
Umi Nafisah melepas kepergian anak dan menantunya di depan teras bersama Kyai Hasan dan cucunya, Abbas.
Yah, pada akhirnya setelah menimbang sana sini Gus Musa memutuskan untuk mengantar Asiyah bersama sama, karna tak mungkin juga membiarkan istrinya bermotor berdua saja dengan Asiyah, apalagi dengan Rahman yang notabene bukan muhrim untuk Asiyah. Bisa berabe urusannya nanti.
Sepanjang jalan Rahman terus saja berusaha menghibur Asiyah, walau asiyah sama sekali tak merespon malah terus menangis di pelukan Jeni yang sama sama duduk di bangku belakang.
"Mbak, Asiyah takut." Asiyah berbisik di telinga Jeni, air mata masih senantiasa menetes dari mata yang sudah sembab itu.
Jeni mengeratkan pelukannya, dan mengusap air mata Asiyah dengan tisu yang ada di mobil suaminya.
"Baca bismillah ya, semoga saja keinginan Asiyah bisa di dengar sama Gusti Allah SWT. Percaya aja, Gusti Allah SWT tidak tidur, nduk." Jeni mengelus elus kepala Asiyah dari luar jilbab besarnya.
.
Mencoba menenangkannya walau dia tahu itu sedikit mustahil.
"Neng As, jangan sedih terus ya. Nanti Kakak bantu bicara sama orang tua kamu supaya kamu tetap bisa mondok di sini." Rahman kembali mencoba untuk menghibur.
Kali ini Asiyah meliriknya, dengan mata basah Asiyah mengangguk dengan hati penuh harap. Entah kenapa asiyah menaruh harapan besar pada Rahman. Berharap ia bisa membantunya melunakkan hati kedua orang tuanya yang terkenal batu itu.
Tak butuh waktu lama, Gus Musa yang sudah lumayan paham tentang orang tua Asiyah itu langsung memberhentikan mobilnya di depan sebuah ruko kosong dimana di sebelahnya terdapat sebuah gang sempit.
"Sudah sampai," ucapnya lalu bergegas turun mendahului yang lainnya.
Setelah mereka semua turun, Asiyah menahan pergerakan Jeni untuk melangkah mengikuti langkah kaki Gus Musa yang sudah tahu dimana rumah kedua orang tua angkat Asiyah.
"Mbak," cicit Asiyah gusar.
Jeni mengusap punggung Asiyah dan menenangkannya.
__ADS_1
"Bismillah, Gusti Allah SWT bersama kita," ucapnya lembut.
Setelah itu mereka kembali meneruskan perjalanan di dalam gang sempit itu hingga akhirnya sampai di depan sebuah rumah sederhana dengan bahan kayu yang tampak mulai lapuk di setiap bagiannya.
Pintu rumah itu terbuka, dari luar tampak berkardus kardus barang yang sudah di tumpuk sedemikian rupa untuk memudahkan di angkutnya.
Tak lama seorang pria berkulit gelap dengan rambut yang mulai memutih tampak keluar dari rumah dengan sebuah kardus besar di tangannya, kardus itu tampak begitu berat terlihat dari urat urat di tangan pria itu yang menyembul keluar.
"Kalian?" desisnya lalu mematung di muka pintu masih dengan kardus di tangan.
Rahman yang tak tega langsung berjalan mendekat dan menawarkan bantuan untuk mengangkat kardus itu, pria itu tidak menolak dan membiarkan kardusnya berpindah tangan dan di letakan Rahman ke lantai teras yang hanya terbuat dari semen acian itu. Bahkan teras itupun tampak kotor tak terurus.
"Assalamu'alaikum, Pak Pardi. Kami datang untuk mengantar Asiyah guna ...."
"Ah ya, terima kasih, terima kasih karna Gus Musa sudah mau mengantarnya pulang. Jadi saya tidak perlu repot lagi untuk menjemputnya ke pondok, jujur saja waktu kami tidak banyak," potong Pardi tak ingin mendengar penjelasan Gus Musa lebih lanjut.
Pardi tampak tak peduli lagi dengan mereka, bahkan tak ada basa basi walau sekedar menyuruh masuk untuk para tamunya. Pardi malah berbalik kembali untuk masuk ke dalam rumah dan melanjutkan kesibukannya.
"Pak!" seru Asiyah memanggil bapak angkatnya itu, dia berjalan cepat mengejar sang bapak agar masalah ini bisa cepat terselesaikan. -- Asiyah sama sekali tidak mau ikut ke desa --
Pardi masih berpura tak mendengar, malah berjalan lebih cepat seolah menjauh dari anak angkatnya tersebut.
