
~ MGS season 2 begin.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun pun kini telah berganti. Tapi hanya ada satu nama yang tak pernah terganti benak Rahman.
"Neng Asiyah."
Lagi, entah sudah berapa puluh ribu kali dia mengucapkan nama itu di setiap sepertiga malamnya, bersujud dan memohon pada sang pencipta untuk kembali mempersatukan dia dengan gadis manis yang entah sejak kapan mulai memiliki hatinya.
Tes
Tes
Tes
Air mata ketulusan lagi lagi jatuh dari sudut mata yang kian dewasa itu, menutup wajahnya dengan kedua tangan agar tangis kerinduan tak terdengar oleh orang di luaran.
"Ustadz, sudah hampir subuh. Hari ini jadwalnya ustadz memimpin sholat," ucap seorang santri yang berbicara dari depan pintu kamar asrama pribadi Rahman, tak perlu mengetuk karna sesuai kebiasaan yang ada para santri akan tahu kapan saja jam dimana Rahman terjaga dan tidur.
"Iya, tunggu sebentar." Rahman menyahut lirih, dan setelahnya terdengar suara langkah kaki yang kian menjauh.
Rahman mengusap air matanya sekali lagi, memastikan tak ada lagi jejak air mata di pipinya. Setelahnya dengan langkah lebar dia berjalan menuju masjid pondok untuk mengimami sholat subuh berjamaah.
Sudah hampir lima tahun berlalu, usianya yang semakin matang membuat Rahman semakin di idolakan oleh banyak orang. Keuletannya, kesabarannya dan kasih sayangnya pada siapa saja membuat semua orang menjadi menaruh simpati padanya.
Bahkan sejak beberapa waktu terakhir, Rahman resmi menyandang gelar ustadz sebagai salah satu tenaga pengajar di pondok yang kini kepemimpinannya sudah beralih sepenuhnya pada Gus Musa. Selain itu juga, dengan kemumpunian ilmu yang dia punya Rahman juga kerap di undang oleh para orang orang besar atau tokoh masyarakat untuk menjadi penceramah atau membawakan tausiyah di sekitar bahkan sampai ke luar daerah.
"Masih cengeng aja, ustadz Rahman?" celetuk Gus Musa sambil menepuk pelan bahu Rahman yang sedang duduk itikaf di dalam masjid setelah usai sholat subuh.
Rahman menoleh dan tersenyum kecil, tangannya reflek menghapus air mata yang ternyata kembali menggenang di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Ah, Gus bisa saja. Saya cuma masih ngantuk kok," elak Rahman mencoba untuk tampak baik baik saja.
Tapi Gus Musa yang sudah cukup mengenal Rahman paham, pemuda yang kini berkumis tipis itu tengah menyimpan kegundahannya sendiri.
"Abi, di cari Umi." seseorang bocah kecil laki laki yang mengenakan baju Koko lengkap dengan sarung dan kopiahnya berlari kecil menuju ke arah Gus Musa.
Gus Musa menyambutnya dan membawa bocah lucu itu ke dalam pangkuannya.
" Di cari Umi, Bi. Katanya mau ke pasar," ulang si bocah yang tak lain dan tak bukan adalah Abbas, yang kini sudah berusia lima tahun lebih dan sudah mulai bersekolah di TK yang tak jauh dari pondok.
Rahman tersenyum melihat kepolosan Abbas yang sudah di anggapnya keponakannya sendiri itu, lalu dengan gemas dia mengacak rambut bocah itu yang lurus dan lembut.
"Paman Rahman!" omel Abbas sambil mendengus kesal lalu beranjak dari pangkuan Gus Musa dan dengan wajah cemberut menjauh dari sana. -- Abbas paling tidak suka rambutnya di acak acak, katanya bikin kegantengannya berkurang --
"Hei! Mau kemana?" seru Rahman memanggil Abbas yang kini sudah turun dari teras masjid dan sedang memakai sandalnya sambil terus menatap tajam ke arah Rahman yang hanya bisa tertawa melihatnya.
