasih mereka semua.


"Coba tanyakan pada hatimu, kalau kamu yakin aku yang akan mendampingi mu melalui semua prosesnya. Tapi ... kalau kamu masih belum siap, lebih baik di tangguhkan dulu saja." Asy memberi saran.


"Jadi, maksud mu cepat atau lambat aku tetap harus mengusut kasus ini? Benar begitu?" tanya Aish dengan suara tercekat.


 Asy mengangguk. "Tapi ... semua keputusan tetap kembali lagi ke tanganmu, kamu yang pegang kuasa atas semua itu, Ai."


 Aish membuang pandangannya ke arah lain, sekilas tetesan air bening itu tampak mengalir dari pelupuk matanya.


 Asy mengusap punggungnya dan membawa Aish ke dalam pelukannya.


"Ambillah sebanyak mungkin waktu yang kamu perlukan, tapi nanti saat kamu sudah merasa lebih siap beritahu aku. Aku akan setia mendampingimu di mana pun dan kapan pun itu," tukas Asy lembut.


 Aish mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Asy.


 Setelah beberapa saat dan Aish sudah lebih tenang, Asy mengajukan satu pertanyaan yang sempat mengganjal di hatinya pada Aish.


"Boleh aku tanya satu hal?"


 Aish mengangguk dan mendongak menatap Asy . "Apa itu?"


"Apa hubungan mu dengan Mas Hendro itu, sepertinya kalian sudah sangat akrab?".


 Aish mendesah pelan dan mengulas senyum tipis. "Tidak ada, hanya sebatas sahabat, teman berbagi, teman bercerita dan berkeluh kesah sewaktu di desa dulu. Bukankah aku sudah pernah menceritakannya padamu? Apa kamu lupa?"


 Asy mengangguk. "Iya aku lupa, maaf ya."


"Hu um, tidak apa. Setidaknya sekarang dengan meringankan sedikit bebannya dengan membantunya mendapatkan pekerjaan di sini bisa membuatnya tak terus menerus merasa berhutang budi karna sejak mengenalnya aku terus menyusahkannya," ucap Aish tersenyum simpul.


"Iya, semoga saja dia akan betah bekerja dengan Papi. Dengan begitu aku dan Mami akan bisa melihat senyummu setiap hari," tukas Asy.


"Hei, kenapa hubungannya jadi ke aku." Aish tanpa sadar tersipu dan menutupi wajahnya dengan bantal.


****


"Sayang, makanlah dulu setidaknya satu suap," bujuk Axel pada Sarah yang sejak kepulangan Bima dari rumah tersebut menjadi lebih diam dan tak berselera melakukan apapun.

__ADS_1


 Untungnya saat itu anak anak mereka sudah aman bersama Sonia dan Andrew sehingga tak perlu cemas membicarakan hal yang penting seputar urusan Bima yang belum selesai tadi.


"Nanti saja, Mas. Sekarang lebih baik kamu bantu aku berpikir dulu," tolak Sarah pelan.


"Makanlah lebih dulu, baru aku akan membantu," desak Axel tak mau kalah.


 Sarah menyerah kalah di ambilnya sepirinh nasi lengkap dengan lauk dan segelas air minum yang sudah di bawakan Axel untuknya, suaminya itu memang paling mengerti cara memaksanya melakukan sesuatu.


"Ya ya, baiklah tapi separuh saja ya. Aku benar benar sedang tidak berselera, Mas."


 Axel duduk di samping Sarah perlahan, lalu meraih piring dari pegangannya dan menyuapkan sesendok makanan untuk istrinya.


"Biar Mas yang suapi, buka mulutmu."


 Sarah mulai makan walau dengan sedikit ogah ogahan, dan benar saja baru sampai di suapan ke lima Sarah menolak makan lagi.


"Ayolah ini hanya sedikit, kenapa tidak sekalian di habiskan saja?" bujuk Axel tak kenal lelah.


Sarah menggeleng. " Cukup , Mas atau kamu akan membuatku muntah."


 Axel menghela nafas panjang. "Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kamu sampaikan, sayang?" tanya axel sembari menyuapkan makanan sisa Sarah ke dalam mulutnya.


"Lebih baik, kita mengajak Papa untuk mendiskusikan ini," pungkas Sarah.


 Axel mengangguk. " Baiklah, mari kita ke ruang tengah, tadi ku lihat papa ada di sana."


 Mereka pun berjalan pelan dengan Sarah menuntun Axel menuruni tangga menuju ke ruang tengah, dan benar saja ada Andrew di sana tengah menonton tv dengan sonia di sisinya.