"Pak, tolong dengarkan dulu!" seru Rahman ikut bicara, hingga kini langkah kaki Pardi benar benar berhenti.
"Bicara apa? Tidak ada yang perlu di bicarakan, kalau kalian sudah selesai dengan urusan kalian mengantar Asiyah silahkan pergi, kami harus segera berkemas. Nyawa kami dalam bahaya," tegas Pardi tanpa sadar malah mengucapkan kata yang harusnya menjadi rahasianya.
P
Pardi menutup mulut menyadari kecerobohannya, namun terlambat Asiyah sudah terlanjut mendengar kata terakhirnya.
__ADS_1
"Apa, Pak? Nyawa? Apa hubungannya?" desah Asiyah dengan sisa tangis yang masih tampak nyata.
Pardi mendengus lalu berbalik cepat dan memegang bahu Asiyah dengan kuat.
"Tak usah banyak tanya dan tidak usah banyak drama, sekarang juga usir orang orang ini dan kita pergi dari kota ini. Dan satu lagi, jangan membantah dan bertanya jika kamu masih ingin ibumu hidup." Pardi berbisik di telinga Asiyah, membuat seluruh tubuh gadis itu seketika lemas seakan tak bertulang.
Bertepatan dengan itu, tampak tirai di belakang tubuh Pardi tersibak seorang wanita dengan tubuh kurus kering dan rambut acak acakan keluar dari sana dengan membawa tubuhnya dengan cara di seret. Ya, Salma ibu angkat Asiyah lumpuh karna tabrak lari saat belum mempunyai Asiyah. Hingga akhirnya dia di vonis tidak bisa mempunyai anak lagi karena kondisinya yang mengakibatkan tubuh bagian bawahnya kehilangan fungsi sebagai mana semestinya.
Wanita itu -- Salma -- terlihat menangis, tangannya terulur seolah meminta Asiyah untuk memeluknya. Asiyah berlari dan menepis pegangan tangan Pardi di bahunya dan menyambut uluran tangan sang ibu yang merawatnya dengan penuh kasih sejak dulu, walau karna keegoisan Pardi dan kondisi ekonomi mereka membuatnya harus tinggal di pondok sejak kecil.
"Neng Asy." Rahman mencoba memanggil Asiyah, berusaha mengingatkanya dengan tujuan utama mereka datang ke rumah itu.
Tapi Pardi malah memelototinya, dan tanpa perasaan mendorongnya agar keluar dari rumahnya.
Brughhh
Rahman jatuh di teras rumah Asiyah, karna di dorong dengan kasar oleh Pardi saat dia mencoba memberontak. Jeni dan Gus Musa yang tengah berbincang di teras pun sampai terkejut di buatnya, dan dengan cepat Gus Musa membantu Rahman untuk bangkit berdiri.
"Pergi kalian! Jangan ikut campur urusan kami! Biarkan kami membaw Asiyah dari kota ini. Bukan kami tega, tapi ada banyak hal yang harus kami pertimbangkan tentang keselamatannya, tolonglah mengerti." Pardi meletakkan kedua tangannya di dada, dengan mata memelas meminta pengertian mereka.
Gus Musa terhenyak, begitu pula Jeni dan Rahman yang tampaknya tak terima.
"Tapi, Pak. Asiyah bilang dia tidak mau ikut kalian. Kenapa kalian memaksakan? Kasihan Asiyah! Cobalah dengarkan permintaannya sekali ini saja," bujuk Rahman coba meluluhkan hati Pardi.
Pardi mengangkat tangannya sebagai tanda meminta Rahman untuk diam.
"Sudahlah, tak akan ada yang bisa merubah keputusan saya. Kami harus pergi, dan itu harus. Maaf, tapi kelak jika berjodoh tentu kita akan bertemu lagi. Dan semoga saat itu kondisinya sudah lebih baik dari pada saat ini, sekarang kami hanya harus menghilang, agar Asiyah bisa selamat. Tolong jangan banyak bertanya, jika kamu mencintai anak saya, kelak kalian pasti akan bisa bertemu kembali." Pardi lekas masuk dan menutup pintu rumahnya rapat rapat tanpa bisa di cegah lagi.
Rahman luruh di tempatnya, jatuh tak berdaya dengan air mata di kedua sisi pipinya.
__ADS_1