Semua pun kondisinya masih sama, hingga kalau boleh jujur Rahman selalu teringat akan semua kenangan singkatnya dengan Asiyah di pondok tersebut. Setiap sudutnya membuatnya selalu ingin tersenyum dan menangis terkenang gadis yang lima tahun silam ternyata benar benar menghilang seperti yang di katakan Pardi terakhir kali.
Gus Musa kembali fokus pada Rahman, di rangkulnya bahu Rahman dan di tepuknya perlahan.
"Jangan terus larut dalam luka masa lalu, nanti bisa bisa Gusti Allah SWT cemburu. Sebaiknya kamu perbanyak zikir, berdoa meminta pada Gusti Allah SWT supaya kalian bisa lekas di pertemukan. Ingat kata kata terakhir Pak Pardi waktu itu, kalau kalian berjodoh insyaallah kalian akan bertemu lagi dalam kondisi yang lebih baik," papar Gus Musa membesarkan hati Rahman.
Rahman mengangguk paham.
"Iya, Gus. Saya mengerti, hanya saja terkadang rindu datang tanpa bisa di cegah oleh apapun. Bahkan ketika saya tengah mengadu pada sang kuasa, entah berapa kali namanya terus muncul di benak saya."
"Ikhtiar lah, sholat istikharah insyaallah nanti akan ada jawabannya." Gus Musa menepuk kembali pundak Rahman sebelum beranjak dari tempat duduknya guna kembali ke rumah memenuhi panggilan istri dan anaknya.
Rahman masih merenungi ucapan Gus Musa sampai beberapa saat lamanya, setelah puas barulah ia beranjak menuju ke tempat wudhu untuk mensucikan diri guna menjalankan sholat istikharah seperti anjuran Gus Musa tadi.
__ADS_1
"Allahu Akbar ...."
****
"Sudah lima tahun, kapan kau akan membebaskan ibuku dan mengembalikannya pada ku?" desak sang penelepon pada pria misterius yang selama ini menculik ibunya dan memerintahnya ini dan itu sesuka hatinya.
"Hahahah, berhentilah berteriak padaku, Robin. Aku akan mengembalikan nenek tua itu setelah kau mendapatkan informasi dimana keberadaan gadis itu. Kau tau? Dia bahkan lebih berharga darimu dan ibumu yang menyusahkan itu."
Pria yang di panggil Robin itu mengeratkan rahangnya, otot yang terlatih selama lima tahun terakhir membuatnya tampak lebih ganas sekarang walau mungkin saat ini pria misterius itu tak akan bisa melihatnya.
"Dan kau! Berhenti memanggilku Robin! Itu bukan lagi namaku! Aku sudah lama memutuskan hubungan dengan keluarga itu!" marahnya.
Terdengar suara tawa dari sebrang telepon, tampaknya pria misterius itu sama sekali tak terpengaruh.
"Hahahah, terserah. Tapi kalau kau ingin segera bertemu ibumu, cari keberadaan gadis itu lalu ibumu akan aku bebaskan. Bukankah selama ini kau sudah tahu aturannya? Lantas kenapa belum juga ada titik terang keberadaannya?"
Pria penelpon semakin memanas, namun apa daya jangan kan untuk melawan membantah saja dia tidak bisa karena takut sang ibu yang tengah di culik itu akan di sakiti olehnya.
"Ah ya,satu hal lagi. Berhentilah berpura pura menjadi ustadz, apa kau lupa dulu berapa banyak minuman keras yang sudah kau teguk, Rahman?" desis suara itu dengan nada mengejek.
****
Di sebuah kampung yang masih asri, nun jauh di sana. Di dalam sebuah rumah sederhana yang di kelilingi sawah berhektar-hektar luasnya duduk seorang gadis muda dalam balutan gaun putih yang tampak begitu indah, namun tidak dengan wajahnya.
Wajah ayu nan cantik itu malah terlihat bersedih bahkan beberapa kali tampak dia menyeka air mata dari sudut matanya.
Orang orang yang berkumpul di sana hanya bisa memberinya tatapan iba, seolah tahu nasib buruk yang tengah menanti si gadis di depannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Asiyah binti ...."
__ADS_1