"Pa, Ma."


 Sarah dan Axel bergabung dengan mereka.


"Syukurlah, kalian sudah turun. Papa kira kalian tidak akan mengajak serta Papa dan Mama membahas masalah kalian tadi," ujar Andrew.


"Tidak mungkin begitu, pa. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan ini, kebetulan anak anak sudah tidur bukan?" celetuk Sarah.


 Sonia mengangguk. "Iya, mereka kelelahan makanya memilih tidur cepat. Sekarang lebih baik cepat kita bahas masalah ini, jujur saja Mama takut kalau sampai terjadi sesuatu lagi pada keluarga kita. Sungguh Mama tak sanggup walau hanya untuk membayangkannya saja."


 Sonia begidik ngeri, Sarah sedikit banyak bisa memahami perasaan ibu mertuanya itu. Namun apa mau di kata, permintaan Bima akan rumah peninggalan orang tuanya itu terasa berat di rasanya, karna hanya di rumah itu dia mempunyai kenangan dengan almarhum ke dua orang tuanya.


"Kalau menurut Papa, lebih baik kamu serahkan saja apa yang menjadi tuntunan mantan suamimu itu, Nak. Toh papa dan Axel masih cukup mampu memenuhi semua kebutuhan kalian tanpa harta itu, apalah artinya harta jika hidup kita tidak tenang bukan?" nasehat Andrew mengalir bagai air di gurun Sahara bagi Sarah.


 "Iya sayang, Mas rasa Papa ada benarnya. Harta bisa di cari, tapi ketenangan hidup kita sendiri yang ciptakan." Axel menimpali.


"Mama setuju dengan Papa dan Axel, sayang. Maaf bukan Mama tidak mengerti perasaan mu, tapi ... cobalah untuk memikirkan perasaan anak anak mu juga, Mama tidak bisa membayangkan jika mantan suamimu itu sampai mengincar mereka lagi." Sonia berkata dengan nada membujuk.


 Sarah terdiam sejenak, memikirkan apa yang dikatakan oleh keluarganya kali ini dengan pikiran yang lebih jernih.


 Sarah menatap Axel, suaminya itu juga tampak menatapnya lekat dengan raut wajah yang penuh harap. Sama dengan yang di tunjukkan oleh Andrew dan juga Sonia di hadapannya.


"Sepertinya apa yang Mama, Papa dan Mas Ax katakan itu benar. Tapi ...."


"Tapi apa, Sayang? Katakan saja jika kamu punya pendapat lain," ujar Axel angkat bicara.


"Iya, Nak sebenarnya di sini kamulah yang memegang kendali. Kami sebagai keluarga hanya bisa memberi saran dan nasehat yang baik untukmu. Tapi ... semuanya tetap akan kembali ke tanganmu sendiri, dan besar harapan Papa kamu tidak akan salah langkah dalam hal ini," timpal Andrew pula.


 Sarah mengangguk paham, namun sekali lagi dia menguatkan hati untuk menyampaikan apa yang sejak tadi dia pikirkan.


"Terima kasih untuk itu, Pa. Sarah paham, sangat paham malah. Tapi ... yang membuat Sarah berat di sini, adalah rumah peninggalan ke dua orang tua Sarah itu, kalau itu ikut di ambil ... berarti Sarah tidak punya kenangan apapun lagi bersama mereka?"


Andrew menundukkan kepalanya, Sarah benar. jika melihat dari sudut pandangnya a, tentu saja rumah dimana dia di besarkan dan rumah yang sudah mengukir kenangan yang tak akan tergantikan itu begitu amat melekat dalam hatinya, tak akan bisa tergantikan terlebih saat ini ke dua orang kesayangannya itu telah lebih dulu meninggalkannya. Hanya itu satu satunya yang Sarah punya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kau coba komunikasikan hal ini dengan mantan suamimu itu. Siapa tahu mendengar kesaksianmu itu dia akan berbaik hati mau merelakan rumah itu untukmu, tak apa jika dia meminta kita membelinya nanti yang terpenting rumah itu tetap menjadi milikmu yang bisa kau kunjungi sewaktu-waktu kau rindukan almarhum orang tuamu," gumam Andrew memberi saran.


 Sarah mengangguk membenarkan. "Ya, Papa benar. Baiklah akan lebih baik seperti itu, semoga saja masih ada hati Mas Bima untuk merelakan rumah itu."


__ADS_2